Selasa, 27 Desember 2011

Cerita Budaya dan Kebersamaan Kampung Naga


Indri Yanti
4423107038



Kampung naga adalah sebuah perkampungan tradisional yang telah banyak dikenal sebagai tempat wisata budaya. Disebut perkampungan tradisional, karena kampung ini masih sangat memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat leluhur mereka. Kampung ini dihuni oleh masyarakat yang telah terbuka menerima orang lainyang datang ke kampung ini, dengan adat sunda yang begitu kental, mereka menyambut wisatawan yang ingin belajar tentang budaya mereka dengan tangan terbuka dan ramah.
Lokasi kampung indah ini tidak begitu jauh, karena terletak tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dan kota Tasikmalaya. Kampung ini terletak di Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya, Kecamatan Salawu, Desa Neglasari. Untuk mencapai kampung naga ini kita harus menuruni sekitar 339 anak tangga, dengan tingkat medan jalan yang miring cukup curam, setelah itu menyusuri jalan di pinggir sungai ciwulan.
Rumah penduduk di kampung naga ini semua terlihat sama. Dengan bentuk rumah panggung yang dibawahnya batu, dinding bilik, tiang kayu, cat putih kapur, beratap ijuk, juga rumah disini harus saling berhadapan. Hal ini diwajibkan untuk mencegah rasa kesenjangan sosial sesama masyarakat kampung naga. Mereka menggunakan bahasa sunda dalam interaksi sesama, namun kini mereka juga bisa berbahasa indonesia.
Masyarakat kampung naga semuanya beragama islam, mereka menjalankan ibadahnya sama dengan umat islam lainnya, seperti shalat lima waktu (subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya). Ada juga pengajian untuk anak-anak yang dilakukan dua kali dalam seminggu. Selain itu anak-anak kampung naga juga telah mendapatkan pendidikan dasar walau harus naik ke atas untuk menuntut ilmu. Selain pemukiman, kampung ini juga mempunyai kolam, penangkaran, sawah, masjid, rumah pertemuan, rumah agung (yang tidak boleh ditempati oleh siapa pun), juga tempat-tempat yang dikramatkan oleh mereka.
Mata pencaharian penduduk kampung naga ini, umumnya bercocok taman. Selain itu kini banyak jualan kerajianan di kampung naga, yang dibuat oleh masyarakat kampung naga itu sendiri.
Selama saya dikampung ini, saya berkesempatan untuk menginap di rumah bu asih. Bu asih mempunyai dua anak, namun anak pertama telah menikah dan tidak tinggal menetap di kampung ini karena terbatasnya lahan di kampung naga ini sehingga tidak bisa membangun rumah baru untuk anaknya yang baru menikah.
Keramahan yang diperlihatkan ketika kami sampai di rumah bu asih, beliau mempersilahkan kami untuk beristirahat. Setelah ngobrol sebentar dengan bu asih saya bersiap untuk membersihkan diri.
Ada beberapa kamar mandi di kampung ini, namun bukan milik perorangan, yaitu milik satu kampung. Kamar mandi ini terbuat dari bambu diatas kolam ikan, dan air dari gunung. Memang ada beberapa kamar mandi yang beratapkan ijuk, namun tinggi dari dinding kamar mandi semua hanya sebatas dada saja, tidak bisa menutupi seluruh tubuh, jadi jika mandi harus dengan posisi jongkok. Mereka saling berbagi untuk kebutuhan bersama seperti kamar mandi ini. Kamar mandi ini digunakan untuk mencuci, mandi, juga berwudhu masyarakat disini.
Setelah membersihkan diri kami langsung kembali kerumah bu asih. ternyata makanan telah siap untuk kami santap. Makanan di kampung naga ini tidaj terlalu berbeda dengan makanan sunda lainnya, yang begitu enak dan sehat. Setelah makan kami langsung menuju rumah pertemuan untuk berbincang dengan pemangku adat di kampung naga ini.
Pagi harinya kami siap berkeliling bersama guide untuk mengenal kampung naga yang lebih jelas lagi. Kami memulainya dari depan rumah pertemuan, kampung naga ternyata juga mempunyai alat musik tradisional yang bernama terebang gembrung.
Semua hal masih dilakukan secara tradisional disini, misalnya saat panen padi, mereka akan menumbuk padi tersebut hingga runtuh dari batangnya, lalu di tumbuk lagi hingga semua kulitnya terkelupas. Mereka akan menumbuk padi dengan alat yang masih tradisional juga berat selama 1 sampai 2 jam.
Disamping tempat penumbukan padi ada kolan yag berisikan ikan yang begitu banyak, kata guide yang memberi informasi saat itu, ikan-ikan ini akan di ambil saat penduduk membutuhkannya, contohnya untuk makanan pesta pernikahan. Jika semua kebutuhan penduduk terpenuhi dan masih ada sisa panen ikan ini, baru bisa dijual keluar kampung naga ini. Itulah salah satu contoh yang menunjukan bahwa mereka benar-benar saling berbagi antara sesamanya. Kolam ikan ini juga bisa di buat terapi ikan loh ..karna ikan-ikan akan menggigiti kaki yang kotor saat masuk kedalam kolam tersebut.
Disini juga ada batu yang konon katanya dulu digunakan untuk shalat leluhur mereka, tempat-tempat yang di keramatkan oleh mereka akan di pagar sehingga tidak ada orang yang merusaknya.

Disebrang sungai ciwulan adalah sebuah hutan terlarang, jadi siapa pun tidak boleh masuk atau mengambil sekecil kayu apapun walau sudah tua. Bahkan warga kampung naga sendiri tidak berani untuk masuk atau mengambil hasil hutan tersebut. Warga kampung naga juga tidak ada yang membuang sampah kesungai karena untuk menghormati air itu sendiri dan merusak lingkungan. Mereka akan mengumpulkan sampah mereka pada sebuah tempat sampah, yang ternyata menghasilkan pupuk kompos  untuk tamanan mereka.
Selain bercocok taman juga memelihara ikan, warga kampung naga juga memelihara kambing, namun kambing ini tidak dilepas karena akan merusak tamanan. Kambing ini akan di keluarkan jika di butuhkan atau sedang idul adha.
Cahaya dikampung naga ini dari lampu templok atau petromak. Tidak ada listrik di kampung naga ini, karna menurut pemangku adat, jika ada listrik maka menjadi bahaya jika adanya arus pendek yang memungkinkan terjadinya kebakaran karena bahan rumah yang mudah terbakar. Selain itu jika adanya listrik maka akan ada kesenjangan sosial, karena akan ada warga yang mampu membeli barang elektronik lainnya namun warga lainnya tidak bisa membeli.
Walau demikian, kini warga kampung naga diperbolehkan untuk mempunyai TV atau radio yang bisa dinyalakan menggunakan aki. Namun karna harga aki yang mahal, meski ada TV dan radio mereka tidak bisa menonton atau mendengar radio setiap hari.
Sekilas tentang kampung naga yang menyimpan banyak cerita disetiap jejaknya. Sayang jika hanya bisa mendengar atau mengetahui sedikit tentang kampung cantik ini. Karena kampung naga ini kampung yang patut untuk dikunjungi, sebagai kampung yang selalu membawa cerita setiap pendatangnya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar