Tampilkan postingan dengan label Aditya Prabowo Raharjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aditya Prabowo Raharjo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Aditya Prabowo Raharjo 4423107027
Ujian Tengah Semester “Tradisi Etnik Nusantara”
Part 5



“Folklore sebagai bekal informasi guide pariwisata”

Peran Folklore, Mitologi, Legenda dan Kedudukannya sebagai Sumber Kajian Sejarah. Folklor, Mitologi, Legenda, Upacara, dapat digolongkan dalam teks lisan sebagai bagian kebudayaan lisan dan dapat dijadikan sebagai sumber untuk penulisan sejarah setelah dibandingkan dengan sumber-sumber lain yang sezaman. Terdapat sejarah di dalamnya yaitu berupa ingatan kolektif yang tersimpan dalam ingatan manusia yang diwariskan secara turun temurun melalui tradisi lisan.


A. Folklor
Folklor adalah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang tersebar atau diwariskan secara turun temurun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan.

Ciri-ciri folklor:
Folkor diciptakan, disebarkan, dan diwariskan secara lisan (dari mulut ke mulut) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Folklor bersifat tradisional, tersebar di wilayah daerah tertentu dalam bentuk relatif tetap, disebarkan diantara kelompok tertentu dalam waktu yang cukup lama paling sedikit 2 generasi.
Folklor menjadi milik bersama dari kelompok tertentu, karena pencipta pertamanya sudah tidak diketahui sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya tidak diketahui penciptanya
Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama. Diantaranya sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendam.

Folklor terdiri atas banyak versi:
Mengandung pesan moral
Mempunyai bentuk/berpola
Bersifat pralogis
Lugu, polos

Menurut Jan Harold Brunvard, ahli folklor dari Amerika Serikat, folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu:

1. Folklor Lisan
Merupakan folkor yang bentuknya murni lisan, yaitu diciptakan, disebarluaskan, dan diwariskan secara lisan.

Folkor jenis ini terlihat pada:
a. Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Seperti: logat,dialek, kosa kata bahasanya, julukan.
b. Ungkapan tradisional adalah kelimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang. Peribahasa biasanya mengandung kebenaran dan kebijaksanaan. Seperti, peribahasa, pepatah.
c. Pertanyaan tradisional (teka-teki)

Menurut Alan Dundes, teka-teki adalah ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan, dan jawabannya harus diterka.
d. Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah memiliki bentuk tertentu. Fungsinya sebagai alat kendali sosial, untuk hiburan, untuk memulai suatu permainan, mengganggu orang lain. Seperti: pantun, syair, sajak.
e. Cerita prosa rakyat, merupakan suatu cerita yang disampaikan secara turun temurun (dari mulut ke mulut) di dalam masyarakat.Seperti: mite, legenda, dongeng.
f. Nyanyian rakyat, adalah sebuah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang-tembang tradisional. Berfungsi rekreatif, yaitu mengusir kebosanan hidup sehari-hari maupun untuk menghindari dari kesukaran hidup sehingga dapat manjadi semacam pelipur lara. Seperti: lagu-lagu dari berbagai daerah.

2. Folklor Sebagian Lisan
Merupakan folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan bukan lisan. Folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial. Yang termasuk dalam folklor sebagian lisan, adalah:

a. Kepercayaan rakyat (takhyul), kepercayaan ini sering dianggap tidak berdasarkan logika karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, menyangkut kepercayaan dan praktek (kebiasaan). Diwariskan melalui media tutur kata.
b. Permainan rakyat, disebarkan melalui tradisi lisan dan banyak disebarkan tanpa bantuan orang dewasa. Contoh: congkak, teplak, galasin, bekel, main tali,dsb.
c. Teater rakyat
d. Tari Rakyat
e. Pesta Rakyat
f. Upacara Adat yang berkembang di masyarakat didasarkan oleh adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan masyarakat setempat. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada mereka.

3. Folklor Bukan Lisan
Merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Biasanya meninggalkan bentuk materiil(artefak). Yang termasuk dalam folklor bukan lisan:

a. Arsitektur rakyat (prasasti, bangunan-banguna suci)
Arsitektur merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
b. Kerajinan tangan rakyat
Awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
c. Pakaian/perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah
d. Obat-obatan tradisional (kunyit dan jahe sebagai obat masuk angin)
e. Masakan dan minuman tradisional

B. Mitologi

Mite (myth)
berarti cerita yang memiliki latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal gaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa atau setengah dewa.

Mitologi
adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang dongeng suci, kehidupan para dewa, dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan.
Peristiwanya terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau yang lama. Cerita yang dimilki setiap suku bangsa di indonesia biasanya terkait dengan sejarah kehidupan masyarakat di suatu daerah, seperti awal mula masyarakat menempati suatu daerah. Kisah tentang terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan gejala alam serta petualangan para dewa, kisah percintaan, hubungan kekerabatan, kisah perang mereka, dunia dewata, makanan pokok.
Cerita-cerita yang terkandung dalam mite bukanlah sejarah tetapi didalamnya terdapat unsur-unsur sejarahnya. Contoh mite:
Dewi Sri dari Jawa Tengah dan Bali
Nyai Pohaci dari Jawa Barat
Nyai Roro Kidul Laut Selatan dari Yogyakarta
Mado-Mado (lowalangi) dari Nias
Wahadi dari Timor.

Mitos di Indonesia dibagi menjadi 2 macam berdasarkan tempat asalnya, yakni:
1) Asli Indonesia
2) Berasal dari luar negeri terutama dari India, Arab, dan kawasan Laut Tengah.
Mitos dari luar negeri umumnya sudah mengalami pengolahan lebih lanjut sehingga tidak terasa lagi keasingannya, karena telah mengalami proses adaptasi.

Sebagai contoh:
Orang jawa telah mengadopsi dewa-dewa serta pahlawan-pahlawan Hindu sebagai dewa dan pahlawan Jawa. Orang Jawa percaya bahwa mitos yang berasal dari epos Ramayana dan Mahabarata terjadi di pulau Jawa dan bukan di India.

C. Legenda
Legenda adalah prosa rakyat yang dianggap oleh yang punya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi.

· Legenda bersifat sekuler (keduniawian) terjadi pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.
· Legenda ditokohi oleh manusia, meskipun ada kalanya mempunyai sifat luar biasa, dan seringkali dibantu mahkluk-mahkluk gaib.
· Legenda sering dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history). Meskipun dianggap sebagai sejarah tetapi kisahnya tidak tertulis maka legenda dapat mengalami distorsi sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.
· Untuk menjadikan legenda sebagai sumber sejarah maka harus menghilangkan bagian-bagian yang menagndung sifat-sifat folklor, seperti bersifat pralogis (tidak termasuk dalam logika) dan rumus-rumus tradisi.
· Legenda diwariskan secara turun temurun, biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai yang benar dan yang salah. Dalam legenda dimunculkan pula berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya yaitu sifat yang baik dan yang buruk, sifat yang benar dan yang salah untuk selanjutnya dijadikan pedoman bagi generasi selanjutnya.

Contoh Legenda:

Legenda Sunan Bonang, Tangkuban Perahu (Sangkuriang) dari Jawa Barat, Putmaraga dari Banjarmasin (Kalimantan), Pinisi (Sawerigading) dari Sulawesi, Hang Tuah dari Aceh.

Jan Harold Brunvard menggolongkan legenda menjadi 4 kelompok, yaitu:

(1) Legenda keagamaan (religious legend)
Termasuk dalam legenda ini adalah legenda orang-orang suci atau saleh (hagiografi). Hagiografi meskipun sudah tertulis tetapi masih merupakan folklor sebab versi asalnya masih tetap hidup diantara rakyat sebagai tradisi lisan.
Contoh: Legenda Wali Songo.

(2) Legenda Alam Gaib
Legenda ini berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang, berfungsi untuk meneguhkan kebenaran”takhyul” atau kepercayaan rakyat.
Contoh: kepercayaan terhadap adanya hantu, gendoruwo, sundelbolong, dan tempat-tempat gaib.

(3) Legenda Setempat
Legenda yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk topografi, yaitu bentuk permukaan suatu daerah.
Contoh: terbentuknya Danau Toba.

(4) Legenda Perseorangan
Cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh yang empunya cerita benar-benar pernah terjadi.
Contoh: Legenda Panji yang berasal dari tradisi lisan yang sering berintegrasi dengan dongeng “Ande-ande Lumut” dan dongeng ‘Kethek Ogleng”

D. Dongeng (folktale)
Dongeng merupakan prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita. Dongeng tidak terikat oleh waktu maupun cerita.
Dongeng adalah”cerita pendek” kolektif kesusastraan lisan.
Diceritakan untuk hiburan, meskipun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran.
Tokohnya, biasanya binatang (fables), seperti Si Kancil, maupun manusia seperti Bawang Merah dan Bawang Putih.
Terkadang ada pergeseran sebuah legenda menjadi dongeng.

Contoh :
“Terjadinya Gunung Tangkuban Perahu” ke dongeng “Sangkuriang” dapat terjadi karena kini cerita Sangkuriang oleh sebagian penduduk Sunda sudah dianggap fiktif.

E. Lagu-lagu Daerah
Lagu adalah syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik. Lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah.

Ciri-cirinya:
Terdiri atas kata-kata dan lagu yang keduanya tidak dapat dipisahkan.
Sifatnya mudah berubah-ubah (dapat diolah menjadi nyanyian pop)
Beredar secara lisan diantara kolektif tertentu dan memiliki banyak varian, berbentuk tradisional.
Bentuknya sangat beraneka ragam, yakni dari yang paling sederhana sampai yang cukup rumit.

Contoh:
Bungong Jeumpa, Ampar-ampar Pisang, Yamko Rambe Yamko, Butet, Kampung nan Jauh di Mato.

Fungsi nyanyian rakyat:
1. Kreatif, yaitu untuk menghilangkan kebosanan hidup sehari-hari untuk menghibur diri dan untuk mengiringi permainan anak-anak.
2. Sebagai pembangkit semangat, yaitu nyanyian untuk bekerja.
Holopis Kuntul Baris (Jawa Timur), rambate Rata(Sulawesi Selatan)
3. Sebagai protes sosial, yaitu proses mengenai ketidakadilan dalam masyarakat atau negara bahkan dunia.
4. Untuk memelihara sejarah setempat dan klan.
“hoho”(Nias),untuk memelihara silsilah klan besar orang Nias yang disebut Mado.

Menurut Brunvand, nyanyian rakyat dapat digolongkan dalam 3 jenis:
a. Nyanyian rakyat yang berfungsi
b. Nyanyian rakyat yang bersifat liris
Nyanyian bersifat liris biasanya sebagai pencetusan rasa haru pengarangnya (anonim). Nyanyian, dibedakan menjadi dua yaitu:
nyanyian rakyat liris yang sesungguhnya, contoh: Lagu Cinte Manis
Nyanyian rakyat liris yang bukan sesungguhnya, contoh: Pok Ame-ame dan Oh Mama Saya Mau Kawin dari Betawi.
c. Nyanyian rakyat yang bersifat kisah
Contohnya:
Balada (sentimental) Pantun Sunda
romantik(tentang cinta)
epos (kepahlawanan) Ramayana

F. Upacara
Upacara merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu (adat istiadat, agama, dan kepercayaan).
Contoh:
Upacara penguburan, mendirikan rumah, membuat perahu, upacara memulai perburuan, dan upacara perkabungan, upacara pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang.

Fungsi Upacara:
1. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada mereka.
Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari kemarahan kekuatan-kekuatan gaib yang seringkali diwujudkan dalam berbagai malapetaka dan bencana alam. Biasanya terkait dengan legenda yang berkembang di masyarakat tentang asal usul mereka.
2. Sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka seperti tertuang dalam cerita rakyat.

Contoh:
Upacara “Kasodo” oleh masyarakat Tengger di Sekitar Gunung Bromo.
Upacara “Larung Samudra” yaitu melarung makanan ke tengah laut.
Upacara “ Seren Taun” di daerah Kuningan
Upacara “ Mapang Sri” di daerah Parahyangan
Macam-macam upacara:

· Upacara Membuat Rumah
Rumah dipandang memilki nilai magis tersendiri yang diyakini memiliki kekuatan dan melindungi kehidupan manusia. Sehingga, ketika pertama kali mendirikan rumah mereka menggunakan berbagai macam sesaji yang dipercayai dapat mendukung keselamatan keluarga atau orang yang mendirikan rumah, seperti di daerah Toraja, Bali, dan Madura.

· Upacara kematian/ Penguburan
Muncul ketika adanya kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal akan pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lingkungan dimana ia pernah tinggal. Contoh: tradisi penguburan di suku Toraja.

· Upacara Perkawinan
Pada suku Minangkabau, menganut garis keturunan matrilineal, sehingga upacara perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga istri. Berbeda dengan suku Batak dan Bali yang menganut garis keturunan patrilineal dimana upacara perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga laki-laki.

Dalam dunia pariwisata, pentingnya folklore sebagai informasi untuk guide dan penyebaran informasi dapat digunakan sebagai media promosi kepada khalayak luar. Dari semua inilah tour guide memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh para wisatawan, yaitu informasi tentang tempat wisata itu tersebut. Jadi selain wisatawan mendapatkan informasi secara detail dari tour guide, tour guide itu sendiri juga mendapat kepercayaan sumber informasi dari para wisatawan. Sebagai tour guide juga harus mengetahui semua dan segala hal informasi kebudayaan dan keseniaan pada sebuah objek tempat wisata, dia juga harus mempelajari agar bisa menguasai untuk nantinya info tersebut di berikan kepada para wisatawan.


Sumber:
http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/
http://winduwiratsoko.blogspot.com/2011/12/

Aditya Prabowo Raharjo 4423107027
Ujian Tengah Semester “Tradisi Etnik Nusantara”
Part 4

“Rumah Adat Betawi dan Pakaian Tradisional Betawi”

Rumah Tipe Gudang
Pada masa sekarang ini rumah-rumah adat tradisional khas Betawi yang benar-benar asli di Jakarta sudah sangat langka. Namun, di beberapa tempat seperti di sekitar Marunda, Condet maupun daerah-daerah pinggiran lain, rumah tradisional khas Betawi masih dapat ditemukan.

Ada 4 (empat) tipe bentuk rumah tradisional yang dikenal oleh orang Betawi, yaitu tipe Gudang, tipe Bapang, tipe Kebava dan, tipe joglo.
A. Rumah Gudang
Salah satu jenis rumah adat Betawi adalah Rumah Gudang. Rumah ini berbentuk persegi panjang yang memanjang dari depan ke belakang. Atap rumahnya tampak seperti pelana kuda atau 
perisai, dan di bagian muka rumah terdapat atap kecil yang berfungsi sebagai penahan tempias hujan atau cahaya matahari.
Rumah Tipe Bapang

B. Rumah Bapang
Selain Rumah Gudang, ada juga Rumah Bapang, bentuknya sangat simpel dan sederhana dengan bentuk dasar kotak. Secara keseluruhan, Rumah Betawi berstruktur rangka kayu atau bambu, sementara alasnya berupa tanah yang diberi lantai tegel atau semen.

Layaknya rumah tinggal, Rumah Bapang juga memiliki ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur, dan dengan tambahan teras. Dalam kebiasaan sehari-hari, masyarakat Betawi umumnya menjadikan teras rumah yang cukup luas sebagai tempat menerima tamu. Mungkin jika Anda masih ingat sinetron Si Doel Anak 
Sekolahan, keluarga Si Doel juga menempatkan kursi tamu di salah satu sisi teras, dan sebuah bale-bale untuk bersantai di sisi lainnya.

Rumah Tipe Kebaya
C.Rumah tipe Kebaya memiliki beberapa bagian;
1.Langkan yaitu bagian rumah yang berpagar rendah dan berfungsi sebagai serambi rumah, dibuat dari kayu atau bambu.

2.Ruang depan, biasanya terbuka setiap saat tanpa ada pintu yang menghalangi seseorang untuk masuk, yang melambangkan sifat orang Betawi yang terbuka dan ramah.

3.Balai-balai dari bambu, merupakan perlengkapan utama dan terdapat di ruang depan, fungsinya untuk menerima tamu.

4.Atap dan wuwungan, jika dilihat dari depan akan tampak berbentuk segi tiga sama kaki dengan tambahan pet sebagai penahan hujan atau panas, sedangkan dari samping akan tampak berbentuk trapezium. Bagian atap (wuwungan) pada pertemuan sisi kaki segi tiga sama kaki dengan sisi kaki trapesium disebut jurai. Jurai adalah genting yang dipasangkan atau dipaku pada ander sebagai penghubung sisi kaki segi tiga dengan sisi kaki trapesium untuk menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah.

5.Jendela bulat yang biasanya terdapat di samping kiri atau kanan ruang depan ada yang ditutup dengan daun jendela, sering kali ditutup dengan jeruji. Jendela bulat yang dikenal oleh orang Betawi adalah sama sekali tidak menggunakan daun jendela ataupun jeruji yang disebut melompang.

6.Jendela intip, dua buah jendela yang terdapat di kiri kanan pintu masuk keruang dalam yaitu jendela berjeruji kayu berukir dan tidak berdaun jendela, fungsinya untuk mengintip tamu yang datang.

7.Lantai rumah, baik lantai tanah maupun lantai rumah panggung biasanya jauh lebih tinggi dari halaman rumah, maksudnya untuk menghindari masuknya air ke dalam rumah, sedangkan rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari gangguan binatang atau gangguan tamu-tamu di malam hari yang bermaksud kurang baik.

D. Rumah Joglo
Rumah tipe Joglo, beberapa bagian yang melengkapi adalah sebagai berikut :
•Ruang depan, merupakan ruang terbuka dengan kayu jati terukir sebagai langkannya dan berfungsi sebagai tempat menerima tamu.
•Ruang tamu perempuan, ruang tamu khusus untuk tamu wanita
•Ruang tidur atau pangkeng.
•Pendaringan, yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan tempayan berisi beras dan balai-balai kecil untuk meletakkan barang.
•Tapang, ruangan kecil dengan balai-balai yang berfungsi serba guna, di mana tersedia kendi dan peralatan minuman lainnya
•Dapur, di mana terdapat tungku tradisional dengan tiga lubang biasanya dari tanah liat.
•Kamar mandi, biasanya dilengkapi dengan padasan, sumur beserta senggotnya.
Rumah Tipe Joglo


Halaman rumah orang Betawi pada umumnya ditanami dengan berbagai macan tumbuhan. Apabila luas halaman rumah mencukupi maka beberapa jenis pohon yang biasa ditanam adalah rambutan, nangka, kecapi, petai, jengkol, jamblang, duku, salak, tangkil, dan sebagainya. Di seputar rumah biasa ditanami pula dengan jenis tanaman perdu yang berfungsi sebagai "apotek hidup" antara lain jahe, kunyit, lengkuas, kencur, temulawak, beluntas, dan lain sebagainya.





Pakaian adat betawi terdiri dari beberapa jenis, baik untuk laki-laki maupun wanita. Pakaian adat masyarakat Betawi seperti halnya pakaian adat yang berlaku di provinsi lain, dipengaruhi oleh kebudayaan atau adat lainnya. Pengaruh tersebut dapat kita lihat dari pakaian adat Betawi untuk pakaian sehari-hari dan pakaian pengantin.
Pakaian Sehari-Hari Laki-Laki

Pakaian adat Betawi yang dipergunakan oleh para kaum lelaki Betawi terdiri dari:


* Baju koko (sadariah). Baju koko yang dikenakan disebut juga sadariah. Bentuknya sama dengan baju koko pada umumnya, hanya biasanya berwarna polos.
* Celana batik. Celana batik yang dikenakan adalah celana kolor batik panjang. Dengan warna yang tidak terlalu ramai, biasanya hanya putih, cokelat, dan hitam dalam motif-motifnya.
 * Kain pelekat. Kain pelekat ini bentuknya seperti selendang yang ditempatkan sebelah pundak atau diselempangkan pada leher.


* Peci. Peci yang digunakan pada umumnya berwarna hitam berbahan beludru yang menjadi ciri khas masyarakat Betawi.

Pakaian Sehari-Hari Perempuan

Untuk perempuan Betawi, pakaian adat yang dipergunakan sehari-hari terdiri dari:

* Baju kurung berlengan pendek. Baju kurung yang dikenakan memiliki lengan pendek, tak jarang ditambahkan saku di bagian depannya dengan warna-warna yang mencolok.
* Kain sarung batik. Kain sarung batik yang sering dikenakan perempuan-perempuan Betawi biasanya bercorak geometri dengan warna-warna yang cerah untuk dipadupadankan dengan baju kurung yang digunakan.
* Kerudung. Kerudung yang digunakan yaitu selendang yang dikenakan pada kepala para perempuan Betawi. Warnanya serasi dengan baju kurung yang mereka kenakan.

Pakaian Pengantin Laki-Laki

Pakaian pengantin Betawi dipengaruhi oleh berbagai adat, di antaranya adalah adat Arab, Cina, Melayu, dan Barat. Pakaian adat Betawi yang dipergunakan untuk pernikahan adat Betawi laki-laki disebut Dandanan care haji. Pakaian pengantin laki-laki ini meliputi jubah dan tutup kepala. Jubah terbuat dari bahan beludru yang berwarna cerah. Jubah dalamnya terbuat dari kain berwarna putih yang halus. Sedangkan tutup kepala terbuat dari sorban disebut juga Alpie. Sebagai pelengkap dipergunakan selendang bermotif benang emas atau manik-manik yang warnanya cerah. Agar lebih serasi, pengantin lelaki pernikahan adat Betawi mempergunakan sepatu pantofel.

Pakaian Pengantin Perempuan

Pengantin perempuan dalam pernikahan adat Betawi mempergunakan pakaian adat betawi yang disebut Rias besar dandanan care none pengantin cine. Baju yang dikenakan blus bergaya Cina dengan bahan satin yang berwarna cerah. Bawahannya menggunakan rok atau disebut Kun yang berwarna gelap dengan model duyung. Warna yang sering digunakan hitam atau merah hati. Sebagai pelengkap bagian kepala digunakan kembang goyang dengan motif burung hong dengan sanggul palsu, dilengkapi dengan cadar di bagian wajah. Pada bagian sanggul dihiasi juga dengan bunga melati yang dibentuk roonje dan sisir. Perhiasan lain yang dipergunakan adalah kalung lebar, gelang listring, dan hiasan teratai manik-manik dikalungkan di bagian dada, serta selop dengan model perahu sebagai alas kaki.


Sumber:



Aditya Prabowo Raharjo 4423107027
Ujian Tengah Semester “Tradisi Etnik Nusantara”
Part 3

Upacara adat Betawi “Pengantin Betawi, Khitanan, dan Nujuh Bulan”

Setiap daerah memiliki adat istiadat dan budayanya sendiri. Begitu juga halnya orang betawi yang bermukim di Ibu Kota negara, selain memiliki dialek bahasa yang dikenal ke seluruh sepenjuru nusantara, prosesi adat pengantinnya pun khas dan sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Secara lengkap Pengantin kali ini menampilkan Rangkaian Upacara Adat Pengantin Betawi.

NGEDELENGIN
Dikalangan masayarakat betawi, apabila seorang jejaka belum mendapatkan pasangan, biasanya orangtua berusaha mencarikan calon istri/ mantu yang disebut ngedelengin. Jika ini terjadi, tugas ngedelengin dipercaya oleh orang lain, yang disebut mak comblang. Dialah yang mencari dan mengumpulkan berbagai informasi secara lengkap tentang rupa, kemapuan, perilaku, keadaan keluarga dan lainnya dari sang calon istri. Proses ngedelengin kemudian berlanjut ke tahapngelamar, yakni tindak aktif dari pihak keluarga jejaka untuk meminang sang gadis untuk dijadikan calon istri. Pada saat ngelamar, pihak keluarga jejaka membawa barang bawaan dalam wadah terbuka, berisi pisang raja berkualitas baik, roti tawar yang besar dan sirih kembang (sirih embun) yang dihias seindah mungkin, sehingga para kerabat, famili serta tetangga mendapat isyarat adanya kegiatan ngelamar. Selesai jamuan makan, dilanjutkan dengan dialog tahap kedua tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang menjadi permintaan keluarga si gadis. Sebagai pemeluk agama Islam, yang pertama diputuskan adalah soal mahar (mas kawin), kemudian persyaratan -persyaratan adat lainnya, sepertikekundang (makanan kesukaan calon istri), pecingkrem (cincin belah rotan), pesalin (seperangkat busana lengkap), uang belanja dan lainnya.

NGELAMAR
Setelah proses ngelamar selesai, utusan akan datang kembali untuk membawa tanda putus (pertunangan). Pada saat itu akan diputuskan hari dan tanggak pernikahan, sekaligus dibawa pecingkrem (cincin belah rotan) sebagai pengikat. Selain itu kepada si gadis diberikan uang persalin sekedarnya serta kue-kue.
Sebagai tanda pengikat, barang bawaan ini akan dibalas oleh keluarga si gadis dengan pengiriman sajian makanan beserta lauk pauknya, antara lain, ketan putih, opor ayam, semur bulat, sepasang pesmol bandeng, perkedel berbentuk hati serta beberapa kue basah khas Betawi. Barang balasan ini akan dibagikan kepada utusan dan anggota keluara sang jejaka. Masa tunangan biasanya tidak berlangsung lama. Umumnya tidak lebih dari satu tahun. Masa itu akan berakhir, jika pihak orang tua sang jejaka telah mengirimkan ututsan kembali menemui calon besan. Jika telah mencapai kata sepakat, maka dipersiapkan segala sesuatunya, menyangkut persiapan akad nikah. Pada saat-saat menjelang acara ngirik, potong centung, pakaipacar dan dimandiin. Secara rinci, perawatan untuk calon pengantin putri adalah :
 -Dipiare
Selama masa dipiare, calon pengantin putri mengenakan busana kebaya berlengan longgar, guna memudahkan saat berwudhu. Seluruh tubuhnya dilulur dengan ramuan lulur pengantin. Setiap selesai melaksanakan sholat, lulur pada wajah, lengan dan kaki calon pengantin diperbaharui kembali.
-Dimandiin
acara mandiin pengantin biasanya didahului dengan pembacaan doa bagi keselamatan dan keberkahan pengantin. Selesai pembacaan doa, pengantin putri mencium tangan kedua orangtua diiringi pembacaan shalawat Nabi, dipandu oleh tukang piare calon pengantin putri. Selanjutnya, menuju pemandian yang telah disiapkan. Yang mandiin calon pengantin putri "tukang piare", kedua orangtua, nenek, dan kakek, saudara-saudara dari kedua orangtua, dan lainnya yang dianggap perlu.
-Ditangas
Selesai dimandiin, calon pengantin putri ditangans, yakni mandi uap dengan ramuan tradisional untuk lebih membersihkan sisa-sisa lulur yang masih tertinggal pada pori-pori di sekujur tubuh. Uap yang dikeluarkan dari godokan rempah-rempah adalah dedaunan jeruk purut, irisan daun pandan, akar wangi, bunga dilem dan sereh, semuanya dengan porsi secukupnya.
-Dikerik dan Potong Centung
Selesai ditangas, caon pengantin putri selanjutnya menjalani kegiatan pengerikan dan potong centung. Pengerikan adalah menghilangkan bulu-bulu halus, biasanya disebut bulu kalong, yakni bulu-bulu halus yang  tumbuh disekitar tengkuk, dahi, pinggiran pipi kanan dan kiri. Sedangkan potong centung adalah memotong dan merapikan rambut cambang yang diapit oleh uang logam Rp.50-an.
setelah prosesi tadi selesai, calon pengantin dirias  dengan busana None Jakarta. Selanjutnya acara malam pacar. Calon pengantin didudukan di atas permadani besar, kemudian kuku di kedua belah jari tangannya diberi daun pacar yang telah ditumbuk halus. Pemakaian pacar diawali oleh tukang rias, disusuk oleh famili/krabat serta saudara-saudara dan teman-teman dari calon pengantin putri.

NGEBESAN/NGERUDAT
Acara ngebesan atau ngerudat adalah upacara  akad nikah atau ijab kabul. Pelaksanaannya dilakukan secara terbuka. Pengantin pria akan datang  dengan rombongan para pengiring yang besar, yakni calon pengantin pria diapit oleh para alim ulama, para penabuh rebana, dan di belakang terdapat rombongan bawaan yang terdiri dari :
Mahar/ mas kawin
Uang belanja pesta yang disusun sedemikian rupa menghiasi maket sebuah mesjid
Sirih Nanas, berupa sebentuk dekorasi daun sirih yang berwujud daun nanas. Hal tersebut merupakan simbol kehidupan yang penuh dengan duri namun selalu dibungai oleh manisnya kehidupan kasih sayang.
Sepasang roti buaya, sebagai simbol kerukunan hidup, kesetiaan dan berumur panjang.
Pisang raja dengan kualitas baik sebanyak 2 sisir.
Ujung-ujungnya diberi tutup runcing dari kertas keemasan. Hal ini melambangkan harapan agar kedua pengantin dapat menarungi kehidupan layaknya kehidupan para raja.
Kekudang, yaitu makanan kesukaan calon pengantin putri.
Beberapa nampan berisi persalin busana wanita.
Beberapa jenis kue-kue basah khas Betawi.
Miniatur kapal atau berbentuk pohon yang berisi aneka buah-buahan.
shie, yaitu peti susun berukir yang dipikul oleh dua orang, yang didalamnya berisi macam-macam bahan pangan mentah, seperti, telur asin, bihun, emping, daging sapi, sayur-mayur dan lain-lain.

Tepat didepan rumah calon pengantin putri, ngerudat disambut tuan rumah, diiringi bunyi tabuhan rebana. Pada saat akad nikah, pengantin pria mengenakan pakaian Jas Kasin Srebet, yaitu : mengenakan kopiah hitam, berbaju lengan panjang putih, mengenakan open jas model Eropa, berkain sarung plekat, dan memakai sepatu sendal pantovel.
Busana calon pengantin wanita pada saat akad nikah adalah busana Rias Bakal yang terdiri dari : baju kurung terbuat dari silk atau beludru, kain songket, panjang baju sekitar 10cm di atas lutut, memakai hiasan dada yang dinamakan lidah-lidah di beri hiasan tabur, dan selop penutup.


NGARAK PENGANTIN
Acara ngarak pengantin dilakukan dalam rangka mempertemukan untuk pertama kali kedua mempelai setelah pengantin pria pulang bersama rombongannya seusai akad nikah. Rombongan tersebut di awali oleh pembawa umbul-umbul berupa rangkaian kembang kelape. Kedua orang itu berpakaian sadarie/ baju pangsi. Di dalam rombongan juga terdapat rombongan penabuh rebana. Sebelum iring-iringan pengantar bergerak, terlebih dahulu dilepas dengan shalawat Dustur. lalu rombongan berjalan diiringi rebana sampai dimuka rumah pengantin putri. Meski telah di nanti-nanti kedatangannya, rombongan ngerudat tidak begitu saja dapat dengan mudah memasuki rumah tuan putri, karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Yaitu, Acara Buka Palang Pintu, yang terdiri dari : dialog atau berbalas pantun, pertandingan silat antar rombongan Tuan Putri dan Tuan raje Mude, dan tarikh lagu Zike. Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka Tuan raje Mude dapat bertemu, selanjutnya tukang rias membuka kerudung tipis yang menutupi wajah Tuan Putri (untuk memastikan apakah benar yang bersanding itu adalah si gadis pilihan, bukan orang lain). Kemudian Tuan raje Muda menyerahkan sirih dare ke pangkuan Tuan Putri. Selanjutnya, memastikan apakah dibalik cadar adalah tuan putrinya. Maka Tuan Raje Mude melaksanakan buka cadar, diteruskan dengan Tuan Putri melaksanakan sembah dan cium tangan pada Tuan Raje Mude. Lalu sembah dan cium tangan pada Tuan Raje Mude. Lalu sembah sujud dan cium tangan kepada kedua orangtua dan mertua. Terakhir, tukang rias menyuapkan ketan kuning yang dibawa pada sepasang wadah yang disebut dengan kembang adep-adep. Setelah itu kedua pengantin dipersilahkan duduk kembali, dan dilanjutkan dengan ucapan selamat dari para tamu yang hadir.

Sunat alias khitan secara harfiah berarti sama dengan sunnah dalam bahasa Arab. Sunat bagi orang Betawi adalah upacara memotong ujung penis anak lelaki dalam ukuran tertentu. Menurut ajaran agama Islam, bila anak lelaki memasuki akil balig ia harus segera dikhitan atau disunat. Jika anak lelaki sudah akil balig belum disunat, maka shalatnya tidak sah. Jika anak kecil yang belum masuk akil balig sudah rajin melaksanakan shalat lima waktu, maka orang Betawi menyebutnya anak baru belajar atau latihan membiasakan taat beribadah. Jika anak-anak yang belum sunat, biasanya dia dilarang shalat berjamaah berada di barisan paling depan. Itu hanya kebiasaan saja, bukan merupakan suatu larangan formal.
Dengan kata lain sunat dalam pandangan masyarakat Betawi dapat pula diartikan sebagai pembeda, yaitu pembeda antara anak-anak dengan seseorang yang sudah akil baligh. Seorang anak yang sudah disunat, dianggap sudah menjadi manusia sempurna, dalam arti dia sudah mempunyai kewajiban sebagai mana manusia dewasa. Ia wajib melakukan ibadah, ia wajib memahami peraturan-peraturan yang berlaku, dan seterusnya.

Jaman dulu jika seorang anak lelaki mau disunatin, Babe ataua Nyaknye akan rembukan dan memusyawarahkan pelaksanaan upacara sunat. Dalam rembukan biasanya selalu diajak orang tua atau sesepuh kampung yang nasehatnya akan jadi bahan pertimbangan. Tidak ketinggalan pula anak yang akan disunat diajak rembukan. Dalam rembukan yang dibicarakan antara lain:

1. Kepada si anak ditanyakan apakah ia mau atau sudah berani untuk disunat. Ini perlu sekali ditanyakan sebab jika si anak belum mau atau belum berani, dengan sendirinya tidak akan terlaksana karena dihawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Atau sering juga si anaklah yang sudah ingun sunat, lantaran ia diolok-olok temannya atau karena soal lain. Kepadanya titanyakan pula apakah ingin diarak berkeliling kampung atau tidak. Kalau ingin diarak, apakah ia ingin diarak dengan diusung tandu, atau dengan menaiki kuda. Ia juga ditanyakan apakah ingin ada hiburan dan apa hiburan yang dipilihnya. Ia bebas memilih jenis hiburan apa saja yang disukainya.

2. Mencari atau nentuin Bengkong atau dukun sunat yang akan dipanggil buat nyunatin. Sebab setiap Bengkong punya kekhasan sendiri-sendiri. Kalu tangan Bengkong emang jodo, si anak yang disunat akan cepet sembunye. Kalu tangan Bengkong termasuk panas, akan lama sembunye, bisa makan tempo 10 ampe 20 hari. Biasanya Bengkong yang ude senior (pengalaman dan doa-doanya) akan lebih diutamain. Emang kalu menurut sejarahnye, Bengkong yang baik itu punya ajian atau doa-doa mustajab yang dapat menghipnotis si anak nggak ngerasa takut, nggak merasa sakit, dan nggak terlalu banyak ngeluarin darah seude ujung tititnye dipotong. Jaman dulu dokter sangat jarang, cuman ade di kota. Sedangkan di kampung-kampung hanya ada Bengkong atau dukun sunat. Tapi kalu jaman sekarang Bengkong ude rada jarang, yang banyak dokter. Pokoknye sekarang suse, deh, nyari Bengkong.

3. Nentuin kapan (hari, tanggal) pelaksanaan sunat. Pada umumnya orang Betawi nyunatin pada bulan Maulid atau bulan Syawal (abis Lebaran). Jaman sekarang biasanye seudenye kenaekan kelas, pas waktu liburan sekolah. Terus ape mao diramein atau acara yang sederhana saja. Tapi kalo dia keluarga mampu, tentu diramein dengan upacara adat Betawi lemgkap.

Kalu ketiga hal di atas sudah ditentukan, selambat-lambatnya 15 hari segera dilaksanakan acaranya. Si anak biasanya sudah dilarang lompat-lompatan atau lari-larian. Sebab kalu aktivitas itu dilakukan, dapat dipastikan saat ujung tititnya disunat akan banyak mengeluarkan darah. Sehari sebelum hari H (hari pelaksanaan) biasanye si anak diriasin dengan rias dan pakaian kebesaran sunat dijadiin penganten sunat. Pagi-pagi sekitar jem 8 si anak mulai diarak keliling kampung. Tujuannye untuk memberi hiburan atau memberi kegembiraan serta semangat kepada si anak bahwa besok dia akan dapat pengalaman baru, yaitu pengalaman sunat. Pada event ini pelengkap dan pendukung acaranya antara lain:

Mempergunakan pakaian sunat lengkap yaitu sebagai berikut:
-Jubah, atawe jube, yaitu pakaian luar yang longgar dan besar serta terbuka pada bagian tengah depan dari leher sampai ke bawah, dengan kepanjangan yang kire-kire tiga (3) jari dari pakaian dalamnya atau boleh juga sama panjangnye dengan pakean dalemnya
-Gamis, yaitu pakean dalam berwarna muda, kalem, dan lembut yang tidak terlalu kontras dengen warna jubahnya. Gamis ini tidak dihias alias polos.
Selempang. Selempang dikenakan sebagai tanda kebesaran. Namun demikian pakean selempang ini dipakai dibagian dalam jubah. Lebarnya kira-kira 15 cm. Cara memakainmya diselempangkan pada pundak kiri menuju pinggang kanan.
-Alpie, yaitu tutup kepala khas sorban haji yang tingginya disesuaikan dengan yang memakainya, dililit sorban putih atau emas. Hiasan alpie adalah melati tige untai/ronce, nyang bagian atasnya diselipkan bunga mawar merah dan ujungnya ditutup dengen bunga cempaka.
-Alas kaki, berupa sepatu tutup alias vantopel atau banyak juga yang menggunakan trompah berhiaskan mote.

Pembacaan sholawat Dustur oleh tim marawis
Group Rebanaan ketimpring sebagai peneman arak-arakan
Kuda yang dihias
Delman yang dihias
Group Tandjidor dan atau Ondel-ondel
Pelaksanaan sunat dibagi dua, yaitu hari pertama dan hari pelaksanaan sunat. Hari pertama disebut juga hari membujuk dan menghibur si penganten sunat. Seudenye si penganten sunat diriasin pakean penganten sunat, di depan pintu rume dibacain shalawat dustur. Abis itu diarak dengan rebana ketimpring dan shalawat badar menuju kuda. Kuda inipun dirias sedemikian rupa antara lain dengan bunga-bunga dan bermacam buah-buahan. Di dekat ekor kuda digantungkan seikat padi dan sebuah kelapa. Biasanya si anak akan didampingi teman-teman bermainnya yang sebaya. Dia naek kuda dan teman-temannya mengiringinya dengan naek delman. Berjalan di barisan paling depan adalah grup ondel-ondel yang menari-nari dengan lincahnya. Rombongan keliling kampung. Terus berkeliling kampung semampu atau sejauh yang dapat dilewatinya. Temannya bisa naek kuda atau naek delman, kalau disediain. Rebana ketimpring terus ngikutin. Di barisan paling belakang ade rombongan tetangga, dan orang-orang kampung ikut ngeramein. Rame dan meriah, dah, pokoknye.

Jaman dulu pada hari pelaksanaan sunatan, yang harus dikerjakan si penganten sunat adalah pada pukul 05.30 sampai 06.00 WIB berendem atau mandi di kali. Ini tujuannya sebagai pengganti bius dan membuat kebal titit si anak. Darahpun tidak terlalu banyak keluarnya. Pas waktu menunjukkan pukul 06.15 menit Bengkong dateng. Si anak dengan memakai baju sadariah berserebet kain sarung udah siap duduk di bangku. Sambuk kelapa untuk menahan sarung menempel ke penis yang disunat sudah disiapkan. Sebelum Bengkong dengan peralatan sunatnya (piso sunat, dua batang bambu ukuran sumpit yang disebut bebango atau bango-bango) beraksi, biasanya orang tua si anak lebih dulu datang menghiburnya menanyakan apa yang diinginkan si anak. Si penganten sunat akan meminta sesuatu barang yang disukainya, misalnya sepeda atau hewan piaraan seperti ayam, menile, kambing, dan lain lain. Selain itu di sisi si anak disajikan/disiapkan meja yang di atasnya sudah ditata bekakak ayam lengkap dengan nasi kuning dan buah-buahan. Bekakak ayam adalah ayam panggang yang tidak dipotong-potong dan nanti setelah sunat akan dimakan bersama teman-teman sebayanya yang datang saat sunat.

Bengkong yang andal dan bijaksana sangat humoris dan mengerti betul psikologi anak. Anak yang ketakutan akan dihibur dengan kata-kata lucu atau dengan mendendangkan nyanyian shalawat. Bisa juga di antara keduanya terjadi dialog membicarakan hal-hal yang disenangi si anak. Sambil berdialog tangan terampil si Bengkong akan bekerja dengan cepat dan saat dialog belum selesai, tugasnya mengkhitan sudah selesai tanpa disadari si anak. Selesai dipotong dan darah masih keluar, Bengkong akan menaburi obat anti biotik yang dibuat dari kerikan batok kelapa, lugut kulit pelepah kelapa muda, atau sarang galanggasi. Masa kini mungkin orang akan berfikir dua kali untuk memakai anti biotik semacam ini, sebab terlihat sangat tidak higienies. Pantangan bagi anak yang disunat tidak boleh makan ikan asin dan masakan yang dicampur udang. Dia juga tidak boleh melangkahi tai ayam. Entah apa hubungannya antara melangkahi tai ayam dengan sunat. Jelasnya anak-anak yang sunat tidak berani melangkahi tai ayam.
Dulu bersamaan dengan pelaksaan sunat dilaksanakan pula kegiatan motong ayam jago dan masang petasan. Hal ini dimaksudkan untuk memecah konsentrasi anak-anak sebaya yang belum disunat. Anak yang disunat biasanya menangis dengan suara yang cukup keras karena manahan sakit dan untuk membuat suara tangisan itu tidak terlalu didengar oleh anak-anak, maka suara ayam yang dipotong dan bunyi petasan akan mengimbangi suara tangisan. Dengan begitu anak-anak yang datang menonton dan belum disunat tidak akan takut jika nanti dia pun akan sunat. Selain itu suara petasan itu maksudnya sebagai kabar kepada tetangga bahwa pelaksanaan sunat sudah selesai.

Selesai disunat si anak akan memperoleh hadiah dari kakek, nekek, encang, encing, famili lain dan para tetangganya. Hadiah itu bermacam-macam jenisnya tapi yang utama adalah uang. Setelah itu dilaksanakan selametan atau tahlilan termasuk muludan. Memang sudah menjadi tradisi orang Betawi bahwa setiap melaksanakan kegiatan, membaca maulid Nabi Muhammad SAW selalu disertakan bahkan pada waktu tahlilan kematian sekalipun. Hidangan utama khitanan biasanya nasi kuning. Nasi kuning Betawi terbuat dari beras ketan dan lauk-pauknya berupa semur daging, acar kuning, serondeng, bawang goreng, emping ninjo.
Selepas shalat zuhur undangan resepsi mulai berdatangan. Ondel-ondelpun sudah mulai beraksi dan berhenti menjelang maghrib. Malamnya diakan tontonan lenong, topeng, dan Sohibul hikayat. Ada juga yang nanggap wayang kulit Betawi sampe subuh atau jenis kesenian lainnya yang sesuai dengan permintaan si penganten sunat. Bagi orang Betawi melaksanakan resepsi khitanan dilakukan hanya untuk anak lelaki pertama saja atau sulung, anak lelaki lain yang disunat tidak lagi dirayakan besar-besaran, paling-paling bikin selamatan tahlil dan maulid saja.


Upacara kehamilan dilakukan sebagai upaya memberitahukan kepada masyarakat, tetangga-tetangga dan kerabat keluarga, bahwa seorang wanita sudah betul-betul hamil dan akan melahirkan ketu¬runan. Selain itu, juga mengandung harapan agar ibu yang me¬ngandung dan bayi yang dikandungnya mendapat keselamatan.

Kepercayaan yang berkenanan dengan siklus hidup idividu seperti upacara "nujuh bulanan" ini masih kuat melekat pada orang Betawi di Kampung Bojong. Mereka percaya bahwa upacara "nujuh bulanin" perlu dilakukan demi keselamatan ibu dan anak yang dikandungnya. Selain itu mereka juga percaya bahwa upacara nujuh bulanin merupakan penangkal agar anak yang akan dilahir¬kan kelak patuh kepada orang tuanya dan tidak nakal.

Upacara "nujuh bulanin" di lakukan pada saat mengandung pertama, dan usia kandungannya sudah tujuh bulan. Karena itulah upacara ini disebut "nujuh bulanin". Pada kehamil¬an kedua dan seterusnya tidak dilakukan upacara semacam ini lagi.

Upacara ini selalu menggunakan sajian, dan salah satu sajian yang terpenting adalah bunga yang berjumlah tujuh macam. Bunga ini bermakna bila bayi yang lahir kelak laki-laki akan da¬pat membawa nama yang harum bagi orang tuanya sebagai harum¬nya bunga, dan kalau bayi tersebut wanita, supaya cantik seperti cantiknya bunga. Menurut kepercayaan mereka, sajian terutama bunga harus lengkap, apabila sajian tidak lengkap kemungkinan besar bayi akan lahir dengan sulit atau setelah dewasa nanti, si anak tidak menurut kepada orang tua.

Upacara Kekeba : Upacara Nujuh Bulanin
Salah satu upacara tradisional yang berkaitan dengan masa kehamilan pada masyarakat Betawi ialah upa¬cara "kekeba"atau "nujuh bulanin"."Nujuh bulanin" asal dari ka¬ta 'tujuh bulan', maka dan itu upacara ini selalu dilakukan pada bulan ketujuh kehamilan. Diambil pada bulan ketujuh karena pada usia kehamilan tersebut janin dianggap telah sempurna, sudah ber¬bentuk dan sudah diberi roh oleh Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menyatakan rasa bersyukur kepada Tuhan, maka dilaksanakan upacara ini.

Maksud dan Tujuan Upacara
Upacara "nujuh bulanin" atau "kekeba" dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan rasa aman serta mensyukuri nikmat Tuhan, dan memohon keberkahan kepada Tuhan atas dikarunia¬nya anak, dengan harapan anak yang akan dilahirkan mendapat keselamatan dan kelak menjadi anak yang saleh, berbudi pekerti luhur, dan patuh kepada orang tuanya.

Waktu Penyelenggaraan Upacara
Waktu penyelenggaraan upacara "Nujuh Bulanin" ditetapkan menurut perhitungan bulan Arab dengan berpatokan pada bilang¬an 7. Upacara ini dilakukan pada bulan ketujuh kehamilan. Tang¬galnya dipilih antara 7, 17, atau 27.

Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari, dimulai pada sekitar pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai. Pada waktu itu biasa diadakan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, terutama Surat Yusuf , yang diselenggarakan oleh pengajian kaum wanita. Selan¬jutnya acara mandi bagi siibu yang hamil. Memandikan biasanya dimulai oleh seorang dukun wanita, dilanjutkan oleh suami, orang tua (ibu) si hamil, mertua perempuan dan kerabat dekat hingga mencapai jumlah tujuh orang. Selesai acara memandikan, dilanjutkan dengan "ngorong"atau "ngirag".

Setelah semua acara yang pokok selesai dilaksanakan, kemudi¬an dilanjutkan dengan acara makan siang. Setelah itu acara pemba¬gian rujak kepada tamu yang hadir.

Tempat penyelenggaraan Upacara:
Upacara "Nujuh Bulanin" biasa silaksanakan di rumah yang punya hajat, apabila mereka telah memiliki rumah. Bila tempat¬nya kurang mengijinkan, adakalanya diselenggarakan di rumah orang tuanya atau di rumah mertuanya. Dukun beranak serta pem¬baca doa/kelompok pengajian ibu-ibu dipanggil supaya hadir pada hari yang telah ditetapkan.

Ruang tamu bagian depan biasa dipakai untuk tempat pemba¬caan doa yang dilakukan oleh kelompok pengajian ibu-ibu. Mereka membacakan ayat-ayat suci Al Quran, antara lain Surat Yusuf, Surat Mariam, dan lain-lain . Ruang kelauarga yang biasanya berada di tengah-tengah rumah, dipakai sebagai tempat untuk me¬Iaksanakan upacara yang dihadiri oleh sanak keluarga pihak wanita dan keluarga pihak laki-laki, tetangga yang hadir kebanya¬kan terdiri dan kaum ibu-ibu.

Kamar mandi keluarga sebagai tempat upacara wanita yang hamil. Bisa juga dipakai halaman di samping rumah. Tempat ini dipakai sekalian menjadi tempat membagikan rujakan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tamu-tamu yang hadir mencicipi rujak yang disuguhkan. Bila rasa rujak sangat enak dan herkenan di hati, mereka meramalkan bahwa bayi yang akan lahir adalah seorang wanita. Adapun acara "ngorog/ngirag", tempatnya di didam kamar atau di ruangan yang tertutup.

Penyelenggaraan Teknis Upacara
Sebelum upacara dimulai, wakil dari keluarga, biasanya seorang yang dituakan dan merangkap sebagai pembawa acara, memberikan penjelasan mengenai maksud diselenggarakan upacara selamatan tersebut, serta mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada sanak keluarga serta para tamu yang hadir. Pada saat upacara berlangsung, teknis pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada seorang dukun beranak yang biasanya sudah berumur lanjut. Dukun ini menguasai benar seluk beluk mantera¬-mantera yang berhubungan dengan kehamilan, serta urut-urutan upacara dan mulai hingga selesai.

Peranan dukun beranak ini amat penting dan menempati posisi sentral dalam upacara selamatan "Nujuh Bulanin", sehingga semua yang hadir menyimak dan mengikutinya dengan seksama. Di samping sebagai penanggung jawab teknis upacara, dukun ini dibantu oleh beberapa kaum ibu yang bertugas mempersiapkan kain batik, baju, handuk, air yang ditempatkan di dalam ember dengan diberi 7 macam bunga-bungaan, gayung mandi dan se¬bagainya, untuk pelaksanaan upacara memandikan.

Kelompok pengajian dipimpin oleh seorang ibu, yang biasa juga memimpin pengajian pada acara-acara lain¬nya. Kelompok ini terdiri dari kaum ibu yang berjumlah antara 10 hingga 15 orang dengan berbusana muslim.

Pada pelaksanaan upacara ini, kaum wanita memegang peranan penting. Ini sekaligus menunjukkan unsur emansipasi dan ke¬gotongroyongan pada masyarakat Betawi. Mereka dengan senang hati membantu melaksanakan sepenuhnya kegiatan upacara tersebut sejak dimulai hingga selesai pelaksana¬annya.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Upacara
Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara "Nujuh Bulanin" meliputi : dukun beranak, pembawa acara (biasanya seorang ibu yang dituakan), pembaca doa-doa dan ayat suci Al Quran, keluarga dan pihak istri dan dan pihak suami, para tetangga, dan tamu-tamu lainnya. Semua pihak yang tersebut ini selama berlangsungnya upacara mengikutinya hingga selesai. Keterlibatan wanita hamil yang diupacarakan, karena memang dialah pelaku utama dalam upacara ini, dan dia yang akan di¬mohonkan keselamatannya serta bayi yang dikandungnya.

Keluarga dari pihak istri dan keluarga dari pihak suami ter¬utama dan kaum ibunya, juga sangat berperanan, karena mereka yang membantu tenaga dan pikiran supaya upacara dapat ber¬langsung dengan baik.

Dukun beranak sebagai penyelenggara teknis upacara, me¬rupakan pihak yang bertanggung jawab atas terselenggaranya selamatan ini. Dukun ini bertugas sebagai penghubung untuk menyampaikan berbagai keinginan dan harapan yang punya hajat.

Kelompok pengajian ibu-ibu yang membacakan doa-doa dan ayat-ayat suci Al Quran merupakan kelompok pembantu ibu dukun beranak dalam pelaksanaan upacara ini. Salah satu ayat dari kitab suci Al Quran yang dibacakan pada selamatan ini adalah Surat Yusuf, dengan harapan agar kelak bayi yang akan dilahirkan berparas dan berperangai seperti Nabi Yusuf dalam keluhuran budi dan akhlaknya, kesabaran dan kepatuhannya kepada orang tua.

Sanak keluarga kaum ibu yang masih muda dan gadis-gadis bertugas menyiapkan penganan berupa kue-kue, seperti dodol, wajik, uli, dan lain-lain. Juga kadang dibuat nasi tumpeng dengan lauk pauknya dan sayur urapan.

Tamu-tamu lainnya termasuk para tetangga ikut terlibat se¬bagai undangan. Mereka hadir untuk berpartisipasi dan ikut me¬manjatkan doa bagi si ibu yang hamil serta bayi yang dikandung¬nya. Semua hadirin yang terlibat dalam upacara ini hadir sesuai yang dijadwalkan.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Menjelang usia kandungan tujuh bulan, si suami dan istri sudah mulai bersiap-siap untuk merencanakan upacara "Nujuh Bulanin". Rencana ini segera diberitahukan kepada orang tua kedua belah pihak, dan penye¬lenggaraannya dapat dikerjakan bersama-sama pula. Rencana ini biasanya mendapat dukungan dan diselesaikan secara gotong royong, hal ini karena ikatan kekeluargaan yang sudah erat di antara mereka.

Bila sudah tiba waktunya, mereka mempersiapkan segala yang diperlukan, seperti mempersiapkan bahan untuk membuat rujak yang terdiri dari 7 macam huah-buahan, yaitu : buah delima, mangga muda, jeruk merah (jeruk Bali), pepaya Mongkal, bengkuang, kedondong, ubi jalar, serta bumbu rujak yang terdiri dari gula merah (gula jawa), asam jawa, cabe rawit, garam, terasi, dan lain-lain.

Buah delima jangan sampai ketinggalan, begitu juga jeruk bali merah. Menurut mereka, buah delima yang masak dan berwarna merah akan membuat bayi yang akan dilahirkan kelak sangat menarik dan disenangi orang. Jeruk bali merah mempunyai maksud tersendiri. Jeruk merah biasanya rasanya manis dan enak dibuat rujak, dan bila dikupas kulitnya mudah terkelupas. Hal ini diumpamakan agar bayi yang akan dilahirkan kelak akan mudah dan lancar serta tidak mengalami kesulitan, semudah mengupai jeruk merah tersebut.

Untuk keperluan mandi disiapkan tempat air. Orang Betawi dulu menggunakan "jolang" berbentuk lonjong dan terbuat dari kaleng atau seng, sekarang dipergunakan ember plastik yang ber¬ukuran cukup besar. Ke dalam ember itu diisikan 7 macam bunga yang harum baunya, seperti : bunga mawar merah, mawar putih, melati, kenanga, cempaka, sedap malaria, dan bunga tanjung. Dipilihnya jenis-jenis bunga ini karena banyak digemari orang, dengan harapan bayinya kelak juga akan disenangi orang-orang di lingkungannya.

Selain tujuh macam bunga, untuk mandi juga dipergunakan 7 helai kain batik dan baju kebaya (blouse) 1 potong, telur ayam kampung 1 butir, dan minyak wangi. Air untuk mandi digunakan air yang bersih dan diambil dari tujuh mata air atau tujuh sumur.

Untuk keperluan "ngorog" atau "ngirag" perlu disediakan kembang dan beberapa mata uang lobam ratusan atau lima pu¬luhan serta kain putih sebanyak kurang lebih satu meter. Kembang yang dipakai sama dengan kembang yang digunakan untuk mandi. Kembang dan uang logam digulung longgar dengan kain putih, seperti orang menggulung tembakau dengan kertasnya. Gulungan kain putih yang berisi kembang dan uang logam tadi dismpan dahulu untuk dipergunakan nanti setelah acara mandi.

Sesajen yang ditempatkan pada buah bakul berisi antara lain: beras 3 liter, sebutir kelapa, garam satu bata, dan bumbu dapur (cabe, bawang, terasi, kunyit, dan lain-lain). Bakul sesajen di¬tutup dengan sehelai kain putih.

Sedangkan perlengkapan di atas, yang tidak boleh dilupakan ialah kemenyan dan perasapannya. Asap kemenyan dipandang sebagai sesuatu yang mempunyai kekuatan magis sebagai media untuk dapat berhubungan dengan alam semesta. Selain itu juga mempunyai makna untuk memanggil roh nenek moyang mereka di mana diharapkan roh tersebut akan menjaga anak cucunya dari segala gangguan makhluk halus.

Jalannya Upacara
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, seorang ibu wakil dari pihak keluarga yang punya hajat menyampaikan sambutan dan menjelaskan maksud penyelenggaraan upacara tersebut. Acara dilanjutkan dengan pengajian dengan membaca ayat-ayat suci Al Quran, terutama Surat Yusuf, serta memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembacaan ayat Surat Yusuf dimaksudkan agar bayi yang akan lahir kelak dapat meneladani sifat-sifat Nabi Yusuf serta mempunyai paras yang rupawan.

Selesai pembacaan doa-doa, lalu air putih di dalam gelas yang telah dipersiapkan sebelumnya dan diletakkan di tengah-tengah ibu-ibu yang tengah mengaji, diminumkan kepada calon ibu yang diselamatkan, dengan harapan agar bayi yang dikandungnya dapat lahir selamat dan lancar tanpa aral rintangan.

Dukun beranak yang memegang peranan di sini menggandeng si ibu hamil menuju ke tempat mandi atau halaman rumah yang akan dipakai untuk tempat memandikan, diikuti oleh kaum Ibu Iainnya. Di tempat ini si ibu hamil didudukkan di atas kursi dengan baju lengkap dan kain sedikit dilongarkan. Ibu dukun mulai mengucapkan "Bismillaahirrakhmaanirrakhim", lalu di¬ikuti dengan membacakan doa-doa dan mantera yang diucapkan di dalam hati. Setelah itu dukun beranak itu memegang ubun-ubun kepala si ibu hamil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang gayung yang dicidukkan ke dalam air kembang lain diguyurkan di atas kepala si ibu hamil, kemudian diulang sampai tujuh kali hingga sekujur tubuh si ibu hamil basah kuyup. Setelah itu kain dan baju si ibu hamil diganti yang baru.

Tugas siraman kedua diserahkan kepada suami si ibu hamil. Dengan mengucapkan "Bismillaahirrakhmaanirrakhim" si suami pun mengguyurkan air ke kepala istrinya. Selanjutnya berturut¬turut dilakukan oleh ibu, mertua, dan kerabat wanita si ibu hamil hingga seluruhnya berjumlah 7 orang. Selesai acara siraman, si ibu hamil lalu mengeringkan badan dan rambutnya dengan handuk.

Selanjutnya si ibu hamil berdiri dengan posisi kedua kaki agak melebar dan kainnya agak dilonggarkan sambil kainnya dipegangi oleh ibu-ibu yang lain, sehingga tampak seolah-olah si ibu hamil itu berada dalam kurungan kain. Kemudian dukun beranak me¬ngambil sebutir telur yang diletakkan di dalam air kembang. Telur itu diletakkan di ubun-ubun si ibu hamil. Sambil tetap digenggam, telur itu seolah-olah digelindingkan dari kepala sampai ke dada dan perut si ibu hamil. Sebelum telur diluncurkan, si dukun mengucapkan mantera yang berbunyi :

"Assalaamualaikum, waalaikum salam Sami Allah nutup iman
Masuk aken si jabang bayi
Masuk aken si putih
Si jabang bayi rep sirep
sing idup putih"

Mengucapkan mantera di atas oleh dukun disebut "disampur¬nain". Selesai membacakan mantera, telur kemudian diluncur¬kan, lalu dijatuhkan hingga pecah. Dengan demikian, maka selesailah tahap kedua upacara "Nujuh Bulanin".

Selanjutnya si ibu hamil diberi handuk dan berganti pakaian dengan kain yang baru, dibimbing oleh dukun berjalan menuju ke dalam kamar untuk "dirorog". Acara ini dilaksanakan di dalam kamar yang tertutup. Pada acara ini yang ada hanya dukun ber¬anak dan si ibu hamil saja. Minyak kelapa dan kain putih sudah tersedia untuk acara "ngorog" ini. Mula-mula si ibu hamil disuruh tidur terlentang, perutnya diperiksa oleh si dukun. Bila terdapat kelainan pada kandungannya maka sang dukun dapat membetul¬kannya, namun apabila normal kandungannya cukup diusap-usap beberapa kali sebagai syarat sambil membaca mantera yang berbunyi :

"Assalamualaikum,
Sekarang si jabang bayi lu ditutupi bulan
supaya lu selamet menjadikan orang bener
nanti kali udah waktu medal
di surga yang lempeng, yang bener"

Kemudian dukun beranak "mengorog-orognya" dengan cara mengurut bagian tubuh dari atas bahu sampai ke bawah berulang kali hingga tiga kali. Selesai dirorog, si ibu hamil berpakaian kembali secara lengkap dan berhias menurut kebiasaannya. Se¬lanjutnya si ibu hamil bersama dukun beranak ke luar dari kamar dan disalami oleh para kerabat yang hadir, sekaligus memberi doa restunya, lalu duduk bersama menunggu acara makan.

Selesai acara makan bersama, tahap selanjutnya acara memba¬gikan rujak oleh si ibu hamil kepada para tamu yang hadir. Ru¬jakan terdiri dari 7 macam buah-buahan, diberi bumbu gula asam serta cabe rawit. Para kerabat dan para tamu akan mencicipi dan menilai rasa rujak buatan si ibu hamil. Bila rujak terasa sangat enak dan berkenan di hati, mereka meramalkan bahwa si bayi kelak adalah seorang anak perempuan. Sebaliknya bila rujak terasa pedas, maka diramalkan bayi yang akan lahir adalah laki-laki.

Demikian, upacara ditutup dengan makan rujak bersama-¬sama. Selesai acara makan rujak, para tamu pun kembali ke rumahnya masing-masing. Waktu ibu dukun mau pulang, diantar oleh keluarga si ibu hamil di depan rumah, sambil menyerahkan sajen, satu kain basah bekas mandi nujuh bulan, uang, dan ma¬kanan serta lauk-pauknya.

Pantangan-Pantangan yang Harus Dipatuhi
Menurut kepercayaan masyarakat Betawi selama istri sedang hamil berlaku larangan-larangan yang menurut istilah mereka disebut "pemali". Pantangan ini tidak boleh dilanggar kalau ingin persalinan berlangsung dengan lancar dan selamat kelak. Dengan demikian, maka suami istri harus saling mengingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang terlarang.

Bagi suami dan istrinya yang sedang hamil berlaku pantangan¬-pantagan antara lain:
-Tidak boleh keluar rumah pada waktu magrib. Tidak boleh duduk diambang pintu.
-Tidak boleh mandi setelah dan pada waktu magrib. Tidak boleh mengisi kapuk ke dalam bantal/guling.
-Tidak boleh membunuh binatang.
-Tidak boleh menyembelih hewan, misalnya ayam, kambing, dan lain-lain.
-Tidak boleh mencela bentuk-bentuk yang aneh, terutama apabila hal ini terdapat pada seseorang, misalnya kaki pincang, mata buta, bibir sumbing, dan cacat tubuh lainnya.
-Suami dan istri yang hamil selama bayi di dalam kandungan diharapkan agar selalu berbuat kebajikan, dermawan, selalu ber¬ibadah dan mencari kegemaran yang bermanfaat, seperti member¬sihkan rumah/pekarangan, memperbaiki rumah, dan lain-lain. Menghormati orang lain dan selalu berbuat hal yang disenangi oleh orang tuanya. Juga diharapkan agar suami selalu memenuhi kehendak istri yang sedang hamil.

Lambang-lambang atau Makna-makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara:
Pada umumnya setiap benda yang digunakan dalam upacara mengandung arti atau makna khusus sesuai dengan konsep alam pikiran masyarakat pendukungnya. Adapun lambang-lambang yang terdapat dalam upacara "Nujuh Bulanin", dapat dikemukakan sebagai berikut:

-Doa, lambang penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama yang dianutnya.
-Mantera, lambang kekuatan untuk menundukkan makhluk halus, orang yang akan membacakan mantera dianggap orang yang mempunyai kekuatan untuk menundukkan roh halus.
-Bunga tujuh macam, mengandung arti tujuh sifat: hidup, kekuatan, penglihatan, pendengaran, perkataan, perasaan, dan kemauan.
-Tujuh macam buah-buahan yang dibuat rujakan melambangkan rasa kekeluargaan, kegotongroyongan masyarakat, kesu¬buran, dan kemanisan hidup.
-Kain batik dimaksudkan untuk memberikan perlengkapan dan pakaian suci dan bersih bagi roh-roh halus.
 -Air yang dipakai untuk menyiram (memandikan si ibu hamil) mempunyai makna kesucian, air adalah merupakan salah satu unsur asal manusia.
-Kain Putih, merupakan lambang kesucian hati.
-Telur ayam, merupakan lambang kebulatan tekad disertai keikhlasan dalam menerima segala macam pemberian dari Sang Pencipta.
-Kemenyan, merupakan lambang magis sakral, asap kemenyan yang wangi mengundang hadirnya makhluk halus yang baik dan mengusir makluk halus yang jahat, agar yang hamil diber¬kati dan dilindungi keselamatannya.
-Beras putih, mempunyai makna keselamatan hidup di dunia.
-Nasi tumpeng dan lauk pauknya, mempunyai makna suatu pengharapan adanya rasa tenteram bagi keluarga.
-Minyak kelapa, melambangkan pelicin, yang berarti segala apa yang diminta akan terkabul.
-Kue-kue tradisional terutama yang berasal dari padi menjadi beras lalu menjadi tepung dan diberi gula merah, melambang¬kan suatu cita-cita, bahwa setiap tanaman akan semanis kue-kue tersebut.
-Sesajen, merupakan simbol upacara yang mempunyai makna permohonan kepada roh nenek moyang, agar dapat melindungi dan terhindar dan segala macam bahaya, penyakit, maupun kelainan dan kandungan, dan terhindar dari gangguan makhluk halus.

Demikianlah, lambang-lambang dan makna simbol sebagai kunci yang digunakan oleh masyarakat Betawi.


Sumber:

Aditya Prabowo Raharjo 4423107027
Ujian Tengah Semester “Tradisi Etnik Nusantara”
Part 2

“The legend of Si Pitung dan Si Manis Jembatan Ancol”

Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan Si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.

Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, “orang yang denger kate”. Dia juga “terang hati”, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan.

Suatu ketika di usia remaja sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang “menyeramkan” yang pasti akan berhadapan dengan begal.


 Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Si Pitung yang mendapat sebutan “Robinhood” Betawi, sekalipun tidak sama dengan “Robinhood” si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Sejauh ini, tokoh legendaris Si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam “Intisari” melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang Si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan.”

Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan Si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah Si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau Si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian “ilmu rontek”.

Setelah dewasa Si Pitung melakukan gerakan bersama teman-temannya karena ia tidak tega melihat rakyat-rakyat yang miskin. Untuk itu ia bergerilya untuk merampas dan merampok harta-harta masyarakat yang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya.

Selain itu Pitung suka membela kebenaran dimana kalau bertemu dengan para perampas demi kepentingannya sendiri maka sama Si Pitung akan dilawan dan dari semua lawannya Pitung selalu unggul.

Gerakan Pitung semakin meluar dan akhirnya kompeni Belanda yang saat itu memegang kekuasan di negeri Indonesia melakukan tindakan terhadap Si Pitung. Pemimpin polisi Belanda mengerahkan pasukannya untuk menangkap Si Pitung, namun berkali-kali serangan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Pitung selalu lolos dan tidak mudah untuk ditangkap oleh pasukan Belanda. Ditambah-tambah Si Pitung mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan sejata api.

Kompeni Belanda pun tidak kehilangan akal, pemimpin pasukan Belanda mencari guru Si Pitung yaitu Haji Naipin. Disandera dan ditodongkan sejata ke arah Haji Naipin agar memberikan cara melemahkan kesaktian Si Pitung, akhirnya Haji Naipin menyerah dan memberitahu kelemahan-kelemahan Si Pitung. Pada suatu saat, Belanda mengetahui keberadaan Si Pitung dan langsung menyergap dan menyerang secara tiba-tiba. Pitung mengadakan perlawan, dan akhirnya Si Pitung tewas karena kompeni Belanda sudah mengetahui kelemahan Si Pitung dari gurunya Haji Naipin.

“Si Manis penghuni Jembatan Ancol”

Sebut saja Jembatan Ancol, yang dahulu merupakan jembatan goyang, yang terletak di Jakarta Utara. Jembatan ini lebih ‘populer’ dibanding dengan jembatan lain yang lebih besar dan lebih bagus di Jakarta. Bukan karena keunikan bentuk bangunan atau ukuran jembatan ini, melainkan cerita di balik jembatan ini. Sebenarnya siapakah Si Manis Jembatan Ancol tersebut?
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat sekitar, Si Manis tersebut bernama Mariyam (ada juga yang mengatakan gadis itu bernama Siti Ariah), yaitu seorang gadis manis kembang desa yang meninggal di kawasan jembatan Ancol dan jasadnya dibuang setelah sebelumnya diperkosa. Menurut cerita yang saya pernah dengar, ketika malam hari dan turun hujan cukup deras, ada seorang wanita yang berjalan di sekitaran jembatan itu, wanita itu sangat cantik dan sexy, itu lah si Mariyam. Lalu, ada tiga pria ya bisa dibilang mereka saat itu lagi mabuk dan tidak sadar, dan pasti pria-pria itu adalah preman. Dan kemudian menghampiri si Mariyam ini lalu Mariyam di perkosa secara bergantian lalu dibunuh dan mayat nya di buang di jembatan Ancol. Selain jembatan Ancol, kali sunter Ancol juga dianggap angker oleh masyarakat sekitar.


Sumber:
http://themythlegend-story.blogspot.com/
http://mariapriskamarvina.wordpress.com/2012/04/21/si-manis-jembatan-ancol/