Senin, 26 Desember 2011

PENGALAMAN PERJALANAN DI KAMPUNG NAGA


Rombongan Mahasiswa Pariwisata UNJ
Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menuangkan apa yang saya pikirkan, saya rasakan, dan menjadi kekaguman saya selama berada di kampung naga dalam rangka kegiatan wajib perkuliahan yang saya lakukan. lokasi kampung naga berada tidak jauh dari jalan utama menuju kota tasikmalaya dan kampung naga sendiri terletak di sebuah lembah yang asri dihiasi oleh ladang persawahan yang beberapa diantaranya sudah panen serta berada tepat di sebelah aliran sungai Ciwulan yang besar dan deras. meskipun masih di kejauhan nyatanya yang terlihat dari kejauhan ini sudah berhasil membuat sepasang mata saya penasaran untuk menyibak keindahan yang dimiliki oleh lokasi itu. paduan tampilan awal ini sudah cukup membuat saya kagum akan ciptaan yang maha kuasa itu terlebih ketika menuruni anak tangga yang jumlahnya mencapai ratusan menuju lokasi membuat saya merasa bahwa tidak mengherankan lokasi kampung naga menjadi destinasi favorit baik untuk pangsa pasar wisatawan lokal maupun mancanegara untuk bagaimana mengetahui sebuah cara hidup yang bertolak belakang dengan pakem yang selama ini ada. dan belajar bagaimana alam ternyata sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia baik secara sandang maupun pangan jika kita mau melihatnya secara lebih bijaksana.
Pemandangan Kp. Naga dari anak tangga (sumber: antarfoto.com)
kiranya satu foto diatas yang saya ambil dari sumber terlampir adalah tepat persis seperti apa yang saya gambarkan di paragraf pembuka diatas sebuah model perkampungan yang sangat tipikal seperti sebuah destinasi yang telah dibentuk untuk keperluan pariwisata. namun ternyata bentuk kampung naga hari ini bukanlah sebuah lokasi yang sengaja di rekayasa untuk keperluan pariwisata melainkan dari sejak awal berdirinya kampung ini setting tempat kampung tersebut sama sekali belum terjadi perubahan ataupun perluasan meskipun ada pernah terjadi sebuah rumah yang dipindah dari tempat asli berdirinya ke lokasi baru atas beberapa alasan khusus. dan memang apa yang kampung naga tawarkan adalah sebuah pelajaran kehidupan yang sebenarnya menjadi pakem bagaimana manusia menghargai alam yang pada hakikatnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari setiap individu. apa yang masyarakat kampung naga demonstrasikan dalam kesehariannya telah membuka mata saya bahwa tidak melulu sesuatu yang sifatnya berbau modern menjadi suatu hal yang baik dan benar dalam aspek-aspek tertentu.


Keseharian Masyarakat Kampung Naga

Jalan kecil di kompleks pemukiman Kp. Naga

Dalam keseharian serta rutinitasnya, sikap masyarakat di kampung naga mencerminkan kesederhanaan serta kesahajaan yang ditunjukan dalam berbagai segi serta aspek kehidupan. Dari yang sederhana kita dapat melihat bahwasannya rumah yang ada di kampung naga tidak menggunakan material-material yang sama seperti kebanyakan masyarakat pada hari ini gunakan. artinya dalam hal ini masyarakat kampung naga masih murni menggunakan kayu yang dibuat secara swadaya tanpa ada campur tangan industrisasi. bagian-bagian rumah seperti tembok, alas rumah serta tangga masih menggunakan kayu yang telah diolah dengan menggunakan metode turun-temurun. untuk penggunaan atap masyarakat menggunakan lapisan ijuk yang mereka yakini jauh lebih baik dibandingkan genting dan atap sejenis lainnya yang banyak digunakan masyarakat indonesia pada hari ini.
Sumber gambar :rahmatkusnadi6.blogspot.com

Dalam segi berpakaian masyarakat kampung naga tidak menonjolkan ciri khas tertentu atau penanda bahwa motivasi mereka dalam berpakaian adalah sebagai penanda status sosial atau semacamnya. Motivasi berpakaian seluruh masyarakat kampung naga justru semata-mata untuk menutupi aurat mereka dan sebagai pelindung dari cuaca yang ada disana. Sebuah motivasi yang kiranya adalah dasar utama mengapa manusia berpakaian dari jaman nenek moyang. Kesama-rataan dalam berpakaian ini juga menurut pengakuan masyarakat kampung naga adalah sebagai simbol bahwa manusia di mata tuhan adalah sama. Tidak ada yang kaya dan tidak ada pula yang miskin secara ekonomi. khusus untuk wanita kebiasaan yang tertanam disana adalah menggunakan kebaya dan menggunakan bawahan kain. namun seiring berkembangnya jaman dan beberapa faktor yang sebenarnya adalah dampak arus kunjungan orang luar yang begitu deras, kebiasaan menggunakan kebaya di kampung naga bagi wanita kini telah luntur meskipun mereka masih tetap mempertahankan untuk menggunakan kain bawahan dalam kesehariannya. kini memakai kebaya telah bergeser nilainya bukan sebagai pakaian sehari-hari lagi melainkan menjadi pakaian yang dipakai hanya ketika ada upacara adat.
Kaum wanita di Kp. naga sedang menumbuk padi
 
Di pagi hari, masyarakat kampung naga terlihat telah sibuk dengan kesibukan masing-masing untuk memenuhi kebutuhan mereka. Masing-masing kepala keluarga di kampung naga memiliki mata pencaharian yang umumnya sama yaitu sebagai petani yang lahannya terletak di sekitaran kampung naga, beberapa diantaranya juga ada yang menggunakan lahan dibawah rumah panggungnya sebagai ladang pertanian. namun tidak sedikit dari mereka yang menggarap tanah orang lain yang letaknya berada di luar kampung naga. Sehingga mereka harus berangkat dari rumah lebih awal. Selain bertani masyarakat kampung naga juga ada yang berprofesi sebagai pengrajin kesenian. Untuk kalangan wanita biasanya bila tidak membantu suaminya di ladang, mereka biasa berada di rumah untuk mengurus keperluan rumah tangga, menumbuk padi, dan bila ada salah satu kepala keluarga yang kolam ikannya sedang panen maka para tetangga dari kaum wanita akan dengan senang hati bersedia membantu untuk memanen serta  membumbui ikan-ikan ini untuk dikonsumsi bersama. Dalam menjalani rutinitas sehari-hari, masyarakat kampung naga memilih untuk hidup secara sederhana dan membiasakan diri mereka dalam kesederhanaan yang elegan serta bersahaja. Cara serta gaya hidup mereka ini ternyata memang sudah menjadi trademark yang melekat sebagai daerah tujuan favorit wisata dalam kategori desa wisata. Kebiasaan sehari-hari yang identik dengan kesederhanaan ini setidaknya berhasil mengantarkan kampung naga sebagai desa wisata yang memiliki kekuatan tersendiri serta daya tarik yang membuat banyak orang berminat untuk ikut serta menjalani kehidupan yang sama dengan keseharian masyarakat kampung naga.

Tampak suasana dapur dari salah satu rumah penduduk Kp. Naga


 Kesederhanaan tersebut bisa nampak dari peralatan rumah tangga yang mereka miliki. Meskipun pemerintah setempat telah menawarkan pemfasilitasan listrik serta gas LPG di kampung naga, kenyataannya masyarakat melalui kuncen menolak keberadaan listrik yang dikhawatirkan keberadaannya justru hanya menimbulkan dampak negatif saja dibandingkan dampak positifnya. Selain itu juga menurut kepercayaan yang mereka yakini, keberadaan listrik memang hanya akan membuat berbagai dampak negatif yang tidak diharapkan bermunculan seperti misalnya arus pendek yang di khawatirkan akan mengakibatkan kebakaran hebat mengingat material arsitektur rumah penduduk di kampung naga masih didominasi oleh kayu. keberadaan gas LPG juga menjadi satu hal yang tidak diinginkan karena keberadaannya justru dikhawatirkan akan menjadi sebuah ancaman mengingat mayoritas masyarakat kampung naga sama sekali tidak terbiasa memasak dengan menggunakan media selain kayu bakar dan tungku. Selain hal tersebut dengan adanya listrik di lingkungan mereka, para petinggi kampung naga juga khawatir arus modernisasi akan datang secara masif sehingga dikhawatirkan kesenjangan sosial nantinya akan menjadi sebuah isu yang begitu besar dan membuat harmonisasi sosial yang selama ini telah dijaga menjadi terganggu.

anak di Kp. Naga mulai berangkat ke sekolah (gambar diambil pada pukul 06.00 AM)

Kesadaran akan pentingnya pendidikan di kampung naga setidaknya telah terlihat dari kemauan para orang tua untuk menyekolahan anak mereka. Pada pagi hari anak-anak di kampung naga pergi bersekolah seperti sebagaimana kebanyakan anak-anak seusianya yang masih menginjak pendidikan sekolah dasar. Berbeda dengan beberapa desa wisata di pulau jawa, disamping isu ekonomi tentunya. para orang tua di kampung naga memang menginginkan anak-anak mereka untuk bersekolah minimal sampai taraf pendidikan Sekolah Dasar meskipun beberapa dari mereka ada yang melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi namun jumlahnya tidak begitu banyak.


Bentuk Komunikasi


Pertemuan dengan sesepuh Kp. Naga di Pendopo utama
Masyarakat Kampung naga dalam kesehariannya bersosialisasi menggunakan media Bahasa Sunda. Hal ini berkaitan dengan letak geografis mereka yang berada di Jawa Barat dan secara linear memiliki darah keturunan Sunda. Sehari-hari masyarakat kampung naga memiliki dua bentuk cara dalam berkomunikasi yaitu dengan menggunakan cara berkomunikasi secara formal dan informal. Seperti yang hari ini terjadi di kehidupan masyarakat kota, tatanan dalam berkomunikasi masyarakat kampung naga juga memiliki rumpun yang sama. Dalam praktiknya, komunikasi formal adalah cara berkomunikasi yang biasanya dilakukan dikala kesempatan-kesempatan yang memang menuntut situasi berjalan dengan cara formal seperti ketika dilaksanakannya upacara adat. Sedangkan untuk komunikasi informal biasanya digunakan dikala situasi berjalan biasa seperti ketika mengobrol santai atau ketika terjadi perbincangan ringan.

Kebiasaan komunikasi informal yang dimiliki oleh masyarakat kampung naga adalah ketika mereka berkomunikasi serta berinteraksi dengan satu sama lain mereka cenderung menggunakan bahasa-bahasa serta alunan intonasi kata yang halus dan pelan. Hal ini sangat berkaitan dengan letak rumah penduduk kampung naga yang memang berdekatan satu sama lain sehingga jika seseorang berbicara terlalu keras maka akan terdengar ke sebelah rumah atau bahkan keluar rumah. Hal ini yang menyebabkan mengapa masyarakat kampung naga bila berkomunikasi antar sesamanya terkesan lemah lembut dan halus dengan menggunakan intensitas suara yang cenderung kecil atau pelan. Bila berkomunikasi dengan lawan jenis, masyarakat kampung naga cenderung menghindari interaksi mata atau lebih memilih melihat bukan kearah wajah. Ini disebabkan karena masyarakat kampung naga ingin menghindari perbuatan zina dan semacamnya.

Dalam berkomunikasi secara formal, biasanya dilakukan ketika diadakannya upacara adat di waktu-waktu tertentu yang dipimpin oleh kuncen ataupun sesepuh desa lainnya dalam kurun waktu mengikuti kalender Islam. Dalam memimpin upacara adat, kata-kata yang diucapkan oleh kuncen dikatakan dengan Bahasa Sunda yang sangat serius padanan katanya dan memiliki makna yang sakral dengan materi kata yang biasanya diucapkan sama di setiap upacara-upacara adat masyarakat kampung naga. Dalam sebuah upacara tertentu misalnya kuncen akan berkata-kata dengan menggunakan kata yang itu itu saja dari setiap generasi. Ketika upacara adat yang berbeda digelar maka kata-kata yang diucapkan oleh Kuncen akan berbeda dari upacara yang sebelumnya dan yang lain namun masih menggunakan tonggak yang sama seperti masa lampau. Jadi kata-kata formal ini hanya terjadi di kala situasi memang membutuhkan.

Bahasa Sunda yang ada di Kampung Naga tidak memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan kebanyakan bahasa sunda yang ada hari ini ataupun di sekitaran kampung naga sendiri seperti Tasikmalaya dan Garut baik dalam penggunaannya maupun dialek atau logat yang digunakan. Dalam pemakaiannya sendiri Bahasa Sunda memiliki tiga tingkatan bahasa, ada bahasa sunda halus, sedang, dan kasar. Bahasa halus pada umumnya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan bahasa sunda sedang umumnya digunakan untuk berkomunikasi dengan yang setaraf atau kondisi sosialnya sama dengan si pembicara. Sedangkan untuk bahasa sunda kasar umumnya digunakan oleh para majikan untuk menyuruh pelayannya melakukan sesuatu. Di Kampung Naga sendiri penggunaan bahasa Sunda halus dan sedang sering saya temukan dan menjadi media berkomunikasi mereka sehari-hari. Untuk penggunaan bahasa sunda kasar sendiri ketika persinggahan yang saya lakukan disana, saya tidak menemukan masyarakat kampung naga yang menggunakan model bahasa sunda kasar. Baik dari segi intonasi maupun gaya bahasanya.

Dalam kesehariannya, masyarakat kampung naga tidak mengenal perbedaan tingkatan penggunaan bahasa baik secara individu dengan individu lainnya ataupun secara strata sosial serta usia. Kepada anak-anak, teman sebaya, maupun kepada orang yang lebih tua bahasa yang digunakan oleh masyarakat kampung naga sama saja dalam segi tingkatan penggunaannya. hal ini sebenarnya juga turut mendasari mengapa mereka tidak mengucapkan kata-kata yang berkonotasi bahasa sunda kasar. Pola komunikasi ini sebenarnya mencerminkan gambaran hidup serta pegangan kepercayaan mereka bahwa pada dasarnya tiap-tiap manusia di muka bumi ini adalah sama.

Demikianlah pengalaman perjalanan yang saya lakukan selama di kampung naga. waktu yang amat terbatas selama disana (kami hanya sempat berada satu malam) memang membuat tulisan ini tidak bisa lebih jauh lagi. sebenarnya masih banyak lagi dari sisi lain kampung naga yang masih ingin saya ketahui seperti misalnya keberadaan sebuah hutan terlarang yang bahkan masyarakat lokal sendiri tidak diperkenankan untuk memasuki atau mengambil apapun dari hutan tersebut dan berbagai hal lainnya baik yang sederhana maupun yang sifatnya khusus. tapi dilihat dari segi apapun perjalanan tersebut telah membuat saya secara pribadi memiliki sebuah pandangan hidup baru bahwasannya kesederhanaan bukanlah sebuah hal yang senantiasa identik dengan hal yang membosankan dan tidak layak untuk dicoba. tapi kesederhanaan adalah media pembelajaran bagaimana seorang individu dituntut untuk mengambil kebaikan dari segala aspek yang tersedia untuk diambil pelajarannya dan menjadi sebuah terobosan yang unik dalam kehidupan individu tersebut.

Madito Mahardika 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar