Tampilkan postingan dengan label Lidya Novita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lidya Novita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012


UJIAN TENGAH SEMESTER (Part 5)
LIDYA NOVITA - 4423107048
================================

KEBERADAAN, PELESTARIAN DAN FUNGSI FOLKLORE

v  Keberadaan Folklore
Sejarah folklor  secara  selintas  adalah sebagai berikut.  Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah folklor ke dalam dunia ilmu pengetahuan  adalah  William John Thoms,  ahli kebudayaan antik (antiquarian) Inggris, dalam artikelnya yang dimuat pada majalah  The Athenaeum  No. 982, 22 Agustus 1846 (dengan nama samaran Ambrose
Merton).  Thoms menciptakan istilah  folklore  untuk sopan-santun Inggris, takhayul, balada, dsb. untuk masa lampau (yang sebelumnya disebut: antiques, popular antiquities, atau popular literature). 
Folklor dari bahasa Inggris: „folklore, berasal dari dua kata, yaitu: „folk dan  „lore. Folk  artinya  kolektif  (collectivity).  Folk  adalah  sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal  itu bisa berwujud kesamaan dalam  hal: warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama.  Yang lebih penting, mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun (sedikitnya dua generasi), yang dapat mereka akui sebagai milik bersamanya. Yang paling penting, mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Jadi,  folk bersinonim dengan kolektif, yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau
kebudayaan yang sama dan mempunyai  kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.  Lore  artinya  tradisi  folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun, secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). 
Dari  folk  yang berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Itulah yang menyebabkan objek studi folklor Indonesia menjadi luas sekali. Misalnya, dari perbedaan ciri-ciri pengenal fisik, kita bisa mempelajari folklor orang Indonesia yang berkulit coklat, yang berkulit hitam, putih, atau kuning, asalkan mereka warga negara Indonesia atau paling tidak sudah beberapa generasi menjadi penduduk Indonesia. 
Misalnya, dari perbedaan ciri-ciri pengenal kebudayaan „mata pencaharian hidup, objek studi kita bisa folklor petani desa, nelayan, pedagang, peternak, pemain sandiwara, guru sekolah, tukang becak, bahkan juga wanita tuna susila, waria, tukang copet, maling, dan seterusnya. Misalnya, dari bahasa yang sama, objek studi kita bisa folklor orang Jawa,
orang Sunda, Bugis, Ambon, Menado, dan seterusnya. Misalnya, dari agama yang sama, objek studi kita bisa folklor orang Indonesia yang beragama Islam, yang  beragama Katolik, Protestan, Hindu Dharma, Budha, malahan juga Kaharingan (Dayak), Molohe Adu (Nias), dan semua kepercayaan yang ada di Indonesia. 
Dari lapisan masyarakat yang sama, objek studi folklor Indonesia bisa mempelajari folklor rakyat jelata, kaum bangsawan, dan seterusnya. Dari tingkat pendidikan yang sama, objek studi kita bisa folklor siswa TK, siswa SD, SMP, SMA, malahan juga folklor para mahasiswa, sarjana, guru besar, dan seterusnya. 
Objek studi folklor di Indonesia adalah semua folklor dari folk yang ada di Indonesia, yang di pusat maupun di daerah, yang di kota maupun di desa, yang di kraton maupun di kampung, yang pribumi maupun keturunan asing (peranakan), yang warga negara Indonesia maupun warga negara asing asalkan mereka sadar akan identitas kelompoknya dan mengembangkan kebudayaan mereka di bumi Indonesia. Bahkan, kita dapat melakukan studi terhadap folklor dari folk Indonesia yang kini sudah lama bermukim di luar negeri, seperti orang-orang Indo-Belanda di negeri Belanda atau di California, dan orang-orang Jawa di Suriname.
James Danandjaja (hal. 21 dst.) menyatakan bahwa folklor
mempunyai tiga kelompok besar, yaitu: Folklor Lisan, Folklor Bukan
Lisan, dan Folklor Sebagian Lisan. Penjelasannya sebagai berikut:
1.     Folklor Lisan  adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan.
Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah:
a.    bahasa rakyat, seperti: logat, julukan, dan sebagainya.
b.    ungkapan tradisional, seperti: peribahasa, pepatah, pemeo.
c.    pertanyaan tradisional, seperti: teka-teki.
d.    puisi rakyat, seperti: pantun, gurindam, syair.
e.    cerita prosa, seperti: mite, legende, dongeng.
f.     nyanyian rakyat.

2.    Folklor Sebagian Lisan  adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan bukan lisan.  Misalnya: kepercayaan rakyat, permainan rakyat, teater, tarian, adatistiadat, upacara, pesta, batu permata, dan sebagainya.
3.    Folklor Bukan Lisan  adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Kelompok ini dibagi menjadi dua, ialah:
a.    Material, seperti: arsitek rakyat, kerajinan tangan, pakaian, perhiasan, masakan, minumam, obat tradisi.
b.    Bukan Material, seperti: musik rakyat, gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat komunikasi rakyat, dan sebagainya.
Folklor berbeda dari kebudayaan lainnya, maka kita perlu mengetahui ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya.  Adapun ciri-ciri pengenal utama folklor yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1.     Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya. 
2.    Folklor bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Itu disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
3.    Folklor ada (exist) dalam versi-versi, bahkan varian-varian yang berbeda. Itu  disebabkan penyebarannya secara lisan, sehingga dapat dengan mudah mengalami perubahan. Perubahan biasanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
4.    Folklor bersifat anonim, nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi.
5.    Folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, sebagaimana dalam cerita rakyat atau permainan rakyat pada umumnya. Cerita rakyat misalnya, selalu mempergunakan katakata klise seperti  „bulan 14 hari  untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis. Juga,  „seperti ular berbelit-belit untuk menggambarkan kemarahan seseorang.  Demikian pula, ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimatkalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, misalnya:  „sahibul hikayat...dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya,  atau  „menurut empunya cerita...demikianlah konon. Dongeng Jawa misalnya, banyak yang dimulai dengan kalimat „Anuju sawijining dina  dan ditutup dengan kalimat  „A lan B urip
6.    rukun bebarengan kaya mimi lan mintuna.
7.    Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya, mempunyai kegunaan sebagai alat/media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
8.    Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika  tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
9.    Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Ini disebabkan penciptanya tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif ybs. Merasa memilikinya.
10.  Folklor biasanya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Itu bisa dimengerti karena banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya. 

Dapat ditambahkan di sini bahwa:
1.     Folklor  tidak „berhenti sebagai folklor manakala telah diterbitkan dalam bentuk cetakan/rekaman. Suatu folklor akan tetap memiliki identitas folklornya selama kita tahu bahwa itu berasal dari peredaran lisan. Permasalahan baru timbul manakala suatu cerita
2.    rakyat telah diolah lebih lanjut. Misalnya,  „Sangkuriang  (Jabar) diolah oleh Ayip Rosidi menjadi karya sastra  „Sangkuriang Kesiangan (1961).
3.    Folklor mengungkapkan secara sadar atau tidak bagaimana suatu kolektif masyarakat berpikir, bertindak, berperilaku, dan memanifestasikan berbagai sikap mental, pola pikir, tata nilai, dan mengabadikan hal-hal yang dirasa penting oleh folk kolektif pendukungnya. Misalnya, bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Minangkabau melalui pepatah, pantun, dan peribahasa. 
4.    Bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Jawa melalui permainan rakyat (dolanan, tembang), bahasa rakyat (parikan, tembung  seroja, sengkalan, dsb.), puisi rakyat, ragam seni pertunjukan, lelucon, bahkan manifestasi dalam fisik kebudayaan seperti batik, wayang, tarian, dan sebagainya.
5.    Folklor hanya merupakan sebagian kebudayaan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata  atau lisan, sehingga ada yang menyebutnya sebagai „tradisi lisan (oral
6.    tradition). Penyebutan itu sesungguhnya kurang pas, karena istilah „tradisi lisan mempunyai arti yang terlalu sempit (hanya mencakup: cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat), sedangkan arti „folklor lebih luas daripada itu (mencakup juga: tarian rakyat dan arsitektur rakyat). 
7.    Cerita rakyat terdiri atas budaya, termasuk cerita, musik, tari, legenda, sejarah lisan, peribahasa, lelucon, kepercayaan, adat, dsb. dalam  suatu populasi tertentu yang terdiri atas tradisi  -- termasuk tradisi lisan -- dari budaya, subkultur, atau kelompok.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa folklor dimiliki oleh suat kolektif masyarakat. Selain itu folklor yang diwariskan turun temurun secara lisan (mulut- kemulut) dalam suatu kolektif masyarakat yang mempunyai cerita berbeda-beda diantara satu daerah dengan daerah lain.
Dilihat dari sisi pendukungnya folklor mempunyai beberapa fungsi. Menurut Wiliam R. Borton melalui Danandjaja (1991 : 19) fungsi folklor ada empat yaitu:
a.    Sebagai sistem proyeksi, yaitu sebagai pencerminan angan-angan suatu kolektif.
b.    Alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c.    Alat pendidik anak
d.    Alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
v  Folklore sebagai bekal guide pariwisata
Fungsi folklor mempunyai arti bahwa folklor sebagai bagian dari kehidupan masyarakat berfungsi untuk mendukung berbagai kegiatan dilingkungan masyarakat. Melalui folklor dapat diketahui kebudayaanya masyarakat pada waktu berkenaan (zamanya) baik dari segi pikiran, latar belakang masyarakat, maupun konsepnya serta keinginan mereka. Juga melalui folklor masyarakat lama menyampaikan bagaimana leluhur nenek moyang dahulu. Pikiran dan perasaanya tidak menggambarkan secara terbuka seperti sekarang namun disampaikan dengan cara  tersirat dan halus sekali. Begitulah pribadi masyarakat dulu yang banyak menampilkan nilai  –  nilai kehidupan yang menyangkut  moral dan sebagainya.
Bagi pada pemandu wisata folklore merupakan pegangan atau bekal mereka untuk menyampaikan berbagai informasi mengenai kebudayaan di suatu daerah yang menjadi bagian dia untuk mengeksplore kepada para wisatawan. Berbagi keanekaragaman kebudayaan khususnya di Indonesia. Sebagai penambah wawasan bagi dirinya juga, karena seorang guide pariwisata harus mampu menguasai setiap daerah bukan hanya latar belakang daerah tersebut tetapi juga kebudayaannya. Juga untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada wisatawan asing. 

UJIAN TENGAH SEMESTER (Part 4)
LIDYA NOVITA - 4423107048
FOLKLORE BUKAN LISAN
================================

Kerajinan Tangan Topeng Malangan

Dari postingan saya sebelumnya, saya sudah membahas tentang kesenian Tari Topengan Malangan yang berasal dari Malang. Kali ini saya akan membahas tentang para pengrajin topeng malangan tersebut. Setelah berwisata alam dan rekreasi di Kabupaten Malang, tidak lengkap kalau tidak membawa kerajinan tangan.
Banyak sekali produk - produk kerajinan yang memperkaya khasanah budaya di Indonesia. Di Malang, ada salah satu kerajinan yang sangat langka dan merupakan salah satu kebudayaan Khas Malang, yaitu Topeng Malang. Topeng Malang merupakan sejarah dari pementasan Wayang Gedog yang mana setiap karakter-karakternya selalu menggunakan topeng. Ada banyak jenis warna dan ragam hias dari Topeng Malang yang menggambarkan masing-masing karakter dalam pementasan. Bahan dasar Topeng Malang adalah berbagai jenis kayu seperti kayu Kembang, Waru, Mahoni dan Sengon. Beberapa karakter topeng dibuat dari kayu yang mana sebelum ditebang harus dilakukan ritual khusus terlebih dahulu. Topeng Malang sekarang banyak dibuat oleh pengerajin-pengerajin di desa Jabung kabupaten Malang, Jawa Timur.
Adalah Almarhum Mbah Karimoen yang memulai kerajinan ini sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu. Kini, setelah Mbah Karimoen tiada, usaha Kerajinan Topeng Malang ini diteruskan oleh cucunya, yaitu Mas Handoyo. Sesuai dengan cita - cita Mbah Karimoen, Mas Handoyo ingin melestarikan khasanah budaya di Indonesia khususnya di Malang Raya melalui Kerajinan Topeng Malang ini.
Usaha Kerajinan yang berlokasi di Jl. Prajurit Slamet Dukuh Kedungmonggo Ds. Karangduren Kecamatan Pakisaji ini dikelola oleh Mas Handoyo bersama 5 orang pegawainya yang juga sesama pengrajin topeng. Dikisahkan oleh Mas Handoyo bahwa Mbah Karimoen Memperoleh ilmu membuat topeng secara otodidak sewaktu dia berumur 14 tahun.
Topeng khas Malang ini dibuat dari kayu yang telah disimpan selama kurang lebih 5 bulan. Kayu-kayu itu kemudian dipotong-potong dengan ukuran lebar 16 cm dan panjang 21 cm. Di potongan kayu itu kemudian dibuat gambar wajah berbagai tokoh pewayangan seperti Panji Asmoro Bangun, Sekar Tadji, dan lain- lain. Setelah itu diukir sesuai pola dengan alat ukir patu, pecok, dan tatah.
Kendala yang kini dihadapi oleh Mas Handoyo saat ini ada keterbatasan bahan baku Kayu. Mas Handoyo hanya mengandalkan para pemborong - pemborong kayu yang sudah ia kenal. Mas Handoyo berharap usahanya dalam rangka melestarikan budaya asli Malang ini bisa terus eksis. Memang bila dilihat sepintas lalu, usaha kerajinan ini terlihat turun temurun. Namun tidak ada salahnya bila kita para generasi muda mau belajar membuat atau paling tidak mempelajari sejarah budaya Indonesia khususnya di Malang melalui Topeng Malang. Tentu kita tidak ingin jika nanti ada negara lain yang berusaha mengklaim budaya kita lagi bukan?
Sementara itu, pengrajin topengan malangan berikutnya, Hariati. Jemari lentik Hariati, cucu Mbah Karimun tampak luwes mengayun kuas di atas topeng kayu berkarakter Patih Gajah Meto. Sedangkan di sudut lainnya, Raimun tengah memahat kayu sengon untuk menyempurnakan karakter topeng Malangan. Mereka adalah pengrajin topeng malangan Padepokan Asmoro Bangun Dukuh Kedung Monggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang.
Eksistensi topeng Kedungmonggo berlangsung turun temurun sejak akhir abad 18, sekitar tahun 1897. Ketika itu, alm. Mbah Serun (kakek Mbah Mun) berguru kepada Gurawan asal Bangelan. Ilmu Serun itu kemudian diturunkan kepada Karimun kemudian diwariskan kepada Taslan anak pertamanya hingga kepada Tri Handoyo dan Raimun.
Topeng Malangan identik dengan cerita Panji (tokoh utamanya Panji Asmara Bangun) merupakan seni tradisi khas Malang masih lestari. Di Malang Raya, Padepokan Asmoro Bangun adalah salah satu kelompok yang tetap melestarikan seni tradisi tersebut. Padepokan itu dulu eksis dibawah pimpinan Maestro Topeng Malang Alm. Mbah Mun.
Selain itu awal 2009 masih ada pembuat topeng yang eksis di kawasan Malang Timur selain Jabung, yakni di Tumpang. Namun Soetrisno Empu Topeng Malangan Pulung Dowo sudah lebih dulu tutup usia pada 2 Desember 2008 pada usia 68 tahun. Dia adalah maestro topeng dari Dusun Glagahdowo Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang.
Soetrisno adalah empu topeng rekan seangkatan Rasimoen, seniman Topeng Malangan yang telah tutup usia lebih dahulu. Bersama Gimun dan Jakimin, mereka tak lain murid dari Mbah Item di Padepokan Sri Margo Utomo. Dari tiga tokoh Sri Margo Utomo lainnya, Soetrisno lebih dikenal sebagai penyungging (pembuat benda seni topeng teknik pahat) Topeng Malangan.
Suami dari seniman tari Sumianah (55 tahun) itu selain penyungging topeng malang juga pemain ludruk dan penari Jangger. Bahkan, Soetrisno muda terkenal sebagai pemimpin perguruan pencak silat di Tumpang. Jiwa seninya diturunkan kepada anaknya Eko Hadi Wijaya, Dwi Wahyui Asmarani dan Tri Ganjar Wicaksono. Anak paling bungsu, Tri Ganjar Wicaksono tak lain salah satu pendiri Wayang Beber Kota di Solo.
“Bapak mulai berhenti menyungging sejak separoh anggota badannya lumpuh karena stroke, enam tahun lalu. Namun beliau masih rajin mengawasi dan mengajar pembuatan topeng malangan,” ujar Eko Hadi Wijaya kepada wartawan mingguan Kota Wisata ini.
Eko yang juga seniman pembuat Topeng itu mengatakan, bapaknya juga seangkatan dengan Maestro topeng Malang Mbah Karimun asal Kedungmonggo. Hanya saja, meski sama-sama Master topeng malangan, karakter kedua tokoh itu berbeda. Kata Eko, bapaknya dikenal memiliki karya dengan pattern (pola) detil.
“Perbedaan itu adalah kearifan budaya mas. Yang jelas seperti seniman topeng malangan lainnya, bapak masih menjaga nilai estetika di dalam pembuatan topeng. Bahwa topeng juga mengandung falsafah hidup yang bisa menjadi pedoman umat manusia” jelasnya.
Sama seperti yang dialami Handoyo, Eko juga mendapat pesan dari Soetrisno agar dia membesarkan komunitas Topeng Malangan. Kata Eko, sang bapak juga mewariskan ilmu seni tradisi kepada dua adiknya. “Bapak saya dulu aktif mengajar seni tradisi ini melalui dunia teater. Bahkan National Geographic Center dari Munich sempat bertandang ke sini (rumahnya),” akunya.



Rata-rata pengerajin topeng merupakan penduduk asli setempat,bertani merupakan sumber mata pencarian pokok mereka.Budaya seni pahat sangat kental dalam keseharian mereka, sebagai pelengkap seringkali disajikan pula seni tari yang sering kali digunakan sebagai acara ritual adat setempat dan pertunjukan seni hiburan sebagai bentuk pelestarian budaya nenek moyang.selain bisa melestarikan budaya nenek moyang juga dapat sebagai tambahan mata pencarian penduduk setempat. Untuk tehnis penyelesaian topeng tergantung dari tingkat kerumitan dan bahan kayu yang diminta atau dipesan,rata-rata menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam per topeng. selain orang dewasa saat ini sudah ada regenerasi untuk remaja baik dari seni pahat maupun seni tarinya. Untuk pertunjukan seni tari topeng sering digelar di sekitar kabupaten Malang Jatim Indonesia,tidak menutup kemungkinan juga digelar di area Kotamadya Malang Jatim ,kota-kota besar di Indonesia. Untuk pengembangan seni tari topeng juga mendapat perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten dan Kodya Malang Jatim Indonesia. Hanya perlu ditingkatkan lagi untuk lebih giatnya suport promosi dan permodalan daripihak pemerintah khususnya Dinas pariwisata dan budaya agar pelestarian budaya seperti Tari topeng tidak punah. Lebih membanggakan lagi Topeng malang sudah dikenal hingga di Manca negara
Namun kini aset budaya tradisional Malang Raya berupa topeng malangan terancam musnah tergerus zaman. Pasalnya, topeng yang juga menjadi ikon Malang Raya itu kini tak lagi dikenal warga.
“Ironisnya, ini terjadi justru saat banyak pecinta seni dari berbagai negara berusaha mendalami sekaligus melestarikannya,” kata pengamat seni topeng malangan,Dwi Cahyono, kemarin. Sekarang ini, kata Dwi, pemahat topeng malangan sudah berkurang banyak. Sedangkan muda hanya segelintir yang tertarik melestarikannya. Bila hal terus ini berlanjut, Dwi khawatir topeng tersebut nanti justru menjadi milik negara lain.
Untuk melestarikan kekayaan budaya tersebut, Dwi terus berupa mengoleksinya, terutama topeng yang bisa ‘bercerita’ tentang sejarah seperti legenda Panji Asmorobangun karya maestro topeng malangan, Mbah Karimun. Ia saat ini memiliki 62 topeng malangan yang dipajang tepat di pintu masuk resto tradisional miliknya dan topeng malangan itu mengisahkan cerita Panji Asmorobangun dengan tokoh Dewi Sekartaji, Dewi Kilisuci, Bapang dan Panji Asmorobangun sendiri.
Menurut dia, masyarakat Malang sendiri tidak banyak yang tahu atau paham dengan cerita Panji Asmorobangun, padahal cerita ini sudah dikenal hingga Jerman bahkan ada pengamat dari Vietnam, Linda Keifin, yang sangat paham cerita panji secara detail.
Untuk melestarikan topeng malangan agar tidak sampai punah, katanya, dirinya bersama pecinta seni lainnya bakal menggelar workshop dua minggu sekali tentang bagaimana cara membuat topeng malangan. “Semua pengunjung termasuk wisatawan asing bebas melihat dan belajar bagaimana cara membuat topeng malangan yang dipandu oleh para pemahat khusus secara bergantian,” katanya.
Sementara salah seorang perajin tradisional topeng malangan yang berlokasi di Desa Kedungmonggo Kecamatan PakisajiKabupaten Malang, Jumadi, mengaku, para perajin topeng malangan tersebut masih minim perhatian terutama dari pemerintah setempat baik dalam bentuk permodalan maupun promosi.
Untuk mengembangkan dan tetap melestarikan salah satu ‘aset’ daerah yang masih dikerjakan secara tradisional tersebut, katanya, banyak mengalami kendala apalagi jika tidak ada campur tangan dari pemerintah. “Semakin hari kondisi pengrajin topeng malangan ini semakin terpuruk, berbeda dengan beberapa tahun silam yang masih ada perhatian dari PT Rajawali bahkan sampai dibangunkan padepokan,” katanya.
Menurut dia, prosentase penjualan topeng malangan saat ini juga jauh menurun dibanding beberapa tahun silam, sebab untuk mengadakan even-even juga tidak semudah sebelumnya. Saat ini, katanya, pihak hotel atau tempat-tempat pameran lainnya, manajemennya sudah berubah, kalau dulu memakai sistem bagi hasil, tetapi sekarang menggunakan sistem sewa, padahal topeng-topeng yang dipamerkan belum tentu terjual.
Ia juga mengakui, para pengrajin topeng malangan saat ini juga sudah berubah haluan, kalau sebelumnya masih merupakan “pekerjaan” sampingan, tetapi sekarang menjadi mata pencaharian dan celakanya omzet penjualan tidak seramai beberapa tahun silam bahkan beberapa hotel yang rajin memesan souvenir juga berkurang jauh.
“Yang kami butuhkan saat ini pemerintah bisa membantu dalam penyelenggaraan even pameran yang dipadu dengan ‘demo’ proses pembuatan topeng, sehingga masyarakat mengenal budaya khasnya,” tegasnya. Sebab, kata Jumadi, dari tahun ke tahun budaya khas ini semakin ditinggalkan dan kalau ada pihak asing yang melestarikan dan mengklaim hak patennya, pemerintah baru ‘kelabakan’.
Proses pembuatan topeng malangan antara 5 hari sampai 3 minggu, tergantung karakter topeng yang akan dibuat. Topeng-topeng khas tersebut seharga Rp100 ribu sampai Rp1 juta, khusus soevenir gantungan kunci dan topeng berukuran mini seharga Rp5000 sampai Rp30 ribu perbuah.



Sumber:
http://id.shvoong.com/humanities/arts/2254003-topeng-malangan/#ixzz1xsQv6nnZ
http://www.infokepanjen.com/2011/03/profil-kerajinan-topeng-malang.html
http://travel.okezone.com/read/2011/08/02/407/487364/kerajinan-tangan-mbah-karimun-buah-tangan-dari-malang
http://www.kotawisatanews.com/batu-dan-sekitarnya/633-menelusuri-eksistensi-topeng-malang-di-bumi-arema-
http://malang4you.wordpress.com/2009/11/22/topeng-malangan-aset-budaya-arek-malang/

Jumat, 08 Juni 2012


UJIAN TENGAH SEMESTER (Part 3)
LIDYA NOVITA - 4423107048
FOLKLORE SEBAGIAN LISAN
===============================

Kesenian Tari Khas Malang



Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini. Itulah sebabnya, kesenian ini tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar kota Malang.
Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.
Kota Malang pada awalnya memiliki cukup banyak pengrajin Topeng Malang, tetapi karena semakin lama kalah bersaing dengan budaya lain menyebabkan sebagian besar pengrajin tersebut tidak meneruskan usahanya. Salah satu pengrajin Topeng Malang yang masih tetap meneruskan budaya tersebut adalah Bapak Handoyo yang memiliki sanggar kesenian Asmoro Bangun. Sanggar Asmoro Bangun terletak di Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji. Bapak Handoyo meneruskan sanggar tersebut dari kakeknya, Mbah Karimun (Alm) sesepuh kesenian tari topeng khas Malang yang pernah mendapat penghargaan langsung dari mantan presiden Soeharto sebagai seniman pelestari kesenian tradisional. Sanggar tersebut membuat Topeng Malang dan juga pentas tari tentang cerita rakyat khususnya dari wilayah Malang. Keberadaan kesenian tari topeng di dusun ini sekarang masih terbilang cukup mampu bertahan jika dibandingkan dengan komunitas lain yang juga berada di wilayah gunung Kawi dan wilayah kabupaten Malang lainnya, yang letaknya lebih ke arah atas gunung Kawi. Hal ini didukung oleh letak geografis kawasan Kedungmonggo yang relatif mudah dijangkau oleh konsumen kesenian tari topeng karena jaraknya dari jalan raya Malang-Kepanjen hanya berkisar 500 meter ke arah barat.
Seiring berjalannya waktu dan ketertatihan eksistensi budaya tradisional, kesenian ini perlahan-lahan hilang dan berangsur-angsur tergusur oleh arus budaya modern. Hal ini salah satunya dikarenakan kurangnya sumber sejarah yang mencatat sepak terjang kesenian ini secara pasti, sampai pada akhirnya dilakukan pencatatan sejarah oleh Dr. Th. Pigeaud pada tahun 1930an yang menyebutkan bahwa kesenian ini merupakan salah satu pertunjukan tradisional populer khas Jawa yang berada di wilayah Malang. Faktor generasi penerus menjadi faktor utama untuk melestarikan kesenian khas Malang ini, menegaskan keeksisan tari topeng Malang lambat laun mendekati kepunahan. Untuk mengembangkan dan tetap melestarikan salah satu “aset” daerah yang masih dikerjakan secara tradisional tersebut banyak mengalami kendala apalagi jika tidak ada campur tangan dari pemerintah.
 Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji.
Meskipun sampai sekarang tarian Malangan masih bertahan dan memiliki padepokan di daerah Pakisaji, kabupaten Malang, namun perkembangan budaya modern telah mampu membuat masyarakat kota Malang menjadi ‘amnesia’ dengan tari tradisional khas Malang ini. Sehingga banyak sekali model tarian Malangan yang sudah dilewatkan begitu saja dan tidak banyak masyarakat yang tahu keberadaannya.
Padahal, seni tarian khas Malang adalah warisan leluhur yang memiliki nilai budaya tidak ternilai, dan tentu sudah selayaknya dilestarikan masyarakat. Sayangnya, jangankan masyarakat umum, pemerintah daerah (pemda) pun terkesan tidak ikut peduli akan nasib seni tari tradisional yang semakin hari tidak populer lagi di mata masyarakat.
Anehnya, banyak warga asing, terutama turis mancanegara malah lebih tertarik dan merasa senang dengan tarian tradisional yang lahir dan berkembang di wilayah Malang Raya tersebut. Buktinya, kadang para bule harus menyewa penari khusus untuk menampilkan pada panggung pertunjukkan sendiri disebuah gedung khusus yang disewa sendiri. Sehingga dapat disebut jika orang asing lebih peduli akan nasib Tari Topeng Malangan.
Di sinilah kontradiksi tercipta. Masyarakat Malang yang memiliki kebudayaan sendiri malah terlihat kurang peduli dengan kekayaan seni, sementara orang asing lebih apresiatif dengan kekayaan budaya masyarakat Indonesia. Karena itu, jangan salahkan jika suatu saat Tarian Topeng Malangan itu bisa lenyap karena masyarakat lokal tidak lagi peduli akan keberadaannya.
Sebagai generasi penerus bangsa, kita perlu turut proaktif ikut menjaga tarian khas Malang itu supaya tidak punah. Kita tidak perlu merasa malu disebut sebagai orang kuno dan ketinggalan zaman jika senang dan peduli ikut melestarikan Tari Topeng Malangan agar tidak punah. Meskipun tidak harus menjadi penarinya langsung, setidaknya kita dapat berbuat ikut mempromosikan rasa kebanggaan bahwa kota Malang memiliki tarian khas sendiri yang harus dijaga keberadaannya.
Karena hal itu adalah tugas mulia dan tidak sembarang orang mau melakukannya. Sehingga dengan menjaga warisan budaya leluhur, kita sama saja menjaga harta tidak ternilai harganya, dan mewariskan budaya agung kepada anak cucu kita. Dengan harapan Tari Topeng Malangan bisa terus eksis dan berhasil bertahan menjadi ikon wilayah Malang Raya.
Sampai saat ini Tari Topeng masih bertahan dan masih memiliki sesepuh yaitu Mbah Karimun yang tidak hanya memiliki keterampilan memainkan tari ini namun juga menciptakan model2 topeng dan menceritakan kembali hikayat yang sudah berumur ratusan tahun. Sayang sekali Mbah Karimun tidak memiliki penerus yang dapat menggantikan dirinya melestarikan kesenian khas daerah Malang ini. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti event2 penting kesenian tradisional tingkat nasional.


Tari topeng Malang mempunyai ciri khas sendiri bila dibandingkan dengan tari dari daerah lain, pertama terletak pada bentuk topengnya. Bentuk topeng Malang adalah gabungan antara bentuk manusia dan bentuk wayang. Ciri khas lain yang nampak pada tari topeng Malang adalah arah gerak yang cenderung tidak pada satu bidang frontal, walaupun kedua kaki terbuka ke luar akan terjadi persilangan garis arah, di mana kaki kanan agak ke depan sementara kaki kiri lebih banyak menumpu beban berat tubuh. kaki kanan agak dibebaskan dalam menumpu berat tubuh karena harus mengerakan gongseng yang dipasang di pergelangan kaki penari. Genta atau gongseng ini berfungsi untuk mengatur irama gerak dan juga lebih menghidupkan tarian. Tokoh tokoh tari topeng Malang ini ada kemiripan dengan tokoh topeng gaya cirebon, misalnya ada tokoh, klono,dan panji, tapi untuk gerakan jelas berbeda.
Dalam menari topeng diperlukan keseimbangan tubuh yang luar biasa. dengan pandangan yang terbatas dan harus membawakan gerak tari yang energik. Banyak gerakan tari topeng Malang yang harus mengangkat kaki kanan, sehingga kaki kiri menyangga tubuh secara penuh. Sebagai penari topeng kita dituntut untuk bisa menghidupkan topeng yang kita pakai yang sesuai dengan masing-masing karakternya. Di Malang ada beberapa tempat tari topeng berkembang dan masing masing mempunyai ciri khas yang berbeda. Misalnya gaya Kedungmonggo Pakisaji, Jambuwer, dan Glagahdowo.
Dengan keahliannya membuat topeng juga telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi puluhan perajin topeng. Dipasarkan sebagai souvenir di tempat2 wisata dan galeri2 seni dengan harga yang cukup terjangkau. Perhatian dan dukungan yang lebih kongkret perlu diberikan oleh Pemda dan instansi2 terkait untuk mempopulerkan kembali kesenian khas Malang ini di masyarakat.
“Sebenarnya, apa ya yang membuat tarian ini menarik?!”, kata-kata itu pasti akan bermunculan pada remaja masa kini. Ya, tentu saja pertanyaan itu akan mereka ajukan, karena pada sisi lain mereka sama sekali tak mengerti cirri khas serta kaindahan dari tarian ini. Tapi, sebagian remaja yang mengaku bahwa dirinya adalah Pecinta Budaya pasti dengan tegas dapat menjawab pertanyaan ini. Tentu saja, kemenarikan tarian ini tumbuh dari kemolekan gerakan, keluwesan penari dalam pembawaannya serta satu hal lagi yang tak akan lepas, yaitu penggunaan costum. “Bagaimana bisa penggunaan costum berpengaruh besar dalam kemenarikannya?”, itukah pertanyaan selanjutnya yang akan disampaikan. Ehm, tentu saja penggunaan costum dalam hal ini dapat berpengaruh besar. Karena suatu tarian tak akan terlihat indah dan menarik apabila costum yang digunakan tak berhubungan dengan inti pada gerakan tarian. Selain itu, para penari Tari Topeng Malang akan menggunakan Topeng khas Malang sebagai pelengkap serta pemanis dalam pertunjukannya.
Konon Tari Topeng diciptakan oleh Airlangga yakni putra dari Darmawangsa Beguh di kerajaan Kediri.Ia kemudian menyebarkan seni tari itu sampai ke Kerajaan Singosari yang di pimpin oleh Ken Arok. Raja Singosari itu kemudian menggunakan tari topeng untuk upacara adat, drama tari yang terdiri dari kisah Ramayana, Mahabarata, dan Panji. Selain itu, tari topeng juga digunakan untuk penghormatan pada para tamu dan ritual memuja arwah nenek moyang.
Kemudian pada awal penyebaran agama Islam di Indonesia, para Wali Songo mencoba memperbaiki tari topeng agar dapat disesuaikan dengan aturan agama Islam.
Diantaranya adalah dengan merubah tata busana tari topeng menjadi lebih sopan dan mengganti bahan alat musik tari topeng. Tujuan penggantian bahan gamelan Tari Topeng menjadi kuningan adalah untuk memperkeras alunan musik tari tersebut.
Karena dengan alunan yang keras, banyak rakyat yang akan datang ke tempat tarian itu. Dan para Wali Songo dapat menyebarkan agama islam di tempat itu. Pada saat zaman penjajahan, Tari Topeng sudah hampir punah, hanya pejabat tinggi atau pemerintah Kolonial belanda saja yang mengerti tentang Tari Topeng.
Tetapi ada seorang pelayan belanda bernama Panji Reni yang ditugaskan mencuci topeng, Ia kemudian tertarik untuk mempelajari tari tersebut. Akhirnya, ia mencoba membuat topeng di Polowijen, Blimbing dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kemudian, ayah Pak karimun (Ki Man) juga mempelajari tari Topeng tersebut dan mancoba membuat topeng di Kedung Monggo, kecamatan Pakisaji, Malang.
Dan pada tahun 1993, ( alm ) Pak karimun belajar mencari topeng bersama ayahnya. Dan akhirnya beliau menjadi pengrajin topeng serta pendiri Sanggar Tari ASMOROBANGUN. Sekarang Sanggar Tari tersebut di kelola masyarakat sekitar dan yang memimpin adalah Bpk. Jumadi yang sampai sekarang eksis di dunia Seni khususnya Topeng Malangan.
Menurut salah satu sumber yang pernah ada awal kemunculannya, tarian ini banyak diminati oleh kalangan remaja, namun entah kenapa akhir-akhir ini mulai ditinggalkan. Tapi diadakannya Festival Malang Kembali yang telah terlaksana sebanyak empat kali ini telah mulai membuktikan bahwa Tari Topeng Malang ini tak akan pernah luntur dari masyarakat Kota Malang.



Sang Maestro Topeng Malangan:
Nama : Mbah Gimoen (Mbah Karimun)
Tempat / Tgl lahir : Malang, 1924

Beliau belajar dan berkecimpung dalam dunia seni drama tari topeng malang dari tahun 1939 sampai sekarang, menurut beliau pada waktu itu drama tari topeng tidak hanya sebagai seni pertunjukan saja tetapi juga sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan masyarakat pada waktu itu juga sangat peduli dan benar-benar menghargai seni pertunjukan drama tari topeng. Wujud dari kepedulian mereka adalah dengan mengundang dan mendatangkan rombongan kesenian drama tari topeng pada acara acara hajatan misalnya manten, sunatan, entas-entas orang tengger (selamatan untuk yang sudah meninggal / kirim doa) dll. Mbah Gimun adalah pemeran tetap karakter tokoh topeng Kelono (Raja Sabrang) dan sampai sekarang pula tari Kelono pula yang selalu diajarkan pada anak didiknya.

Sumber:



Kamis, 07 Juni 2012


UJIAN TENGAH SEMESTER (Part2)
LIDYA NOVITA - 4423107048
(FOLKLORE LISAN)
===============================

GUNUNG ARJUNA, MALANG


Gunung Arjuna atau dalam bahasa Jawa disebut gunung Arjuno adalah gunung berapi tidak aktif bertipe Strato yang terletak di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter. Jalur pendakian paling populer untuk menuju ke puncak gunung ini biasanya dimulai dari Lawang, Batu dan Trestes. Selain itu juga bisa didaki dari tempat lain.

Gunung Arjuno terletak di sebelah utara gunung Kawi dan tepatnya di sebelah barat kota Batu di Malang, Jawa Timur. Puncak Gunung Arjuno berdampingan dengan puncak gunung Welirang yang berada dalam satu punggung gunung yang sama.

Gunung Arjuno memiliki sumber air yang deras di lereng sebelah utara yang mengalir memutar melalui timur hingga ke selatan gunung Kawi dan berakhir di Bendungan Ir. Sutami di Karangkates, sebelah selatan Gunung Kawi. Sumber air ini merupakan salah satu debit air paling utama bagi Waduk Ir. Sutami selain air hujan yang digunakan untuk menggerakkan turbin generator listrik yang menerangi seluruh Pulau Jawa dan Bali.

Selain sebagai arena olahraga pendakian paling favorit karena memiliki ketinggian di atas 3.000 meter, gunung ini juga memiliki obyek wisata yang menarik, yaitu wisata air terjun kakek bodo yang berada di jalur pendakian menuju puncak Arjuno.

Selain air terjun kakek bodo, gunung ini juga menawarkan wisata air terjun lainnya, namun beberapa air terjun lain yang tak kalah indah tersebut jarang dikunjungi oleh para wisatawan karena terletak di medan yang berat sedangkan prasarana menuju lokasi kurang mendukung.

Gunung Arjuno memiliki kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung dengan berbagai macam spesies liar yang hidup disana seperti Kijang, Babi Hutan, Macan Tutul dan berbagai jenis burung liar.

Para pendaki gunung Arjuno bisa mulai mendaki dari berbagai arah, misalnya dari arah Utara dimulai dari Tretes melintasi Gunung Welirang, jika dari arah Timur dimulai dari Lawang dan jika dari arah Barat dimulai dari kota Batu, sedangkan dari arah selatan dimulai dari Karangploso atau dari Desa Sumberawan di Kecamatan Singosari.

Desa Sumberawan ini merupakan desa terakhir yang biasanya dipakai tempat persiapan sebelum memulai pendakian ke puncak Arjuno. Selain itu juga bisa melalui Purwosari yang lebih mudah untuk dilewati karena hanya memerlukan waktu setengah jam saja dari jalan raya dan bisa sampai langsung sampai di Tambakwatu, tempat dimulainya pendakian menuju puncak.

Menurut cerita kepercayaan masyarakat Pulau Jawa, konon gunung Arjuno yang sangat tinggi itu awalnya rendah dan tidak terlalu tinggi. Namun ketika dipakai bertapa oleh Arjuna, gunung tersebut terus membubung tinggi ke atas sehingga puncaknya berada di atas awan. Kemudian gunung Arjuno berhenti meninggi setelah puncaknya yang digunakan sebagai tempat Arjuna duduk bertapa tersebut dipotong oleh Togog (tokoh sakti pewayangan) dan dilempar ke arah timur, dan potongan puncak Arjuna tersebut sekarang dinamai Gunung Wukir.

Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha. Berikut cerita selengkapnya dari legenda Gunung Arjuna, Malang Jawa Timur.

LEGENDA GUNUNG ARJUNA


Alkisah, dalam cerita pewayangan masyarakat Jawa, dikenal nama Pandawa, yang secara harfiah berarti “anak Pandu”. Jadi, Pandawa adalah putra dari Pandu. Sementara itu, Pandu adalah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Hastinapura. Prabu Pandu memiliki lima putra yang semuanya laki-laki. 
Mereka adalah Yudistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan 
Sadewa. Mereka semua merupakan saudara seayah karena lahir dari dua ibu yang berbeda. Yudistira, Bima, dan Arjuna lahir dari permaisuri pertama Prabu Pandu yang bernama Kunti, sedangkan Nakula dan Sadewa lahir dari permaisuri kedua yang bernama Madri. 
 
Dari kelima Pandawa tersebut, Arjuna dikenal memiliki ilmu kesaktian yang tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Nama Arjuna diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti yang bersinar atau yang bercahaya. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, sang Dewa Perang. Sebagai titisan Dewa Indra, Arjuna memiliki ilmu peperangan yang tinggi. Ia sangat mahir memanah dan sakti mandraguna. Semua kesaktian tersebut merupakan anugerah dari para Dewa karena ketekunannya bertapa. Namun, karena belum puas dengan kesaktian yang telah dimilikinya, Arjuna masih sering melakukan tapa untuk menambah kesaktiannya. 
 
Pada suatu hari, Arjuna pergi bertapa ke sebuah lereng gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang. Suasana di lereng gunung itu sangat cocok untuk bertapa karena wilayah di sekitarnya merupakan daerah pegunungan yang berudara sejuk dan jauh dari permukiman penduduk. Itulah sebabnya, Arjuna memilih tempat itu agar dapat melaksanakan tapa dengan tenang dan khusyuk.  
 
Setiba di lereng gunung itu, Arjuna langsung duduk bersila di atas sebuah batu besar seraya memejamkan mata untuk memusatkan segenap pikirannya. Sesaat kemudian, ia pun terlarut dalam semadinya. Siang dan malam ia terus bersemadi dengan penuh khusyuk. Saking khusyuknya, tubuh putra ketiga Prabu Pandu itu memancarkan sinar yang memiliki kekuatan luar biasa. Beberapa saat kemudian, puncak gunung itu tiba-tiba terangkat ke atas. 
Semakin lama, puncak gunung itu semakin menjulang tinggi hingga menyentuh langit dan mengguncang Negeri Kahyangan. 
 
Peristiwa tersebut membuat para Dewa di Kahyangan menjadi khawatir. Jika guncangan itu terus terjadi, maka Negeri Kahyangan akan hancur. Oleh karena itu, mereka segera bertindak dengan mengutus Batara Narada ke bumi untuk mencari tahu penyebab guncangan itu. Setelah terbang berputar-putar di angkasa, ia pun melihat Arjuna sedang bertapa di lereng gunung. Ia pun segera menghampiri dan membujuk Arjuna agar menghentikan tapanya.  
 
“Wahai Arjuna, bangunlah!” ujar Batara Narada, ”Jika kamu tidak segera menghentikan tapamu, gunung ini akan semakin tinggi dan para Dewa di Kahyangan akan celaka.” 
 
Arjuna mendengar sabda Batara Narada itu, namun karena keangkuhannya ia enggan menghentikan tapanya. Ia berpikir, jika ia menghentikan tapa itu tentu para Dewa tidak akan memberinya banyak kesaktian. Sementara itu, Batara Narada yang gagal membujuk Arjuna segera kembali ke Kahyangan untuk melapor kepada para Dewa. Mengetahui hal itu, Batara Guru kemudian memerintahkan tujuh bidadari tercantik di Kahyangan untuk menggonda pemuda tampan itu agar mengakhiri tapanya.  
 
Sesampai di bumi, para bidadari segera merayu Arjuna dengan berbagai cara. Ada yang merayu dengan suara lembut, ada yang menari-nari di depannya, ada yang tertawa cekikikan, serta ada pula yang mencubit dan menggelitiknya. Namun, semua usaha tersebut tetap saja sia-sia. Akhirnya, mereka kembali ke Kahyangan dengan perasaan kecewa.  
 
Batara Guru yang mengetahui hal itu segera mengutus para dedemit untuk menakut-nakuti Arjuna. Namun, usaha yang mereka lakukan juga gagal. Berita tetang kegagalan itu segera mereka laporkan kepada Batara Guru.   
 
“Ampun, Batara Guru! Kami telah berusaha dengan berbagai cara, namun Arjuna justru semakin khusyuk dalam tapanya,” lapor salah satu dedemit. 
 
Mendengar laporan itu, Batara Guru hanya terdiam. Pemimpin para Dewa itu mulai merasa cemas dan putus asa melihat kelakuan Arjuna. Untungnya ia segera teringat kepada Dewa Ismaya yang tak lain adalah Batara Semar, pengasuh Pandawa yang tinggal di Bumi. Ia pun mengutus Batara Narada untuk menemui Semar di Bumi.  

 “Wahai, Semar! Aku datang untuk meminta bantuanmu,” kata Batara 
Narada. 
 
“Apa yang bisa saya bantu, Dewa Narada?” tanya Semar. 
 
Batara Narada pun menceritakan bahwa para Dewa di Kahyangan sedang dalam bahaya akibat perbuatan Arjuna. Ia juga menceritakan bahwa sudah berbagai cara yang telah mereka lakukan untuk menghentikan tapa Arjuna, namun semuanya sia-sia belaka. 
 
“Kamulah satu-satunya harapan para Dewa di Kahyangan yang bisa 
membujuk Arjuna agar segera mengakhiri tapanya,” ungkap Batara Narada. 
 
“Baiklah, kalau begitu. Saya akan berusaha untuk menyadarkan Arjuna,” kata Semar menyanggupi. 
 
Setelah Batara Narada kembali ke Kahyangan, Batara Semar meminta 
bantuan kepada Batara Togog untuk melaksanakan tugas tersebut. Setibanya di lereng gunung tersebut, keduanya langsung bersemadi untuk menambah kesaktian mereka. Setelah itu, mereka mengubah tubuh mereka menjadi besar dan kemudian berdiri di sisi gunung yang berbeda. Dengan kesektiannya, mereka memotong gunung itu tepat di tengah-tengahnya dan kemudian melemparkan bagian atas gunung itu ke arah tenggara. Begitu bagian atas gunung itu terjatuh ke tanah, terdengarlah suara dentuman yang sangat keras disertai dengan guncangan yang sangat dahsyat.  
 
“Hai, suara apa itu?” gumam Arjuna yang terbangun dari tapanya. 
 
Baru saja Arjuna selesai berguman, tiba-tiba Batara Semar dan Batara Togo datang menghampirinya. 
 
“Kami telah memotong dan melemparkan puncak gunung ini, Raden,” kata Batara Semar. 
 
“Kenapa, Guru? Gara-gara suara itu aku terbangun dari tapaku. Tentu para Dewa tidak akan menambah kesaktianku,” kata Arjuna.  
 
“Maaf, Den! Justru tapamu itu telah membuat para Dewa menjadi resah. Lagi pula, untuk apalagi kamu meminta banyak kesaktian? Bukankah sudah cukup dengan kesaktian yang telah kamu miliki saat ini?” ujar Batara Semar. 
 
“Benar kata Batara Semar, Den! Raden adalah seorang kesatria yang 
seharusnya memiliki sifat rendah hati. Apakah Raden tidak menyadari jika tapa Raden ini bisa mencelakakan banyak orang dan para Dewa?” imbuh Batara Togog. 
 
Mendengar nasehat tersebut, Arjuna menjadi sadar dan mengakui semua kesalahannya. Ia juga tidak lupa berterima kasih kepada Batara Semar dan Batara Togog karena telah menyadarkannya. Setelah itu, mereka pun segera meninggalkan gunung tersebut.  
 
Sejak itulah, gunung tempat Arjuna bertapa dinamakan Gunung Arjuna. Sementara itu, potongan gunung yang dilemparkan oleh Batara Semar dan Batara Togog dinamakan Gunung Wurung. Kata wurung berarti batal atau gagal. Artinya, tapa Arjuna menjadi batal atau gagal karena mendengar suara dentuman dari potongan gunung yang terjatuh.

Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl.Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.
Gunung Arjun bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuna terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuna dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuna mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Arjuna dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.

Sumber:
  http://belajarsitus.com/gunung-arjuno-di-malang/