Kamis, 09 Juni 2011

PURI AGUNG KLUNGKUNG

Edwina Yustitya
4423107030
PURI AGUNG KLUNGKUNG
Pengertian Puri
Puri berasal dari bahasa Sanskerta yang diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti benteng, istana berbenteng, kota istana atau tempat persemayaman raja Namun dalam bahasa Jawa Kuno dikenal juga istilah pura yang berasal dari bahasa Sanskerta. Agaknya pura memiliki pengertian lebih luas daripada puri. Pura berarti kota, ibu kota, kerajaan, istana raja dan berarti halangan
Geertz menyatakan bahwa puri sebenarnya hampir sama dengan pura. Jika pura adalah tempat persemayaman dewa dalam wujud abstrak, puri adalah tempat persemayaman raja yang merupakan penjelamaan dewa yang meng-ejowantah pada diri manusia. Dengan demikian puri adalah “bangunan suci” dalam konsep religi. Kesimpulan Greetz ini didasarkan kenyataan bahwa raja dalam sistem kerajaan di Bali adalah seorang yang dihormati dan dimuliakan seluruh rakyatnya, sehingga ia tidak boleh tampil sembarangan di depan umum. Demikian pula puri tempat tinggal sang raja, dianggap sebagai bangunan yang pantas dihormati atau bahkan dukuduskan. Pada daerah tertentu, di puri
Puri dapat dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, Puri Dewa Agung yang hanya ada satu, sebagai tempat persemayaman Dewa Agung, "penguasa seluruh Bali dan Lombok" di Klungkung. Puri ini dinamakan juga Puri Smarapura atau Puri Klungkung. Kedua, adalah Puri Agung atau Puri Gede, yaitu tempat tinggal penguasa yang memegang pemerintahan (raja) di suatu kerajaan, misalnya Puri Agung Gianyar, Puri Gede Karangasem, Puri Agung Mengwi, dan lain-lain. Ketiga, puri tempat tinggal di tengah masyarakat, namun bukan tempat tinggal pemegang pemerintahan. Bangunan seperti itu disebut puri saja atau jero. Puri atau jero adalah tempat tinggal para kaum bangsawan yang terpisah dari kompleks puri agung milik raja.

Puri Agung Klungkung
Puri Agung Klungkung adalah kompleks bangunan bersejarah yang berlokasi di Semarapura-Klungkung, Bali. Puri ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Klungkung. Istana atau Puri Klungkung ini didirikan pada sekitar akhir abad ke-17. Bangunan dari puri ini sebagian besarnya telah hancur pada masa penaklukan Belanda tahun 1908.
Kerajaan Klungkung pada masa itu dianggap sebagai kerajaan yang paling tinggi dan paling penting dari Sembilan kerajaan lainnya yang ada di Bali sejak akhir abad ke-17 sampai tahun 1908.

Sejarah Perang Puputan Klungkung (Puri Agung klungkung)
Perang puputan klungkung yang terkenal pada saat ini terjadi sekitar satu abad yang lalu, tepatnya pada tanggal  28 April 1908. Pada saat itu untuk mempertahankan kerajaan, Raja klungkung yang pada saat itu dijabat oleh Ida Dewa Agung Jambe ( Ida Dewa Agung Putera IV), keluar dari puri dengan gagah berani dengan membawa senjata tombak.
Dewa agung Jambe tidak sendiri pada saat keluar dari puri atau kerajaan. Raja Ida Dewa Agung Jambe diiringi oleh para petinggi kerajaan, keluarga, dan seluruh warga kerajaan tidak terkecuali dengan wanita dan anak-anak. Mereka semua bergerak menuju pasukan belanda yang sudah berjaga di depan puri dengan jarak sekitar 100 meter. Ida Dewa Agung Jambe dan para pengikutnya tidak gentar dalam menghadapi Belanda demi kehormatan diri dan kerajaan mereka.
Saat telah berhadapan dengan pasukan belanda, Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe kemudian menancapkan keris pusakanya ke dalam tanah. Hal ini dilakukannya dengan keyakinan agar timbul lubang besar yang akan menelan dan membinasakan para pasukan perang Belanda. Tetapi bukan lubang yang muncul tetapi justru letusan peluru meriam yang terdengar. Letusan meriam tersebut ditujukan dan mengenai lutut dari Raja Ida Dewa Agung Jambe. Meski terluka, dengan gagah dan perkasa Raja Klungkung tersebut bangkit kembali.  Tetapi pasukan Belanda terus menggempurnya dengan tembakan, hingga akhirnya Raja Ida Dewa agung Jambe tewas di tempat.
Melihat keadaan tersebut, para petinggi Kerajaan Klungkung yang mengiringi Raja Ida Dewa Agung Jambe beserta para wanita dan anak-anak segera membentuk dan melakukan serangan dengan menggunakan senjata tombak. Namun pasukan Belanda tidak kenal kasihan, mereka tetap menembaki dan menggempur warga dan petinggi kerajaan walaupun didalamnya terdapat wanita dan anak-anak. Letusan-letusan senjata artileri dan infanteri pasukan Belanda merobohkan mereka satu persatu.Setelah peristiwa perang tersebut berakhir, para keluarga kerajaan yang masih tersisa di asingkan ke Pulau Lombok oleh Belanda.
Perang Puputan Klungkung diakhiri dengan gugurnya Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe beserta para petinggi kerajaan, keluarga, dan kerabat kerajaan. Peristiwa tersebut menunjukan betapa besarnya semangat perjuangan dari rakyat Kerajaan Klungkung untuk menempatkan kehormatan dan harga diri mereka di atas segalanya. Perang di jalankan bukan untuk meraih kemenangan secara fisik, tetapi juga untuk kemenangan kehormatan, harga diri dan semangat juang. Mereka lebih baik mati darim pada kehormatan dan harga diri mereka hilang dirampas oleh pihak Belanda.
Dalam peristiwa perang ini, tampaknya Belanda bersikap dengan hati-hati. Meskipun pihaknya telah menghancurkan dan merobohkan sebagian besar bangunan dari puri Kerajaan Klungkung, tetapi Kori Agung puri masih dibiarkan tetap berdiri. Kori Agung ini disisakan karena merupakan simbol kebesaran dari puri Kerajaan Klungkung.

Sejarah Kerajaan Klungkung dengan Kerajaan Majapahit
Diantara kerajaan-kerajaan lain yang ada di Bali, Kerajaan Klungkunglah yang memiliki pertalian sejarah secara langsung dengan Kerajaan Majapahit. Karena hal tersebut, Kerajaan Klungkung dianggap memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara kerajaan-kerajaan lain yang terdapat di Bali. Sedangkan kerajaan-kerajaan lain di Bali mulai berkembang ketika pusat pemerintahan kerajaan di Bali ada di Gelgel, ketika Dalem Sagening memegang kendali pemerintahan pada 1502.
Kerajaan Majapahit berhasil mengalahkan Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten pada tahun 1343. Pada saat itu berlangsung masa Bali kuna/kuno. Sejak kekalahan Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, Bali berada di bawah kekuasaan dan pemerintahan Kerajaan majapahit. Setelah peristiwa tersebut, Sri Kresna Kepakisan lalu ditunjuk sebagai adipati di bali pada tahun 1352. Setelah ditunjuknya Sri Kresna Kepakisan sebagai adipati Bali, mulailah Trah Ksatria Dalem menduduki wilayah terpenting di Bali yang pada saat itu berpusat di Samprangan Gianyar (Lingarsappura). Dan peristiwa tersebut merupakan rangkaian sejarah dari keberadaan Kerajaan Klungkung.
Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Dalam perkembangannya kemudian, di masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir pada tahun 1380 sampai 1460, pusat kerajaan dipindahkan ke Gelgel (Swecapura). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Tetapi ketika Bali mengalami zaman keemasan di masa pemerintahan Dalem Waturenggong bertahta di Gelgel tahun 1460 sampai 1490,  Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan pada tahun 1478 Masehi. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung yang menjabata sejak tahun 1550 sampai 1580, sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made pada tahun 1605 sampai 1686. Ketika Kerajaan Majapahit sudah dianggap runtuh, Kerajaan Gelgel menyatakan diri sebagai pelanjut kebesaran Majapahit di Bali.
Tetapi  trah ksatria Dalem di Kerajaan Gelgel harus berakhir. Setelah terjadi pemberontakan Patih Agung Maruti pada tahun 1650. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Pusat pemerintahan Kerajaan Gelgel akhirnya dipindahkan ke Klungkung, karena kewibawaan Gelgel sudah dianggap tercemar. Raja pertama Kerajaan Klungkung adalah  Dewa Agung Jambe yang dinobatkan pada tahun 1710 dan memerintah hingga tahun 1775.  Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten. Kerajaan-kerajaan pecahan Klungkung diantaranya Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung; Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli; Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng; Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar; Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem; Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung; Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Setelah pemerintahan kolonial Belanda masuk ke Bali, dinasti Ksatria Dalem di Kerajaan Klungkung akhirnya harus berakhir pada tanggal 28 April 1908, yang tersisa hanya gerbang (kori agung) puri. Berbeda dengan peninggalan Kerajaan Klungkung yang dirawat , bata-bata bekas bangunan peninggalan Majapahit justru dirusak, dicari dan dihancurkan penduduk untuk dijadikan bahan semen merah, lalu dijual.

Bangunan Puri Agung Klungkung
Ketika memasuki komplek Puri Agung Klungkung, saat ini dapat ditemukan tiga buah Candi Bentar (gapura/pintu gerbang) yang terdapat pada penyengker (tembok pembatas) luarnya. Sebuah lagi terdapat di penyengker timur yang merupakan pintu masuk bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Puri Agung Klungkung, selain itu di sisi utara juga terdapat dua Candi Bentar. Satu Candi Bentar juga terletak di dalam halaman yang berfungsi sebagai pintu atau gerbang masuk menuju bangunan Bale Kambang atau Taman Gili  yang di hubungkan oleh jalan setapak yang memiliki penyengker. Di atas panyengker tersebut berdiri patung-patung berbagai jenis dan ukuran, di antaranya patung Semar, Petruk, patung Dewa-Dewi dan patung lain-lain.
Sebelum dihancurkan oleh Belanda, sebelah timur laut dan barat laut dari Puri Agung Klungkung merupakan alun-alun kerajaan, sebelah tenggaranya Puri Delod Pasar. Sebelum Perang Puputan Klungkung terjadi, di Puri Agung Klungkung terdapat beberapa ruangan. Ruangan tersebut diantaranya adalah Kerta Ghosa, Bale Kambang dan Kori agung (Pamedal Agung).
Konsep yang digunakan dalam membuat bangunan Puri Agung Klungkung adalah konsep yang didasari oleh kepercayaan Hindu terhadap Dewa. Puri Agung Klungkung dibangun dengan berdasarkan tentang konsep letak-letak dewa penjaga dari delapan arah mata angin. Selain hal tersebut, yang unik dan menarik dari bangunan Puri Agung Klungkung ini adalah kesamaan bentuk-bentuk bangunan dan ruangan yang ada di dalamnya. Kesamaan tersebut seperti, bentuk bangunan yang berundak atau bertingkat, bangunan berbentuk segi empat, atap bangunan memiliki bentuk limas segi empat dan dibuat dengan serabut ijuk, terdapat hiasan dan ukiran pada setiap ruang dan bangunan, terdapat hiasan patung dan naga pada tangga, dan sebagian besar bangunan berkonsep terbuka atau tidak memiliki dinding.
Puri Agung Klungkung ini merupakan puri yang memiliki penataan ruang dan arsitektur yang indah serta menarik. Karena hal tersebut, saat ini Puri Agung Klungkung menjadi salah satu benda Cagar Budaya yang terdapat di Bali. Selain dari segi arsitektur bangunannya, Puri Agung Klungkung dijadikan sebagai benda Cagar Budaya karena didalamnya terdapat kandungan-kandungan pesan dan makna yang khusus.
Makna khusus yang tersebut dan terkandung di dalam Puri Agung Klungkung adalah, Puri sebagai bangunan dan tempat suci, Puri sebagai tempat persemayaman raja (dan raja dipercayai sebagai penjelmaan dewa), serta Puri sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan.

Kerta Ghosa
Menurut sejarah, dahulu Kerta Ghosa merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat rapat, berembug dan tempat musyawarah bagi raja-raja Klungkung beserta para petinggi Kerajaan Klungkung. Kerta Ghosa adalah sebuah bangunan yang terletak di sebelah timur laut di dalam Puri agung klungkung.
Kerta ghosa merupakan sebuah bangunan yang terbuka, dengan kata lain tidak dikelilingi oleh dinding. Kerta Ghosa memiliki dua tingkatan yang disangga oleh tiang-tiang kayu yang berukir dengan ukiran gaya Bali. Jumlah tiang kayu yang menyangga Kerta Ghosa berjumlah dua puluh tiang (saka) kayu.
Lantai (bataran) pertama memiliki sepuluh tiang (saka) berukir.Setiap tiang ditumpu dengan sendi bermotif patung binatang, di antaranya ada patung gajah, domba, babi, kucing, sapi, sampai macan. Tepi bataran dikelilingi denhan railing kayu yang memiliki tinggi sekitar 60 cm dari permukaan lantai. Lantai di atasnya (naik dua undag) terdapat pula 10 saka berukir.
Tingkat pertama dari Kerta Ghosa berfungsi sebagai tempat untuk berjalan, sedangkan tingkat kedua difungsikan untuk pengadilan. Pada ruangan ini terdapat enam buah kursi dan satu buah meja berbentuk persegi. Kursi-kursi yang terdapat di ruangan ini memiliki pegangan tangan yang berbeda bentuk.
Dua kursi pertama, pegangan tangannya berbentuk naga. Dua kursi berukir naga ini sangat istimewa karena merupakan tempat duduk untuk pendeta brahmana selaku Bagawantha peradilan, dan yang satu lagi merupakan tempat duduk untuk raja. Dua kursi selanjutnya memiliki pegangan tangan berbentuk lembu. Kursi dengan pegangan tangan lembu ini merupakan tempat duduk untuk juru tulis dan juru panggil pesakitan. Satu bangku lainnya berukirkan singa dan merupakan tempat duduk bagi perwakilan Belanda, dan satu kursi terakhir berlengan ukiran kerbau untuk hakim peradilan.
Ukiran naga tidak hanya terapat pada kursi raja, di tangga masuk Kerta Ghosa juga terdapat ukiran naga yang memanjang mengikuti jalur tangga.
Kerta Ghosa memiliki atap berbentuk limas segi empat dan terbuat dari serabut ijuk yang sangat kuat. Kerta Ghosa saat itu di cat dengan warna emas yang membuat bangunan Kerta Ghosa tampak lebih indah.

Bale Kambang
bale kambang
Bale Kambang (Taman Gili) adalah salah satu bangunan yang berada di dalam Puri Agung Klungkung. Bale Kambang adalah bangunanyang berbentuk seolah-olah seperti seekor kura-kura yang terdapat ditengah-tengah kolam. Untuk mencapai ke Bale kambang ini, di sisi utara bangunan dibangun dan disiapkan sebuah jembatan untuk akses jalan masuk. Tepat di depan jembatan, sebelum masuk akan terlihat sebuah gapura Candi Bentar. Gapura Candi Bentar ini merupakan sebuah gerbang atau pintu masuk untuk menuju ke bangunan utama Bale Kambang.
Pada dasarnya, bangunan ini memiliki tiga lapis ketinggian. Lantai pertama, dikitari kolam, keliling tepinya memiliki 27 jenis patung. Sementara tepi terluar kolam itu sendiri memiliki 35 jenis patung (12 di sebelah barat, 12 di timur dan 11 di selatan).
Bangunan beratap dimulai dari lantai (bataran) kedua dengan 14 tiang atau saka. Separo bagian ke atas dari tiang-tiangnya berukir dan memiliki canggah wang. Sendi yang ada pada setiap saka berbentuk lempeh (ceper) bujur sangkar, khas dan unik berukir, berukuran sekitar 50 x 50 cm berketinggian 25 cm. Berlantai terakota berpola pasangan bata mendatar. Lantai ini berfungsi sebagai selasar keliling dari bentuk denah segi empat panjang yang memanjang dari arah utara-selatan. Menginjak lantai tertinggi, ditemukan pula 14 saka, namun di sini sepenuh tiang-tiangnya berukir. Tepi lantai dikelilingi dengan railing kayu motif jaro, berketinggian sekitar 40 cm dari muka lantainya. Sendi-sendi di bawah tiang berukuran jauh lebih kecil ketimbang sendi-sendi lantai sebelumnya. Namun bahan lantainya serupa dengan material lantai selasar. Konstruksi pertemuan bagian atas tiang dengan balok aslinya tak memiliki canggah wang, kini , untuk membantu kekuatan konstruksi , dipasang besi plat kecil (lebar 3 cm) menyangga sineb dan lambang-nya.
Pada bagian kedua balok yang membentang di bawah atap (ekspose) masing-masing duduk patung singa bersayap, dengan corak dan warna sedikit berbeda. Lebih unik lagi, bidang langit-langit bangunan bale kambang ini sepenuhnya bergambar gaya Kamasan-Klungkung dengan narasi (cerita) Ramayana dan Mahabharata.
Bentuk dari bangunan Bale Kambang ini berundak atau bertingkat, dimana lantai pertamanya berada sejajar dengan pintu gapura Candi Bentar (gerbang masuk Bale Kambang ). Atap bangunan Bale Kambang ini berbentuk limas segi empat dan bahan dasarnya terbuat dari serabut ijuk sama seperti bangunan Kerta Ghosa.
Bale Kambang ini memiliki arti simbolis dan filosofis bagi orang Hindu. Filosofis ini dikaitkan dengan keberadaan gunung Mahameru yang letaknya dikelilingi oleh tujuh lautan dan pegunungan. Bangunan Bale Kambang yang dibangun di atas kolam ini diibaratkan sebagai gunung Mahameru yang dikelilingi oleh tujuh lautan. Dan lautan yang mengelilingi gunung Mahameru di simbolkan dengan kolam tempat dibangunnya Bale Kambang.
Bale Kambang merupakan tempat untuk memutuskan hasil dan kesimpulan rapat. Selain itu, Bale Kambang dibangun dengan tujuan sebagai tempat peristirahatan dan pertapaan Raja Klungkung. Bale Kambang dijadikan sebagai tempat pertapaan, agar raja dapat menentramkan hatu dan menjernihkan pikiran dalam menghadapi dan mengambil keputusan tentang persoalan dan urusan-urusan kerajaan. Bale Kambang ini dipilih sebagai tempat pertapaan raja, karena tempat ini memiliki suasana yang sejuk dan tentram, serta memiliki penataan ruang yang sangat mendukung.

Kori Agung Puri