Minggu, 17 Juni 2012

KEBERADAAN FOLKLOR SAAT INI DAN CARA MELESTARIKANNYA SERTA SEBAGAI BEKAL UNTUK TOUR GUIDE



NAMA : YULI HADI
NO REG : 4423107053

KEBERADAAN FOLKLORE SAAT INI 
Folklore adalah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang tersebar atau diwariskan secara turun temurun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan.
Dewasa ini folklore sudah mulai tergeser karena kemajuan jaman yang semakin pesat. Era globalisasi yang masuk ke Indonesia menjadikan segala informasi masuk ke Indonesia dengan memanfaatkan berbagai macam teknologi yang canggih, seperti internet yang sangat berperan penting dalam menyampaikan informasi secara cepat.
Tantangan globalisasi menjadi bagian dari tantangan yang bersifat eksternal selain dari tantangan, bahkan ancaman yang berasal dari keanekaragaman budaya dan suku bangsa yang bersifat internal. Perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu sebab semakin cepatnya terjadi perubahan pada masyarakat suatu bangsa. Perkembangan teknologi informasi (internet) ini dapat dimanfaatkan untuk media pengembangan budaya nasional.
Beberapa macam faktor yang membuat folklore makin terancam:
·         Kemajuan teknologi informasi
Kemajuan teknologi ini sebenarnya memiliki dampak yang positif dan negatif. Kenapa dikatakan demikian ? karena dampak positif dari kemajuan teknologi tersebut adalah dapat memperoleh informasi mengenai dunia luar serta banyak mendapatkan pengetahuan baru, tetapi dibalik dampak positif tsb ada dampak negatifnya. Dampak negatif dari kemajuan teknologi adalah masuknya kebudayaan luar yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh Indonesia. Contoh : dongeng anak yang lebih banyak digemari oleh anak-anak adalah dongeng dari luar seperti putri salju atau cinderella, sedikit yang menggemari dongeng Indonesia.
·         Kurangnya kesadaran diri
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya folklore pada kehidupannya. Folklore sendiri banyak memiliki makna kehidupan seperti upacara-upacara adat yang dilaksanakan dari awal memulai kehidupan sampai akhir kehidupan pasti banyak sekali upacara adat yang mengandung makna.
·         Modernisasi
Modernisasi mengakibatkan folklore yang merupakan tradisi sudah tidak lagi digenggam erat dan dijaga seperti dulu. Banyak orang bahkan berpendapat bahwa folklore lisan seperti legenda, mitos dan cerita dongeng itu sebagai suatu pembohongan dan pembodohan. Padahal jika ditelaah lebih dalam folklore-folklore tersebut menyimpan dan mengandung filosofi dan nasehat bagi umat manusia dibalik ceritanya. Orang-orang yang sudah tinggal dikota-kota besar menganggap upacara adat ataupun hal-hal yang berbau tradisional itu sebuah hal yang kuno dan hanyalah sebuah tradisi yang tidak harus diikuti lagi.
·         Pola fikir masyarakat yang berubah
Pola fikir masyarakat yang sudah mulai berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu dan berkembangnya jaman membuat keberadaan folklore ini semakin tersisih. Oleh karena itu, masyarakat harus menyadari bahwa folklor itu sangat penting dan harus tetap melestarikannya demi menjaga keutuhan budaya kita.

CARA MELESTARIKAN FOLKLORE
Melestarikan budaya dan tradisi adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai penerus bangsa karena jika tidak dilestarikan maka akan punah satu-persatu budaya tersebut dan habis tertelan jaman.
Beberapa upaya dalam melestarikan folklore :
·         Menanamkan sejak kecil
Mengenalkannya sejak kecil mengenai folklore indonesia akan membuatnya menghargai betapa pentingnya budaya dan tradisi dalam kehidupannya nanti.
·         Tersedianya banyak tempat menyalurkan bakat
Banyak tersedinya sanggar-sanggar tari ataupun teater akan dengan mudah bagi mereka menyalurkan bakatnya. Serta mengenalkan pada tari-tari tradisional yang tidak kalah bagusnya dengan modern dance.
·         Diajarkan di sekolah-sekolah
Mengajarkannya di sekolah merupakan langkah yang penting dalam melestarikan folklore tersebut karena dengan demikian dapat membuat mereka lebih mengenal budayanya dan tidak menganggap budaya tersebut kuno.
·         Menanamkan sifat cinta tanah air
Dengan menanamkan sifat cinta tanah air sejak dini akan menjadikannya menghargai dan mencintai kebidayaan yang ada di indonesia dan tidak akan membiarkan kebudayaan tersebut hilang tergerus jaman.
·         Support dari pemerintah dan instansi terkait
Support dari pemerintah adalah hal yang paling penting dalam melestarikan budaya dan tradisi ini, karena peran pemerintah bukan hanya dari dana saja tetapi dalam hal promosi juga. Seperti dalam acara kunjungan yang menampilkan tarian-tarian dan memberikan informasi kepada turis mengenai event budaya yang akan berlangsung.
·         Event budaya
Mengadakan event budaya guna mengenalkan dan sebagai ajang promosi juga terhadap wisatawan mengenai kekayaan budaya dan folklore di Indonesia.

FOLKLORE SEBAGAI BEKAL TOUR GUIDE

Yang paling utama bagi tour guide adalah informasi yang akurat serta terupdate agar tidak membuat wisatawan yang dibawanya kecewa ketika informasi yang disampaikan sudah tidak seperti apa yang dikatakan oleh tour guide tersebut.
Folklore sebagai Informasi yang disampaikan adalah seluruh informasi yang dianggap perlu untuk disampaikan kepada turis. Informasi yang disampaikan haruslah menarik dan sesuai fakta. Saat seorang guide sedang membawa rombongan tur ke suatu lingkungan budaya maka materi informasi yang disampaikan dapat dari folklore baik lisan, sebagian lisan atau bukan lisan. Sebagai guide suatu hal yang wajib untuk mengetahui berbagai macam folklore yang ada di Indonesia ini. serta menyampaikannya kepada wisatawan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Guide yang mempelajari tentang folklore sama halnya dengan melestarikan budaya dan tradisi yang ada karena dengan ia menyampaikan kepada wisatwannya dan wisatwan tersebut mencernanya dengan baik, informasi tersebut akan terus mengalir dan makin banyak yang mengetahui mengenai folklore-folklore tersebut.

Folklore sebagian lisan Suku Toraja


Sebagian lisan dalam hal ini folklore jenis ini merupakan bentuk campuran antara unsur lisan dan bukan lisan. Perpaduan ini memadu-padankan akan hubungan bahwa kaitannya dengan pengklasifikasiannya berhubungan dengan Fakta sosial.

a.       Kepercayaan rakyat (takhayul): kepercayaan ini banyak dimiliki oleh raga etnik di seluruh dunia. Kepercayaan yang bersifat takhayul sering dianggap tidak bedasarkan logika karena keberadaannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, menyangkut kepercayaan dan kebiasaan dalam prakteknya, serta diwariskan melalui media verbal.

b.      Permainan rakyat: keberadaannya disebarkan melalui tradisi lisan yang berkembang di dalam sebuah komunitas etnik. Sementara untuk persebarannya dilakukan tanpa bantuan orang dewasa. Contohnya seperti congklak, teplak, main tali, dan gobak slodor.

c.       Teater Rakyat: biasanya mengisahkan tentang sebuah cerita kolosal yang mengisahkan tokoh-tokoh tertentu. Dalam penyelenggaraannya sebuah teater memilki makna dalam penyebaran nilai-nilai arif dalam kehidupan. Media penyebaran yang dilakukan pada masa lampau terbatas pada tradisi lisan saja.

d.      Tari Rakyat: sebuah pertunjukan yang mengandalkan gerakan-gerakan padu, terstruktur, serta molek dari para penarinya. Pagelaran tari umumnya dilakukan untuk acara-acara penting seperti upacara adat maupun jamuan tertentu. Pada prosesnya persebarannya dilakukan secara lisan.

e.       Pesta rakyat: yang satu ini merupakay perayaan yang biasanya dilakukan untuk memperingati suatu hal yang sifatnya adalah keberkahan dan kebahagiaan. Tujuan utama diadakannya penyelenggaraan pesta rakyat adalah untuk mensyukuri nikmat ataupun merayakan suatu kegemilangan tertentu.

f.       Upacara adat: prosesi upacara yang berkembang di masyarakat didasarkan dengan adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan masyarakat setempat akan suatu hal yang dianggap agung ataupun memiliki sesuatu yang tidak biasa. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada komunitas mereka.

Maka dari penjelasan diatas berikut ini adalah penjelasan dari beberapa ragam bentuk Folklore sebagian lisan dari masyarakat Suku Toraja :

-          Kepercayaan Rakyat.

Ø  Lahir, masa bayi, dan masa kanak-kanak

1.      Wanita yang tengah mengandung anaknya dilarang untuk duduk di pintu, hal ini dikarenakan kalau duduk di pintu menurut kepercayaan masyarakat suku toraja ia akan didorong hingga jatuh ke tanah oleh makhluk halus.
2.      Ketika seorang bayi baru lahir maka ia tidak boleh untuk ditegur dengan kata-kata yang berisi sindiran mengenai bagian tubuhnya
3.      Ketika seorang bayi ditidurkan dalam sebuah ayunan maka kepalanya harus ditutupi dengan kain sarung, hal ini dikarenakan menurut kepercayaan masyarakat suku toraja jika tidak ditutupi dengan kain sarung maka kepala sang bayi akan dipegangi oleh makhluk halus.
4.      Ketika sang istri sedang mengandung, suaminya tidak boleh memangkas rambutnya. Hal ini disebabkan apabila ia mencukur rambut nanti bayinya akan terlahir dengan tidak ada rambut atau dengan kata lain akan terlahir botak secara permanen.

Ø  Tubuh manusia, dan obat-obatan rakyat.

1.      Orang yang terlahir memiliki tanda bawaan tahi lalat pada telapak tangannya tidak boleh secara sembarangan memukul orang lain. Menurut kepercayaan masyarakat suku toraja hal ini disebabkan karena pukulan orang tersebut akan mengakibatkan orang lain menjadi sakit.
2.      Apabila suatu saat seseorang terkena penyakit mata maka cara mengobatinya ialah mata ditutupi dengan kain hitam kemudian ditiup oleh salah seorang sepupunya dalam keadaan dekat penyakitnya akan sembuh seketika.

Ø  Rumah dan pekerjaan rumah tangga

1.      Ketika membangun sebuah rumah, disarankan didirikan atau dibangun pada pagi hari tepat ketika ayam tengah berkokok.
2.      Dilarang menyapu rumah di malam hari karena diyakini akan membawa sial dan semua rejeki yang akan masuk akan keluar.
3.      Ketika seorang ibu rumah tangga sedang memasak di dapur tidak boleh ada beras atau nasi yang jatuh kedalam dapur karena hal ini akan membawa malapetaka dan nasi yang disajikan akan terasa tawar.

Ø  Mata pencaharian dan hubungan sosial.

1.      Apabila seseorang ingin melakukan aktifitas mandi atau mencuci ke sumur, dianjurkan orang ini untuk melihat teliti apakah di sumur itu ada orang lain atau tidak. Ketika ada orang di sumur tersebut sebaiknya jangan kesana. Terlebih kalau yang disana adalah lawan jenis. Bila tanpa sengaja kita kesana dan ternyata disana ada orang dan yang dilihat adalah lawan jenis maka orang ini akan dinikahkan. Sementara itu apabila yang didapati di sumur adalah kerabat atau orang yang telah berumah tangga maka kita akan dikenakan sanksi sesuai denga ketentuan adat yang berlaku.
2.      Dalam kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Suku Toraja ketika seorang suami pergi untuk berjudi atau sabung ayam, sang istri wajib hukumnya untuk tidak berdandan di rumah karena hal ini diyakini akan membawa sial bagi sang suami sehingga pada arena perjudian ia akan kalah.

Ø  Perjalanan dan perhubungan

1.      Ketika akan menempuh perjalanan menuju tempat diadakannya sabung ayam dan dalam perjalanan secara tanpa sengaja kita bertemu dengan ular atau binatang sejenisnya maka sebaiknya ular yang kita temui itu kita tangkap dan tidak boleh dibunuh. Menurut masyarakat Suku Toraja jika hal ini kita lakukan maka kesempatan kita untuk menang akan semakin terbuka.
2.      Bila seorang laki-laki bersama rombongannya hendak melamar kerumah seorang gadis dan dalam perjalanannya tanpa sengaja mereka mendapati seorang anak kerbau yang sedang menyusui, maka sebaiknya laki-laki yang hendak melamar ini mengambil sedikit air susu induk kerbau itu, menurut kepercayaan masyarakat Suku Toraja hal ini merupakan pertanda bahwa lamarannya akan diterima dengan baik dan kelak rumah tangga yang akan dibinanya akan mendapat berkah serta rejeki yang banyak.

Ø  Cinta, pacaran, dan menikah

1.  Menurut orang toraja ketika seseorang jatuh cinta tetapi orang yang dicintainya tidak merespon rasa cintanya maka dapat di taklukhkan dengan cara ilmu gaib dengan cara di bantu oleh seorang dukun.
2.  Apa bila seorang suami atau istri selingkuh dan pasangannya tidak merelekan apa bila keduanya bercerai,maka hal ini dapat di atasi dengan ilmu gaib,yakni dengan cara bantuan seorang dukun,dan dukun tersebut dapat membuat rupa/wajah selingkuhan pasangannya tidak sesuai dengan rupa sebenarnya atau sekligus berwujud seperti binatang di mata pasangannya.

Ø  Kematian dan adat pemakaman.

1. Menurut kepercayaan orang toraja,ketika seseorang meninggal dan dalam upacara pemakamannya tidak di potongkan babi atau kerbau maka arwahnya tidak akan di terima di alam puyo.
2.   Apa bila seorang bayi yang berumur di bawa satu minggu meninggal dunia,maka dia tidak boleh dikubur pada siang hari,sebaiknya dikubur pada malam hari karena menurut orang toraja bayi ini belum berdosa dan seolah – olah belum ada di dunia ini.

Ø  Takhayul mengenai alam ghaib

1.      bombo (setan yang menyerupai manusia dan menurut orang toraja sering menyerupai bentuk wajah orang yang akan meninggal,jadi apa bila seseorang telah keluar bombonya berarti orang ini dalam waktu dekat akan meninggal)
2.   Batitong (adalah hantu yang meyerupai manusia,orang yang batitongan adalah orang yang mendapat  mejik yang tidak sempurna dari si pemberi mejik.jadi batitongan juga termasuk salah satu penyakit.orang yang batitongan sering memakan katak,kotoran binatang,dan ada api keluar dari hidungnya.batitong ini keluar pada malam hari.
3.      pakonian (setan yang  sejenis batitong tetapi yang membedakan pakoni dengan batitong ialah ,batitong hanya keluar pada malam hari sedangkan pakoni juga keluar pada siang hari.).

-          Takhayul terciptanya alam semesta dan dunia

Ø  Takhayul mengenai gejala alam.

1.      bosi bulan (bosi bulan sama dengan gerhana bulan,menurut orang toraja ketika hal ini terjadi semua kegiatan yang berkaitan dengan pertanian tidak bolh dikerjakan karena tidak akan menghasilkan hasil panen yang bagus).
2.      bongi’ – bongi’ (bongi’- bongi’ sama dengan gerhana mata hari,ketika hal ini terjai menurut orang toraja pertanda akan terjadi mala petaka yang besar).
Ø  Takhayul mengenai cuaca.

1.     ma’pamanta’ (ma’pamanta’ adalah sebuah takhayul yang dilakukan ketika musim hujan,hal ini dilakukan seorang pawang hujan,ma’pamanta’ dilakukan dengan berbagai cara,contohnya : merebus batu asa/batu gosok didalam keramik)
2.      melambe uran (melambe uran adalah hal yang dilakukan oleh seorang pawang ketika musim kemarau berkepanjangan.dalam ritual melambe uran hal –hal yang disiapkan adalah ayam yang bulunya berwarna merah dan berbintik – bintik putih dan hitam atau dalam bahasa toraja dikenal dengan nama seppaga atau rame.)
Ø  takhayul mengenai binatang dan peternakan

1.   tedong bulan (tedong bulan atau kerbau albino menurut orang toraja tidak boleh dimakan bahkan tidak boleh di pelihara karena akan membawa malapetaka bagi tuannya dan bagi ternak lainnya,jadi ketika  kerbau ini lahir kerbau ini langsung di bunuh).
2.      manuk ma’sissik lalo (ayam ini tidak boleh di aduh karena dia tidak akan menang).

Ø  Takhayul mengenai tanaman dan pertanian

1. ma’kombongan (ma’kombongan adalah sebuah acara yang dilakukan ketika hamah menyerang padi,dalam acara ma’kombongan masyarakat akan mencari tau siapa yang melakukan kesalahan sehingga dewa marah dan berakibat tanaman/padi terserang hamah,ketika orang yang melakukan kesalahan telah di ketahui maka orang ini akan di kenakan sanksi/denta tertentu,misalnya disuruh potong babi atau ayam ).
2.   ‘ma’pesung /ma’pakande deata (hal ini dilakukan ketika para petani akan menanam padi.ritual ini dilakukan untuk memberi makan kepada dewata dengan harapan dewata akan melindungi tanaman yang akan ditanam agar kelak menghasilkan hasil panen yang melimpah.

terima kasih

Madito Mahardika


sumber penulisan :



FOLKLOR BUKAN LISAN


NAMA : YULI HADI
NO REG : 4423107053

Merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Biasanya meninggalkan bentuk materiil(artefak). Yang termasuk dalam folklor bukan lisan:
(a) Arsitektur rakyat (prasasti, bangunan-banguna suci).
Arsitektur merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
(b) Kerajinan tangan rakyat
Awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
(c) Pakaian/perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah
(d) Obat-obatan tradisional (kunyit dan jahe sebagai obat masuk angin)
(e) Masakan dan minuman tradisional

Rumah bagi orang Jawa merupakan patokan tentramnya suatu keluarga, sebab dengan sudah mampu memiliki rumah, keluarga tersebut sudah merasa tenang, tidak harus nyewa atau ngindung (numpang).
Rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan sangat padat, sehingga hampir tidak ada batas atau garis pemisah antara rumah satu dengan lainnya. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di daerah pedesaan, yang penduduknya masih memiliki pekarangan cukup luas, maka batas antar rumah sangat jelas, misalnya dibatasi pagar, pohon atau tanaman. Dahulu hanya orang yang tergolong dan terpandang dalam masyarakatlah, yang dapat membangun rumah joglo yang besar dan megah. Berbeda dengan orang biasa, pada umumnya mereka membangun rumah setengah permanen, atau rumah bentuk kampung ata rumah limasan sederhana. Perbedaan dari sebutan rumah itu dilihat dari atapnya dan kelengkapan ruangan dalam satu rumah. Tapi sekarang Rumah Joglo sudah dapat dibuat oleh golongan manapun asalkan cukup biayanya.
Orang Jawa menyebut rumah omah yang berarti tempat tinggal. Bentuknya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Bentuk rumah joglo merupakan bentuk rumah tradisional Jawa yang paling sempurna. Bangunan ini memiliki bentuk dan teknik pembuatan tinggi, sehingga tampak sangat megah dan artistik. Keistimewaan rumah joglo terletak pada empat soko guru yang menyangga blandar tumpang sari. Kemudian bagian kerangka yang disebut brunjung yaitu bagian atas keempat soko guru atau tiang utama sampai bubungan yang disebut molo atau suwunan. Oleh karenanya rumah joglo banyak membutuhkan kayu sebagai bahan bangunannya.
Rumah tradisional Jawa bukanlah berbentuk panggung. Sebagai fondosi (bebatur) dibuat dari tanah yang ditinggikan dan dipadatkan atau diperkeras, yang menurut istilah setempat disebut dibrug. Tiang rumah didirikan di atas ompak, yaitu alas tiang dari batu alam berbentuk persegi empat, bulat atau segi delapan. Pada mulanya rumah joglo hanya bertiang empat seperti yang ada di bagian tengah rumah joglo jaman sekarang (soko guru). Selanjutnya joglo diberi tambahan pada bagian samping dan bagian lain, sehingga tiangnya bertambah sesuai dengan kebutuhan.
Susunan Ruangan
Dari halaman depan, pertama-tama yang kita temui adalah ruangan lepas terbuka yang disebut pendopo. Ruang ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, pertemuan bila ada musyawarah serta kegiatan kesenian seperti menari, bermain sandiwara atau pementasan wayang. Pada bagian pinggir pendopo, yaitu bagian emperannya dahulu tempat anak-anak perempuan bermain dakon. Pada waktu ada upacara atau pagelaran kesenian, pendopo ini menjadi tempat pertunjukkan. Sementara para undangan duduk di bagian kanan dan kiri ruang pendopo. Ruang terdepan diperuntukkan bagi iringan gamelan atau musik pemilik rumah beserta keluarga duduk dalam ruangan pendopo menghadap keluar searah bangunan.
Selanjutnya masuk ke ruangan tengah yang disebut pringgitan, tempat untuk mementaskan wayang (pringgit). Kadang-kadang antara pendopo dan pringgitan dibuat terpisah oleh gang kecil yang disebut longkangan. Ruang tersebut digunakan untuk jalan kendaraan kereta atau mobil keluarga. Bila pendopo bersambung dengan pringgitan, maka untuk pemberhentian kendaraan dibuat di depan pendopo, yang disebut kuncung.
Dari ruang tengah kemudian menuju ruang belakang, yang disebut dalem atau omah jero. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang keluarga atau tempat menerima tamu wanita. Di kala ada pementasan wayang kulit, dahulu wanita hanya diperbolehkan menyaksikan di balik kelir, di ruangan ini. Di dalem atau rumah jero, terdapat tiga buah kamar atau senthong yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengah dan senthong tengen (kanan).
Pada para petani, senthong kiwo berfungsi untuk menyimpan senjata atau barang-barang keramat. Senthong tengah untuk menyimpan benih atau bibit akar-akaran atau gabah. Sedangkan senthong tengen untuk ruang tidur. Kadang-kadang senthong tengah dipakai pula untuk berdoa dan pemujaan kepada Dewi Sri. Oleh karenanya disebut juga pasren atau petanen. Senthong tengah tersebut diberi batas kain yang disebut langse atau gedhek, berhias anyaman yang disebut patang aring.
Pada rumah joglo milik bangsawan, senthong tengah ini berisi bermacam-macam benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Setiap benda memiliki arti lambang kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Sebelah kiri, kanan dan belakang senthong terdapat gandhok, yaitu bangunan kecil yang digunakan untuk tempat tinggal kerabat. Bila ada upacara atau kenduri, gandhok ini dipakai untuk tempat para wanita mengerjakan segala keperluan dan persiapan upacara terutama mengatur makanan yang sudah dimasak di dapur. Dapur (pawon) terletak di belakang dalem, yang selain untuk memasak, juga berfungsi sebagai tempat menyimpan perkakas dapur serta bahan makanan seperti kelapa, palawija, beras dan sebagainya. Antara gadhok kiri dan kanan dengan dalem, dibuat gerbang kecil yang disebut seketheng.

Ragam Hias
Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memberi keindahan, yang diharapkan dapat memberi ketentraman dan kesejukan bagi yang menempatinya. Pada orang Jawa di Yogyakarta, hiasan rumah tersebut banyak diilhami oleh flora, fauna, dan alam. Pada alas tiang yang disebut umpak, biasanya diberi hiasan terutama umpak pada soko guru. Hiasan tersebut berupa ukiran bermotif bunga mekar, yang disebut Padma. Padma adalah bunga teratai merah sebagai lambang kesucian, kokoh dan kuat yang tidak mudah tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.
Ragam hias lung-lungan merupakan ragam hias yang paling banyak dijumpai. Lung-lungan berarti batang tumbuh-tumbuhan melata yang masih muda. Hiasan ini biasanya diukirkan pada kayu, banyak mengambil gambar bunga teratai, bunga melati, daun markisa dan tanaman lain yang bersifat melata. Semua hiasan itu memberi arti ketentraman, di samping sifat wingit dan angker.

Ragam hias saton dan tlacapan merupakan dua kesatuan yang tidak terpisahkan, memberi arti persatuan dan kesatuan.
Ragam hias nanasan, mengambil contoh buah nanas yang penuh duri, melambangkan bahwa untuk mendapat sesuatu yang diinginkan, harus mampu mengatasi rintangan yang penuh duri.
Ragam hias yang banyak bernuansa fauna banyak mengambil gambar burung garuda, ayam jago, kala, dan ular. Burung garuda merupakan jenis burung yang paling besar yang mampu terbang tinggi di angkasa, melambangkan pemberantas kejahatan. Biasanya ragam hias garuda dipadukan dengan ragam hias ular, karena ular mempunyai unsur jahat.
Ragam hias jago yang mengambil gambar ayam jago, memiliki arti penghuni rumah mempunyai andalan pada berbagai bidang, baik anak laki-laki maupun perempuan, sebab andalan itu merupakan kebanggaan seluruh keluarga.
Ragam hias perwujudan alam berupa gunung, matahari, dan sebagainya. Ragam hias gunungan berarti hiasan yang bentuknya mirip dengan gunung.
Gunungan merupakan lambang alam semesta dengan puncaknya yang melambangkan pula keagungan dan keesaan. Sedangkan kayon atau pohonnya melambangkan tempat berlindung dan ketentraman. Dengan demikian ragam hias tersebut memberi arti bahwa keluarga yang menempati rumah itu dapat berteduh dan mendapatkan ketentraman, keselamatan serta dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ragam hias praba berarti sinar, mengandung arti menyinari tiang-tiang yang terpancang di rumah tersebut, sehingga dapat menyinari rumah secara keseluruhan.

Ragam hias mega mendhung berarti awan putih dan awan hitam. Mega mendhung melambangkan dua sisi yang berbeda, seperti ada siang ada malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, tegak dan datar, hidup dan mati dan sebagainya. Dengan demikian ragam hias tersebut mengandung makna bahwasannya manusia dalam hidup di dunia ini harus selalu ingat bahwa di dunia ini ada dua sifat yang sangat berbeda, oleh karenanya setiap manusia harus mampu membedakan keduanya dan mana yang lebih bermanfaat dalam hidup sebagai pilihan.



Folklore lisan - mitos Aluk to dolo Suku Toraja


Seorang ahli Folklore asal Amerika Serikat Jan Harold Brunvand menetapkan sebuah definisi yang menjadi batasan dari koridor pengertian Folklore Lisan. Secara definisi Folklore lisan merupakan folklore yang bentuknya murni lisan artinya cerita yang diungkanpkan dan cara penyampaiannya menggunakan media lisan.

Pembentukan Folklore lisan dewasa ini terbagi dalam beberapa jenis dan masing-masing mewakili rupa serta ragam yang berbeda. Yang pertama (1) adalah Bahasa Rakyat, merupakan bahasa yang menjadi media komunikasi antara rakyat setempat dan bahasa utama yang sering digunakan disamping bahasa nasional. Keberadaan bahasa rakyat di dalam sosial kemasyarakatan merupakan media pergaulan dalam kaitannya sebagai sarana bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya termasuk kedalam kosa kata bahasa, dan julukan. Yang kedua (2) adalah ungkapan tradisional. Memiliki makna kalimat pendek yang memang sengaja dipersempit penggunaan perkataannya dan merupakan hasil dari sebuah pengalaman yang panjang atau nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Biasanya bentuknya seperti semacam pribahasa yang mengandung kebenaran dan kebijaksanaan dalam kehidupan atau dalam bentuk ungkapan pepatah. Selanjutnya bentuk yang ketiga (3) adalah pertanyaan tradisonal atau teka-teki. Menurut alan dundes, teka-teki adalah ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan dan untuk menemukan jawabannya biasanya harus ditebak-tebak. Berlanjut pada bentuk keempat (4) adalah Puisi rakyat. Bentuknya merupakan sebuah hasil kesusastraan rakyat yang sudah memiliki bentuk tertentu. Fungsinya sebagai alat kendali sosial, untuk hiburan, untuk memulai suatu permainan, mengganggu orang lain, seperti pantun, syair, dan sajak. Dalam bentuk kelima (5) diklasifikasikan sebagai cerita prosa rakyat. Merupakan suatu cerita yang disampaikan secara turun temurun (dari mulut ke mulut) di dalam komunitas masyarakat tersebut seperti contohnya mitos, legenda, dan dongeng. Yang terakhir bentuk keenam (6) adalah nyanyian rakyat yang mana merupakan sebuah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang tradisional yang mencirikan ke-”khas”an daerah tersebut. Fungsinya adalah sebagai sarana rekreatif masyarakat lokal untuk mengusir kebosanan rutinitas sehari-hari maupun sebagai sarana melepas beban dari kesukaran hidup sehingga menjadi semacam penawar hati.

Suku Toraja sebagai sebuah Suku yang memiliki ragam khasanah budaya yang agung memiliki banyak cerita yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk hanya sekedar memastikan apakah benar hal itu memang terjadi adanya. Keinginan untuk membuktikan secara langsung cerita ini sedikit banyak menjadi salah satu motivasi mengapa banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi lokasi Tana Toraja yang terletak di dataran tinggi Sulawesi Selatan.

Diantara cerita itu tulisan ini akan menceritakan kehadiran sebuah mitos di Tana Toraja yaitu mengenai kepercayaan animisme mereka yang bernama Aluk to Dolo. Mitos sendiri memiliki makna yaitu cerita prosa rakyat yang memiliki tokokh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi pada dunia lain atau kayangan dan penggambaran mengenai dunia setelah mati. Cerita ini dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita ataupun orang-orang yang memang mempercayainya. Pada umumnya mitos menceritakan bagaimana terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan penggambaran alam setelah kematian.

Kembali pada mitos kepercayaan animisme Suku Toraja yaitu Aluk To Dolo. Dalam pengertian yang beredar pada masyarakat Toraja sejak lama, Aluk memiliki makna yaitu budaya atau aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran indochina pada kisaran 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. Tokok penting dalam penyebaran kepercayaan aluk ini bernama Tomanurun Tamboro Langi. Beliau merupakan pembawa kepercayaan Aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Dalam perkembangannya Kepercayaan asli masyarakat toraja kini dikenal dengan sebutan Aluk To Dolo. Kepercayaan asli Suku Toraja ini memiliki makna bahwasannya kesadaran manusia hidup di muka bumi ini hanya untuk sementara saja, prinsip kuat yang tertanam ini mengibaratkan bahwasannya selama tidak ada orang yang bisa menahan matahari terbenam di ufuk barat, maka kematian pun niscaya tidak akan bisa ditunda kedatangannya oleh makhluk hidup.

Mitos yang hidup di kalangan Suku Toraja adalah bila halnya seseorang telah meninggal dunia maka pada akhirnya ia akan menuju ke suatu tempat yang biasa disebut oleh Suku Toraja dengan nama Puyo atau dunia arwah. Puyo dianggap sebagai sebuah tempat dimana seluruh roh berada. Letaknya secara spesifik berada pada bagian selatan tempat tinggal orang tesebut. Namun dalam kepercayaan masyarakat yang menganut ajaran Aluk To Dolo tidak semua roh yang telah berpulang akan dengan sendirinya langsung menuju dan berkumpul di puyo. Dalam prosesnya menuju kesana, perlu didahului dengan rangkaian upacara pengubburan sesuai dengan status sosial orang yang bersangkutan semasa hidupnya. Bila halnya sang mendiang tidak diupacarakan sesuai dengan bagaimana seharusnya maka masyarakat Toraja akan meyakini bahwa yang bersangkutan tidak akan sampai di puyo dan jiwanya akan tersesat.

Agar jiwa orang yang telah meninggal itu sampai pada tujuan yang dikehendaki keluarganya dan tidak tersesat maka upacara yang dilakukan dan diselenggarakan harus sesuai dengan aluk dan mengingat pamali (norma-norma tidak tertulis) yang berlaku pada masyarakat Suku Toraja. Prosesi pada fase ini biasa disebut sebagai sangka atau darma, yang mana memiliki makna mengikuti aturan yang sebenarnya dengan baik dan benar. Jika ada suatu hal yang salah dalam pelaksanaannya atau masyarakat Suku Toraja biasa menyebutnya dengan aluk (tomma liong-liong), maka jiwa orang yang sudah berpulang itu akan tersendat dan justru menuju ke siruga atau surga, menurut seorang pemuka adat di tana Toraja bernama Tato Denna’ yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk To Dolo mendapat gelar sebutan Ne’Sando.

Sepanjang orang yang telah meninggal dunia itu belum diupacarakan maka selama fase periode itu pula lah arwahnya akan berada dalam wujud keadaan setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini biasa mereka sebut sebagai tomebali puang. Menurut kepercayaan masyarakat Suku Toraja selama arwah tesebut belum dilakukan prosesi upacara pemakaman yang memang sudah turun-temurun dilakukan maka arwah ini akan dianggap tetap ada dalam lingkungan rumah tongkonan (rumah tradisional toraja) dan dianggap tetap memperhatikan aktifitas yang terjadi di dalam rumah itu dan dipercaya arwah ini akan memperhatikan bagaimana kehidupan para keturunannya.

Karena kepercayaan inilah maka upacara kematian menjadi sebuah prosesi penting yang sakral dan wajib hukumnya untuk dilakukan oleh siapapun yang merasa bahwa dirinya merupakan berasal dari Suku Toraja. Upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sebisa mungkin harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan secara turun-temurun dari nenek moyang Suku Toraja. Sebelum menetapkan kapan dan dimana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban yang menjadi persembahan pun harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Bedasarkan tingkatannya seorang Suku Toraja yang dikategorikan sebagai bangsawan memiliki ketentuan untuk memotong atau mempersembahkan paling sedikit 24 ekor Kerbau, sedangkan pemuka agama memiliki ketentuan untuk memotong paling sedikit 12 ekor, sementara untuk strata sosial yang lebih rendah lagi yaitu masyarakat biasa maka ia akan dikenakan ketentuan untuk harus memotong sedikitnya lima ekor kerbau, untuk strata yang paling rendah yaitu budak maka ia diharuskan memotong minimal satu ekor kerbau saja.

Bagi masyarakat Suku Toraja sendiri mereka memiliki kepercayaan bahwasannya Kerbau merupakan kendaraan bagi arwah seseorang yang telah meninggal untuk menuju puyo. Pada akhirnya proses akan diakhiri dengan penguburan di batu-batu setelah sebelumnya diawetkan terlebih dahulu jenazahnya agar bisa bertahan lama. Istilah patane atau yang umum kita ketahui sebagai kuburan batu menjadi tempat peristirahatan terakhir jenazah yang penggambarannya adalah kuburan itu berada pada tebing-tebing.

Jika halnya ada bagian-bagian tertentu yang dilanggar oleh keluarga duka misalnya seperti yang meninggal berasal dari kaum bangsawan namun ketika proses diupacarakannya tidak sesuai dengan tingkatan jumlah kerbau yang harus dipersembahkan maka arwah yang meninggal tersebut dipercaya tidak akan menuju puyo rohnya akan tersesat. Sementara bagi jenazah yang diupacarakan sesuai dengan prosedur adat yang ada maka ia dipercaya telah sampai ke puyo dengan ditemani oleh kerbau-kerbau persembahan. Dikatakan juga bahwa keberadaan serta kondisi arwah di puyo akan sangat ditentukan kualitasnya bedasarkan apa yang telah dilakukan pada prosesi upacara pemakaman tersebut. Maka jika prosesi pemakan tersebut memiliki kualitas yang baik maka apa yang diterima oleh arwah di puyo juga akan sepadan. Semakin sempurna kualitas prosesi pemakaman seseorang maka semakin baik pula keadaan orang itu di puyo.

Maka dari itu sebenarnya dapat dimaklumi mengapa masyarakat di Tana Toraja selalu menjadikan prosesi upacara pemakaman sebagai suatu hal yang sangat mengundang perhatian dan juga rasa ingin penasaran orang-orang untuk tahu lebih jauh akan berlangsungnya acara yang selalu diusahakan semegah mungkin tersebut. Pihak keluarga duka maupun kerabat akan mempersembahkan suatu prosesi yang sesempurna mungkin.

Mitos Kepercayaan aluk To Dolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu pandangan terhadap sesuatu yang bersifat kosmos dan kesetiaan pada luhur. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam tata cara bekehidupan dalam masyarakat.

terima kasih

Madito Mahardika


sumber penulisan :