Senin, 06 Juni 2011

UAS SKKI (KERATON NUSANTARA)

KERATON KUTAI KARTANEGARA


NAMA             : RIYANI ASTI ARAMI
NPM                : 4423107019
PRODI              : USAHA JASA PARIWISATA
MATA KULIAH : SEJARAH KEBUDAYAAN & KESENIAN INDONESIA
DOSEN             : MOH. SHOBIRIENUR RASYID

LETAK GEORAFIS KERAJAAN KUTAI


Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kalimantan Timur letak posisinya di kota Balikpapan. Kota Balikpapan memiliki wilayah 85% berbukit bukit serta 12% berupa daerah datar yang sempit yang terutama berada di daerah Aliran Sungai dan Sungai Kecil serta Pesisir Pantai. Dengan kondisi tanah yang bersifat asam (gambut), serta dominan tanah merah yang kurang subur. Sebagaimana layaknya wilayah Indonesia, kota ini beriklim tropis. Kota ini berada di pesisir timur kalimantan yang langsung berbatasan degan Selat Makassar, memiliki teluk yang dimanfaatkan sebagai pelabuhan laut komersial dan pelabuhan minyak. Disamping itu ada beberapa hikayat populer masyarakat Balikpapan(1) yang menceritakan asal usul kota ini yang berada di pesisir timur Kalimantan ini.
- Adanya 10 Keping papan yang kembali ke Jenebora dari 1.000 keping yang diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan bangunan untuk Pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Ke sepuluh papan yang balik tersebut disebut oleh orang Kutai Balikpapan Tu. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan tersebut, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan.
- Suku Pasir Balik (Suku Asli Balikpapan) adalah keturunan kakek dan nenek bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan atau artinya Balikpapan (dalam Bahasa Pasir, Kuleng artinyaBalik)
- Dalam legenda lain juga disebutkan asal usul Kota Balikpapan, yaitu dari seorang putri yang dilepas oleh ayahnya seorang raja yang tidak ingin putrinya tersebut jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita diikat diatas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata terdapat seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putrid tersebut bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah tempat ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan.
Letak Astronomis Balikpapan berada antara 1,0 LS - 1,5 LS dan 116,5 BT - 117,5 dengan luas sekitar 50.330,57 Ha atau sekitar 503,3 Km ² dengan batas-batas sebagai berikut :Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Makassar. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara.


Pada masa kejayaannya hingga tahun 1959, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Wilayah kekuasaannya meliputi beberapa wilayah otonom yang ada di propinsi Kalimantan Timur saat ini, yakni:
1.       Kabupaten Kutai Kartanegara
2.       Kabupaten Kutai Barat
3.       Kabupaten Kutai Timur
4.       Kota Balikpapan
5.       Kota Bontang
6.       Kota Samarinda


Dengan demikian, luas dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara hingga tahun 1959 adalah seluas 94.700 km2.
Peta wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara

Pada tahun 1959, wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara atau Daerah Istimewa Kutai dibagi menjadi 3 wilayah Pemerintah Daerah Tingkat II, yakni Kabupaten Kutai, Kotamadya Balikpapan dan Kotamadya Samarinda. Dan sejak itu berakhirlah pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara setelah disahkannya Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Kutai melalui UU No.27 Tahun 1959 tentang Pencabutan Status Daerah Istimewa Kutai.

SEJARAH KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA
Tulisan Pada Prasasti Kutai












Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di  Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis  diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi. Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.

Pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama (2) yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentunya menimbulkan friksi diantara keduanya. Pada abad ke-16 terjadilah peperangan diantara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778). Tahun 1732, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan.

Perpindahan ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara dari Kutai Lama (1300-1732) ke Pemarangan (1732-1782) kemudian pindah ke Tenggarong (1782-kini).

Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian. Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin. 
Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado. Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat dipenuhi.
Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan. Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.
Pada tahun 1838, Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin setelah Aji Imbut mangkat pada tahun tersebut. Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam. Namun Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini. Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan meriam kearah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk diantara yang tewas tersebut.

Relief peristiwa pertempuran Awang Long Senopati pada Monumen Pancasila, Tenggarong 

Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemudian Belanda mengirimkan armadanya dibawah komando t'Hooft dengan membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t'Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun. Panglima perang kerajaan Kutai, Awang Long gelar Pangeran Senopati bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t'Hooft untuk mempertahankan kehormatan Kerajaan Kutai Kartanegara. Awang Long gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.
Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan. Pada tahun 1850, Sultan A.M. Sulaiman memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai kartanegara Ing Martadipura. Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam genggaman Sultan A.M. Sulaiman (1850-1899). Pada tahun 1863, kerajaan Kutai Kartanegara kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda.
Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi ekspoitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal di masa itu. Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman. Tahun 1899, Sultan Sulaiman wafat dan digantikan putera mahkotanya Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

A.P. MANGKUNEGOR

Pada tahun 1907, misi Katholik pertama didirikan di Laham. Setahun kemudian, wilayah hulu Mahakam ini diserahkan kepada Belanda dengan kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai Kartanegara. Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun saja, beliau wafat pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu putera mahkota Aji Kaget masih belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.


A.M. PARIKESIT

Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit. Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai berkembang dengan sangat pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co. Di tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924, Kutai telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden - jumlah yang sangat fantastis untuk masa itu. Tahun 1936, Sultan A.M. Parikesit mendirikan istana baru yang megah dan kokoh yang terbuat dari bahan beton. Dalam kurun waktu satu tahun, istana tersebut selesai dibangun.

Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai harus tunduk pada Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan Koo dengan nama kerajaan Kooti.
Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat. Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang "Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan", wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Daerah Tingkat II Kutai  dengan ibukota Tenggarong
2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda
Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Gubernuran di Samarinda, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, dengan atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra tersebut, yakni:
1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai
2. Kapt. Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda
3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan
Sehari kemudian, pada tanggal 21 Januari 1960 bertempat di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir(3), dan beliau pun hidup menjadi rakyat biasa.
Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud diatas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H. Aji Pangeran Praboe. Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kutai Kartanegara baru dilaksanakan pada tanggal 22 September 2001.

Penyebaran Agama Islam dan Ulama Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian Batu atau  Kutai Lama (kini menjadi sebuah desa di wilayah Kecamatan Anggana) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan kutai (atau disebut pula: Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Mulawarman) yang terletak di Muara Kaman. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan antara dua kerajaan tersebut.
Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Da’to Ri Bandang dari makasar dan Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu Da’to Ri Bandang kembali ke Makasar. Namun Tuan Tunggang Parangan ditinggal di Kalimanatan. Beliau diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Adji Mohamad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai pertama yang menggunakan nama Islami. Dan sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Kira-kira 84.000 rakyat Kutai memeluk agama Islam. Dahulu segala urusan yang berhubungan dengan agama Islam langsung kepada Sultan, tetapi sejak tahun 1924 telah dibangunkan sebuah badan yang bernama Mahkamah Agama Islam Kerajaan Kutai, dipimpin oleh Alhadji Amir Hasannoeddin Seri Pangeran Sosro Negoro, dibantu oleh juru tulis dan hoofd-penghulu, ulama-ulama dan sebagainya. Selain daripada mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, badan itu memberi nasihat kepada Sultan tentang maksud pendirian perhimpunan, sekolah agama, mesjid dan lain-lain. Segala mesjid di seluruh Kutai, khotbahnya harus dibenarkan dahulu oleh Mahkamah itu dan mesti memuji Sultan Kutai dengan keturunannya. Yang terpenting selama Pemerintahan Sultan Adji Mohamad Parikesit ialah pendirian mesjid Balikpapan atas pimpiman Sajid Gasim dibantu oleh M. Tewet gelar Mas Djaja Prawira yang sekarang menjadi districtshoofd ter beschikking pada kantor y.m.m. Sultan Kutai. Mesjid Tenggarong yang termasyur di seluruh Kalimantan diperbaharui dengan luas mesjid menjadi 950 m2.

Silsilah Sultan Kutai Kartanegara



Berikut ini adalah daftar nama-nama Sultan yang pernah memerintah Kesultanan Kutai Kartanegara.

No.
N a m a    R a j a / S u l t a n
M a s a
01
Aji Batara Agung Dewa Sakti
1300-1325
02
Aji Batara Agung Paduka Nira
1325-1360
03
Aji Maharaja Sultan
1360-1420
04
Aji Raja Mandarsyah
1420-1475
05
Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya
1475-1545
06
Aji Raja Mahkota Mulia Alam
1545-1610
07
Aji Dilanggar
1610-1635
08
Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura
1635-1650
09
Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura
1650-1665
10
Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura
1665-1686
11
Aji Ragi gelar Ratu Agung
1686-1700
12
Aji Pangeran Dipati Tua
1700-1730
13
Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura
1730-1732
14
Aji Muhammad Idris
1732-1778
15
Aji Muhammad Aliyeddin a
1778-1780
16
Aji Muhammad Muslihuddin b
1780-1816
17
Aji Muhammad Salehuddin
1816-1845
18
Aji Muhammad Sulaiman c
1850-1899
19
Aji Muhammad Alimuddin
1899-1910
20
Aji Muhammad Parikesit d
1920-1960
21
H. Aji Muhammad Salehuddin II e
1999-kini


Catatan:

a
Aji Kado melakukan kudeta terhadap Kesultanan Kutai Kartanegara setelah Sultan A.M. Idris gugur di tanah Wajo, Sulawesi Selatan. Aji Kado mengangkat dirinya sebagai Sultan dengan gelar Aji Muhammad Aliyeddin. Karena bukan pewaris tahta yang sah, A.M. Aliyeddin hingga saat ini tidak dianggap/diakui sebagai Sultan Kutai ke-15 oleh Kesultanan Kutai


b
Pewaris tahta Kerajaan Kutai Kartanegara yang sah, yakni putera mahkota Aji Imbut berhasil menggulingkan pemerintahan Aji Kado. Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Aji Muhammad Muslihuddin.


c
Setelah Sultan A.M. Salehuddin wafat, pemerintahan kerajaan dikendalikan oleh Dewan Perwalian selama 5 tahun hingga menunggu putra mahkota A.M. Sulaiman beranjak dewasa.


d
Ketika Sultan A.M. Alimuddin wafat pada tahun 1910, pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dikendalikan oleh Dewan Perwalian yang dipimpin A.P. Mangkunegoro selama 10 tahun hingga putra mahkota A.M. Parikesit tumbuh dewasa dan siap menjadi Sultan.

A.M. Parikesit merupakan Sultan terakhir Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir dengan ditetapkannya Daerah Istimewa Kutai menjadi Kabupaten, selanjutnya  menjadi masyarakat biasa


e
Kesultanan Kutai Kartanegara dihidupkan kembali sebagai upaya pelestarian budaya. Putra mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai Kertanegara

Pada tanggal 14 Nopember yang akan datang genaplah 14 tahun lamanya s.p.y.m.m Adji Mohamad Parikesit, Sultan kerajaan Kutai Kartanegara, Officier der Orde van Oranje Nassau, diatas tahta kerajaan. Di ibu negeri Kutai Kartanegara telah didirikan sebuah komisi yang maksudnya memperingati hari tersebut. Dari komisi itu kami terima rencana tentang yang mulia Sultan Kutai serta tentang kemajuan kerajaan Kutai dalam waktu yang akhir ini. Dari rencana itu kami ambil beberapa kutipan seperlunya.

Y.m.m. Adji Mohamad Parikesit, Sultan Kerajaan Kutai Kartanegara

Sejarah s.p.y.m.m. Adji Mohamad Parikesit
Seri paduka yang maha mulia itu putra almarhum y.m. Adji Mohamad Alimoeddin, Sultan kerajaan Kutai yang mulai memerintah dalam tahun 1900. Beliau lahir pada 5 Jumadil'akhir 1313 bersama dengan tahun Masehi1896.
Dari kecil beliau dididik oleh nininda beliau almarhum y.m.m. Adji Mohamad Soelaiman, Sultan Kutai. Beliau masuk sekolah Belanda di Samarinda tahun 1905. Tahun 1909 beliau mendapat gelar Adji Endje Renik. Tahun itu jugalah beliau masuk sekolah Instituut Bos di Betawi. Tahun 1910 wafatlah ayahanda beliau, tetapi oleh karena umur beliau ketika itu belum sampai, maka Pemerintahan Kutai terserah kepada yang mulia Pangeran Mangku Negoro.
Tahun 1911 beliau menempuh ujian P.H.S. Dua Tahun sesudah itu beliau pindah ke sekolah Osvia di Serang. Pada tahun 1917 beliau kembali ke Kutai, sebab y.m. Pangeran Mangku Negoro hendak mendidik beliau untuk memegang pemerintahan dan untuk mengenali adat lembaga negeri.

Tahun 1918 beliau diberi gelar Pangeran Adipati Praboe Anoem Soeria Adi Ningrat.
Tanggal 14 Nopember 1920 beliau dinobatkan menjadi raja Kutai Kartanegara. Untuk melanjutkan pengetahuan dan meluaskan pemandangan bertolaklah beliau dalam tahun 1928 dengan permaisuri beliau ke negeri Belanda. Ketika itulah kepada beliau dihadiahkan derajat Officier der Orde van Oranje Nassau.

Pemerintahan Kutai

Y.m.m. Sultan Adji Mohamad Parikesit dibantu oleh tiga orang menteri yang memegang Pemerintahan negeri. Adapun seluruh daerah kerajaan Kutai itu terbagi atas tiga onderafdeling, yaitu Kutai Barat, Kutai Timur dan Balikpapan. Ibu negeri yang pertama ialah Tenggarong, yang kedua Samarinda dan yang ketiga Balikpapan. Ketiga onderafdeling itusama sekali terbagi pula atas 17 buah district. Menurut cacah jiwa tahun 1934 banyaknya penduduk kerajaan Kutai 106.559 jiwa, kecuali orang yang bekerja pada Maatschappij.
Selama Sultan Kutai yang sekarang memerintah, banyak benar berubah susunan Pemerintahan, sehingga sekarang ini tiada banyak lagi bedanya dengan susunan PemerintahanDaerahGoebernemen.
Dalam tahun 1931 telah diadakan sebuah persidangan yang bernama Hoofdenvergadering. Sekalian para kepala onderafdeling, district dan onderdistrict yang diundang untuk menghadiri rapat itu akan membicarakan soal-soal yang penting. Yang memimpin rapat itu y.m.m. Sultan Kutai dengan Asisten-Residen. Rapat itu diadakan 4 bulan sekali. Untuk mengadakan rapat itu telah didirikan sebuah gedung yang besar dengan perabot yang modern. Disana pulalah y.m.Sultanbekerja.
Mulai tahun 1926 diadakan dua macam pengadilan: Kerapatan Besar dan Kerapatan Kecil. Kerapatan Besar terdapat di Tenggarong dan Kerapatan Kecil ada di tiap-tiap district dan onderdistrict.


Agama Islam

Kira-kira 84.000 rakyat Kutai memeluk agama Islam. Dahulu segala urusan yang berhubungan dengan agama Islam langsung kepada Sultan, tetapi sejak tahun 1924 telah dibangunkan sebuah badan yang bernama Mahkamah Agama Islam Kerajaan Kutai, dipimpin oleh Alhadji Amir Hasannoeddin Seri Pangeran Sosro Negoro, dibantu oleh juru tulis dan hoofd-penghulu, ulama-ulama dan sebagainya. Selain daripada mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, badan itu memberi nasihat kepada Sultan tentang maksud pendirian perhimpunan, sekolah agama, mesjid dan lain-lain. Segala mesjid di seluruh Kutai, khotbahnya harus dibenarkan dahulu oleh Mahkamah itu dan mesti memuji Sultan Kutai dengan keturunannya.Yang penting selama Pemerintahan y.m.m. Sultan Adji Mohamad Parikesit ialah pendirian mesjid Balikpapan atas pimpiman Sajid Gasim dibantu oleh M. Tewet gelar Mas Djaja Prawira yang sekarang menjadi districtshoofd ter beschikking pada kantor y.m.m. Sultan Kutai. Mesjid Tenggarong yang termasyur di seluruh Kalimantan diperbaharui dengan luas mesjid menjadi 950 m2.

Pendidikan

Tentang pendidikan pun kelihatan Pemerintahan y.m.m. Sultan Parikesit meninggalkan bekas. HIS sekarang ada di Tenggarong. Di Balikpapan, Samarinda dan Louise (B.P.M.) ada Europeesche Lagere School. Selain daripada itu terdapat juga sekolah kelas II dan 43 buah sekolah desa. Pemuda-pemuda Kutai sekarang ini telah banyak meneruskan pelajarannya pada Mulo, A.M.S., H.B.S., Cultuurschool dan Osvia diluar Borneo.
Kesehatan
Soal kesehatan rakyat mendapat minat sepenuh-penuhnya. Dalam tahun 1918 hanya ada sebuah rumah sakit kerajaan Kutai, yaitu di Tenggarong. Rumah sakit yang sebuah itu pun kurang terpelihara, oleh karena sulit untuk mencari dokternya, sebab dokter yang bekerja disana gajinya tidak dihitung dalam jabatan Pemerintah. Hal itu sekarang telah berubah dan selain daripada itu telah didirikan pula 2 buah rumah sakit baru di Balikpapan dan Samarinda, sedangkan rumah sakit di Tenggarong diperbaiki dan diberinama "A.M. Parikesit Hospitaal". Untuk ketiga-tiganya itu dikeluarkan ongkos lebih dari 150.000 rupiah. Di Long Iram ditempatkan dokter untuk daerah hulu Mahakam. Bangsa Dayak pun rupanya sekarang telah sadar akan baiknya pengobatan cara barat, ialah oleh karena tiada putus-putusnya didaya upayakan supaya mereka mengerti akan hal itu. Penyakit cacar telah dapat ditindis. Hampir di tiap district sekarang ini ditempati seorang menteri dan diadakan sebuah poliklinik untuk menjaga kesehatan anak negeri.  
 
               
Pengaruh Kebudayaan Islam Di Kerajaan Kutai
               

Pengaruh kebudayaan Islam di Kerajaan Kutai :
1. Menggunakan gelar Aji ataupun Sultan
2. Nama-nama Raja-rajanya menggunakan nama Islam
3. Bentuk Ukiran keraton kesultanan Kutai mengunakan huruf Arab
4. Banyak dibangun Masjid dan pesantren
5. Dibangun lembaga agama Islam
6. Banyak terdapat Ulama-ulama besar  
               
Keruntuhan Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, kalimantan Timur. Kerajaan ini dibangun oleh Kudungga. Diduga ia belum menganut agama Hindu. Namun putranya, yang kelak menjadi penggantinya, Mulawarman, telah menganut Hindu.
Dalam prasasti Yupa disebutkan bahwa Kudungga lah pendiri kerajaan ini, sehingga ia disebut wamsakarta. Ia memiliki 3 orang putra, salah satunya bernama Mulawarman. Mulawarman inilah raja termasyur yang pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Untuk memperingati hal itu, para brahmana mencatatnya dalam prasasti Yupa.
Pada abad ke-16, kerajaan Hindu tertua di nusantara ini takluk dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Dalam peperangan tersebut, Raja Kutai Martadipura terakhir yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.
Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (Martapura) merupakan Kesultanan bercorak Islam yang kembali eksis di Kalimantan Timur setelah dihidupkan lagi pada tahun 2001 oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan adat Kutai Keraton.
Dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota H. Adji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjadi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan gelar H. Adji Mohamad Salehoeddin II pada tanggal 22 September 2001. Jadi runtuhnya kerajaan kutai ialah setelah Sultan Aji Parikesit menjabat namun setelah merdeka Indonesia menghidupkan kembali Kerajaan Kutai Kartanegara untuk menghidupkan kembali kebudayaan kerajaan Kutai Kartanegara  itu sendiri(4).

Peninggalan Budaya Kerajaan Kutai Kartanegara



Ketopong Sultan Kutai
Ketopong atau mahkota Sultan Kutai ini terbuat dari emas dengan berat hampir 2 kg.  Saat ini, Ketopong Sultan Kutai disimpan di Museum Nasional Jakarta.






Pedang Sultan Kutai
Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di Museum Nasional, Jakarta.
Kalung Ciwa
Kalung yang terbuat dari emas ini diketemukan oleh penduduk di sekitar Danau Lipan, Kecamatan Muara Kaman pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899). Oleh penduduk kalung ini diserahkan kepada Sultan, yang kemudian dijadikan perhiasan kerajaan dan digunakan Sultan pada waktu diadakan pesta adat Erau dalam rangka ulang tahun penobatan Sultan sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.






Kalung Uncal
Kalung Uncal yang merupakan atribut dari Kerajaan Kutai Martadipura (Mulawarman) ini digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara setelah Kerajaan Kutai Martadipura berhasil ditaklukkan dan dipersatukan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 gram. Kalung ini dihiasi dengan relief cerita Ramayana. 
Menurut sejarah, kalung Uncal tersebut kemungkinan berasal dari India. Dalam bahasa India kalung ini disebut Unchele dan di dunia ini hanya terdapat 2 buah atau satu pasang, yakni sebuah untuk pria dan sebuahnya lagi untuk wanita.
Kalung Uncal yang saat ini ada di India hanya sebuah saja. Menurut keterangan salah seorang duta India yang berkunjung ke Tenggarong pada tahun 1954, kalung Uncal yang ada di Kutai ini sama bentuk, rupa dan ukurannya dengan kalung Unchele yang ada di India. Sehingga, ada kemungkinan bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah seorang keturunan dari Raja-Raja India di masa silam dan membawa kalung Uncal tersebut ke daerah Kutai ini.



Kura-Kura Mas
Menurut riwayat, datanglah ke pusat Kerajaan Mulawarman beberapa rombongan perahu dari negeri Cina yang dipimpin oleh seorang Pangeran yang ingin meminang salah seorang Putri Raja yang bernama Aji Bidara Putih. Setelah lamaran diterima, sang Pangeran mengantarkan barang-barang pertanda kesungguhannya untuk memperistri sang putri berupa perhiasan dari emas dan intan, termasuk diantaranya adalah Kura-Kura Mas tersebut.



Tali Juwita
Tali juwita adalah simbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah muara sungai dan 3 buah anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu). Tali Juwita ini terbuat dari benang yang banyaknya 3x7 helai, kemudian dikuningi dengan kunyit untuk dipakai dalam upacara adat Bepelas.



Keris Bukit Kang
Keris ini adalah tusuk konde dari Aji Putri Karang Melenu, permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti. Menurut legenda Kutai, bayi perempuan yang kemudian diberi nama Aji Putri Karang Melenu ini ditemukan dalam sebuah gong bersama-sama dengan Keris Bukit Kang dan sebuah telur ayam. Gong ini terletak pada sebuah balai dari bambu kuning. Balai tersebut terletak diatas tanduk seekor binatang aneh yang disebut Lembu Swana yang muncul di perairan Kutai Lama.



Kelambu Kuning
Berbagai benda yang menurut kepercayaan mengandung magis ditempatkan dalam kelambu kuning, yakni:
a. Kelengkang Besi
Pada suatu hari ketika hujan panas, petinggi yang tinggal di sungai Bengkalang (Kecamatan Long Iram) yang bernama Sangkareak mendengar suara tangisan bayi. Setelah dicari akhirnya ditemukannya seorang bayi berada dalam suatu wadah yang disebut kelengkang besi.
b. Tajau (Guci/Molo)
Tajau atau tempayan ini dipergunakan untuk mengambil air ketika hendak memandikan Aji Batara Agung Dewa Sakti untuk pertama kalinya.
c. Gong Raden Galuh
Tempat Aji Putri Karang Melenu bersama Keris Bukit Kang diketemukan. Gong besar ini disebut juga Gong Maharaja Pati.
d. Gong Bende (Canang Ponograh)
Gong kecil ini dipukul bilamana ada sesuatu yang akan diumumkan kepada khalayak.
e. Arca Singa Noleh
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beras lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.
f. Keliau Aji Siti Berawan
Keliau atau perisai ini adalah yang selalu dipakai oleh Aji Siti Berawan, keluarga dari dari Sultan Kutai Kartanegara. Aji Siti Berawan disebut pahlawan wanita karena selalu mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Mandau yang dipakainya dinamakan Mandau Piatu.
g. Sangkoh Piatu
Sangkoh (lembing) ini dipakai pada waktu Erau dan dikaitkan pada tali Juwita dan kain Cinde.
h. Sangkoh Buntut Yupa
Lembing ini penjelmaan dari seekor ular yang diketemukan di ujung pulau Yupa oleh seorang penduduk kampung sekitar pulau tersebut.





Singgasana Sultan
Setinggil / Singgasana yang dipakai Sultan Aji Muhammad Sulaiman maupun yang dipakai Sultan Aji Muhammad Parikesit, berikut payung, umbul-umbul, dan geta (peraduan pengantin Kutai Keraton). 
Meriam Sapu Jagat dan Meriam Gentar Bumi
Kedua meriam yang dianggap memiliki kekuatan daya sakti ini digunakan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa untuk menundukkan Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman.

Meriam Aji Entong
Meriam buatan VOC ini awalnya ditempatkan di daerah muara sungai Mahakam, tepatnya di Terantang (Kecamatan Anggana), untuk berjaga-jaga dan menghadapi musuh yang datang melalui selat Makassar.

Meriam Sri Gunung
Meriam Sri Gunung inilah yang dipakai Awang Long gelar Pangeran Senopati untuk menembak armada kapal Inggris dan Belanda yang menyerang Tenggarong pada tahun 1844.

Tombak Kerajaan Majapahit
Tombak-tombak tua dari Kerajaan Majapahit yang tersimpan di Museum Mulawarman membuktikan adanya hubungan sejarah antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan Majapahit.

Keramik Kuno Tiongkok
Ratusan koleksi keramik kuno dari berbagai dinasti di Cina yang tersimpan di ruang bawah tanah Museum Mulawarman membuktikan telah adanya perdagangan yang ramai antara daerah Kutai dengan daratan Cina di masa lampau.

Gamelan Gajah Prawoto
Seperangkat gamelan yang terdapat di Museum Mulawarman berasal dari pulau Jawa, begitu pula topeng-topeng, beberapa keris, pangkon, barang-barang perak maupun kuningan, serta wayang kulit membuktikan adanya hubungan yang erat antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa semenjak jayanya Majapahit.


Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara



Lukisan pendopo Sultan Kutai pada masa pemerintahan Sultan A.M. Sulaiman di tahun 1879 oleh Carl Bock
( Buku: The Head-Hunters of Borneo, 1881)



Keraton peninggalan Sultan A.M. Sulaiman dilihat dari arah keraton beton (Museum Mulawarman)
( Koleksi: Keluarga A.R. Padmo )

Kata Kraton/Keraton yang berasal dari kata 'keratuan' memiliki arti sebagai istana atau tempat kediaman dari seorang ratu (raja), istilah istana ini juga biasa disebut dengan Kedaton yang berasal dari kata 'kedatuan'. Jika dilihat dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara sejak abad ke-13 yang telah mengalami tiga kali perpindahan ibukota, tentunya istana Kerajaan Kutai Kartanegara pun telah mengalami beberapa kali perpindahan atau perubahan. Namun sayang, tidak ada dokumentasi sejarah mengenai rupa bangunan istana raja-raja Kutai di masa lalu baik yang di Kutai Lama, ibukota pertama Kerajaan Kutai Kartanegara maupun di Pemarangan, ibukota kerajaan yang kedua.
Dokumentasi bentuk istana Sultan Kutai hanya ada pada masa pemerintahan Sultan A.M. Sulaiman yang kala itu beribukota di Tenggarong, setelah para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi ke pedalaman Mahakam pada abad ke-18. Carl Bock, seorang penjelajah berkebangsaan Norwegia yang melakukan ekspedisi Mahakam pada tahun 1879 sempat membuat ilustrasi pendopo istana Sultan A.M. Sulaiman(5). Istana Sultan Kutai pada masa itu terbuat dari kayu ulin dengan bentuk yang cukup sederhana(6).




Interior keraton Sultan A.M. Sulaiman
( Koleksi: Sultan H.A.M. Salehuddin II )


Keraton Sultan Kutai pada masa Sultan A.M. Alimuddin
( Koleksi: J.R.Wortmann, Driebergen, The Netherlands )

Setelah Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1899, Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipimpin oleh Sultan A.M. Alimuddin (1899-1910). Sultan Alimuddin mendiami  keraton baru yang terletak tak jauh dari bekas keraton Sultan Sulaiman.  Keraton Sultan Alimuddin ini terdiri dari dua lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Keraton ini dibangun menghadap sungai Mahakam. Hingga Sultan A.M. Parikesit naik tahta pada tahun 1920, keraton ini tetap digunakan dalam menjalankan roda pemerintahan.












Upacara Selamatan pembangunan keraton pada tahun 1936
( Koleksi: J.R.Wortmann, The Netherlands )

Pada tahun 1936, keraton kayu peninggalan Sultan Alimuddin ini dibongkar karena akan digantikan dengan bangunan beton yang lebih kokoh(7). Untuk sementara waktu, Sultan Parikesit beserta keluarga kemudian menempati keraton lama peninggalan Sultan Sulaiman. Pembangunan keraton baru ini dilaksanakan oleh HBM ( Hollandsche Beton Maatschappij ) Batavia dengan arsiteknya Estourgie. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk menyelesaikan istana ini. Setelah fisik bangunan keraton rampung pada tahun 1937, baru setahun kemudian yakni pada tahun 1938 keraton baru ini secara resmi didiami oleh Sultan Parikesit beserta keluarga. Peresmian keraton yang megah ini dilaksanakan cukup meriah dengan disemarakkan pesta kembang api pada malam harinya. Sementara itu, dengan telah berdirinya keraton baru maka keraton buruk peninggalan Sultan Sulaiman kemudian dirobohkan. Pada masa sekarang, areal bekas keraton lama ini telah diganti dengan sebuah bangunan baru yakni gedung Serapo LPKK.

Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa Sultan A.M. Parikesit
( Photo: Agri, 2001 )

Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir pada tahun 1960, bangunan keraton dengan luas 2.270 m2 ini tetap menjadi tempat kediaman Sultan A.M. Parikesit hingga tahun 1971.  Keraton Kutai kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tanggal 25 Nopember 1971. Pada tanggal 18 Februari 1976, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyerahkan bekas keraton Kutai Kartanegara ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola menjadi sebuah museum negeri dengan nama Museum Mulawarman. Didalam museum ini disajikan beraneka ragam koleksi peninggalan kesultanan Kutai Kartanegara, diantaranya singgasana, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari China, dan lain-lain.



Makam Keluarga Kerajaan Kutai Kartanegara ( Photo: Agri, 2001 )

Dalam lingkungan keraton Sultan Kutai terdapat makam raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir. Sultan-sultan yang dimakamkan disini diantaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Hanya Sultan Alimuddin saja yang tidak dimakamkan di lingkungan keraton, beliau dimakamkan di tanah miliknya di daerah Gunung Gandek, Tenggarong.


Keraton Kesultanan Kutai dilihat dari atas
( Photo: Ronny Artha, 1998 )


Kedaton Sultan Kutai Kartanegara di malam hari
( Photo: Agri, 2002 )

Kedaton Kutai Kartanegara yang berdiri megah di pusat kota Tenggarong
( Photo: Agri, 2003 )

Pada tanggal 22 September 2001, putra mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anum Surya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H.A.M.  Salehuddin II. Dipulihkannya kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ini adalah sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia agar tak punah dimakan masa. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah membangun sebuah istana baru yang disebut Kedaton bagi Sultan Kutai Kartanegara yang sekarang. Bentuk kedaton baru yang terletak disamping Masjid Jami' Hasanuddin ini memiliki konsep rancangan yang mengacu pada bentuk keraton Kutai pada masa pemerintahan Sultan Alimuddin.***




(1) Cerita tersebut merupakan cerita sejarah yang bersifat legenda karena tidak adanya sumber yang pasti dan terdapat perbedaan cerita antara satu legenda dengan legenda yang lainnya
.
(2) Corak kerajaan Kutai lama adalah Hindu-Budha sehingga peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti tertulis adalah bahasa Sanskerta dengan huruf  Pallawa.

(3) Yang terjadi ketika itu bukan merupakan keruntuhan Kerajaan Kutai Kertanegara melainkan keSultanan Kutai meleburkan daerah kekuasaannya dengan Republik Indonesia dengan ikhlas dan tidak terjadi pertumpahan darah dalam  prosesnya.

(4) Dari diberdirikannya kembali kerajaan Kutai Kertanegara ing Martadipura dapat diketahui bahwa sesungguhnya kerajaan Kutai tidak termasuk kedalam kerajaan yang runtuh karena kehancuran tatanan kerajaan melainkan karena bergabungnya kerajaan tersebut kedalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia..

(5) Karena tidak memiliki dokumentasi yang lengkap mengenai peninggalan bentuk keraton sangat sulit untuk mengetahui bentuk bangunan-bangunan sebelum masa Sultan A.M.Sulaiman,bentuk keraton A.M.Sulaiman pun dapat didokumentasikan karena inisiatif dari bangsa lain.

(6) Rata-rata kerajaan-kerajaan diIndonesia memaanfaatka bahan baku kayu sebagai bahan utama pembangunan keraton,hal ini yang menyebabkan kerajaan-kerajaan diIndonesia sulit ditemukan peninggalan-peninggalan bekas bangunan keraton kerajaan-kerajaan diIndonesia,hal ini berbeda dengan mayoritas kerajaan-kerajaan di Eropa atau dinegara-negara lain yang istana kerajaannya terbentuk dari bangunan batuan yang kokoh sehingga bentuk arsitekturnya dapat dilihat dengan jelas hingga masa sekarang.

(7) Baru pada tahun 1936 dibangun keraton dengan bahan bangunan beton yang kokoh,dan hal ini dipengaruhi oleh kemajuan zaman serta mudahnya penyediaan sarana dan prasarana ketika masa itu,hal ini tentunya sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya yang masih menggunakan sumber daya alam yang tersedia di daerah sekitar kerajaaan berupa bahan baku kayu.







DAFTAR PUSTAKA

AM, Kusnawati, dkk. 2002. Sejarah SMU Kelas 1. Galaxy Puspa Mega : Bandung

M.A. Yatim, badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam. Rajawali Press : Jakarta

Al-Usairy, Ahmad. 2006. Sejarah Islam ;Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Akbar Press: Jakarta

Syarifuddin, Ahmad. 1990. Profil Provinsi Republik Indonesia Kalimantan Timur. Yayasan Bakti Wawasan Nusantara: Jakarta.

http//:www.wikipedia.com

http//:www.kutaikertanegara.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar