Selasa, 27 Desember 2011

Cerita Di Balik Kampung Naga


Nama  : Drieka kesuma putri
No.reg : 4423107033


Berkunjung ke kampung naga adalah pengalaman pertama bagi saya. Untuk menuju kampung naga saya harus melewati jalan yang berbelok-belok dengan tikungan tajam yang menanjak. Pada saat itu saya dari Garut bersama rombongan jurusan saya dan juga dosen menuju Kampung Naga kira-kira setengah jam. Sesampainya saya disana saya masih harus melewati 439 anak tangga dan juga melewati jalan setapak untuk sampai di desa. Setelah sampai kami di bagikan rumah sesuai kelompok untuk kami menginap selama beberapa hari, dan saya beserta teman-teman kelompok saya tinggal di salah satu rumah warga yang bernama ibu Tisa. Ketika saya datang, ibu Tisa menyambut dengan baik dan senyum ramah. Lalu saya disugukan minuman teh dan juga makanan rengginan dan angle (makanan khas Kampung Naga). Karena perjalanan yang cukup jauh, saya dan teman-teman pun langsung minum dan juga mencicipi makanan yang sudah disugukan ibu Tisa. Sambil makan dan minum saya bercengkrama dengan keluarga ibu Tisa. Setelah bercengkrama, saya bergegas untuk bersih-bersih karna masih ada acara di malam hari, yaitu bercengkrama dengan kuncen di Kampung Naga. Setelah selesai bersih-bersih, saya dan teman-teman makan-makanan yang sudah disuguhkan ibu Tisa. Selesai makan saya menuju balai pertemuan untuk acara selanjutnya. Sesampainya saya di balai pertemuan, sudah ada dosen dan juga temen-teman yang lain. Acara pun dimulai, pertama kuncen menjelaskan mengenai masyarakat kampung naga mengenai adat istiadat, pekerjaan sehari-hari masyarakat Kampung Naga, aktivitas anak-anak di kampung naga, tidak adanya listrik di Kampung Naga dan masih banyak lagi. Saat sesi bercengkrama dengan kuncen saya jadi lebih mengetahui banyak hal mengenai sebenarnya kampung naga. Seperti tidak adanya listrik di kampung naga, karena takut terjadi kebakaran, selain itu kebakaran jika listrik masuk ke kampung tersebut dan sebagian penduduk kampung naga mempunyai barang elektronik, seperti tv, kulkas, radio dan barang elektronik lainnya, kuncen takut terjadi kecemburuan sosial kepada para tetangga di kampung naga dan ketika terjadi kecemburuan sosial banyak hal yang bisa di lakukan untuk mendapatkan barang-barang tersebut, seperti menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dengan cara mencuri atau hal lain. Maka dari itu kuncen di kampung naga akan menolak jika ada listrik yang masuk ke kampung tersebut. Lalu penduduk kampung naga adalah orang-orang yang sangat patuh pada larangan-larangan yang ada di kampung tersebut, seperti tidak boleh menebang pohon di hutan kramat dan yang lainnya. Di kampung naga juga mempunyai kesenian lokal, seperti terbang gembung, terbang senja dan angklung. Setelah kuncen menjelaskan mengenai kampung naga  banyak pertanyaan yang diajukan, karna kami ingin tahu lebih banyak mengenai kehidupan masyarakat di Kampung Naga. Karna waktu sudah larut malam, season berinteraksi sudah selesai karna besok paginya kami masih harus beraktivitas. Pagi pun tiba dan saya bersama teman-teman sudah siap melakukan aktivitas di hari itu. Sebelum saya melanjutkan aktivitas, saya terlebih dahulu mandi. Karna kamar mandi hanya ada di dekat sungai, maka kami harus berjalan dahulu untuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan sesampainya di rumah ibu Tisa, ibu Tisa sedang memasak makanan untuk kami. Beberapa menit kemudian makanan selesai dan kami di persilahkan untuk makan. Saya sangat senang makan di rumah ibu Tisa karna masakannya yang enak apalagi sambelnya. Setelah makan, saya dan teman saya sempat bercengkrama sebentar dengan ibu Tisa. Beliau menceritakan pekerjaannya adalah menganyam bambu dan akan dibuat menjadi cerempeh, asepan, kipas tangan dan masih banyak lagi, dimana hasilnya akan di jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan ibu Tisa sempat bercerita tentang gempa yang melanda kota Garut yang dekat dari Kampung naga, pada waktu itu terjadi gempa yang cukup kencang sehingga menghancurkan bangunan rumah di perkotaan, namun di Kampung Naga tidak ada satupun rumah yang rusak atau hancur karna gempa. Dan saya sempat bertanya mengenai struktur bangunan rumah, ternyata rumah hanya terbuat dari bambu yang beratap jerami. Dan kata ibu Tisa, bambu itu lentur sehingga tidak menyebabkan rumah hancur. Tidak terasa waktu sudah menujukan pukul 09.00 dan itu artinya waktu untuk menginap sudah selesai karna kami masih harus melanjutkan perjalanan di kota Bandung. Saya dan teman-teman pun pamit kepada ibu Tisa. Teman-teman saya yang lain sudah berkumpul di balai pertemuan. Setelah berkumpul semuanya kami diajak oleh tour guide lokal untuk mengelilingi desa sambil dijelaskan. Saya bisa melihat langsung aktivitas di pagi hari masyarakat Kampung Naga. 

Ada yang menumbuk padi, ada yang sedang bertani dan masih banyak lagi. Saat kami menghampiri ibu-ibu yang sedang menumbuk padi, kami pun di perbolehkan untuk mencoba menumbuk padi. Pada saat melihat dan melakukan memang berbeda, mungkin pada saat melihat terasa mudah tetapi ketika saya mencoba itu terasa sulit. Ternyata menumbuk padi tidak hanya sekedar menumbuk tetapi ada teknik-tekniknya. Tepat disamping tempat menumbuk padi ada sebuah kolam ikan yang dimana kolam tersebut berisi banyak ikan yang besar-besar. ada yang bertanya “apakah ikan-ikan ini di jual keluar desa” dan jawaban tour guide “ tidak, karna ikan-ikan ini akan di pergunakan untuk masyarakat Kampung Naga saja seperti ada acara, masyarakat Kampung Naga akan mengambil ikan di kolam tersebut”. Setelah 1 jam mengelilingi desa tidak terasa waktu sudah selesai dan kami harus meninggalkan Kampung Naga untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Bandung. Dari semua ini saya mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga, karna kekompakan masyarakat Kampung Naga dalam menjalani segala hal. Lalu saya juga belajar, dengan keterbatasan yang ada di Kampung tersebut, seperti tidak adanya listrik, kamar mandi yang jauh dari rumah mereka dan hal-hal lain yang mungkin sedikit menghambat untuk kelangsungan aktifitas mereka tetapi mereka tetap bertahan hidup tanpa mengeluh dengan keterbatasan yang mereka punya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar