Selasa, 03 Mei 2011

KESENIAN DAN KEBUDAYAAN JAWA BARAT

EDWINA YUSTITYA
4423107030

JAWA BARAT

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang terletak di Indonesia. Ibu Kota dari Jawa Barat adalah kota Bandung. Pada waktu jaman penjajahan Belanda, kota ini merupakan kota tempat peristirahatan orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia atau Jakarta sekarang. Menurut sejarah, Provinsi Jawa Barat adalah Provinsi pertama yang di bentuk di wilayah Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah populasi terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2000 Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten.

Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Jawa Tengah di sebelah timur, Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di sebelah barat.

Titik tertingginya Provinsi Jawa Barat adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.





SEJARAH JAWA BARAT
Jawa Barat merupakan provinsi yang telah berdiri sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Provinsi Jawa Barat ini ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bersama provinsi yang lainnya.Ketujuh provinsi tersebut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, dan Maluku

Dari penelitian dan bukti – bukti yang ditemukan yang berasal dari 600.000 tahun yang lalu, diperkirakan bahwa provonso Jawa Barat telah dihuni sejak tahun tersebut. Tetapi adanya kehidupan manusia baru di ketahui sejak tahun 2000 sebelum masehi, yaitu pada saat terjadi migrasi besar dari kawasan selatan Cina ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

Pada awal Masehi, penduduk Jawa Barat sudah menjalin hubungan dengan dunia luar sehingga pengaruh kebudayaan luar mulai masuk, seperti kebudayaan Hindu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti-prasasti dari zaman itu, misalnya prasasti yang ditemukan di daerah Ciaruteun, Bogor. Dari prasasti itu diketahui bahwa telah berdiri kerajaan bernama Tarumanegara dengan rajanya, Purnawarman.



Prasasti yang ditemukan berikutnya bernama prasasti Sanghyang Tapak. Prasasti ini ditemukan di kampung Pengcalihan dan Bantar Muncang, di tepi sungai Citatih, Sukabumi. Prasasti tersebut menunjukan bahwa pada tahun 1035 berdiri Kerajaan Sunda yang diperintah oleh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanamandales Waranindita Haro Gowardhana Wikramatunggadewa. Selain Kerajaan Tarumanegara dan Sunda Pajajaran, di Jawa Barat juga terdapat Kerajaan Galuh.

Pada tahun 1357, terjadi peristiwa Bubat, yaitu, perang antara Raja Sunda dan Patih (Majapahit) Gajah Mada. Pasukan Majapahit, yang saat itu berada di bawah pimpinan Patih Gajah Mada berhasil menaklukan Pajajaran dalam perang Bubat tersebut.

Pada tanggal 16 Januari 1904, seorang tokoh perempuan bernama Raden Dewi Sartika membuka sekolah untuk anak-anak gadis di Bandung. Sekolah tersebut berdiri berkat dukungan yang diberikan oleh Bupati Martanegara. Sejak itu, pendidikan di Bandung, khususnya untuk perempuan, terus berkembang. Dewi Sartika merupakan tokoh yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan pada masanya.

Di era perjuangan kemerdekaan nasional, bermunculan lembaga-lembaga yang berjuang untuk meraih kemerdekaan. Salah satunya didirikan di Bandung tanggal 17-18 Desember 1927 dengan nama Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang beranggotakan PNI, Partai Sarekat Islam, Budi Oetomo, Paguyuban Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club.

Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang mendarat di Merak, Teluk Banten, dan di Eretan, Indramayu. Sejak saat itu, dimulailah penjajahan Jepang di wilayah Jawa Barat. Penjajahan tersebut berakhir setelah Jepang menyerah. Pada awal kemerdekaan, Provinsi Jawa Barat dibagi menjadi lima wilayah keresidenan, yaitu, Banten, Jakarta, Bogor, Priangan, dan Cirebon. Pemerintahan provinsi ini dilengkapi dengan badan-badan pemerintahan seperti komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Jawa Barat, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Pada tanggal 12 Oktober 1945, tentara sekutu memasuki Bandung. Tentara sekutu itu ditunggangi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Dengan dalih untuk meredakan pertempuran, pada tanggal 27 November 1945, terjadi pembelahan Kota Bandung. sebelah utara rel kereta api yang membelah kota Bandung di duduki oleh Sekutu dan Belanda. Sementara pemerintah RI menguasai daerah selatan rel kereta api tersebut. Namun pembelahan tersebut tidak efektif meredakan pertempuran.



Pada tanggal 24 Maret 1946, atas amanat Perdana Menteri RI yang memerintahkan pengosongan Kota Bandung, para petugas pemerintahan, para pejuang bersenjata dan diikuti penduduk Bandung berbondong-bondong meninggalkan kota tersebut. Setelah sebagian besar rakyat meninggalkan kota, Bandung dibakar oleh para pejuang yang tergabung dalam Majelis Persatuan Perjoangan Priangan (MP3). Tujuannya agar bangunan-bangunan penting tidak diduduki musuh. Peristiwa ini dikenang sebagai "Bandung Lautan Api".

Pada bulan November 1946 terjadi peralihan kekuasaan dari sekutu terhadap Belanda. Belanda kemudian menerapkan strategi politik pecah Belah. Namun, strategi tersebut tidak mampu memadamkan perlawanan rakyat yang dadanya penuh dengan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Perlawanan tersebut memaksa Belanda untuk berunding, maka pada November 1946 sampai Maret 1947, digelar Perundingan Linggajati yang dilaksanakan di desa Linggarjati, wilayah Kabupaten Kuningan. Isinya Belanda mengakui Republik Indonesia terdiri dari Jawa, Sumatera and Madura. Kedua pihak setuju dengan bentuk Republik Indonesia Serikat dan pemerintah RIS akan tetap bekerjasama dengan pemerintah Belanda untuk membentuk Uni Indonesia-Belanda.

Pada tanggal 24 April 1948, Belanda membentuk Negara Pasundan dan memilih R.A.A. Wiranata Kusuma sebagai wali negara Pasundan. Atas persetujuan pemerintah RI, dia bersedia menerima jabatan tersebut. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan aksi militer II dengan menyerbu Yogyakarta. Jawa Barat memprotes penyerangan tersebut, ditandai oleh pengunduran diri Perdana Menteri Negara Pasundan, Adil Puradirja.

Bentuk negara federal ternyata banyak ditentang rakyat Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1950, negara Pasundan menuntut untuk bergabung kembali dengan Republik Indonesia.







ALAT MUSIK JAWA BARAT

Alat musik pukul


Kendang

Berbahan dasar kayu yang dilapisi kulit, kendang di gunakan dalam kesenian degung.

Kulanter

Sejenis dengan kendang, namun ukurannya lebih kecil. Fungsi dari kulanter adalah untuk mengiringi kendang.

Goong

Goong terbuat dari tembaga yang dicat dengn warna emas. Goong digantung pada kayu dengan tali dan menghasilkan nada gaung. Goong biasanya digunakan untuk menandai lagu atau tembang pada degung.

Jengglong

Jengglong hampir sama dengan goong, namun acaranya lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak . Dalam satu gantungan biasanya Jengglong berjumlah 6 buah. Nada yang di hasilkan lebih ringan dari pada goong dan biasanya digunakan untuk membatasi bait dan nada.

Bonang

Terbuat dari tembaga. Bentuk dari Bonang ini mirip dengan Jengglong namun ukurannya lebih kecil dan lebih banyak. Cara memainkannya menggunakan dua tangan dan disusun rapi pada papan kayu tidak digantung seperti Goong dan Jengglong.

Saron atau Peking

Terbuat dari tembaga yang di bentuk kecil dan pipih dengan ukuran yang berbeda dan disusun berdasarkan titi nada. Saron atau Peking ini biasanya di gunakan sebagai melodi dalam degung

Penerus

Bahan pembuat dan bentuknya sama dengan saron tetapi ukurannya lebih lebar sehingga menghasilkan nada yang lebih besar. Penerus ini digunakan sebagai pengiring dasar atau sebagai rythem pada band.

Gambang

Bentuknya sama seperti saron dan penerus, tetapi gambang memiliki ukuran yang lebih besar dari penerus. Pada sebuah pertunjukan band, gambang berfungsi sama dengan bass.

Calung

Calung adalah alat musik sunda yang hamper serupa dengan angklung. Yang membedakannya adalah cara memainkannya. Jika angklung di meinkan dengan cara di getarkan, calung di mainkan dengan cara dipukul. Calung memiliki tangga nada pentatonic (da-mi-na-ti-la). Bambu yang di gunakan untuk membuat calung biasanya adalah awi wulung atau bambu. Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

Alat musik tiup

Suling

Suling merupakan salah satu instrument dari kesenian gamelan. Suling memiliki peranan yang paling penting sebagai melodi pada gamelan. Suling terbuat dari bambu dan dilubangi agar menghasilkan bunyi saat ditiup. Suling ada yang berlubang empat ada juga yang berlubang lima. Jumlah lubang menentukan nada yang dihasilkan, yaitu system salendro dan pelog.

Alat Musik Getar

Angklung

Angklung merupakan alat musik khas Jawa Barat yang paling terkenal. Angklung terbuat dari bahan dasar bambu kecil yang dibentuk dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara yang khas. Setiap angklung memiliki nada yang berbeda sehingga jika di meinkan secara beraturan akan menghasilkan bunyi kesatuan lagu yang sangat indah.

Karinding

Alat musik karinding ini terbuat dari bamboo yang di pahat dan di bentuk tipis. Cara memainkannya cukup unik yaitu diletakan dimulut tetapi tidak ditiup melainkan di geterkan untuk menghasilkan suara khas karinding yang unik. Karinding biasanya di gunakan dalam upacara adat untuk ritual pengusir hujan.

Alat musik petik
Kecapi

Alat musik kecapi terbuat dari kayu berongga, hamper sama dengan gitar hanya bentuk dari kecapi ini lebih menyerupai kotak dengan dawai – dawai yang lebih banyak tersusun. Untuk menghasilkan nada, kecapi cukup di petik dalam memainkannya. Dalam gamelan kecapi berfungsi sebagai melodi.





SENI TARI JAWA BARAT
Tari Topeng Putri
Tari topeng dari Cirebon, merupakan salah satu tarian dari Provinsi Jawa Barat. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng pada isaat menari. Tari topeng banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari atau tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Salah satu jenis lain dari tari topeng adalah Tari topeng kelana kencana wungu yang merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Menakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng mewakili masing-masing karakter yang menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Menakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.QA
Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Tari Dewi
Tari Dewi merupakan tari klasik masyarakat sunda. Tarini sudah banyak dikenal sejak tahun 90 an

Tari Ketuk Tilu
Ketuk Tilu merupakan tari pergaulan dan juga sekaligus tari hiburan yang biasanya di selenggarakan pada saat acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau di pentaskan secara khusus di suatu tempat yang memiliki ukuran yang cukup luas. Istilah ketuk tilu adalah berasal dari salah satu alat pengiringnya yaitu boning yang dipukul tigakali sebagai isyarat bagi alat instrument lainnya seperti rebab, kendang besar dan kecil, goong untuk memulai memainkan sebuah lagu atau hanya sekedar instrumentalia saja. Konon kabarnya, ketuk tilu memiliki gaya tarian tersendiri dengan nama-nama seperti, depok, sorongan, ban karet, lengkah opat, oray-orayan (ular-ularan), balik bandung, torondol, angin-angin, bajing luncat, lengkah tilu dan cantel. Gaya-gaya ini sesuai dengan cirri khas daerahnya. Saat ini daerah-daerah yang masih memiliki kesenian tari ketuk tilu adalah di Kabupaten Bandung, Karawang, Kuningan dan Garut namun jumlahnya sangat sedikit, itupun hanya diminati generasi tertentu (kaum yang fanatik terhadap seni ketuk tilu).

Tari Graeni
Tarian ini merupakan salah satu tarian yang berasal dari daerah Jawa Barat. Tari Graeni ini dimainkn dengan properti keris.

Tari Topeng Tumenggung
Dalam pementasan tari Topeng tumenggung terasa nuansa atmosfer musik karawitan. Tari Topeng Tumenggung ini di pentaskan dengan diiringi oleh juru kawih atau sinden. Kendang sebagai pembungkus irama gerak. Pola kendang yang di tepak di ikuti oleh gaya tarian.

Tari topeng Kelana
Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.
Tari Topeng Kelana Udheng

Tari topeng ini merupakan hasil pengembangan Tari Kelana yang diciptakan oleh maestro tari topeng Indramayu, yaitu Mimi Rasinah.

Tari Kandagan
Tari Kandagan adalah tari yang menceritakan tentang kehidupan “wanoja” (perempuan) Sunda

Tari Sunda
Tari Sunda adalah sebagai ragam kekayaan kesenian daerah di Jawa Barat. Tari Sunda diiringi seperangkat gamelan yang lebih didominasii gendang dan suling.

Tari Lutung Kasarung
Tari Lutung Kasarung adalah cerita pantun yang mengisahkan legenda masyarakat Sunda tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet).

Tari Dogdog
Tari Dogdog Lojor adalah tarian untuk acara ritual padi. Tarian ini diadakan setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tari Jaipong

Tari Jaipong terlahir dari seniman asal bandung bernama Gugum Gumbira. Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Tari Jaipong Kembang Tanjung
Tari Jaipong Kembang Tanjung dibawakan oleh beberapa orang ronggeng cantik. Mereka menari dengan gerakan cepat namun indah. Seolah para penari jaipongan berkejar-kejaran dengan irama musik yang mengiringiya.

Tari Pancasari
Tari Pancasari adalah salah satu tarian karya cipta R. Yuyun Kusumadinata yang di kenalkan sekitar tahun 1975 dan merupakan sebuah tarian yang menggambarkan lima orang penari wanita yang dipimpin oleh seorang putri bungsu Pajajaran bernama Purnamasari.

Tari Merak

Tari Merak merupakan tarian yang menggambarkan kehidupan burung Merak yang mempunyai keanggunan, keindahan dan kelincahan . Tari ini adalah tarian yang dimainkan oleh wanita. Tari Merak adalah tari klasik Sunda yang menyimbolkan kecantikan alam.

Tari Rampak Gendang
Tari Rampak Gendang adalah kesenian tari yang memadukan suara kendang yang dinamis dengan musik gamelan salendro yang bersifat ceria. Pemain kendang terdiri atas 6 sampai 15 orang, sedangkan nayaga (pemain gamelan) terdiri atas 7 sampai 10 orang.

Tari Topeng Losari
Tari Topeng Losari adalah tarian yang berasal dari Jawa Barat, biasanya menjadi seni pertunjukan pada acara hajatan seperti pernikahan atau sunatan.



KESENIAN JAWA BARAT

Gamelan
Istilah Gamelan merujuk pada instrument atau alat musiknya yang merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak bias dipisahkan. Kata gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu gamel yang artinya memukul atau menabuh.
Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.

Degung
Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda.

Pencak Silat
Pencak silat atau silat ialah seni bela diri yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh. Di Indonesia bela diri Pencak Silat ini di kenal dengan bela diri khas masyarakat Jawa Barat
induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara.

Wayang Golek
Wayang Golek adalah suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan. Wayang golek ada dua macam diantaranya wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. wayang golek dimainkan oleh seorang dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan mengatur lagu dan lain-lain. Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.
Sejak 1920-an, selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960 an.
Dalam pertunjukan wayang golek, lakon yang biasa dipertunjukan adalah lakon carangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.
Pola adegan wayang golek adalah sebagai berikut; 1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer atau kawit, murwa, nyandra, suluk atau kakawen, dan biantara; 2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; 3) Nagara sejen; 4) Patepah; 5) Perang gagal; 6) Panakawan atau goro-goro; 7) Perang kembang; 8) Perang raket; dan 9) Tutug.

Sisingaan
Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang. Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.



UPACARA ADAT MASYARAKAT JAWA BARAT

Upacara Adat Pesta Laut

Upacara Pesta laut biasanya diselenggarakan di daerah pesisir jawa barat seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan Pangandaran (Ciamis). Upacara ini dilakukan dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas hasil laut yang diperoleh para nelayan, juga sebagai ungkapan permohonan agar para nelayan selalu selamat dan sehat serta memperoleh hasil laut yang melimpah. Di dalam upacara Pesta Laut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai penolak bala. Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu melaju ke tengah laut mereka bersorak ria sambil memainkan alat musik serta menyanyikan lagu-lagu pujian terhadap Tuhan pencipta alam semesta, mereka menikmati upacara tersebut. Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdoa bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.



Upacara Memelihara Tembuni

Tembuni atau placenta dipandang sebagai saudara bayi, karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai.
Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah lalu ditutup memakai kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau dekat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat. Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan kepada Para leluhur dan ahli kubur.



Upacara Puput Puseur

Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya, biasanya diadakan selamatan. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh indung beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang. Seterusnya pusar bayi ditutup dengan uang logaml yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada juga pada saat upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan pemberian nama bayi. Pada upacara ini dibacakan doa selamat.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik agar bayi itu kelak setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya) sehingga tercapailah kebahagiaan.



Upacara Adat Seren Taun

Upacara Seren Taun yaitu upacara adat yang intinya mengangkut padi (ngakut pare) dari sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya di adakan riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/pemuka masyarakat dengan pejabat pemerintah setempat. Dalam riungan tersebut antara lain Disampaikan kabar gembira kepada pejabat setempat mengenai keberhasilan panen (hasil tani) dan kesejahteraan masyarakat yang dicapai dalam kurun waktu yang telah dilalui. Salah satu ciri khas upacara seren taun adalah melalukan seba, yaitu menyampaikan aneka macam hasil panen kepada pejabat setempat agar ikut menikmati hasil tani mereka. Salah satu tujuan upacara seren taun ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilannya bertani serta mengharapkan pada masa mendatang akan lebih berhasil lagi. Upacara seren taun dapat dijumpai di Kasepuhan Sirnarasa Cisolo Sukabumi Selatan, Cigugur Kuningan dan Baduy-Lebak Banten.



Upacara Panjang Jimat (Muludan)

Upacara Panjang Jimat merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan pada malam hari peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW atau lebih sering dikenal dengan Maulid Nabi atau Maulud Nabi atau Muludan dalam bahasa Jawa.

Upacara Pelal Panjang Jimat sendiri merupakan puncak dari seluruh rangkaian berbagai acara tradisi yang berlangsung di Keraton Kesultanan Kasepuhan, Keraton Kesultanan Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Pelal adalah kata dalam bahasa Jawa Cirebon yang berarti ujung atau akhir.



Upacara Adat Kawin Tebu

Upacara tradisional Kawin Tebu dilaksanakan seperti upacara perkawinan manusia, yang mana satu batang tebu dikawinkan dengan tebu yang lainnya dengan suatu prosesi upacara. Upacara ini dilaksanakan setelah panen menjelang tebu dimasukan ke pabrik untuk diproses menjadi gula, atau awal musim tanam tebu. Menjelang diadakan perkawinan tebu ditampilkan berbagai atraksi kesenian yang diikuti oleh masyarakat setempat, terutama oleh para pekerja pabrik gula dan keluarganya. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tanam yang dicapai serta memohon kepada tuhan yang maha Esa agar hasil tanam yang akan datang lebih baik lagi. Upacara ini terdapat di daerah Kadipaten, Kabupaten Majalengka.



Upacara Adat Ampih Pare

Upacara Ampih Pare adalah upacara menyimpan hasil panen padi dari sawah/ladang ke tempat penyimpanan padi (pare) yang disebut leuit. Pada pelaksanaannya para petani dengan memakai pakaian adat yang khas, memikul hasil panennya dengan menggunakan alat pikul yang disebut “rengkong”. Selama perjalanan alat pikul tersebut menimbulkan bunyi yang khas, upacara ampih pare merupakan suatu prosesi pertunjukan kesenian yang khas. Terdapat di Kabupaten Sumedang, Cianjur, Karawang dan Subang.



Upacara Mengandung Empat Bulan

Dulu Masyarakat Tatar Sunda apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil. Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjak empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.



Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban

Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam. Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari bermacam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh pinisepuh keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan beberapa lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang.
Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.
Upacara Mengandung Sembilan Bulan
Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.



Upacara Adat Ngarot

Upacara Ngarot dilaksanakan pada saat dimulainya musim tanam , yaitu pada awal musim penghujan, saat musim tanam yang baik untuk menggarap tanah palawija di Ladang. Pelaksanaannya dengan cara mengadakan keramaian berupa arak-arakan menuju Bale Desa. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada sang Pencipta agar hasil berladangnya diberkahi dan dilimpahkan hasilnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Upacara ini terdapat di daerah Indramayu.



Upacara Adat Sedekah Bumi

Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang diterima oleh masyarakat berhasil baik. Upacara tradisi seperti ini terdapat di Cirebon, pelaksanaan upacara ini di Makam Sunan Gunung Jati yang dipimpin oleh Ki Penghulu. Setelah upacara ini selesai, biasanya di Alun-alun diselenggarakan berbagai kesenian, sebagai acara puncaknya pergelaran Wayang Orang.





PAKAIAN KHAS JAWA BARAT

Pakaian Rakyat Biasa

Pria : menggunakan celana gombrang atau pangsi dilengkapi dengan sabuk, mengenakan baju yang disebut baju kampret atau salontreng (baju kurung), kepala memakai ikat lohen dan memakai kain sarung yang diselempangkan dari bahu kanan kearah pinggang sebelah kiri atau sebaliknya. Alas kaki memakai sandal sebagai pelengkapnya.

Wanita : menggunakan sinjang kebat (kain batik panjang), beubeur atau angkin (ikat pinggang), kutang (kamisol), baju kebaya dan selendang batik. Sebagai pelengkap, rambut digelung jucung (disanggul kecil ke atas), perhiasan memakai geulang akar bahar (gelang akar bahar), suweng pelenis (giwang bundar terbuat dari perakatau emas), ali meneng (cincin polos terbuat dari perak atau disepuh emas) dan alas kaki memakai sendal jepit atau sendal teplek.



Pakaian Kaum Menengah

Pria : menggunakan baju bedahan putih, kain kebat batik memakai sabuk dan ikat kepala, alas kaki sandal, arloji berantai emas yang digantung disaku baju, merupakan kelengkapan berbusana.

Wanita : menggunakan kain kebat batik beraneka corak sebatas mata kaki, beubeur, kebaya beraneka warna, selendang berwarna, alas kaki memakai selop atau kelom geulis. Sebagai pelengkap, rambut disanggul, memakai perhiasan giwang, kalung, gelang dan cincin yang terbuat dari emas atau perak.



Pakaian Bangsawan atau Menak

Pria :
Model 1

Baju jas tutup atau bedahan dengan bahan beludru warna hitam bersulam benang emas menyusuri pinggir baju dan ujung lengan baju selebar 2,5 cm, celana panjang bahan beludru hitam dengan sulaman dan kelim emas di seputar pinggir bawah celana selebar sulaman pada leher baju, kain dodot motif rereng parang rusak yang dilepe (tumpukan lipatan kain pada ujung kanan selebar 6 cm. sebanyak 7 atau 9 lipatan), sabuk atau benten emas, digunakan sebagai alat untuk pengencang kain, bendo dengan motif yang sama dengan dodot sebagai tutup kepala, alas kaki memakai kaos dan sepatu hitam atau selop hitam.

Model 2

Jas tutup warna hitam, kain kebat batik motif rereng, tutup kepala atau bendo motif rereng (sama dengan motif kain), sabuk, jam rantai sebagai hiasan baju, alas kaki sepatu hitam atau selop.

Wanita :

menggunakan kebaya beludru hitam dengan sulaman benang emas pada seluruh sisi depan kebaya hingga leher, mengitari bagian lingkaran pinggul dan seputar pergelangan tangan, memakai kain kebat motif rereng, alas kaki sepatu atau selop beludru hitam bersulam emas atau manik-manik. Sebagai pelengkap, rambut disanggul rapi memakai tusuk konde emas, perhiasan giwang, gelang keroncong, cincin, kalung, peniti rantai, bros, semua perhiasan terbuat dari emas bertahtakan berlian.



Pakaian Mojang dan Jajaka

Pakaian tradisional daerah Jawa Barat yang sudah dijadikan pakaian standar atau baku dan sering dipakai pada acara resepsi oleh para mojang (gadis) dan jajaka (jejaka) adalah :
Pria : menggunakan jas tutup atau jas takwa dengan warna bebas, celana panjang, kain dodot motif bebas, bendo sebagai penutup kepala, alas kaki sepatu atau selop dan rantai kuku macan atau jam rantai sebagai hiasan pada jas tutup.

Wanita : menggunakan kebaya polos dihiasi sulaman atau manik-manik, kain kebat dilepe, kutang (kamisol), beubeur (ikat pinggang) untuk mengencangkan kain, alas kaki memakai selop yang sewarna dengan kebaya, karembong (selendang) sebagai pemanis. Sebagai pelengkap rambut disanggul rapi memakai hiasan bunga dan tusuk konde, perhiasan gelang kalung, cincin, dan bros.



Pakaian Pengantin

Pakaian Pengantin Sukapura

Pria : menggunakan kain rereng, baju jas tutup warna putih dengan ikat pingga warna putih, tutup kepala bendo motif rereng, dan selop warna putih. Sebagai hiasan kalung panjang, kalung bunga dan memakai keris.

Wanita: menggunakan kain rereng eneng, kebaya brukat putih dengan memakai ikat pinggang atau benten warna emas, dan selop warna putih, sedangkan rambut disanggul memakai siger subadra, tujuh buah kembang goyang, lima untaian mangle (bunga sedap malam). Sebagai pelengkap perhiasan, lengan memakai kilat bahu, gelang, kalung panjang, bros, giwang dan cincin

KUJANG



SENJATA KHAS JAWA BARAT

Senjata khas dari Jawa Barat adalah Kujang. Kujang adalah senjata yang berbentuk unik, bentuknya seperti lidah api yang menyala. Bentuk dari kujang sendiri sangat beragam dan bervariasi ada yang panjang dan ramping sampai yang pendek dan tebal. Bentuk dari kujang juga memiliki arti dan makna tersendiri.

Pada waktu dulu, seorang sesepuh atau tetua Sunda yang bernama R. Anang Daryan Jayadikusumah (almarhum) telah memberitahukan tentang falsafah Kujang kepada seorang cucunya.

Apabila di lihat dan di cermat, pada kedua sisi kujang terdapan goresan tulisan yang merupakan pesan dari nenek moyang atau leluhur. Zaman dahulu tulisan ini diyakini oleh masyarakat berbunyi Pikir itu Pelita (setelah diterjemahkan), dan sisi sebelahnya berbunyi Cinta itu Abadi. Seiring waktu dan bergantinya zaman, goresan yang tertulis pada kujang sudah tidak bias dibaca dengan jelas. Karena hal itu, pada saat ini ada yang berpendapat bahwa goresan tulisan itu merupakan lafadz Basmallah dan Hamdallah, tetapi banyak pula yang beranggapan bahwa goresan pada kedua sisi Kujang hanyalah goresan biasa yang tidak memiliki makna khusus.

Pada dasarnya, Kujang merupakan senjata yang tidak memiliki warangka (sarung). Warangka itu diartikan sebagai raga manusia. Warna emas Kujang melambangkan hati manusiayang suci.
Bahwasanya, sesungguhnya Kujang adalah senjata tanpa warangka (sarung), karena warangka sejatinya adalah raga manusia. Dan warna emasnya, melambangkan hati manusia yang suci.
Berikut ini adalah pendapat dari Bataragema, salah seorang cucu R. Anang Daryan Jayadikusumah : kujang itu adalah petuah orang tua kepada anak-cucunya atau filosofi hidup orang sunda, bahwa orang Sunda itu harus mempunyai fikiran yang jernih sehingga hati tidak dipenuhi sifat iri, dengki, mempunyai rasa welas asih , dan saling menyayangi. Senjata kujang itu adalah senjata dalam diri manusia yang mengamalkan hal kebaikan di atas, kias kujang terbuat dari emas dan sejata kujang timbul dari tubuh manusia. Konon kujang bersemayam dalam tubuh sehingga kujang tidak mempunyai sarung. Adalah perbuatan yang baik yang timbul dari dalam diri kita adalah suatu perbuat emas atau mulia. Siapa yang melakukan semua itu ? Ku UJANG yang melakukannya cek kolot mah. Jadi, hendaklah semua orang Sunda mengamalkan filosofi KUJANG tersebut. Nah itulah arti sesungguhnya Kujang.



LAMBANG JAWA BARAT


LAMBANG JAWA BARAT
Lambang dari Jawa Barat secara keseluruhan berbentuk perisai bulat telur yang di hiasi dengan pita di bagian bawahnya. Di hiasan pita tersebut berisikan motto Jawa Barat yaitu Gemah Ripah Repeh Rapih. Disamping itu di dalam perisai bulat tersebut terdapat gambar senjata khas dari daerah Jawa Barat yaitu senjata Kujang.

Arti dari lambang Jawa Barat:

-Bentuk bulat telur melambangkan bentuk perisai yang kuat , yang berfungsi sebagai penjaga diri

-Senjata Kujang adalah senjata khas dari suku Sunda yang merupakan penduduk asli Jawa Barat. Di badan kujang terdapat lima lubang yang melambangkan dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila

-Padi satu tangkai yang berada disisi kiri melambangkan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat Jawa Barat sekaligus juga melambangkan kesuburan pangan. Jumlah butir padinya ada 17 butir yang melambangkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia.

-Kapas satu tangkai yang berada disisi kanan melambangkan akan kesuburan sandang

-Gunung yang terdapat di bawah gambar kujang menggambarkan bahwa daerah Jawa Barat ini terdiri dari daerah pegunungan

-Air sungai dan terusan yang tergambar di bagian bawah sisi kiri melambangkan bahwa di daerah Jawa Barat terdapat banyak sungai dan saluran air yang sangat bermanfaat untuk pertanian dan kehidupan

-Petak atau kotak yang tergambar di sisi kanan bawah melambangkan banyaknya pesawahan dan perkebunan di Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat umumnya bertahan hidup dengan memanfaatkan tanah sekitar untuk di jadikan kebun atau sawah

-Dam atau bendungan yang tergambar di tengah gambar sungai dan petak melambangkan kegiatan masyarakat di bidang irigasi yang merupakan salah satu perhatian yang pokok karena Jawa Barat merupakan daerah yang agraris. Gambar tersebut juga melambangkan dam atau bendungan yang banyak terdapat di Jawa Barat salah satunya Waduk Jatiluhur



SUMBER

id.wikipedia.org

www.jabarprov.go.id

jawabarat.blogspot.com

Buku sumber kesenian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar