Rabu, 08 Juni 2011

ISTANA KADRIYAH PONTIANAK

NAMA  : PUGO SURYA ADHITAMA
NIM     : 4423107050
ISTANA KADRIYAH PONTIANAK

A. SEJARAH SINGKAT KERAJAAN

          Istana Kadriah merupakan cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak. Pontianak merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Barat, kota ini juga dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Keberadaan Istana Kadriah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri (1738-1808 M), yang di masa mudanya telah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dengan saudagar dari berbagai negara. Namun ada 3 cerita yang berkembang di masyarakat akan berdirinya Istana Kadriyah Pontianak yang pertama nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Radjab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Jami’ Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.  
Yang kedua ketika ayahnya Habib Husein Alkadri, yang pernah menjadi hakim agama Kerajaan Matan dan ulama terkemuka Kerajaan Mempawah, wafat pada tahun 1770 M, Syarif Abdurrahman bersama keluarganya memutuskan mencari daerah pemukiman baru. Batu Layang merupakan salah satu daerah yang mereka singgahi. Di sini, rombongan tersebut bertemu dengan para perompak, dan berhasil mengalahkan mereka. Kemudian, rombongan Syarif Abdurrahman melanjutkan pelayaran mencari daerah yang lebih baik. Pada tanggal 23 Oktober 1771 M (24 Rajab 1181 H), mereka tiba di daerah dekat pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas. Kemudian, mereka memutuskan untuk menetap didaerah tersebut. Dan Istana Kadriah mulai dibangun pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M. Tak beberapa lama kemudian, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri pun dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak.
Yang ketiga Istana Kadriyah dibangun pada tahun 1771 M, bersamaan dengan pembangunan Masjid Abdurrahman. Pendirian istana ini dilakukan setelah selesainya pembukaan daerah baru, yang dinamai Pontianak. Ketika  Habib Husein Alkadri yang merupakan seorang penyebar agama Islam dari jawa keturunan arab, lalu ia meninggalkan kediamannya di Semarang pada tahun 1733 M, menuju kerajaan Matan, Kalimantan Barat sekarang. Oleh Raja Matan ia diangkat menjadi Mufti kerajaan. Habib Husein Alkadrie kemudian dinikahkan dengan salah satu putrid sultan. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang bernama Sayyid Syarif Abdurrahman. Namun  terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, pindah dan bermukim di Kerajaan Mempawah hingga ia meninggal dunia. Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya, Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian memutuskan pergi dari Mempawah pada tahun 1771 M, dengan maksud untuk menyebarkan agama Islam. Bersama rombongan yang berjumlah 14 buah perahu, Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu. Pada 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di daerah yang berbentuk tanjung ini, mereka naik ke darat, menebas hutan belantara untuk djadikan daerah pemukiman baru yang kemudian dinamakan Pontianak. Di daerah baru tersebut, segera berdiri sebuah kerajaan baru yaitu Pontianak. Kemudian dibangun sebuah masjid dan istana untuk sultan. Masjid tersebut adalah Masjid Abdurrahman, dan istananya adalah Istana Kadriah.
Masjid Abdurrahman terdapat enam pilar dari kayu belian berdiameter setengah meter. Dua pelukan tangan orang dewasa tak akan mampu mencapai lingkaran pilar. Selain pilar bundar, juga ada enam tiang penyangga lainnya yang menjulang ke langit-langit masjid, berbentuk bujur sangkar.Pilar bujur sangkar itu berukuran kayu belian untuk tiang rumah dewasa ini. Namun ukurannya di atas rata-rata. Jika sekarang ada ukuran 6x6, 7x7, 8x8, dan 10x10 maka tiang tersebut lebih besar lagi. Masjid itu memiliki mimbar tempat khutbah yang unik, mirip geladak kapal. Pada sisi kiri dan kanan mimbar terdapat kaligrafi yang ditulis pada kayu plafon. Hampir 90 persen konstruksi bangunan masjid terbuat dari kayu belian. Atapnya yang semula dari rumbia, kini menggunakan sirap, potongan belian berukuran tipis. Atapnya bertingkat empat. Pada tingkat kedua, terdapat jendela-jendela kaca berukuran kecil. Sementara di bagian paling atas, atapnya mirip kuncup bunga atau stupa.Jendelanya yang berjejeran dengan pintu masuk, berukuran besar-besar, juga dari kaca tembus pandang. Ada pula kaca yang berwarna merah dan kuning.Jarak antara lantai masjid dengan tanah, sekira 50 centimeter. Masjid dan Istana Kadriyah merupakan pusat kerajaan ponitanak ini.

B. ARSITEKTUR KERATON

Arsitektur Istana Kadriyah sangat menarik terutama pada bagian pintu utama. Ada ornamen perpaduan melayu, kolonial Belanda dan Timur Tengah. Terutama pada bagian atas pintu yang terdapat lambang bintang dan bulan sabit .Konstruksi Istana Kadriah hampir semuanya dari kayu besi, sehingga bisa bertahan lama. Bangunan istana memiliki kolong yang agak tinggi. Konstruksi ini merupakan bagian dari tradisi lokal Kalimantan. Istana ini terdiri dari empat lantai dengan anjungan yang berorientasi ke sungai. Bagian lantai utama berdenah segi empat, dikelilingi oleh serambi. Keberadaan serambi yang mengelilingi ruang lantai utama ini merupakan bagian dari ciri khas bangunan tropis. Serambi tersebut berfungsi sebagai ruang peralihan dari bagian luar ke dalam, dan juga untuk mencegah cahaya matahari ataupun hujan masuk secara langsung ke dalam ruang utama. Atap anjungan terdiri dari dua lantai dan berbentuk pelana, namun ada juga beberapa bagian lainnya yang berbentuk limasan dengan empat sisi miring.
Istana Kadriyah mirip seperti rumah melayu pada umumnya yang dimana dijadikan tempat kediaman keluarga, tempat bermusyawarah, tempat beradat berketurunan, tempat berlindung siapa saja yang memerlukannya. Rumah bukan saja sebagai tempat tinggal di mana kegiatan kehidupan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tetapi juga menjadi lambang kesempurnaan hidup. Beberapa ungkapan tradisional Melayu menyebutkan rumah sebagai “Cahaya Hidup di Bumi, Tempat Beradat Berketurunan, Tempat Berlabuh Kaum Kerabat, Tempat Singgah Dagang Lalu, Hutang Orang tua kepada Anaknya”. rumah kediaman menjadi ukuran apakah seseorang bertanggung jawab terhadap keluarganya atau tidak. Orang yang tidak berumah sendiri, lazim dianggap tidak atau kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak istrinya. Oleh karena itu orang Melayu selalu berusaha mendirikan rumah kediaman. Sedangkan dari sisi spiritualnya, rumah itu dapat mendatangkan kebahagiaan, kenyamanan, kedamaian dan ketenteraman. Menurut tradisi, orang Melayu percaya kepada empat cahaya di bumi yang terdiri dari rumah tangga, ladang bertumpuk, beras padi, dan anak muda-muda. Cahaya pertama yaitu rumah tangga hendaklah dipelihara sebaik-baiknya dengan dipagari oleh adat atau tradisi. Karena luasnya kandungan makna dan fungsi bangunan dalam kehidupan orang Melayu, yang akan menjadi kebanggaan dan memberikan kesempurnaan hidup, bangunan sebaiknya didirikan melalui tata cara pembuatan yang sesuai dengan ketentuan adat. Dengan memakai tata cara yang tertib, barulah sebuah bangunan dapat disebut “Rumah Sebenar Rumah”.
Istana Kadriyah memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini sesuai dengan iklim setempat serta kebiasaan yang sudah turun temurun. Tinggi tiang penyangga rumah sekitar dua sampai dua setengah meter. Tinggi rumah induk bagian atas sekitar tiga atau tiga setengah meter. Suasana di dalam ruangan sejuk dan segar karena banyak memiliki jendela serta lubang angin (ventilasi). Setiap ruangan pada rumah Melayu memiliki nama dan fungsi tertentu. Selang depan berfungsi sebagai tempat meletakkan barang-barang tamu, yang tidak dibawa ke dalam ruangan. Ruang serambi depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu pria, tetangga dekat, orang-orang terhormat, dan yang dituakan. Ruangan serambi tengah atau ruang induk berfungsi sebagai tempat menerima tamu agung, dan yang sangat dihormati. Ruang selang samping berfungsi sebagai tempat meletakkan barang yang tidak dibawa ke dalam ruang serambi belakang. Tempat ini merupakan jalan masuk bagi tamu perempuan. Ruang dapur dipergunakan untuk memasak dan menyimpan barang-barang keperluan dapur. Karena susunan papan lantainya jarang, maka sampah dapat langsung dibuang ke tanah. Dan WC terletak dibelakang. Pintu masuk di bagian muka rumah disebut pintu muka. Sedangkan pintu di bagian belakang disebut pintu dapur atau pintu belakang. Pintu yang ada di ruangan tengah pada rumah yang berbilik, pintu yang menghubungkan bilik dengan bilik disebut pintu malim atau pintu curi. Pintu ini khusus untuk keluarga perempuan terdekat atau untuk anak gadis, dan dibuat terutama untuk menjaga supaya jika penghuni rumah memiliki keperluan dari satu bilik ke bilik lainnya tidak melewati ruangan tengah. Apalagi bila di ruangan tersebut sedang ada tamu. Sudah menjadi adat, bahwa ruangan tengah dipergunakan untuk menerima tamu yang terdiri dari orang tua-tua, atau kerabat terdekat yang dihormati. Amatlah tabu kalau anak-anak, terutama anak gadis, atau pemilik rumah lalu lalang di depan tamu untuk mengambil sesuatu dari biliknya. Untuk menghindarkan hal yang dilarang tersebut, maka dibuat pintu khusus yang disebut pintu malim atau pintu curi. Di samping itu ada pula pintu yang dibuat khusus disebut Pintu Bulak, yaitu pintu yang tidak memiliki tangga keluar. Pada prinsipnya pintu ini sama seperti jendela, hanya ukurannya yang berbeda.
Jendela pada Istana Kadriyah disebut Tingkap atau Pelinguk. Bentuknya sama seperti bentuk pintu. Tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih rendah. Lantai rumah induk lebih tinggi dibandingkan dengan lantai beranda depan dan beranda belakang. Lantai beranda lebih tinggi dari lantai selasar. Lantai selasar lebih tinggi dari lantai dapur. Ada kalanya sama dengan lantai Penanggah. Tinggi lantai rumah induk biasanya lima sampai enam kaki dari permukaan tanah. Lantai serambi depan lebih rendah satu kaki dari lantai ruang duduk. Demikian pula beranda belakang. Lantai dapur lebih rendah lagi dari lantai beranda belakang dan yang paling rendah adalah lantai Selang atau Pelataran. Lantai selang dibuat jarang berjarak sekitar dua jari dengan lebar papan empat inci. Papan dinding dipasang vertical. Tangga istana menghadap ke jalan umum. Kaki tangga terhunjam ke dalam tanah atau diberi alas dengan benda keras. Bagian atas disandarkan miring ke ambang pintu dan terletak di atas bendul. Anak tangga dapat berbentuk bulat. Anak tangga kebanyakan berjumlah ganjil. Sebab menurut kepercayaan, bilangan genap kurang baik artinya. Tangga depan selalu berada di bawah atap dan terletak pada pintu serambi muka atau selang muka. Tangga penghubung setiap ruangan terdiri atas satu atau tiga buah anak tangga. Di sebelah kiri dan kanan tangga ada kalanya diberi tangan tangga yang dipasang sejajar dengan tiang tangga. Dan selalu diberi hiasan berupa Kisi-kisi Larik (Bubut) Anak tangga adakalanya diikat dengan tali kepada tiang tangga. Tali pengikat terbuat dari rotan. Dalam bangunan tradisional Melayu, terdapat dua jenis tangga, yakni tangga bulat dan tangga picak tangga bulat yakni tangga dari kayu bulat. Anak tangganya diikat dengan rotan ke induk tangga. Susunan anak tangga, cara mengikat tali tangga dan bagian-bagian induk tangga mengandung makna tertentu. Tangga picak adalah tangga pipih yang terbuat dari papan tebal. Jika anak tangga menembus tiang tangga, maka disebut Pahatan Tebuk atau Tangga Bercekam. Kepala tiang tangga selalu diberi ukiran yang disebut Kumaian, demikian pula pada sisi tiang tangga.
Pada arsitektur tradisional Melayu terkandung nilai budaya yang tinggi. Hal ini terlihat dari bentuk bubungan yang tidak lurus. Tetapi agak mencuat ke kanan dan ke kiri. Dapat disimpulkan bahwa para ahli pembuat rumah Melayu zaman dahulu telah memikirkan faktor keindahan pada bubungan rumah yang mereka diami. Dan juga istana ini menghadap ke matahari terbit. Ini berarti mengharapkan berkah dan rahmat seperti halnya matahari pagi yang bersinar cerah. Tulang rabung tidak boleh dibuat hanya dari sebatang kayu utuh. Tetapi harus dibuat bersambung pada pertengahannya hal ini merupakan symbol tenggang rasa. Dari segi keindahan, terlihat adanya ragam hias yang bermacam-macam bentuk dan coraknya, sehingga menunjukkan tingginya kebudayaan ukiran tradisional Melayu. Demikian pula dengan susunan ruangan. Terlihat adanya tingkatan penghormatan terhadap para temu yang datang.
Istana ini memiliki tiang-tiang tinggi yang dimana untuk menjaga keselamatan penghuni dar ancaman binatang buas, juga dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan pemilik rumah. Banyaknya jendela dan lubang angin menjamin kesegaran dan kenyamanan orang yang menempati rumah. Rumah serta letak jendela dan pintu yang tinggi membuat kedatangan tamu ataupun ancaman telah tampak dari jauh. Sehingga persiapan penyambutan dapat dilakukan dengan baik. Namun dapat kita lihat perbedaan dengan rumah melayu sekarang yang dimana lebih , tingkat pendidikan dan wawasan, tingkat social-ekonomi, serta tempat tingal atau domisili berpengaruh terhadap konsep, selera, serta kebutuhan orang Melayu tentang rumah. Hal ini tercermin pada cara pembuatan, pemilihan bahan, sekaligus bentuk dan fungsi rumah Melayu. Pada proses pembangunan rumah, peranlain sebagainya dengan mantra-mantra yang bernuansa mistis dan animis tidak lagi dipandang perlu. Demikian juga halnya dengan perhitungan waktu, arah, serta lokasi rumah. Dengan alasan kepraktisan, upacara-upacara tidak lagi dilaksanakan. Musyawarah juga tidak lagi menjadi syarat, terutama bagi orang-orang Melayu yang tinggal di perkotaan. Pola hidup masyarakat kota yang sibuk dan cendrung individualistis menyebabkan pembangunan sebuah rumah menjadi persoalan pribadi sebuah keluarga, bukan lagi persoalan masyarakat.
Bentuk dan fungsi rumah pun berubah, rumah tidak lagi harus berupa rumah panggung, karena dengan pemakaian lantai keramik, bentuk rumah panggung mengharuskan lantai dicor beton. Dan ini mengakibatkan biaya pembuatannya menjadi mahal. Lagi pula, ruang kosong di bawah lantai pada rumah panggung kurang efisien dari segi fungsi. Tujuan semula pemilihan bentuk rumah panggung pada rumah tradisional, yaitu untuk mengantisipasi banjir dan pasang surut di daerah pantai, atau sebagai tempat orang bekerja, tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi rumah di perkotaan. Sikap hidup orang modern yang lebih mengutamakan privasi juga membuat rumah tidak lagi berupa ruang-ruang terbuka yang mencerminkan masyarakat komunal. Kamar tidur menjadi kebutuhan pokok setiap anggota keluarga, selain ruang-ruang publik yang memang dirancang untuk keperluan komunikasi social. Paradoks dengan konsep rumah modern yang merupakan kebutuhan individu keluarga, rumah Melayu modern tidak harus dipisah-pisahkan fungsinya sebagaimana rumah tradisional yang dibedakan menjadi rumah kediaman, rumah ibadah, rumah balai, dan tempat penyimpanan. Rumah kediaman modern dapat saja berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, rumah ibadah dan tempat penyimpanan. Konsep kerja kantoran yang tidak dijumpai pada masyarakat Melayu tradisional, sekarang menjadi pola hidup sebagian orang Melayu modern. Kegiatan kerja dapat ditampung sekaligus pada sebuah rumah kediaman atau rumah ibadah. Fungsi-fungsi social lain seperti perpustakaan, tempat penelitian, kajian, pengembangan budaya dan ilmu, juga dapat ditampung di rumah kediaman. Dalam hal ini rumah kediaman berfungsi sekaligus sebagai rumah balai, di mana kegiatan di rumah balai tidak hanya musyawarah anggota masyarakat untuk memutuskan sesuatu, tetapi lebih luas dan beragam.
Dari halaman depan dapat dilihat anjungan, yaitu ruangan yang menjorok ke depan yang dahulunya digunakan sultan sebagai tempat istirahat atau menikmati keindahan panorama Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di sana, juga terdapat sebuah genta yang dulunya berfungsi sebagai alat penanda marabahaya. Di samping kanan anjungan, terdapat sebuah tangga yang menghubungkan teras istana dengan anjungan.Di atas pintu utama istana, terdapat hiasan mahkota serta tiga ornamen bulan dan bintang sebagai tanda bahwa Kesultanan Pontianak merupakan Kesultanan Islam. Balairungnya, atau sering juga disebut dengan balai pertemuan, didominasi oleh warna kuning yang dalam tradisi Melayu melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Di ruang yang biasanya dijadikan tempat melakukan upacara keagamaan dan menerima tamu ini, pengunjung dapat melihat foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan, lampu hias, kipas angin, serta singgasana sultan dan permaisuri.
Di sebelah kanan dan kiri ruang utama terdapat 6 kamar berukuran 4 x 3,5 meter dimana salah satunya merupakan kamar tidur sultan. Sedangkan kamar-kamar lainnya dahulunya dijadikan sebagai ruang makan dan kamar mandi. Di belakang ruang istana terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Diruangan ini dapat melihat benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca.
Keanggunan istana seluas 60 x 25 meter yang terbuat dari kayu belian pilihan ini sudah terlihat dari bagian depannya. Pengunjung akan terkesan dengan halamannya yang luas dan bersih, serta rumputnya yang tertata rapi dan terawat dengan baik. Di sisi kanan, tengah, dan kiri depan istana, pengunjung dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis. Kira-kira 200 meter di sebelah barat dari Istana Kadriah terdapat masjid kerajaan yang bernama Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, sultan pertama Kesultanan Pontianak. Istana Kadriah sangat mudah dijangkau karena letaknya yang tak jauh dari pusat kota. Dapat menggunakan oplet dengan hanya membayar Rp2.500,00 untuk menuju ke Pontianak Utara dan berhenti di gerbang istana paling luar. Jarak dari gerbang ke luar istana cukup jauh. Bila tak ingin kelelahan, naik becak menjadi pilihan yang menyenangkan. Sekitar 1,5 km dari gerbang istana paling luar terlihat plang besar berwarna kuning bertuliskan ‘Istana Kadriah’ yang mengarah ke gerbang dalam istana. Dari gerbang dalam yang berupa lorong, kita bisa melihat istana yang indah dan tetap kokoh meskipun sudah berusia tua. Hampir seluruh bagian istana dibangun menggunakan kayu belian pilihan sehingga kuat bertahan hingga saat ini.

C. TENTANG RAJA YANG PERNAH MEMIMPIN DI KERAJAAN PONTIANAK DAN PERAN RAJA DEWASA INI

Lokasi istana berdekatan dengan Masjid Abdurrahman, hanya beberapa puluh meter. Lokasi yang berdekatan ini menunjukkan bahwa, istana dan masjid merupakan satu kesatuan utuh dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Pontianak. Lokasi istana ini berada di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak, Indonesia. 2 raja yang paling terkenal di kerjaan pontianak yaitu  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Ia dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah 1729M, putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong. Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan salat zuhur itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor. Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak. Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah. Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari Senin dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.Dibawah kepemimpinannya kerajaan Pontianak berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup disegani.
Yang kedua ialah Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia. Ia beristrikan seorang perempuan Belanda, yang memberikannya dua anak yang sekarang tinggal di Negeri Belanda. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.Beberapa Sulatan yang pernah memeganng pemerintahan kesultanan Pontianak :
1.    Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
2.    Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819.
3.    Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855.
4.    Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872.
5.    Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895.
6.    Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944.
7.    Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945.
8.    Syarif Hamid II Alkadrie memerintah dari tahun 1945-1950.
Semenjak wafatnya Sultan Syarif Hamid II Alkadrie, Kesultanan Pontianak tak memiliki sultan. Ini lantaran anak kandung Sultan Hamid II, Syarif Yusuf Alkadrie sebagai putra mahkota menetap di Belanda. Para ahli waris Kesultanan Pontianak dari Dinasti Alkadrie akhirnya menyepakati mengangkat salah seorang kerabat mereka bernama Syarif Abubakar Alkadrie. Jauh sebelumnya, tepatnya 29 Januari 2001, Syarifah Khadijah Alkadrie bergelar Ratu Perbu Wijaya mengukuhkan Kerabat Muda Istana Kadriah Kesultanan Pontianak. Kerabat Muda ini bertujuan menjaga segala tradisi dan nilai budaya yang positif dari leluhur mereka, termasuk menghidupkan atau melestarikannya. Berpegang acuan tersebut, maka prosesi pelantikan Syarif Abubakar Alkadrie sebagai sultan kesembilan diawali dengan permintaan restu dari kerabat istana tertua, Syarifah Khadijah Alkadrie yang berusia 100 tahun. Sang Ratu kemudian menyerahkan sebilah keris pusaka kepada Sultan yang baru. Kesultanan Pontianak berlangsung hingga tahun 1952 dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada masa pemerintahan Sultan ke-8, Sultan Syarif Hamid Alkadrie II. Ia mempunyai peranan penting dalam pembentukan negara kita, yaitu menciptakan lambang negara, Garuda Pancasila. Ketika kemerdekaan Indonesia berkumandang pada tanggal 17 Agustus 1945, Kerajaan ini secara tegas menyatakan diri untuk masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indoensia. Sikap ini menimbulkan konsekuensi di pihak Kerajaan, yaitu wilayah kerajaan dilebur ke dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Konsekuensi tersebut berimbas pada perubahan bentuk kesultanan menjadi swapraja (setingkat dengan kawedanan).Di pihak lain, pihak Kerajaan juga mempunyai sikap yang senada, yaitu siap berdiri di belakang republik yang baru berdiri. Sikap ini didasari atas sepakterjang pihak Kesultanan yang telah setia untuk terus mengobarkan api perlawanan terhadap Belanda pada masa revolusi fisik. Bantuan dari Kerajaan berupa 300 pucuk senapan dan beberapa meriam membuktikan bahwa Kesultanan secara tegas berada di belakang Republik Indonesia. Sejak bergabung dengan NKRI, kesultanan berakhir dan berkembang menjadi Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat.

D. KOLEKSI SEJARAH YANG DIMILIKI

                Istana Kadriyah memiliki koleksi antara lain foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan, lampu hias, kipas angin, keris, meja giok, serta singgahsana sultan dan permaisuri. Di belakang ruang istana terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Diruangan ini dapat melihat benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca. Di sisi kanan, tengah, dan kiri depan istana, pengunjung dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis. Pada tiang-tiang yang menjulang tinggi didepan istana terdapat ornament mahkota dengan ornament bulan dan sabit yang merupakan lambang dari kerjaan kesultanan Pontianak yang juga merupakaan kerjaan Islam. Yang paling menarik di Istana kadriyah yaitu foto Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadrie pendiri dari Istana Kadriyah ini serta tulisan tentang kerajaan Pontianak yang dipimpin oleh Sultan Syarif Abduhramman al-Kadrie. Di dalam istana juga terdapat cermin pecah seribu yang dikatakan ajaib karena boleh melihat 1000 wajah kita di dalamnya dan terdapat ruangan kamar tidur raja yang sangat indah.Di istana ini juga terdapat tulisan tentang Kraton Kadriyah dan sejarah kota Pontianak yang sebenarnya. Terdapat pula lancang kuning milik kerajaan Istana Kadriyah, lancang kuning merupakan alat transportasi laut taradisional kesultanan Pontianak dilengkapi dengan foto Sultan Muhammad AlKadrie mengenakan pakaian kesultanan warna putih. Terdapat juga kursi diistana ini yang sangat tegap, kukuh dan kuat hingga kini. Ada pula hierarki raja-raja yang bertakhta pada zaman kejayaan kesultanan Kutaringin. Didepan istana dan Adapula tulisan tentang turun menurun para sultan kerjaaan Pontianak. Yang paling menarik lainnya yaitu Al-Quran bertuliskan tangan baginda Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadrie yanf disiapkan sempurna hingga 30 juz. Dan ada pula harta-harta yang dipamerkan oleh Istana Kadriyah ini.
      Sedikit tentang kota Pontianak tidak hanya terbelah secara geografis oleh sungai, tapi juga secara demografis oleh suku-suku yang mendiaminya, baik pendatang maupun asli. Jeruk Pontianak dan sungai Kapuas menjadi ikon pula dari Kalimantan Barat. Di sini hidup etnis Melayu, Cina, Jawa, Bugis, dan Padang. Mereka berbaur harmonis dan memberi warna pada paras kota. Di pinggiran Pontianak adalah rumah panjang tradisional Dayak di Desa Saham, 158 km dari Pontianak rumah panjang sangat besar - 186 m panjang dan lebar 6 m, dan dihuni oleh 269 orang.Terdapat juga yang menjadi ciri khas kota ponitanak yaitu Tugu Khatulistiwa terletak di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Setiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September setiap tahun diperingati hari kulminasi matahari di tempat ini, yakni matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini hilang. Serta majid jami atau yang lebih dikenal dengan Masjid Jami' Sultan Abdurrahman adalah masjid yang berlokasi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Masjid ini merupakan satu dari dua bangunan yang menjadi pertanda berdirinya Kota Pontianak pada 1771 Masehi, selain Keraton Kadriyah.
Pendiri masjid sekaligus pendiri Kota Pontianak adalah Syarif Abdurrahman Alkadrie. Beberapa raja yang pernah memerintah di Kerajaan Pontinak dimakamkan di  Kompleks Makam Batulayang yang dimana terletak di Kelurahan Batulayang, Kecamatan Pontianak Utara dengan jarak 7 km dari pusat kota. Kompleks makam ini terletak persis disebelah utara Sungai Kapuas. Ditempat ini dimakamkan 7 orang Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Pontianak. Masing-masing Sultan Syarif Abdurrahman, Sultan Sayid Kasim Al Kadri, Sultan Syarif Oesman Al Kadri, Sultan Syarif Hamid I, Sultan Syarif Yusuf Al Kadri, Sultan Syarif Muhammad Al Kadri dan Sultan Syarif Hamid II.
Letak Istana Kadriyah berada di dekat pusat Kota Pontianak. Lokasi istana dapat dijangkau melalui jalur sungai dan jalur darat. Pengunjung yang memilih jalur sungai dapat mengaksesnya dengan menggunakan sampan atau speed boat dari Pelabuhan Senghie, sedangkan pengunjung yang menggunakan jalur darat dapat naik bus yang melewati jembatan Sungai Kapuas. Pengunjung tidak dikenakan biaya untuk masuk ke Istana Kadriyah dan Di sekitar kawasan Istana Kadriah terdapat fasilitas, seperti restoran terapung, warung makan, pramuwisata, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speed boat untuk mengelilingi kawasan istana. Istana ini hanya dijaga beberapa orang wanita dan laki-laki keluarga kerajaan. Mereka selalu sibuk melayani pembelian cenderamata oleh wisatawan. Didalam istana Tampak pula beberapa gambar kebesaran istana ini, serta sepotong cerita berdirinya Kraton Kadriyah, sebagai pusat Kerajaan Pontianak. Istana yang terdiri dari kayu ini, oleh pendirinya dibangun dengan tiga lantai. Meski sudah ratusan tahun, namun keaslian bangunan masih dipertahankan. Pemerintah setempat berupaya untuk selalu merawat sebisa mungkin kraton peninggalan leluhur. Karena dari sini, merupakan awal berdirinya Pontianak yang menjadi pusat dari Propinsi Kalimantan Barat.




Sumber :



               





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar