Selasa, 17 Mei 2011

UTS KKI (Kesenia dan Kebudayaan GORONTALO) by REO ANDHIKA-4423077222

Reo Andhika
4423077222
“Kesenian & Kebudayaan GORONTALO”
 
  • Sejarah Gorontalo
Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
·         Pohala'a Gorontalo
·         Pohala'a Limboto
·         Pohala'a Suwawa
·         Pohala'a Boalemo
·         Pohala'a Atinggola

Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". 
Kota Gorontalo lahir pada hari Kamis, 18 Maret 1728 M atau bertepatan dengan Kamis, 06 Syakban 1140 Hijriah. Tepat tanggal 16 Februari 2001 Kota Gorontalo secara resmi ditetapkan sebagai  ibu kota  Provinsi Gorontalo (UU Nomor 38 Tahun 2000 Pasal 7).

Gorontalo dikenal sebagai salah kota perdagangan, pendidikan, dan pusat pengembangan kebudayaan Islam di Indonesia Timur. Sejak dulu Gorontalo dikenal sebagai Kota Serambi Madinah. Hal itu disebabkan pada waktu dahulu Pemerintahan Kerajaan Gorontalo telah menerapkan syariat Islam sebagai dasar pelaksanaan hukum, baik dalam bidang pemerintahan, kemasyarakatan, maupun pengadilan. Hal ini dapat dilihat dari filosofi budaya Gorontalo yang Islami berbunyi, "Adat bersendikan syarak; dan syarak bersendikan Kitabullah (Al-Quran)." Syarak adalah hukum yang berdasarkan syariat Islam. Karena itu, Gorontalo ditetapkan sebagai salah satu dari 19 daerah hukum adat di Indonesia. Raja pertama di Kerajaan Gorontalo yang memeluk agama Islam adalah Sultan Amai, yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama perguruan tinggi Islam di Provinsi Gorontalo, STAIN Sultan Amal.
Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
·         Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
·         Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
·         Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
·         Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
·         Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
·         Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
·         Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air.

 
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu:
·         Onder Afdeling Kwandang
·         Onder Afdeling Boalemo
·         Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
§  Distrik Kwandang
§  Distrik Limboto
§  Distrik Bone
§  Distrik Gorontalo
§  Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
  •   Afdeling Gorontalo
  • Afdeling Boalemo
  • Afdeling Buol 
  •  Sistem Pemerintahan Gorontalo
Pemerintahan di daerah Gorontalo pada masa perkembangan kerajaankerajaan adalah bersifat monarkikonstitusional, yang pada awal mula pembentukan kerajaan-kerajaan tersebut berakar pada kekuasaan rakyat yang menjelmakan diri dalam kekuasaan Linula, yang sesungguhnya menurutkan azas demokrasi. Organisasi pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerjasama yang disebut "Buatula Totolu", yaitu :
§  Buatula Bantayo; dikepalai oleh Bate yang bertugas menciptakan peraturan-peraturan dan garis-garis besar tujuan kerajaan.
§  Buatula Bubato; dikepalai oleh Raja (Olongia) dan bertugas melaksanakan peraturan serta berusaha mensejahterakan masyarakat.
§  Buatula Bala; yang pada mulanya dikepalai oleh Pulubala, bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan.
Olongia Lo Lipu (Maha Raja Kerajaan) adalah kepala pemerintahan tertinggi dalam kerajaan tetapi tidak berkuasa mutlak. Ia dipilih oleh Bantayo Poboide dan dapat dipecat atau di mazulkan juga oleh Bantayo Poboide. Masa jabatannya tidak ditentukan, tergantung dari penilaian Bantayo Poboide. Hal ini membuktikan bahwa kekuasaan tertinggi dlm kerajaan berada dalam tangan Bantayo Poboide sebagai penjelmaan dari pada kekuasaan rakyat.
Selain Olongia sebagai penguasa tertinggi dalam kerajaan, terdapat pula jabatan tinggi lainnya yaitu "Patila" (Mangku Bumi) selanjutnya disebut Jogugu. Wulea Lo Lipu (Marsaoleh) setingkat dengan camat. Disamping Olongia dan pembantu-pembantunya sebagai pelaksana pemerintahan seharihari terdapat suatu Badan Musyawarah Rakyat (Bantayo Poboide) yang diketuai oleh seorang Bate. Setiap kerajaan mempunyai suatu Bantayo Poboide yang berarti bangsal tempat bermusyawarah. Di dalam bangsal inilah diolah dan dirumuskan berbagai persoalan negeri, sehingga tugas Bantayo Poboide dapat diperinci sebagai berikut :
  • Menetapkan adat dan hukum adat. 
  • Mendampingi serta mengawasi pemerintah.
  • Menguatkan Raja
  • Memulih dan Menobatkan raja
Bantayo Poboide dalam menetapkan sesuatu, menganut musyawarah dan mufakat untuk menghendaki suatu kebulatan suara dan bersama-sama bertanggung jawab atas setiap keputusan bersama.
Demikianlah gambaran singkat tentang sejarah dan pemerintahan pada kerajaan-kerajaan di Daerah Gorontalo yang berlandaskan kekuasaan rakyat atau demokrasi.
  • Letak Geografis Gorontalo
Wilayah Provinsi Gorontalo berada diantara 0,19’ – 1,15‘ Lintang Utara dan 121,23’ –123,43’ Bujur Timur. Posisi provinsi ini berada di bagian utara Pulau Sulawesi. Yaitu berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Utara di sebelah Timur dan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah Barat. Sedangkan di sebelah Utara-nya berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi dan di sebelah Selatan dengan Teluk Tomini.
Wilayah Gorontalo juga sangat strategis bila dipandang secara ekonomis, karena berada pada poros tengah wilayah pertumbuhan ekonomi, yaitu antara 2 (dua) Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batui Provinsi Sulawesi Tengah dan Manado–Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Letaknya yang strategis ini dapat dijadikan sebagai daerah transit seluruh komoditi dari dan menuju kedua KAPET tersebut. Akibat kegiatan arus barang antara kedua KAPET tadi, maka berdampak positif terhadap peningkatan aktivitas ekonomi di Daerah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan bahkan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Selain itu, Gorontalo juga berada pada “mulut” Lautan Pasifik yang menghadap pada negara Korea, Jepang dan Amerika Latin. Sudah barang tentu “kelebihan posisi” ini dapat memberikan peluang yang baik dalam pengembangan perdagangan.
  • Luas Wilayah Gorontalo
Secara keseluruhan Provinsi Gorontalo tercatat memiliki wilayah seluas 12.215,44 km2. Jika dibandingkan terhadap wilayah Indonesia, luas wilayah provinsi ini hanya sebesar 0,64 persen. Provinsi Gorontalo terdiri dari 5 (lima) kabupaten dan 1 (satu) kota, yaitu: Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Luas masing-masing kabupaten/kota adalah :
v  Kabupaten Boalemo seluas : 2.248,24 Km2 (18,4 %)
v  Kabupaten Gorontalo seluas : 3.426,98 Km2 (28,05 %)
v  Kabupaten Pohuwato seluas : 4.491,03 Km2 (36,77 %)
v  Kabupaten Bone Bolango seluas : 1.984,40 Km2 (16,25 %)
v  Kabupaten Gorontalo Utara seluas : 1.230,07 Km2 (10,07 %)
v  Kota Gorontalo seluas : 64,79 Km2 (0,53 %).  

  • Iklim Gorontalo
Dengan kondisi wilayah Provinsi Gorontalo yang berada pada ketinggian 0 – 1.000 M dan letaknya di dekat Garis Khatulistiwa menjadikan daerah ini mempunyai suhu udara yang cukup panas. Suhu minimum yaitu berkisar antara 22,60 C sampai dengan 24,00. Suhu maksimum tahun 2007 pada siang hari berkisar antara 30,90 C – 33,50 C .
Provinsi Gorontalo mempunyai kelembaban udara relatif tinggi, rata-rata kelembabannya mencapat 80,17 persen. Sedangkan curah hujan tertinggi sebanyak 400 mm di bulan Desember dengan jumlah hari hujan sebanyak 24 hari. Keadaan angin pada tahun 2007 yang tercatat pada stasiun meteorologi umumnya merata disetiap bulannya, yaitu berkisarantara 10 hingga 16 Knots. 
  • Demografi Gorontalo
Lahan di Gorontalo didominasi oleh wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian yang bervariasi, daerah tertinggi adalah 2060 meter dpl. Lahan datar di Gorontalo relatif sangat terbatas, sebagaian besar lahan berada dalam kemiringan diatas 25% yaitu mencakup lebih dari 52% wilayah, yang relatif marginal untuk lahan pertanian dan perkebunan dengan pengolahan tanah yang intensif. Dan sebaliknya, wilayah yang landai dengan kemiringan 0 – 15% yang potensial dikembangkan tanaman perkebunan maupun tanaman pangan hanya mencakup wilayah yang tidak lebih dari 30% saja. Dominan tanah adalah Kambisol Haplik dengan Mediteran merah kuning (yang mencapai lebih dari 80% wilayah), menunjukkan tidak ada kendala mengenai soil sepanjang tersedia air. Tingkat pemanfaatan lahan konversi di seluruh Gorontalo untuk pemukiman, pertanian dan perkebunan mencapai 23.44% dari total pada tahun 2003, sedangkan pada tahun 2005 diperkirakan telah melebihi 25%. Tingkat pemanfaatan ini masih belum melampaui land use areal untuk penggunaan lain dalam land use kawasan Provinsi Gorontalo yang mencapai 32.35% ditambah hutan konversi 2.00% dari total. Sehingga tersisa hanya sekitar 120 ribu Ha saja. Land use kawasan Provinsi Gorontalo sesuai dengan ketetapan kawasan hutan di Gorontalo, 29.17% merupakan kawasan lindung sedangkan selebihnya merupakan kawasan budidaya. Dari 70.83% kawasan budidaya tersebut, sekitar 36.48% merupakan hutan produksi yang hanya boleh dikelola dan dimanfaatkan sesuai fungsi kehutanan.    Dilihat dari besarnya luas pemanfaatan lahan dan land use kawasan yang disediakan, Gorontalo tetap memiliki keleluasaan konversi yang bisa dimanfaatkan untuk investasi. Disisi lain, dengan potensi areal yang memiliki kemiringan rata-rata 0-15%, memberikan keleluasaan lain dalam pemanfaatan lahan untuk berbagai kegiatan usaha di Gorontalo. Walaupun demikian, pengoptimalan areal untuk “pemanfaatan lain” dan pengelolaan kawasan hutan budidaya yang tersedia, memberikan peluang berbagai kegiatan usaha dan usaha kehutanan tetap dapat dilakukan.

  • Gambaran Umum Kondisi Sosial Budaya Gorontalo

Penduduk Kota Gorontalo memiliki corak dan budaya tersendiri, yang menjunjung tinggi nilai nilai luhur masyarakat berupa gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan yang dikenal dengan " Huyula, Ambuwa, Ti'ayo, Hulunga ". Ungkapan Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah " merupakan pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang memadukan adat dengan agama. Pandangan hidup ini selaras dengan masyarakat yang terbuka , modern dan demokratis.
Ciri khas lainnya dapat dilihat pada makanan khas, rumah adat, kesenian seperti sastra, musik dan tari serta kerajinan rakyat. Diantaranya sulaman krawang dan anyaman " Upiya Karanji " atau kopiah keranjang yang terbuat dari bahan rotan.
Kondisi sosial budaya masyarakat kota mengalami perkembangan yang cukup baik. Indikator perkembangan dapat dilihat pada indeks kualitas hidup masyarakat yang antara lain meliputi angka kematian bayi dan ibu melahirkan, status gizi, harapan hidup dan angka partisipasi wajib belajar yang setiap tahunnya mengalami peningkatan.

  • Keagamaan Gorontalo
Kerukunan antar umat beragama di Kota Gorontalo terjalin hubungan yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat pada kondisi masyarakat yang hidup berdampingan dengan tenang dan damai yang telah terjalin selama ini. Dengan berpegang pada falsafah “Adat bersendikan syara' dan syara' bersendikan kitabullah” ciri religius sangat lekat pada masyarakat Gorontalo.
Hal ini lebih dipertegas dengan banyaknya simbol-simbol religi yang ditemui di hampir seluruh wilayah Kota Gorontalo seperti keberadaan mesjid dan sarana keagamaan lainnya seperti Taman Pengajian, TK Alquran dan pesantren. Disamping itu keberadaan tempat - tempat peribadatan bagi agama-agama lainnya seperti gereja-gereja, Vihara dan Klanteng dapat ditemui di beberapa tempat di Kota Gorontalo sebagai tempat beribadat bagi pemeluk-pemeluk agam Kristen, Budha dan Hindu. Namun demikian nuansa Islami lebih mewarnai kehidupan masyarakat Kota Gorontalo. 

  • Kebudayaan Gorontalo
Kebudayaan atau adat istiadat, agama, pakaian, dan norma-norma di gorontalo. tentang agama,masyarakat Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (99 %). Islam masuk ke daerah gorontalo sekitar abad ke-16. Ada kemungkinan Islam masuk ke Gorontalo sekitar tahun 1400 Masehi (abad XV), jauh sebelum wali songo di Pulau Jawa, yaitu ditandai dengan adanya makam seorang wali yang bernama ‘Ju Panggola’ di Kelurahan Dembe I, Kota Barat, tepatnya di wilayah perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Pada waktu dulu di wilayah Gorontalo terdapat pemerintahan kerajaan yang bernapaskan Islam. Raja Kerajaan Gorontalo yang memeluk agama Islam adalah Sultan Amai (1550—1585), yang kemudiannya namanya diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama Islam di Provinsi Gorontalo, STAIN Sultan Amai Gorontalo, yang kelak diharapkan menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) di Gorontalo.

Budaya Gorontalo diyakini sudah berkembang sejak berabad-abad lamanya. Namun puncak dari perkembangan itu dimulai sejak tahun 1385 masehi, dimana pada masa itu 17 kerajaan kecil atau linula bersepakat membentuk sebuah serikat kerajaan. Namun dari empat raja tersebut kata pemerhati Budaya Gorontalo, Alim Niode yang terpilih dan diangkat menjadi maharaja adalah Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan kerajaan Hulondhalo.  Alim mengatakan, sejak saat itu, masyarakat Gorontalo terus mencipta beragam kebudayaan yang sampai dengan saat ini tetap terpelihara. Pada masa itu refleksi demokrasi di Gorontalo didasarkan pada refleksi alam sehingga itu jarah kebudayaan Gorontalo disebut sebagai adati asali.
Nilai budaya Gorontalo yang mengaliri wujud kebudayaan Gorontalo sejak awal berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukan oleh alam. Sementara itu kebudayaan Islam masuk ke Gorontalo pada tahun 1525 masehi melalui ternate dan kerajaan hulondhalo yang terdiri dari 17 kerajaan kecil pada saat itu masih menganut kepercayaan animisme. Hulondhalo yang dipimpin Sultan AMAY, membawa agama Islam masuk ke Gorontalo dan menjadikannya sebagai agama kerajaan di Gorontalo pada waktu itu. Pengaruh agama islam itu karena Sultan Amay memiliki kedekatan dengan kerajaan Palasa di Sulawesi Tengah sehingga ia membawa ajaran islam ke Gorontalo sekaligus menikahi putri negeri palasa sebagai permaisurinya. Jelaslah kata Alim, filasafat budaya Gorontalo yang dilandaskan pada Adat bersendi syara berbeda dengan yang di Padang terutama dalam proses terjadinya asimilisasi kebudayaan Islam dengan masyarakat Gorontalo pada masa lampau. Gagasan tata per-adatan Gorontalo dan kebudayaan yang sebelumnya dilandaskan pada harmonisasi alam kemudian dipadukan dengan ajaran agama oleh raja Eyato kemudian lebih dipertegas dengan adat bersendi syara dan syara bersindikan Al-Quran sebagai pedoman masyarakat Gorontalo yang sudah bercirikan keislaman.  filsafat adat Gorontalo mulai dari adati asali, adat bersendi syara, dan kemudian disempurnakan menjadi syara bersendikan kitabullah ungkap Alim, ternyata merupakan perpaduan yang sangat harmonis dalam menuntun masyarakat Gorontalo dalam menciptakan berbagai kebudayaan yang sampai hari ini masih tetap eksis dan mewarnai kehidupan masyarakat Gorontalo.  Sdr, sekikan varia budaya Produksi Radio Republik Indonesia Gorontalo, atas nama kerabat kerja yang bertugas kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan kebersamaannya.
Tentang seni dan budaya, Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat.. Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko, Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung). Dan Alat musik tradisional yang dikenal di daerah Gorontalo adalah Polopalo, Bambu, dan Gambus (berasal dari Arab).
alam adat-istiadat Gorontalo, setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu. Karena itu, dalam upacara pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan empat warna utama, yaitu merah, hijau, kuning emas, dan ungu. Warna merah dalam masyarakat adat Gorontalo bermakna ‘ keberanian dan tanggung jawab; hijau bermakna ‘kesuburan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan’; kuning emas bermakna ‘kemuliaan, kesetian, kebesaran, dan kejujuran’; sedangkan warna ungu bermakna ‘keanggunanan dan kewibawaan’.

  • Kesenian Daerah Gorontalo
Lagu Tradisional, Tari, Alat Musik, dan Penyanyi

Membahas tentang kebiasaan kebiasaan hidup masyarakat suku Gorontalo saat ini tentu telah ada banyak perubahan dan pergeseran mengikuti perkembangan jaman, dibandingkan pada jaman dahulu dimana masing-masing individu masih mempertahankan nilai nilai leluhur yang berlaku didalam masyarakat. Namun demikian saat ini masih ada kebiasaan kebiasaan hidup dalam masyarakat yang terus dipelihara dan masih berlaku dalam kehidupan sehari hari.
Sistem kekerabatan masyarakat Gorontalo yang beraneka ragam profesi dan tingkat sosial tidak menjadi penghalang untuk tetap hidup dalam suasana kekeluargaan. Dan itu menjadi salah satu hal utama mengapa masyarakat Gorontalo selalu hidup rukun dan tidak pernah terjadi bentrok / konflik yang berskala besar. Sistem kemasyarakatan yang terus terpelihara dan berjalan dengan baik hingga saat ini adalah hidup tergotong royong dan menyelesaikan segala persoalan / permasalahan secara bersama sama, musyawarah dan mufakat.
Adat istiadat  dan kebiasaan kebiasaan hidup yang masih dipertahankan dalam kehidupan masyarakat suku Gorontalo antara lain ialah :
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat.

Tarian & Kesenian Gorontalo

Yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.  Sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung). Penyanyi-penyanyi asal daerah Gorontalo yang terkenal, antara lain, Rama Aipama, Silvia Lamusu, Lucky Datau, Hasbullah Ishak, Shanty T., dan Gustam Jusuf.  Alat musik tradisional yang dikenal di daerah Gorontalo adalah Polopalo, Bambu, dan Gambus (berasal dari Arab).

Salah satu kesenian sebagai bagian dari kebudayaan daerah Gorontalo yang cukup terkenal yaitu musik tradisional Polopalo. Menurut masyarakat Gorontalo, musik tradisional Polopalo merupakan musik asli rakyat Gorontalo, namun pada perkembangannya, ternyata ditemui ada alat musik daerah lain yang hampir serupa dengan musik ini yakni alat musik Sasaheng dari Sangihe Talaud dan Bonsing dari Bolaang Mongondow.

Alat musik Polopalo adalah alat musik yang bahan dasarnya terbuat dari bambu, bentuknya menyerupai garputala raksasa dan teknik memainkannya yakni dengan memukulkan ke bagian anggota tubuh yaitu lutut. Pada perkembangannya, Polopalo mendapatkan penyempurnaan pada beberapa hal, salah satunya adalah kini Polopalo dibuatkan sebuah pemukul dari kayu yang dilapisi karet agar mempermudah dan membantu dalam proses memainkan alat musik Polopalo. Hal ini memberi dampak selain tidak membuat sakit bagian anggota tubuh yang dipukul, juga membuat Polopalo tersebut berbunyi lebih nyaring.

Pada era tahun 60-an sampai sekitaran tahun 90-an, Polopalo biasanya dimainkan pada waktu – waktu tertentu, yang pada hari tersebut merupakan hari yang spesial menurut masyarakat Gorontalo. Contohnya, pada waktu masyarakat daerah Gorontalo telah selesai melaksanakan panen raya atau pada waktu bulan t’rang (bulan purnama). Tradisi memainkan musik Polopalo dilaksanakan tanpa menunggu perintah atau komando, dalam hal ini masyarakat tergerak dengan sendirinya karena merasa harus bergembira bersama dalam mensyukuri hari yang indah atau hari yang spesial tersebut. Biasanya musik tradisonal Polopalo itu dimainkan kira – kira pukul 22.00 sampai pukul 01.00 waktu setempat.

Musik Polopalo saat ini agaknya kurang diminati masyarakat. Kemungkinan penyebabnya antara lain, alat musik ini hanya dimainkan sendiri dengan variasi nada terbatas. Untuk lebih diminati, kemungkinan pengembangannya pada bentuk komposisi musik, yang diharapkan dapat menggugah generasi muda sebagai penerus kebudayaan, yang sehari-harinya mereka banyak mengkonsumsi berbagai aliran musik baru yang beraneka ragam. Oleh sebab itu pengambangan musik Polopalo diharapkan akan menghasilkan harmonisasi dan improvisasi variatif mengikuti perkembangan musik pada umumnya.
Dapat ditemui dua macam Polopalo yaitu Polopalo jaman dulu/tradisional dan Polopalo jaman sekarang ini/bernada. Polopalo jaman dulu hanya dimainkan sendiri atau solo sedangkan alat musik Polopalo sekarang ini dimainkan berkelompok dengan menggunakan komposisi dan aransemen.
Teknik memainkannya pun berbeda, Polopalo jaman dulu dimainkan dengan memukulkan alat musik Polopalo tersebut ke pemukul dan kebagian anggota tubuh yaitu lutut secara beraturan, sedangkan alat musik Polopalo jaman sekarang ini dimainkan dengan memukulkan alat musik tersebut hanya ke pemukulnya saja. Namun teknik memainkan Polopalo sekarang ini jauh lebih menuntut kemampuan ritme dan musikalitas guna menyesuaikan dengan komposisi dan aransemen yang di berikan pada alat musik Polopalo.

Polopalo jaman dulu dan Polopalo jaman sekarang ini memiliki bahan dasar yaitu bambu. Bentuk keduanya sekilas menyerupai garputala raksasa. Perbedaan yang paling mencolok dari kedua jenis Polopalo ini yaitu terletak pada, Polopalo jaman sekarang ini tidak memiliki lubang pada pangkal Polopalo sedangkan pada Polopalo jaman dulu terdapat lubang untuk membedakan warna bunyi. Namun pada Polopalo waktu dulu tidak terdapatnya proses penyeteman/’penalaan’, sedang pada Polopalo sekarang ini terdapat proses penyeteman yang dilakukan dengan meraut secara bertahap lidah Polopalo.
Perkembangan ini sesuai realita di daerah Gorontalo, dimana para pengrajin musik Polopalo melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang didalam pola pikirnya telah dipengaruhi oleh berbagai perkembangan global dengan tuntutan kemajuan secara instan dari berbagai faktor.

Tari pergaulan dan keakraban dalam acara resmi di Gorontalo

Tari Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara resmi. Tarian ini diangkat dari tari adat malam pertunangan pada upacara adat perkawinan daerah Gorontalo. Saronde sendiri terdiri dari musik dan tari dalam bentuk penyajiannya. Musik mengiringi tarian Saronde dengan tabuhan rebana dan nyanyian vokal, diawali dengan tempo lambat yang semakin lama semakin cepat.
Dalam penyajiannya, pengantin diharuskan menari, demikian juga dengan orang yang diminta untuk menari ketika dikalungkan selendang oleh pengantin dan para penari.  Iringan rebana yang sederhana merupakan bentuk musik yang sangat akrab bagi masyarakat Gorontalo yang kental dengan nuansa religius. 

Upacara Adat Molonthalo

Molonthalo atau raba puru bagi sang istri yang hamil 7 bulan anak pertama, merupakan pra acara adat dalam rangka peristiwa adat kelahiran dan keremajaan, yang telah baku pada masyarakat Gorontalo. Istilah Raba Puru merupakan dialeg Manado Sulawesi Utara, Puru artinya Perut. Dalam Bahasa Adat Gorontalo di sebut Molonthalo atau Tondhalo. Adat ini hampir sama dengan Adat jawa yang di sebut Mitoni yang merupakan upacara adat selamatan yang menandai tujuh bulan usia kehamilan. Acara Molonthalo ini merupakan pernyataan dari keluarga pihak suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang syah. Serta merupakan maklumat kepada pihak keluarga kedua belah pihak, bahwa sang istri benar-benar suci dan merupakan dorongan bagi gadis – gadis lainnya untuk menjaga diri dan kehormatannya. Persiapan dan cara pelaksanaan hingga tahapan dari Acara Adat Molonthalo ini cukup banyak. Pihak keluarga yang mengadakan upacara adat ini harus menghadirkan kerabat pihak suami, Hulango atau Bidan Kampung, Imam Kampung atau Hatibi, dua orang anak perempuan umur 7 sampai dengan 9 tahun, keduanya masih memiliki orang tuanya (Payu lo Hulonthalo), dua orang Ibu dari keluarga sakinah.

 Upacara perkawinan
Upacara perkawinan yang berlangsung di dua tempat yaitu di tempat mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan pesta dirumah sendiri sendiri. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung meriah hingga berhari hari lamanya.
Beberapa hari sebelum pesta dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak selalu datang beramai ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3 hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang berbeda.

 Nujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara nujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama menggunakan pakaian adapt dan menyertakan seorang anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.

Aqiqah
Upacara aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya. Pada jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat bagi anak perempuan.

 Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adapt istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara dengan baik, bebagai upacara adapt masih tetap dilaksanakan, misalnya upacara Khitanan bagi anak laki laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun  seiring dengan kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih modern dengan menggunakan tenaga dokter.
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.

Demikian beberapa adat dan kebiasaan yang terus dipertahankan hingga saat ini meski ditengah banyak perubahan yang terjadi mengikuti perkembangan jaman yang makin canggih ini. Namun ada kebiasaan yang mendasar yang diturunkan oleh leluhur yang harus tetap dijaga untuk kelestarian adat dan budaya sebagai ciri khas daerah atau suku yang menjadi kekayaan budaya di Indonesia.

Beragam budaya yang ada di Indonesia telah mencerminkan bahwa betapapun banyak perbedaan budaya antar daerah, namun masing masing individu dan kelompok dapat membaur satu sama lain tanpa melihat perbedaan itu seperti yang tersebut dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Jelaslah bahwa kehidupan bermasyarakat sebenarnya berintikan pada interaksi sosial. Interaksi sosial tersebut merupakan hubungan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang orang sebagai pribadi pribadi, antara kelompok kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.
Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial didasari oleh berbagai factor antara lain factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simapti. Faktor factor tersebut dapat bergerak sendiri sendiri secara terpisah mapun dalam keadaan bergabung. Apabila ditinjau secara lebih mendalam, factor tersebut dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah kaidah dan nilai nilai yang berlaku.
  • Bahasa Daerah Gorontalo
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo. Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo. 
  • Rumah Adat Gorontalo
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat  kerabat kerajaan pada masa lampau. 
Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat). 
  • Pakaian Adat Gorontalo

Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau  Paluawala. Pakaian adat ini  umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
Potret sehari hari masyarakat Gorontalo dikenal sangat kental dengan paduan nuansa adat dan agama. Cerminan realitas tersebut terkristalisasi dalam ungkapan “Adat Bersendi Syara, Syara Bersendi Kitabullah”. Filosofi hidup ini selaras dengan dinamika masyarakat yang semakin terbuka, modern, dan demokratis. Dalam proses sosialisasi dan komunikasi keseharian masyarakat Gorontalo, selain menggunakan Bahasa Indonesia juga menggunakan pula Bahasa Gorontalo (Hulondalo). Bahasa daerah ini tidak ditinggalkan, kecuali sebagai salah satu kekayaan budaya, penggunaannya memberi label cirri khas Provinsi Gorontalo.
Ciri khas budaya Gorontalo juga dapat dilihat pada makanan khas, rumah adat, kesenian, dan hasil kerajinan tangan Gorontalo. Diantaranya adalah kerajinan sulaman “Kerawang” dan anyaman “Upiya Karanji” atau Kopiah Keranjang yang terbuat dari bahan rotan. Kopiah Keranjang ini belakangan makin populer di Indonesia. Suku-suku yang bermukim di Kabupaten Boalemo, terdiri dari suku Gorontalo, Jawa, Sunda, Madura, Bali, NTB. Selain itu terdapat juga suku Bajo yang hidup berkelompok di suatu perkampungan di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta dan Desa Torisiaje, Kecamatan Popayato. Mereka tinggal di laut dengan mendiami bangunan rumah di atas air.
Di desa Karengetan Kecamatan Paguat dan Desa Londoun Kecamatan Popayato terdapat perkampungan Suku Sangihe Talaud. Suku ini sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di desa tersebut dan telah membaur secara harmonis dengan suku Gorontalo pada umunya dan Boalemo pada khususnya dengan tetap tidak meninggalkan budaya dan adat asal. Suku Minahasa dapat di temukan di Desa Kaarwuyan, Kecamatan Paguat. Sebagaimana etnis lainnya yang telah berpuluh-puluh tahun tinggal disini, mereka pada umunya telah berbaur dengan masyarakat Boalemo dan Gorontalo pada umumnya juga tidak lupa untuk tidak meninggalkan adat dan budaya asal.  
  • PARIWISATA GORONTALO
  •    Wisata Bahari Pulau Saronde Gorontalo
    Pulau Saronde adalah pulau kecil yang indah, dengan pantainya yang berpasir putih dan karang yang tertata rapi secara alami. Banyak orang yang belum mengetahui akan keberadaan pulau saronde yang merupakan salah satu permata wisata Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Gorontalo Utara. Luas pulau ini hanya sekitar kurang lebih 1 km keliling dengan pesisir pantai yang mengelilingi pulau dan mempunyai ciri khas tersendiri. Dari bagian utara hingga ke barat sepanjang pantainya berpasir putih, dan dari selatan hingga ke timur sepanjang pantainya di penuhi bebatuan yang tertata rapi bagai ditata oleh tangan manusia serta dikelilingi oleh taman laut yang memiliki keindahan terumbu karang. Pulau Saronde terletak di Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara, sekitar 65 km dari pusat kota gorontalo dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Untuk menempuh perjalanan dari pusat kota gorontalo hingga ke dermaga kwandang sebaiknya menggunakan kenderaan pribadi. Bagi pengunjung yang memilih naik angkot, naiklah angkot dengan rute kwandang dan biaya angkot per orang hanya Rp. 15.000.

    Pulau Saronde merupakan gugusan dari pulau Ponelo (Desa Ponelo) Kecamatan Kwandang yang berjarak sekitar 12 mil dari dermaga pelabuhan Kwandang. Dan merupakan sebuah gugusan pulau kecil yang banyak. Jarak tempuh dari dermaga ke pulau saronde sekitar 60 menit. Dengan menggunakan jasa angkutan penduduk setempat yang sering disebut katinting. Di dermaga kwandang telah tersedia Taxi Wisata Pulau Saronde, denga tarif per orang Rp. 10.000 menuju pulau saronde.

    Di Wisata Bahari Pulau Saronde, para pengunjung atau wisatawan dapat menikmati pemandangan alam dan laut yang indah dengan pasir putih, berenang, berperahu, snorkeling dan menyelam. Keindahan lainnya yang dapat Anda nikmati di Pulau Saronde adalah menikmati panorama sunrise dan sunset. Anda bisa menikmati keindahan pantai dengan bermain volly pantai, sepakbola pantai, snorkling, pinswim dan kegiatan outbound lainnya. Pulau Saronde di promosikan sebagai salah satu potensi wisata Kabupaten Gorontalo Utara. Perairan di sekitar pulau ini masih bersih dan tidak tercemari oleh sampah – sampah industri. Waktu terbaik mengunjungi Pulau Saronde adalah pada saat liburan dan ada event – event, baik berskala daerah maupun berskala nasional.

    Walaupun Pulau Saronde saat ini belumlah maksimal dengan aset pendukung dan sarana prasarana lainnya, terutama penginapan dan pemenuhan kebutuhan air bersih, pulau ini pernah mengalami zaman keemasan era 90-an, masa pemerintahan Bupati Gorontalo, Marthen Liputo. Pada waktu itu, pulau saronde terdapat banyak cottage tempat menginap para wisatawan. Sekarang cottage – cottage tersebut di renovasi dan hanya menyisakan dua buah cottage. Sarana pendukung lainnya, di pulau ini terdapat sebuah panggung untuk pagelaran seni budaya dan kegiatan lainnya. Sekarang pembenahan di segala bidang, baik aset pendukung wisata maupun sarana angkutan atau taxi wisata pulau saronde telah di akomodir oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo Utara, dalam rangka mendukung program pemerintahan provinsi gorontalo di bidang pariwisata.
    •  MAKAM KRAMAT DU PANGGOLA

      Adalah makam seorang Raja Gorontalo yang bernama Ilato yang bergelar Du Panggola (Bapak Tua) dan Ta'Aulia (Waliyulla), Du Panggola dalam memerintah sangat adil, bijak penuh kearifan serta mengayomi rakyatnya, disamping itu pula beliau adalah orang yang sangat mendalami agama. Wafat pada tahun 1689, makam ini berada dilereng bukit berjarak 500 meter dari Benteng Otanaha.

      Makam Keramat Ju Panggola terletak di Kecamatan Kota Barat, di Kelurahan Lekobalo, kurang lebih 7 km dari Pusat Kota Gorontalo. Makam keramat ini terletak di atas bukit pada ketinggian 50 meter dari jalan raya. Dari atas bukit ini kita dapat melihat Danau Limboto yang luas, dengan airnya yang makin kritis, dari kedalaman 32 meter kini tinggal 5 hingga 7 meter. 
      Ju Panggola adalah sebuah gelar atau julukan. Ju berarti ‘ya’, sedangkan Panggola berati ‘tua’. Jadi, Ju Panggola artinya Ya Pak Tua. Dalam sejarah nama Pak Tua tersebut adalah Ilato, yang artinya kilat. Karena kesaktian dan sifat keramatnya Ilato, mempunyai kemampuan untuk menghilang dan muncul jika negeri dalam keadaan gawat. 

      Pak Tua atau “Ju Panggola” gelar ini muncul dari masyarakat karena setiap beliau tampil, dengan profil Kakek Tua yang mengenakan jubah putih. Ia mempunyai jenggot putih yang sangat panjang yang melewati lutut. Ia juga dijuluki sebagai “Awuliya” karena beliau adalah penyebar agama Islam sejak tahun 1400, sebelum para Wali Songo berada di Pulau Jawa. 
      Aliran yang ditinggalkan oleh Ju Panggola adalah ilmu putih, yang diterapkan lewat “langga” atau ilmu bela diri dalam dunia persilatan. Beliau tidak secara langsung melatih para muridnya, melainkan hanya meneteskan air di mata sang murid,  dan secara otomatis para muridnya memperoleh jurus-jurus persilatan secara spontan, baik melalui mimpi maupun melalui gerakan refleks.
      Makam tersebut memiliki banyak keajaiban,antara lain, tanah di atas bukit itu berbau harum. Menurut sejarah bahwa bukit tersebut pernah dihuni oleh beliau sebagai tempat bermunajat ke hadirat Alla swt.
      Keajaiban tersebut masih dapat disaksikan hingga sekarang ini. Di makam itu setiap penziarah datang dan mengambil segengaman tanah di seputar makam, dan anehnya tanah galian  tersebut tidak pernah menjadi lubang yang dalam padahal ribuan manusia mengambil tanah tersebut sebagai azimat. 
      Makam Ju Panggola  setiap hari mendapat kunjungan dari para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sebagian dari mereka melaksanakan salat di Masjid Ju Panggola, sambil berdoa dan memohonkan berkah penyebuhan dari sakit yang diderita mereka.
      •    BENTENG OTANAHA
       
        Adalah obyek wisata sejarah bangunan  peninggalan monumen kuno warisan pada masa lalu dari suku gorontalo dibangun sekitar 1525 letaknya diatas bukit di Kelurahan Dembe I Kecamatan Kota Barat dengan jarak 8 Km dari pusat Kota Gorontalo. untuk mencapai benteng ini kita harus menapaki anak tangga sebanyak 351 buah dan dan dapat pula melalui jalan melingkar dengan kenderaan roda empat dan roda dua. Benteng ini yempat perlindungan dan pertahanan Raja-raja Gorontalo ketika melawan kolonial Portugis yang ingin menjajah. Keunikan dari benteng ini bangunanya terbuat dari campuran kapur dan putih burung ,aleo. Karena letaknya yang berada dipuncak bukit maka dari benteng ini dapat dilihat pemandangan danau limboto Selain benteng Otanaha didekatnya pula dua buah benteng yaitu benteng Otahiya dan Ulupahu.

        Objek wisata ini terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitartahun 1522.
        Adapun sejarah pembangunan benteng ini adalah sebagai berikut.
        Sekitar abad ke-15,dugaan orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu,Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585). Mereka memilik tiga keturunan, yakni Ndoba (wanita),Tiliaya (wanita),dan Naha (pria).Waktu usia remaja,Naha melanglang buana ke negeri seberang,sedangkan Ndoba dan Tiliaya tinggal di wilayah kerajaan.
        Suatu ketika sebuah kapal layar Protugis singgah di Pelabuhan Gorontalo Karena kehabisan bahan makanan, pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut. 

        Mereka menghadap kepada Raja Ilato. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan, bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525. 
        Ternyata, para nakhoda Portugis hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut yang sering menggangu nelayan di pantai.Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba dan Tiliaya yang diperkuat empat Apitalau, bangkit dan mendesak bangsa Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo.Para nakhkoda Portugis langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo. 
        Ndoba dan Tiliaya tampil sebagai dua tokoh wanita pejuang waktu itu langsung mempersiapkan penduduk sekitar untuk menangkis serangan musuh dan kemungkinan perang yang akan terjadi.Pasukan Ndoba dan Tiliaya,diperkuat lagi dengan angkatan laut yang dipimpin oleh para Apitalau atau ‘kapten laut’, yakni Apitalau Lakoro, Pitalau Lagona, Apitalau Lakadjo, dan Apitalau Djailani.
        Sekitar tahun 1585, Naha menemukan kembali ketiga benteng tersebut. Ia memperistri seorang wanita bernama Ohihiya.Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua putra, yakni Paha (Pahu) dan Limonu.Pada waktu  itu terjadi perang melawan Hemuto atau pemimpin golongan transmigran melalui jalur utara. Naha dan Paha gugur melawan Hemuto.
        Limonu menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya. Naha, Ohihiya, Paha, dan Limonu telah memanfaatkan ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan. Dengan latar belakang peristiwa di atas,maka ketiga benteng dimaksud telah diabadikan dengan nama sebagai berikut. Pertama, Otanaha. 
        Ota artinya benteng. Naha adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Otanaha berarti benteng yang ditemukan oleh Naha. 
        Kedua,Otahiya. Ota artinya benteng. Hiya akronim dari kata Ohihiya, istri Naha Otahiya,  berarti benteng milik Ohihiya. Ketiga Ulupahu.Ulu akronim dari kata Uwole,artinya milik dari Pahu adalah putera Naha.Ulupahu berarti benteng milik Pahu Putra Naha. 
        Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu dibangun sekitar tahun1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para nakhoda Portugis.
        • TAMAN NANI WARTABONE

          Untuk mengenang pahlawan Nasional Hi.Nani Wartabone yang memimpin rakyat Gorontalo melawan penjajah Belanda pada hari patriotik 23 Januari 1954, Pemerintah Gorontalo membangun monumen pada tahun 1984. Monumen ini terletak di Kecamatan Kota Selatan di pusat Kota Gorontalo tepat berhadapan dengan Rumah Dinas Gubernur Gorontalo, mudah dijangkau dengan kenderaan roda dua dan roda empat. Dilokasi tersebut terdapat taman tempat bermain anak-anak dan tempat bersantai keluarga serta sarana parkir.


          1 komentar: