Kamis, 09 Juni 2011

ISTANA SIAK SRI INDRAPURA

Nama     : Yessica
No. Reg : 4423107044

ISTANA SIAK SRI INDRAPURA

Sebuah kota kecil yang bernama Siak Sri Indrapura, kota yang dahulu merupakan pusat kerajaan Siak Sri Indapura ini masih menyisakan cerita dan sisa kejayaannya tempo dulu. Istana Siak pada masa dahulunya berfungsi sebagai tempat bagi Sultan Siak melaksanakan pemerintahannya. Namun, sekarang Istana Siak berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga peninggalan Sultan.  Kesultanan yang dahulunya memerintah rakyatnya, sekarang ini tidak lagi memerintah. Hal ini dikarenakan bergabungnya kesultanan Siak kepada NKRI. Istana Siak Sri Indrapura adalah salah satu bangunan bersejarah di mana bekas dari kerajaan Melayu , yang sekarang menjadi salah satu objek wisata di Riau. Istana Siak Sri Indrapura ini terletak di kabupaten Siak, Istana ini pada tempo dulu dijuluki sebagai Istana Matahari Timur dan pada jaman sekarang nama Siak Sri Indrapura tetap dipakai sebagai nama ibu kota kecamatan Siak . Secara harafiah Istana Siak Sri Indrapura, juga bermakna pusat kota raja yang taat beragama. Kata Siak sendiri dalam anggapan orang Melayu yaitu bertali erat dengan agama islam, jadi orang siak adalah orang-orang yang hidupnya tekun beragama, dalam pendapat lain kata Siak berasal dari kata siak-siak yaitu sejenis rumput-rumputan yang akar dan buahnya dijadikan obat, yang akhirnya Siak diabadikan sebagai nama Istana Siak Sri Indrapura. Sepanjang perkembangan sejarah bangsa Indonesia, telah banyak meninggalkan sisa-sisa kehidupan pemberi corak khas pada kebudayaan bangsa di Siak, salah satunya adalah Istana Siak Sri Indrapura menjadi salah obyek wisata Riau. Untuk dapat melihat Bangunan bangunan Melayu zaman/tempo dulu atau ‘Istana Matahari Timur’ ini membutuhkan jarak tempuh dari sebelah timur Pekanbaru mencapai empat jam perjalanan melalui sungai hingga menuju Kabupaten Siak Sri Indrapura.

Arsitektur Bangunan
Istana Siak Sri Indrapura yang diabadikan menjadi nama ibukota Kabupaten
Siak berjarak sekitar 140 km arah timur Pekanbaru. Komplek Istana Siak
ini memiliki luas 32.000 meter persegi.
Arsitektur bangunan merupakan gabungan antara arsitektur Melayu, Arab, Eropa yang dibangun oleh arsitektur Jerman.

 Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai Istana Matahari Timur  atau disebut juga Asserayah Hasyimiah  dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan disamping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Pada lantai dasar terdapat  5 ruangan besar utama yang dipergunakan untuk :
1. Ruangan depan istana,
merupakan ruang tunggu para tamu, di dalmanya terdpat 2 bagian ruang, untuk para tamu terhormat disebut ruangan Kursi Gading, berkain gordin warna hijau lumut khusus untuk tamu kaum laki-laki; dan satu ruang terhormat berikutnya untuk kaum perempuan.
2. Ruangan di sisi kanan,
adalah Ruang Sidang kerajaan dan sekaligus digunakan sebagai ruang pesta.
   
3. Ruangan di sisi kiri,
adalah upacara adat kerajaan melayu dipergunakan untuk pelantikan, perwakilan, upacara menjunjung duli dan upacara hari-hari besar keagamaan.
4. Ruangan belakang,
adalah sebuah ruang keperluan persiapan perjamuan makan untuk santapan para tamu dan raja-raja serta pembesar kerajaan. Pada ruangan ini terdapat tangga besi spiral indah buatan Jerman untuk tangga naik ke lantai atas. Pada ruang belakang ini terdapat pelantar (koridor) sepanjang 500 meter berbentuk huruf T, dipergunakan untuk jamuan makan bagi rakyat umum.
 Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu Istana.
Bangunan Istana Siak bersejarah tersebut selesai pada tahun 18
93. Pada dinding istana dihiasi dengan keramik khusus yang didatangkan dari Perancis. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Sekitar istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, disebelah kiri belakang Istana terdapat bangunan kecil sebagai penjara sementara.
Beberapa bangunan sejarah lainnya tak hanya Istana Siak dapat juga dilihat sekitar bangunan:
 




Jembatan Siak
Jembatan Istana Siak berada sekitar 100 meter disebelah Tenggara kompleks Istana Siak Sri Indrapura. Jembatan tersebut berangka tahun 1899. Dibawah jembatan istana terdapat sungai (parit), diduga dulu sekaligus sebagai parit pertahanan kompleks istana.

Balai Kerapatan
Balai Kerapatan Tinggi Siak pada masa pemerintahan Sultan Assyaidisyarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889. Bangunan istana menghadap kearah sungai (selatan). Tangga masuk bangunan terbuat dari beton. Balai Kerapatan tinggi Siak dahulu berfungsi sebagai tempat pertemuan (sidang) Sultan dengan Panglima-panglimanya.
Bangunan bertingkat 2, denah persegi 4, berukuran 30, 8 X 30, 2 m dengan tiang utama berupa pilar berbentuk silinder. Lantai bawah bangunan terdiri dari 7 ruang dan lantai atas 3 ruang.
                                                                                                                                                               
Masjid Syahabbudin
Merupakan masjid Kerajaan Siak, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Kasim I. Masjid berdenah 21, 6 X 18, 5 m. Bangunan masjid telah berkali-kali mengalami perbaikan tetapi masih mempertahankan bentuk aslinya.
Makam Sultan Kasim II

Terletak dibelakang masjid Syahabuddin, dimakamkan Sultan Kasim II (Sultan terakhir mangkat pada 23 April 1968. Jirat makam sultan berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 cm. Lebar 153 cm. Dan tinggi 110 m. Nisannya dari kayu berukir motif suluran –suluran. Bentuknya bulat silinder bersudut 8 dengan diameter 26 cm dan kelopak bunga teratai.




Berikut ini beberapa penjelasaan mengenai bangunan-bangunan Istana Siak :
· Istana Baru
Bangunan yang dibangun pada masa sultan terakhir Siak ini terletak di barat bangunan utama dari Istana Siak. Bangunan Istana Baru berbentuk persegi empat berukuran sekitar 19 Meter x 15, 7 Meter. Terdapat enam ruangan yaitu ruang depan, ruang tamu, ruang kerja, ruang makan, dan 2 buah kamar tidur dari Istana baru. Selain itu, pada bagian samping kanan dan kiri terdapat teras.
· Istana Panjang
Selain Istana Baru, terdapat juga Istana lain yang bernama Istana Panjang, yang mana Istana ini terletak di sebelah timur bangunan Utama Istana. Berdasarkan pernyataan keluarga keturunan Sultan, dahulunya Istana Panjang terbuat dari kayu, namun sekarang ini Istana ini hanya terdapat bekas lubang-lubang bekas tonggak (tiang).
· Istana Limas
Bangunan Istana Limas sekarang ini sudah tidak ada, namun berdasarkan pengatahuan dari masyarakat siak, bangunan ini terbuat dari bahan kayu.
· Gardu Jaga Lama
Gardu Jaga terletak di sebelah kiri dari bangunan Istana Baru, yang mana bangunan ini berbentuk bulat silinder yang terbuat dari batu bata. Selain itu, diameter bangun Gardu Jaga Lama berukuran 3 Meter dengan 1 buah pintu didepan berbentuk kubah
· Dapur dan Kolam Istana
Dapur Istana terletak di bagian belakang kanan dari bangunan Istana Baru. Sisa dari bangunan ini adalah bagian dindingnya yang terdiri dari 3 ruangan berjajar. Dapur Istana ini tidak terawat sehingga saat ini difungsikan sebagai gudang . Selain itu terdapat juga kolam Istana Siak pada bagian depan dapur Istana. Kolam ini berbentuk bulat dengan diameter 5,30 Meter dan tinggi fondasi 40 Cm dan Ketebalan dari dinding kolam sekitar 26 Cm.



Sejarah Singkat
Istana ini berdiri pada tahun 1889 semasa kejayaan Raja Sultan Syarif Hasyim ayahanda dari sultan Syarif Kasim sebagai raja terakir yang  menjadi pahlawan nasional. Istana kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu islam yang terbesar di Riau, yang mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20.Konon nama Siak berasal dari nama tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ. Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725 dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah.
                                                                                                                                                               
Pada tahun 1761, putra Sultan Abdul Jalil yang menjadi Sultan Siak berikutnya membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan. Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya,  termasuk wilayah Deli dan Serdang.Jangkauan terjauh pengaruh Kesultanan Siak sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Kesultanan Siak mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka  dan kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut. Sejak Sultan Syarif Hasyim dinobatkan menjadi raja pada tahun 1889, beliau mulai membangun istana kerajaan dan istana peraduan yang selesai pada tahun 1893. Istana dibangun untuk kepentingan jalannya pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan Siak merupakan pecahan dari Kemaharajaan Melayu. Dalam sejarahnya, terjadi perpecahan di Kemaharajaan Melayu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dengan Sultan Suleiman.
Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mengalami kekalahan dalam konflik tersebut, karena Sultan Suleiman dibantu oleh Bugis. Akibat dari kekalahan itu, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah kemudian menyingkir ke Johor, kemudian Bintan dan terus ke Bengkalis, hingga akhirnya sampai di pedalaman Sungai Siak, tepatnya di daerah Buantan. Letak Buantan lebih kurang 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang ini. Karena merasa aman dan tentram di Buantan, ia kemudian memutuskan untuk menetap, dan oleh rakyat setempat, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah kemudian diangkat sebagai Sultan Siak dengan gelar yang sama ketika ia masih menjadi raja di Kemaharajaan Melayu. Selanjutnya, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah melakukan konsolidasi ekonomi dan militer untuk kembali merebut Kemaharajaan Melayu. Namun, setelah berkali-kali melakukan serangan terhadap pengikut Raja Sulaiman, ia tetap mengalami kegagalan. Ia mangkat pada tahun 1744, dan digantikan oleh putranya, Sultan Mohamad Abdul Jalil Jalaludin Syah. Anaknya ini kemudian memindahkan
ibukota keMempura. Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari Timur). Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda.  Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).
Sejak Sultan Siak pertama, Siak sudah membuka hubungan dagang dengan beberapa negeri luar, seperti Turki, Arab dan Mesir. Disamping itu, Siak juga menjaga hubungan baik dengan negeri tetangga, seperti Minangkabau. Sepanjang berdirinya, Kerajaan Siak tak pernah henti berjuang melawan penjajah Belanda.
Di antara peperangan yang paling terkenal adalah Perang Guntung, di mana Kerajaan Siak berhasil menghancurkan kekuatan perang Belanda. Walaupun pada akhirnya Belanda berhasil menguasai Siak, tapi itu bukanlah hasil kekuatan senjata, tapi hasil dari pecah belah dan tipu muslihat. Selama berdirinya, Kerajaan Siak telah berkali-kali berpindah ibukota, yang pertama di Buantan, Mempura, Senapelan, kemudian pindah lagi ke Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi, yang lebih dikenal dengan nama Siak Sri Indrapura. Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani (Sani=dua). Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu?, bergabung dg Belanda? atau bergabung dg Republik? Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri.Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Rep. Mendukung NKRI. BERGABUNG. Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama2 dg para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pd jaman pendudukan Belanda di nusantara). Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden.  Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.
Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.
Silsilah:
Berikut ini urutan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Siak:
1. Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah Almarhum Buantan (1723 - 1744)
2. Sultan Mohamad Abdul Jalil Jalaladdin Syah (1744-1760)
3. Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1760 - 1761)
4. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1761-1766)
5. Sultan Mohamad Ali Abdul Jalil Mu’azam Syah (1766 – 1779)
6. Sultan Ismail Abdul Jalil Rakhmat Syah (1779 - 1781)
7. Sultan Yahya Abdul Jalil Muzafar Syah (1782 - 1784)
8. Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784 - 1811)
9. Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Kholiluddin (1811-1827)
10. Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827 - 1864)
11. Sultan Assyaidis Syarif Kasim I Abdul Jalil Syaifuddin (1864 - 1889)
12. Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889 - 1908)
13. Sultan Assyaidis Syarif Kasim II Abdul Jalil Syaifuddin (1908 - 1946).

Periode Pemerintahan:

Kerajaan Siak berdiri selama lebih dari dua abad, dari tahun 1723 hingga tahun 1946. Akhir kerajaan ini seiring dengan ikrar sultan terakhirnya, Sultan Syarif Qasim II untuk bergabung dengan negara kesatuan Republik Indonesia, ketika Indonesia merdeka dari jajahan Belanda. Sejak itulah, kerajaan Siak menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari Republik Indonesia.
Struktur Pemerintahan:
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau.
Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Empat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:
  1. Datuk Tanah Datar
  2. Datuk Limapuluh
  3. Datuk Pesisir
  4. Datuk Kampar
Pada kawasan tertentu dalam Negeri Siak, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, yang dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.
Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Negeri Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.
Salah satu kitab hukum atau undang-undang di Negeri Siak, dikenal dengan nama Bab Al-Qawa'id. Kitab ini mengurakan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda
Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak telah membagi beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab  mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan, serta arsitektur istana Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889.
Masa Keemasan Pemerintahan:
Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah.
Pada tahun 1761, putra Sultan Abdul Jalil yang menjadi Sultan Siak berikutnya membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan.
Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan Serdang
Jangkauan terjauh pengaruh Kesultanan Siak sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Kesultanan Siak mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka dan kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut.
Wilayah Kekuasaan:

Wilayah Kerajaan Siak meliputi kawasan Siak sekarang ini, Pekanbaru, Rokan, Kubu, Tanah Putih, Bangka, Kulo, Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang dan Deli. Sementara daerah Tapung yang terdiri dari dua persekutuan, yaitu Tapung Kiri dan Tapung Kanan, melakukan perjanjian damai dengan Kerajaan Siak.

Siak juga pernah beberapa kali melakukan ekspansi wilayah hingga ke Kedah dan Pahang, namun gagal merebut negeri-negeri itu. Siak juga pernah menyerang kerajaan Sambas di Kalimantan Barat dan berhasil menguasai negeri itu untuk beberapa lama.

Koleksi Sejarah
Didalam istana tersimpan barang koleksi sisa peninggalan Sultan Syarif Hasim dan barang-barang persembahan semasa Sultan Syarif Kasim II antara lain :
1. Komet,
Sejenis gramafon raksasa terbuat dari tembaga dengan piring garis tengah 1 meter dari bahan kuningan (pelat kuningan) dapat mengeluarkan bunyi-bunyian musik klasik karya Beethoven dan Mozart, buatan Jerman
2. Singasana
Berupa kursi keemasan yang penuh dengan ukiran yang indah dari bahan kuningan berbalut dengan emas (yang pernah hilang dan dikonservasi kembali oleh Museum Nasional Jakarta).
3. Payung kerajaan,
Berlambang naga berjuang dan kalimat Allah serta tulisan Muhammad bertangkup dari kain sutera kuning keemasan.
4. Senjata Kerajaan Melayu ,
Tombak, keris, meriam, serta alat nobat, cermin mustika, kursi-kursi, lampu-lampu kristal beratnya 1 ton, barang-barang keramik dari Cina dan Eropa, diorama, patung perunggu Ratu Belanda Helmina dan patung pualam Sultan bermata berlian, benda-benda upacara lain, serta piring-piring, cangkir, gelas, sendok bermerk lambang kerajaan.
5. Bendera Kerajaan Siak,
Berwarna kuning keemasan, di tengah terdapat lambang kerajaan bermoptif kapala naga berjuang dan di atasnya terdapat kalimat Allah serta kaligrafi Muhammad bertangkup.
6. Replika Mahkota Kerajaan Siak,
Dibuat semasa pemerintahan Sultan Siak X, Assyaidis Syarif Kasim Syaifuddin (Syarif Kasim I). Replika mahkota ini berbalut emas dan bertaburkan permata, sedangkan yang asli terdapat di Museum Nasional Jakarta.                                                                       
7. Tempat Pembakar (Setanggi),
Merupakan wewangian yang berasal dari ramuan tumbuh-tumbuhan, dengan membakar setanggi akan keluar aroma yang wangi dan ketika itu berfungsi sebagai pengharum ruangan istana.
8. Canang,
Berbentuk guci terletak di ujung ruangan jamuan istana, bila dipukul canang ini mengeluarkan bunyi gaung, digunakan oleh Sultan untuk memanggil pelayan istana.
9.Gendang nobat
Gendang yang di bunyikan pada penobatan sultan kerajaan sejak tahun pertama yaitu tahun 1723 baju gendang ini berwarna kuning yang bias dig anti bila sudah di pakai beberapa hari.

10. Lambang Kerajaan Siak
Muhammad bertangkup nama nya lambing kerajaan siak sri indrapura ,berwarna emas di sisi kiri serta kana ada lambing naga yang di tengah-tengah nya merupakan lambing dan kota siak sri indrapura

11.Patung Raja dan prajuritnya
Patung ini di ibarat kan sebagai pada zaman sultan –sultan tersebut mengadakan musawarah bersama prajurit dan penasehat-penasehat kerajaan

12. Foto Raja Sultan Syarif Hasyim (sultan siak ke XI)
Poto sultan assyaidis syarif hasyim abdul jalil saifudin(Sultan siak ke II bersama sultan dan daerah langkat ,dimana patung tersebut berwarna putih cemelang dan dilapisi oleh kaca.


13. Patung Sultan Syarif Hasyim
Patung sultan ini adalah buatan dari Negara jerman yang di buat dari batu pualam pada tahun 1899, patung ini mirip sekali dengan aslinya

14. Kain sampul Gendang Nobat
Kain ini sebagai ganti kain (baju gendang nobat),yang berwarna kuning
15.Pecah Belah
Barang pecah belah ini terbuat dari kristal, yang dulu belum pecah, sekarang telah terpecah –pecah , pecah belah ini dulu berupa lampu hias yang di gantung, atas langit- langit kerajaan.

16. Gelas atau Seloka
Terbuat dari kristal-kristal yang merupakan pesanan dari eropa pada tahun 1889- gelas ini dulu digunakan untuk minum para raja dan sultan sultan ,serta semua orang yang berada di istana siak pada zaman dahulu.

17. Al-Quran
Alquran ini berasal dari Negara istambul dari tahun 1730 dari turki .aquran ini bentuknya berbeda dengan alquran yang sering kita pakai itu atau kita gunakan.

18.Gerampon
Merupakan alat musik yang terbuat dari piring hitam dan bertingkat ingkat, dan di atasnya terdapat alat mirip terompet. 17. MEJA DAN KURSI BERSERTA MAHKOTA
Seperangkat meja dan kursi terbuat dari kristal sebangasa tempat jamuan dan menerima putrid –putri kerajaan siak sri indrapura, sedangkan mahkota ini merupakan mahkota raja yang di pakai masa pemerintahan.

19. Cermin
Cermin ini terbuat dari kristal, merupakan cermin permai suri, dulu kata orang siapa yang berkaca di cermin ini muka nya akan menjadi awet muda.




20.Meja dan Kursi beserta Mahkota
Seperangkat meja dan kursi terbuat dari kristal sebangasa tempat jamuan dan menerima putrid –putri kerajaan siak sri indrapura, sedangkan mahkota ini merupakan mahkota raja yang di pakai masa pemerintahan.
21.Teko
Teko alat ceret kristal yang di gunakan untuk tempat air putih , teko ini di gunakan pada saat acara perjamuan dan makan malam.

22. Kelalang
Tempat air yang terbuat dari bahan- bahan kristal , air yang di letakkan di dalam kelalang tersebut adalah air bunga mawar.

23. Bintan dan Penghargaan
Merupakan bintang dan penghargaan pahlawan nasional sultan syrifkasyim dari perisiden republic Indonesia.

24. Bungga
Bunga kerajaan ini merupaka hasil kerajinan tenaga putra putrid yang berada di kerajaan siak pada tahun 1920.Beberapa koleksi benda antik Istana, kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta, dan di Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut.
25. Foto
Poto ini merupakan poto raja sultan sarif kasim (sultan siak keXII) dan permai surinya,yaitu tengku agung sultana latifah pada waktu pernikahan
selain peningalan kerajaan siak ,kami juga mencantumkan peningalan dan sultan assyidi sarif hasyim abdul jalil saifudin (sultan siak ke XI) yaitu :
a. bab-alkawa`id
pintu segala pegangan ,yaitu semacam “konsitisi”dari kerajaan siak sri indrapura.atas dasar ini maka kerajaan siak sri indrapura adalah kerajaan yang berbentuk monarchi contitumona”

b. istana assyariah al-hasyimiah
sultan sarif kasim membangun istana kerajaan pada tahun 1893 untuk kepentingan jalan nya pemerintahan kerajaan siak sri indra pura.
c. Balainang sari
Di samping membangun istana ,sultan juga mendirikan balainung sari di sebut juga “balai kerapatan tinggi” ke tiga karya monumental ini merupakan bukti tentang kebesaran dan kesejahteraan kerajaan berserta rakyatnya
Pemerintah sultan ini berlangsung selama sembilan belas bulan dan hasil yang di capainya untuk kepentingan kerajaan dan kemakmuran rakyat-rakyat cukup banyak.pada tahun 1808 beliau mangkat di singapura dan di makam kan di koto tinggi (siak sri indrapura) di beri gelar mahrum bahginda.
26. Cinderamata
Cinderamata ini merupakan bahan-bahan dari eropa dan merupakan cinderamata dari Negara eropa.

27. Lampu Hiasan
Lamu ini dari dulu memang sudah di gantung di atas langit-langit lampu ini sangat terang bila malam hari.
28. Baju
Baju kebesaran raja atau sultan yang menjabat pada waktu itu mengunakan baju ini berwarna hitam ,kancing nya berwarna kuning emas.
Diantara koleksi benda antik itu adalah: Keramik dari Cina, Eropa, Kursi-kursi kristal yang dibuat tahun 1896, Patung perunggu Ratu Wihemina yang merupakan hadiah dari Kerajaan Belanda dan patung pualam Sultan Syarim Hasim I bermata berlian yang dibuat pada tahun 1889, perkakas seperti sendok, piring, gelas dan cangkir berlambangkan Kerajaan Siak masih terdapat dalam Istana,  surat-surat ucapan dan selamat beserta doa restu yang dibuat hamba rakyat dan semua sultan dan lemari besi berisikan arsip-arsip peninggalan kerajaan ini yang sekarang hanya tersisa beberapa arsip saja. Siak Sri Inderapura sampai sekarang tetap diabadikan sebagai nama ibu kota dari Kabupaten Siak dan Istana Siak Sri Inderapura dan Balai Kerapatan Tinggi yang dibangun tahun 1886 masih tegak berdiri sebagai simbol kejayaan masa silam, termasuk Tari Zapin dan Tari Olang-olang yang pernah mendapat kehormatan menjadi pertunjukan utama untuk ditampilkan pada setiap perayaan di Kesultanan Siak Sri Inderapura. Nama Siak masih melekat merujuk kepada nama sebuah sungai di Provinsi Riau sekarang, yaitu Sungai Siak yang bermuara pada kawasan timur pulau Sumatera.
Peninggalan kerajaan berupa komplek Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama Istana Asserayyah Al Hasyimiah. Istana Asserayyah Al Hasyimiah ini disebut juga "Istana Matahari Timur" ditukangi oleh arsitek dari Jerman yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa, India dan Arab dengan perpaduan tradisional.




Peranan Sultan Pada Dewasa Ini
                Sultan Syarif Kasim II memberikan keputusan untuk bergabung dengan NKRI, sehingga pada tahun 1997, Dia mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999. Pada sekarang ini Istana ini dijadikan sebagai wisata sejarah berupa Istana Siak merupakan bukti kebesaran kerajaan Melayu Islam yang ada di daerah Riau. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan antara lain: Kursi Singgasana kerajaan yang berbalut (sepuh) emas, Duplikat Mahkota Kerajaan, Brankas Kerajaan, Payung Kerajaan, Tombak Kerajaan, Komet sebagai barang langka dan menurut cerita hanya ada dua di dunia dan lain-lain. Di samping Istana kerajaan terdapat pula istana peraduan. Istana Siak berada Jalan Sultan Syarif Kasim, di tepian Sungai Siak, tak jauh dari Jembatan Siak, jembatan gantung sepanjang 1.203 meter, yang diresmikan Presiden SBY pada 2007. Nama resmi jembatan ini adalah jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.
Istana dan jembatan Siak terhitung berada di dalam kota Siak Sri Indrapura, ibukota Kabupaten Siak. Lokasinya hanya dua kilometer dari kantor Bupati dan gedung DPRD
. Istana Siak juga terlihat tetap kokoh berdiri dan terlihat bagus karena hasil renovasi. PT Pembangunan Perumahan (persero) Tbk terakhir kali menenovasinya pada 2008. Dan sekarang tempat ini menjadi tempat wisata, di mana setiap orang boleh mengunjungi tempat ini, mulai dari wisatawan domestic mau pun wisatawan asing. Hanya dengan membeli tiket karcis (wisatawan domestik dewasa sebesar Rp 3.000 dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Untuk turis mancanegara dikenakan tarif Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak) kita dapatmasuk dan menikmati wisata sejarah ini. Istana Siak ini juga telah menjadi tanggung jawab darimenteri pariwisata di kabupaten Siak.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar