Tampilkan postingan dengan label uts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uts. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Eksistensi Folklore sebagai produk parwisata serta perannya sebagai modal pemandu


Melihat perkembangan yang saat ini menggeliat pada sektor pariwisata keberadaan folklore sebagai salah satu komoditi pemerkaya khasanah produk keparwisataan menjadi penting kehadirannya. Bukan hanya merupakan salah satu alat atau media yang bisa menyampaikan keunikan suatu daerah bedasarkan berbagai ragam cerita yang telah ada sejak masa lampau namun keberadaan folklore juga sedikit banyak dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat pada hari ini akan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh kearifan lokal dari tiap daerah.

Pada hari ini keberadaan folklore dihadapkan pada sebuah kenyataan miris yaitu teriris eksistensinya oleh perkembangan zaman. Meskipun pada kasus-kasus tertentu seperti folklore yang ceritanya telah melegenda dan familiar akan terjaga eksistensinya namun keberadaan folklore dari daerah-daerah yang belum begitu dikenali nyata-nyatanya harus diakui bahwa jika tidak ada niatan pendokumentasian dari pihak-pihak yang mau peduli maka bisa saja folklore itu menghilang dari perdaran.

Eksistensi folklore sangata erat kaitannya dengan reputasi yang ia miliki, dalam hal ini jika sebuah cerita makin dikenali oleh masyarakat luas maka keberadaannya pun akan senantiasa diingat dan tidak lekang dari waktu. Mari tengok cerita mengenai malin kundang yang sangat terkenal itu. Faktor kuncinya terletak pada seberapa besarkah reputasi yang dimiliki oleh folklore itu untuk mencapai tingkat eksistensi yang baik.
Dampak yang nyata yang mana tentunya akan bisa dirasakan oleh banyak pihak adalah meningkatnya rasa penasaran seseorang untuk mengetahui lebih jauh dan tidak menutup kemungkinan seseorang akan mendatangi tempat dimana terjadinya insiden itu. Dalam topik Suku Toraja cerita-cerita mengenai upacara pemakaman yang telah dikenal seantero indonesia nyatanya berhasil membuat mereka hidup dan ditopang oleh pendapatan dari sektor pariwisata.

Orang berbondong-bondong untuk mencoba mencari tahu seperti apa yang sebenarnya terjadi di tempat asalnya. Faktor ketertarikan akan suatu keunikan ini menjadi salah satu motivasi yang lumrah dan umum jika kita melihat pangsa pasar wisata minat khusus. Upacara pemakaman yang begitu megah juga menjadi salah satu daya pikat. Tentu sulit dipercaya jika halnya hanya untuk memakamkan seorang jenazah dibutuhkan sebuah rangkaian ceremonial yang amat megah. Hal ini terbukti dapat menjadi daya pikat utama dari intisari kekuatan pariwisata Tana Toraja.

Cerita-cerita lainnya seperti kebiasaan masyarakat, takhayul dan juga hal-hal yang memiliki keunikan dengan level tertentu nantinya akan menjadi suatu produk komplementer dengan melengkapi sajian utama yang merupakan jawaban dari motivasi pengunjung untuk mau datang ke Tana Toraja. Dan dengan itu pula lah maka kekayaan khasanah budaya sebuah etnik akan semakin tergali informasinya dan secara langsung akan mengakibatkan kemajuan pariwisata. Karena tentu kita paham bahwasannya promosi yang baik adalah dengan menyuguhkan informasi yang menarik, unik, dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Pengetahuan akan Folklore juga bisa berguna sebagai penambah pengetahuan akan materi bila halnya pembaca berprofesi sebagai pemandu. Dari sini Folklore tentu menawarkan pesona cerita yang unik dan tersendiri dimana nantinya para wisatawan akan dibawa imajinasinya untuk bisa segera bersahabat dengan calon destinasi yang akan ia kunjungi. Hal ini akan sangat berguna untuk memprovokasi secara positif bagi para wisatawan yang tengah pembaca tangani untuk nantinya kemudian memberikan sugesti yang cerdas supaya wisatawan semakin bersemangat akan agenda perjalanan yang tengah ia jalani.

Kiranya paparan diatas dapat membuat pembaca sedikit terbuka pandangannya bahwasannya cerita-cerita yang sifatnya mengandung keunikan serta memiliki daya tarik secara kehususan kelompok dapat menjadi sebuah bekal yang layak untuk dapat dipresentasikan jika kalau-kalau pembaca merupakan seorang guide profesional, sedang dalam tahapan menuju itu, ataupun berpikir untuk menjadi guide.


terima kasih

Madito Mahardika

Folklore bukan lisan Toraja rumah adat tongkonan


Dilihat dari segi fungsionalitasnya, Folklore dapat dikategorikan menjadi empat cabang fungsi diantaranya adalah :
a.       Sebagai sistem proyeksi artinya folklore disini berfungsi sebagai alat penggambaran angan-angan secara kolektif. Bahwasannya keinginan dan imajinasi yang diciptakan oleh manusia sering kali ingin diterjemahkan kedalam satu bentuk yang nyata.
b.      Sebagai alat pengesahan dan menjadi bukti bahwasannya folklore menjadi lambang kebudayaan bagi etnik komunitas tertentu dan memiliki ciri yang unik satu sama lainnya.
c.       Sebagai alat pendidik anak dalam kaitannya pengajaran nilai-nilai luhur dan norma-norma tak tertulis yang telah berlaku dalam komunitas etniknya selama lebih dari ratusan tahun.
d.      Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya.

Di sisi lain Folklore bukan lisan Suku Toraja yang pada kali ini menjadi bahasan utama pada entry kali ini memiliki pengertian umum bahwasannya folklore kategori ini bentuknya memang bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Umumnya meninggalkan bentuk materiil (artefak).

a.       Arsitektur rakyat : yang termasuk ke dalam kategori arsitektur rakyat dalam kaitannya dengan folklore bukan lisan adalah arsitektur yang berupa prasasti, bangunan-bangunan suci, dan bangunan rumah tradisional. Secara definisi arsitektur disini ialah sebuah karya seni atau ilmu merancang bangunan.

b.      Kerajinan tangan rakyat : merupakan hasil dari kearifan lokal yang dimiliki oleh etnik-etnik yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dengan bentuk yang beraneka-ragam dan memiliki ciri khasi tertentu yang menjelaskan keotentikan identitas suatu kebudayaan etnik itu. Pembuatan kerajinan ini awalnya hanya ditujukan untuk sekedar mengisi waktu luang para pelakunya serta untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pada hari ini jenis kerajinan rakyat merupakan salah satu variabel yang tidak dapat dipisahkan dari industri kepariwisataan.

c.       Pakaian atau Perhiasan Tradisional : bentuk visualisasi dalam berpakaian juga memiliki cerita tersendiri dalam tiap sulamannya. Bentuk-bentuk baju khas daerah tentu memiliki filosofi yang menarik untuk diketahui cerita dibalik itu semua dan memiliki daya tarik keunikan tersendiri.

d.      Obat-obatan tradisional : ramuan-ramuan yang dimiliki masing-masing etnik tentu menyimpan cerita tersendiri dengan berbagai khasiat yang beragam. Dibalik itu semua segi filosofis tiap etnik terhadap satu komponen obat-obatan tradisional tentu memiliki keunikan sendiri yang juga memiliki ceritanya tersendiri.

e.       Masakan dan minuman tradisional : cita rasa yang berbeda dan unik merupakan maksud utama dari berkembangnya citra masakan dan minuman tradisional dari masa ke masa. Kepopulerannya juga tidak lepas dari cerita berantai dari satu orang ke orang yang lain.

Selanjutnya dalam entry ini akan dibahas mengenai arsitektur rumah tongkonan toraja yang mana merupakan rumah tradisional dari Suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja. Rumah adat ini memiliki filosofi yang cukup dalam dari banyak segi arsitekturnya. Yang mencolok dari bangunan rumah adat tongkonan adalah bentuk atapnya yang menyerupai moncong perahu. Dengan bercirikan rumah panggung dan di bawah ruma tersebut biasanya difungsikan sebagai kandang kerbau ternakan keluarga pemilik rumah. Atap rumah adat tongkonan hingga hari ini masih mempertahankan material utama sejak masa lampau yaitu masih menggunakan ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu yang telungkup dengan buritan. Beberapa membandingkan kemiripan atap rumah tongkonan toraja dengan rumah gadang di minang karena bentuknya yang relatif mirip yaitu menyerupai tanduk kerbau.

Pembuatan rumah adat tongkonan sendiri melibatkan banyak elemen. Umumnya secara tipikal masyarakat toraja secara bergotong-royong saling bantu dalam penyelenggaraan pembangunan rumah tersebut. Dilihat dari fungsi sosialnya rumah adat tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku toraja ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan serta kemaslahatan sosial masyarakat Suku Toraja. Keberadaan rumah tongkonan sendiri melambangkan hubungan penghuni yang saat ini masih hidup dengan para leluhur mereka.

Menurut cerita masyarakat Suku Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang, ketika leluhur suku toraja turun ke bumi, dia meniru model rumah tersebut dan mencoba membangun sebuah tempat tinggal yang serupa dengan yang ia jumpai di surga. Selesai membangun dengan usaha yang amat keras maka ia menggelar sebuah upacara yang besar. Pembangunan rumah adat tongkonan sendiri sebenarnya membutuhkan usaha yang keras dan keuletan yang tinggi. Biasanya proses pembuatannya itu akan sangat melelahkan dan melibatkan seluruh anggota keluarga serta kerabat. Sedikitnya ada tiga jenis rumah tongkonan yang dapat dijumpai di Tana Toraja :

1.      Tongkonan Layuk ialah bangunan yang menjadi tempat kekuasaan tertinggi. Fungsi kegunaannya adalah sebagai pusat pemerintahan dalam suku secara internal.
2.      Tongkonan Pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal.
3.      Tongkonan Batu adalah tempat tinggal bagi anggota keluarga biasa.

Pada hari ini sulit untuk membedakan yang manakah rumah tongkonan yang merupakan rumah para bangsawan dengan rumah yang bukan berasal dari keluarga bangsawan karena kini akses menuju luar Tana Toraja semakin mudah dan para warga juga sudah banyak yang mencari nafkah diluar Tana Toraja. Dengan demikian mereka dapat membangun rumah yang sama megahnya sehingga sulit dibedakan mana rumah bangsawan dan mana yang bukan.

Dilihat dari posisinya rumah adat tongkonan Toraja selalu menghadap kearah utara dan letaknya berjejer serta atapnya yang meruncing keatas. Hal ini melambangkan bahwa leluhur mereka berasal dari utara. Dalam falsafaj Suku Toraja Ketika nanti meninggal dunia maka seluruh arwah orang toraja akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.

Kata tongkonan sendiri berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkupulnya bangsawan toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga memiliki fungsi sosial budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat.

Masyarakat Suku Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) dianggap sebagai bapak. Bagian dalam rumah memiliki makna filosofis yang berbeda-beda pula. Bagian ini terbagi atas tiga bagian yaitu utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang memiliki fungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung yang merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut dengan sebutan Sali dimana pada tempat ini terdapat ruang untuk makan, pertemuan kelaurga, dapur, serta tempat meletakkan jenazah anggota keluarga yang masih belum sempat untuk dikuburkan.

Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari. Lumbung padi tersebut tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.

Secara kasat mata ketika kita melihat bangunan rumah adat tongkonan ada ciri lain yang cukup menonjol yaitu epala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.

Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci.

Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman. Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.

Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. Dalam perkembangannya hingga hari ini Rumah adat tongkonan akan terus dibangun dan didekorasi ulang oleh masyarakat Toraja. Hal itu bukan karena alasan perbaikan tetapi lebih untuk menjaga gengsi dan pengaruh dari kaum bangsawan. Pembangunan kembali rumah tongkonan akan disertai upacara rumit yang melibatkan seluruh warga dan tidak jauh berbeda dengan upacara pemakaman.

terima kasih

Madito Mahardika


sumber penulisan :

Folklore sebagian lisan Suku Toraja


Sebagian lisan dalam hal ini folklore jenis ini merupakan bentuk campuran antara unsur lisan dan bukan lisan. Perpaduan ini memadu-padankan akan hubungan bahwa kaitannya dengan pengklasifikasiannya berhubungan dengan Fakta sosial.

a.       Kepercayaan rakyat (takhayul): kepercayaan ini banyak dimiliki oleh raga etnik di seluruh dunia. Kepercayaan yang bersifat takhayul sering dianggap tidak bedasarkan logika karena keberadaannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, menyangkut kepercayaan dan kebiasaan dalam prakteknya, serta diwariskan melalui media verbal.

b.      Permainan rakyat: keberadaannya disebarkan melalui tradisi lisan yang berkembang di dalam sebuah komunitas etnik. Sementara untuk persebarannya dilakukan tanpa bantuan orang dewasa. Contohnya seperti congklak, teplak, main tali, dan gobak slodor.

c.       Teater Rakyat: biasanya mengisahkan tentang sebuah cerita kolosal yang mengisahkan tokoh-tokoh tertentu. Dalam penyelenggaraannya sebuah teater memilki makna dalam penyebaran nilai-nilai arif dalam kehidupan. Media penyebaran yang dilakukan pada masa lampau terbatas pada tradisi lisan saja.

d.      Tari Rakyat: sebuah pertunjukan yang mengandalkan gerakan-gerakan padu, terstruktur, serta molek dari para penarinya. Pagelaran tari umumnya dilakukan untuk acara-acara penting seperti upacara adat maupun jamuan tertentu. Pada prosesnya persebarannya dilakukan secara lisan.

e.       Pesta rakyat: yang satu ini merupakay perayaan yang biasanya dilakukan untuk memperingati suatu hal yang sifatnya adalah keberkahan dan kebahagiaan. Tujuan utama diadakannya penyelenggaraan pesta rakyat adalah untuk mensyukuri nikmat ataupun merayakan suatu kegemilangan tertentu.

f.       Upacara adat: prosesi upacara yang berkembang di masyarakat didasarkan dengan adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan masyarakat setempat akan suatu hal yang dianggap agung ataupun memiliki sesuatu yang tidak biasa. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada komunitas mereka.

Maka dari penjelasan diatas berikut ini adalah penjelasan dari beberapa ragam bentuk Folklore sebagian lisan dari masyarakat Suku Toraja :

-          Kepercayaan Rakyat.

Ø  Lahir, masa bayi, dan masa kanak-kanak

1.      Wanita yang tengah mengandung anaknya dilarang untuk duduk di pintu, hal ini dikarenakan kalau duduk di pintu menurut kepercayaan masyarakat suku toraja ia akan didorong hingga jatuh ke tanah oleh makhluk halus.
2.      Ketika seorang bayi baru lahir maka ia tidak boleh untuk ditegur dengan kata-kata yang berisi sindiran mengenai bagian tubuhnya
3.      Ketika seorang bayi ditidurkan dalam sebuah ayunan maka kepalanya harus ditutupi dengan kain sarung, hal ini dikarenakan menurut kepercayaan masyarakat suku toraja jika tidak ditutupi dengan kain sarung maka kepala sang bayi akan dipegangi oleh makhluk halus.
4.      Ketika sang istri sedang mengandung, suaminya tidak boleh memangkas rambutnya. Hal ini disebabkan apabila ia mencukur rambut nanti bayinya akan terlahir dengan tidak ada rambut atau dengan kata lain akan terlahir botak secara permanen.

Ø  Tubuh manusia, dan obat-obatan rakyat.

1.      Orang yang terlahir memiliki tanda bawaan tahi lalat pada telapak tangannya tidak boleh secara sembarangan memukul orang lain. Menurut kepercayaan masyarakat suku toraja hal ini disebabkan karena pukulan orang tersebut akan mengakibatkan orang lain menjadi sakit.
2.      Apabila suatu saat seseorang terkena penyakit mata maka cara mengobatinya ialah mata ditutupi dengan kain hitam kemudian ditiup oleh salah seorang sepupunya dalam keadaan dekat penyakitnya akan sembuh seketika.

Ø  Rumah dan pekerjaan rumah tangga

1.      Ketika membangun sebuah rumah, disarankan didirikan atau dibangun pada pagi hari tepat ketika ayam tengah berkokok.
2.      Dilarang menyapu rumah di malam hari karena diyakini akan membawa sial dan semua rejeki yang akan masuk akan keluar.
3.      Ketika seorang ibu rumah tangga sedang memasak di dapur tidak boleh ada beras atau nasi yang jatuh kedalam dapur karena hal ini akan membawa malapetaka dan nasi yang disajikan akan terasa tawar.

Ø  Mata pencaharian dan hubungan sosial.

1.      Apabila seseorang ingin melakukan aktifitas mandi atau mencuci ke sumur, dianjurkan orang ini untuk melihat teliti apakah di sumur itu ada orang lain atau tidak. Ketika ada orang di sumur tersebut sebaiknya jangan kesana. Terlebih kalau yang disana adalah lawan jenis. Bila tanpa sengaja kita kesana dan ternyata disana ada orang dan yang dilihat adalah lawan jenis maka orang ini akan dinikahkan. Sementara itu apabila yang didapati di sumur adalah kerabat atau orang yang telah berumah tangga maka kita akan dikenakan sanksi sesuai denga ketentuan adat yang berlaku.
2.      Dalam kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Suku Toraja ketika seorang suami pergi untuk berjudi atau sabung ayam, sang istri wajib hukumnya untuk tidak berdandan di rumah karena hal ini diyakini akan membawa sial bagi sang suami sehingga pada arena perjudian ia akan kalah.

Ø  Perjalanan dan perhubungan

1.      Ketika akan menempuh perjalanan menuju tempat diadakannya sabung ayam dan dalam perjalanan secara tanpa sengaja kita bertemu dengan ular atau binatang sejenisnya maka sebaiknya ular yang kita temui itu kita tangkap dan tidak boleh dibunuh. Menurut masyarakat Suku Toraja jika hal ini kita lakukan maka kesempatan kita untuk menang akan semakin terbuka.
2.      Bila seorang laki-laki bersama rombongannya hendak melamar kerumah seorang gadis dan dalam perjalanannya tanpa sengaja mereka mendapati seorang anak kerbau yang sedang menyusui, maka sebaiknya laki-laki yang hendak melamar ini mengambil sedikit air susu induk kerbau itu, menurut kepercayaan masyarakat Suku Toraja hal ini merupakan pertanda bahwa lamarannya akan diterima dengan baik dan kelak rumah tangga yang akan dibinanya akan mendapat berkah serta rejeki yang banyak.

Ø  Cinta, pacaran, dan menikah

1.  Menurut orang toraja ketika seseorang jatuh cinta tetapi orang yang dicintainya tidak merespon rasa cintanya maka dapat di taklukhkan dengan cara ilmu gaib dengan cara di bantu oleh seorang dukun.
2.  Apa bila seorang suami atau istri selingkuh dan pasangannya tidak merelekan apa bila keduanya bercerai,maka hal ini dapat di atasi dengan ilmu gaib,yakni dengan cara bantuan seorang dukun,dan dukun tersebut dapat membuat rupa/wajah selingkuhan pasangannya tidak sesuai dengan rupa sebenarnya atau sekligus berwujud seperti binatang di mata pasangannya.

Ø  Kematian dan adat pemakaman.

1. Menurut kepercayaan orang toraja,ketika seseorang meninggal dan dalam upacara pemakamannya tidak di potongkan babi atau kerbau maka arwahnya tidak akan di terima di alam puyo.
2.   Apa bila seorang bayi yang berumur di bawa satu minggu meninggal dunia,maka dia tidak boleh dikubur pada siang hari,sebaiknya dikubur pada malam hari karena menurut orang toraja bayi ini belum berdosa dan seolah – olah belum ada di dunia ini.

Ø  Takhayul mengenai alam ghaib

1.      bombo (setan yang menyerupai manusia dan menurut orang toraja sering menyerupai bentuk wajah orang yang akan meninggal,jadi apa bila seseorang telah keluar bombonya berarti orang ini dalam waktu dekat akan meninggal)
2.   Batitong (adalah hantu yang meyerupai manusia,orang yang batitongan adalah orang yang mendapat  mejik yang tidak sempurna dari si pemberi mejik.jadi batitongan juga termasuk salah satu penyakit.orang yang batitongan sering memakan katak,kotoran binatang,dan ada api keluar dari hidungnya.batitong ini keluar pada malam hari.
3.      pakonian (setan yang  sejenis batitong tetapi yang membedakan pakoni dengan batitong ialah ,batitong hanya keluar pada malam hari sedangkan pakoni juga keluar pada siang hari.).

-          Takhayul terciptanya alam semesta dan dunia

Ø  Takhayul mengenai gejala alam.

1.      bosi bulan (bosi bulan sama dengan gerhana bulan,menurut orang toraja ketika hal ini terjadi semua kegiatan yang berkaitan dengan pertanian tidak bolh dikerjakan karena tidak akan menghasilkan hasil panen yang bagus).
2.      bongi’ – bongi’ (bongi’- bongi’ sama dengan gerhana mata hari,ketika hal ini terjai menurut orang toraja pertanda akan terjadi mala petaka yang besar).
Ø  Takhayul mengenai cuaca.

1.     ma’pamanta’ (ma’pamanta’ adalah sebuah takhayul yang dilakukan ketika musim hujan,hal ini dilakukan seorang pawang hujan,ma’pamanta’ dilakukan dengan berbagai cara,contohnya : merebus batu asa/batu gosok didalam keramik)
2.      melambe uran (melambe uran adalah hal yang dilakukan oleh seorang pawang ketika musim kemarau berkepanjangan.dalam ritual melambe uran hal –hal yang disiapkan adalah ayam yang bulunya berwarna merah dan berbintik – bintik putih dan hitam atau dalam bahasa toraja dikenal dengan nama seppaga atau rame.)
Ø  takhayul mengenai binatang dan peternakan

1.   tedong bulan (tedong bulan atau kerbau albino menurut orang toraja tidak boleh dimakan bahkan tidak boleh di pelihara karena akan membawa malapetaka bagi tuannya dan bagi ternak lainnya,jadi ketika  kerbau ini lahir kerbau ini langsung di bunuh).
2.      manuk ma’sissik lalo (ayam ini tidak boleh di aduh karena dia tidak akan menang).

Ø  Takhayul mengenai tanaman dan pertanian

1. ma’kombongan (ma’kombongan adalah sebuah acara yang dilakukan ketika hamah menyerang padi,dalam acara ma’kombongan masyarakat akan mencari tau siapa yang melakukan kesalahan sehingga dewa marah dan berakibat tanaman/padi terserang hamah,ketika orang yang melakukan kesalahan telah di ketahui maka orang ini akan di kenakan sanksi/denta tertentu,misalnya disuruh potong babi atau ayam ).
2.   ‘ma’pesung /ma’pakande deata (hal ini dilakukan ketika para petani akan menanam padi.ritual ini dilakukan untuk memberi makan kepada dewata dengan harapan dewata akan melindungi tanaman yang akan ditanam agar kelak menghasilkan hasil panen yang melimpah.

terima kasih

Madito Mahardika


sumber penulisan :



Folklore lisan - mitos Aluk to dolo Suku Toraja


Seorang ahli Folklore asal Amerika Serikat Jan Harold Brunvand menetapkan sebuah definisi yang menjadi batasan dari koridor pengertian Folklore Lisan. Secara definisi Folklore lisan merupakan folklore yang bentuknya murni lisan artinya cerita yang diungkanpkan dan cara penyampaiannya menggunakan media lisan.

Pembentukan Folklore lisan dewasa ini terbagi dalam beberapa jenis dan masing-masing mewakili rupa serta ragam yang berbeda. Yang pertama (1) adalah Bahasa Rakyat, merupakan bahasa yang menjadi media komunikasi antara rakyat setempat dan bahasa utama yang sering digunakan disamping bahasa nasional. Keberadaan bahasa rakyat di dalam sosial kemasyarakatan merupakan media pergaulan dalam kaitannya sebagai sarana bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya termasuk kedalam kosa kata bahasa, dan julukan. Yang kedua (2) adalah ungkapan tradisional. Memiliki makna kalimat pendek yang memang sengaja dipersempit penggunaan perkataannya dan merupakan hasil dari sebuah pengalaman yang panjang atau nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Biasanya bentuknya seperti semacam pribahasa yang mengandung kebenaran dan kebijaksanaan dalam kehidupan atau dalam bentuk ungkapan pepatah. Selanjutnya bentuk yang ketiga (3) adalah pertanyaan tradisonal atau teka-teki. Menurut alan dundes, teka-teki adalah ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan dan untuk menemukan jawabannya biasanya harus ditebak-tebak. Berlanjut pada bentuk keempat (4) adalah Puisi rakyat. Bentuknya merupakan sebuah hasil kesusastraan rakyat yang sudah memiliki bentuk tertentu. Fungsinya sebagai alat kendali sosial, untuk hiburan, untuk memulai suatu permainan, mengganggu orang lain, seperti pantun, syair, dan sajak. Dalam bentuk kelima (5) diklasifikasikan sebagai cerita prosa rakyat. Merupakan suatu cerita yang disampaikan secara turun temurun (dari mulut ke mulut) di dalam komunitas masyarakat tersebut seperti contohnya mitos, legenda, dan dongeng. Yang terakhir bentuk keenam (6) adalah nyanyian rakyat yang mana merupakan sebuah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang tradisional yang mencirikan ke-”khas”an daerah tersebut. Fungsinya adalah sebagai sarana rekreatif masyarakat lokal untuk mengusir kebosanan rutinitas sehari-hari maupun sebagai sarana melepas beban dari kesukaran hidup sehingga menjadi semacam penawar hati.

Suku Toraja sebagai sebuah Suku yang memiliki ragam khasanah budaya yang agung memiliki banyak cerita yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk hanya sekedar memastikan apakah benar hal itu memang terjadi adanya. Keinginan untuk membuktikan secara langsung cerita ini sedikit banyak menjadi salah satu motivasi mengapa banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi lokasi Tana Toraja yang terletak di dataran tinggi Sulawesi Selatan.

Diantara cerita itu tulisan ini akan menceritakan kehadiran sebuah mitos di Tana Toraja yaitu mengenai kepercayaan animisme mereka yang bernama Aluk to Dolo. Mitos sendiri memiliki makna yaitu cerita prosa rakyat yang memiliki tokokh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi pada dunia lain atau kayangan dan penggambaran mengenai dunia setelah mati. Cerita ini dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita ataupun orang-orang yang memang mempercayainya. Pada umumnya mitos menceritakan bagaimana terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan penggambaran alam setelah kematian.

Kembali pada mitos kepercayaan animisme Suku Toraja yaitu Aluk To Dolo. Dalam pengertian yang beredar pada masyarakat Toraja sejak lama, Aluk memiliki makna yaitu budaya atau aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran indochina pada kisaran 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. Tokok penting dalam penyebaran kepercayaan aluk ini bernama Tomanurun Tamboro Langi. Beliau merupakan pembawa kepercayaan Aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Dalam perkembangannya Kepercayaan asli masyarakat toraja kini dikenal dengan sebutan Aluk To Dolo. Kepercayaan asli Suku Toraja ini memiliki makna bahwasannya kesadaran manusia hidup di muka bumi ini hanya untuk sementara saja, prinsip kuat yang tertanam ini mengibaratkan bahwasannya selama tidak ada orang yang bisa menahan matahari terbenam di ufuk barat, maka kematian pun niscaya tidak akan bisa ditunda kedatangannya oleh makhluk hidup.

Mitos yang hidup di kalangan Suku Toraja adalah bila halnya seseorang telah meninggal dunia maka pada akhirnya ia akan menuju ke suatu tempat yang biasa disebut oleh Suku Toraja dengan nama Puyo atau dunia arwah. Puyo dianggap sebagai sebuah tempat dimana seluruh roh berada. Letaknya secara spesifik berada pada bagian selatan tempat tinggal orang tesebut. Namun dalam kepercayaan masyarakat yang menganut ajaran Aluk To Dolo tidak semua roh yang telah berpulang akan dengan sendirinya langsung menuju dan berkumpul di puyo. Dalam prosesnya menuju kesana, perlu didahului dengan rangkaian upacara pengubburan sesuai dengan status sosial orang yang bersangkutan semasa hidupnya. Bila halnya sang mendiang tidak diupacarakan sesuai dengan bagaimana seharusnya maka masyarakat Toraja akan meyakini bahwa yang bersangkutan tidak akan sampai di puyo dan jiwanya akan tersesat.

Agar jiwa orang yang telah meninggal itu sampai pada tujuan yang dikehendaki keluarganya dan tidak tersesat maka upacara yang dilakukan dan diselenggarakan harus sesuai dengan aluk dan mengingat pamali (norma-norma tidak tertulis) yang berlaku pada masyarakat Suku Toraja. Prosesi pada fase ini biasa disebut sebagai sangka atau darma, yang mana memiliki makna mengikuti aturan yang sebenarnya dengan baik dan benar. Jika ada suatu hal yang salah dalam pelaksanaannya atau masyarakat Suku Toraja biasa menyebutnya dengan aluk (tomma liong-liong), maka jiwa orang yang sudah berpulang itu akan tersendat dan justru menuju ke siruga atau surga, menurut seorang pemuka adat di tana Toraja bernama Tato Denna’ yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk To Dolo mendapat gelar sebutan Ne’Sando.

Sepanjang orang yang telah meninggal dunia itu belum diupacarakan maka selama fase periode itu pula lah arwahnya akan berada dalam wujud keadaan setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini biasa mereka sebut sebagai tomebali puang. Menurut kepercayaan masyarakat Suku Toraja selama arwah tesebut belum dilakukan prosesi upacara pemakaman yang memang sudah turun-temurun dilakukan maka arwah ini akan dianggap tetap ada dalam lingkungan rumah tongkonan (rumah tradisional toraja) dan dianggap tetap memperhatikan aktifitas yang terjadi di dalam rumah itu dan dipercaya arwah ini akan memperhatikan bagaimana kehidupan para keturunannya.

Karena kepercayaan inilah maka upacara kematian menjadi sebuah prosesi penting yang sakral dan wajib hukumnya untuk dilakukan oleh siapapun yang merasa bahwa dirinya merupakan berasal dari Suku Toraja. Upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sebisa mungkin harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan secara turun-temurun dari nenek moyang Suku Toraja. Sebelum menetapkan kapan dan dimana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban yang menjadi persembahan pun harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Bedasarkan tingkatannya seorang Suku Toraja yang dikategorikan sebagai bangsawan memiliki ketentuan untuk memotong atau mempersembahkan paling sedikit 24 ekor Kerbau, sedangkan pemuka agama memiliki ketentuan untuk memotong paling sedikit 12 ekor, sementara untuk strata sosial yang lebih rendah lagi yaitu masyarakat biasa maka ia akan dikenakan ketentuan untuk harus memotong sedikitnya lima ekor kerbau, untuk strata yang paling rendah yaitu budak maka ia diharuskan memotong minimal satu ekor kerbau saja.

Bagi masyarakat Suku Toraja sendiri mereka memiliki kepercayaan bahwasannya Kerbau merupakan kendaraan bagi arwah seseorang yang telah meninggal untuk menuju puyo. Pada akhirnya proses akan diakhiri dengan penguburan di batu-batu setelah sebelumnya diawetkan terlebih dahulu jenazahnya agar bisa bertahan lama. Istilah patane atau yang umum kita ketahui sebagai kuburan batu menjadi tempat peristirahatan terakhir jenazah yang penggambarannya adalah kuburan itu berada pada tebing-tebing.

Jika halnya ada bagian-bagian tertentu yang dilanggar oleh keluarga duka misalnya seperti yang meninggal berasal dari kaum bangsawan namun ketika proses diupacarakannya tidak sesuai dengan tingkatan jumlah kerbau yang harus dipersembahkan maka arwah yang meninggal tersebut dipercaya tidak akan menuju puyo rohnya akan tersesat. Sementara bagi jenazah yang diupacarakan sesuai dengan prosedur adat yang ada maka ia dipercaya telah sampai ke puyo dengan ditemani oleh kerbau-kerbau persembahan. Dikatakan juga bahwa keberadaan serta kondisi arwah di puyo akan sangat ditentukan kualitasnya bedasarkan apa yang telah dilakukan pada prosesi upacara pemakaman tersebut. Maka jika prosesi pemakan tersebut memiliki kualitas yang baik maka apa yang diterima oleh arwah di puyo juga akan sepadan. Semakin sempurna kualitas prosesi pemakaman seseorang maka semakin baik pula keadaan orang itu di puyo.

Maka dari itu sebenarnya dapat dimaklumi mengapa masyarakat di Tana Toraja selalu menjadikan prosesi upacara pemakaman sebagai suatu hal yang sangat mengundang perhatian dan juga rasa ingin penasaran orang-orang untuk tahu lebih jauh akan berlangsungnya acara yang selalu diusahakan semegah mungkin tersebut. Pihak keluarga duka maupun kerabat akan mempersembahkan suatu prosesi yang sesempurna mungkin.

Mitos Kepercayaan aluk To Dolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu pandangan terhadap sesuatu yang bersifat kosmos dan kesetiaan pada luhur. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam tata cara bekehidupan dalam masyarakat.

terima kasih

Madito Mahardika


sumber penulisan :