Selasa, 12 Juni 2012



Aditya Prabowo Raharjo 4423107027
Ujian Tengah Semester “Tradisi Etnik Nusantara”
Part 3

Upacara adat Betawi “Pengantin Betawi, Khitanan, dan Nujuh Bulan”

Setiap daerah memiliki adat istiadat dan budayanya sendiri. Begitu juga halnya orang betawi yang bermukim di Ibu Kota negara, selain memiliki dialek bahasa yang dikenal ke seluruh sepenjuru nusantara, prosesi adat pengantinnya pun khas dan sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Secara lengkap Pengantin kali ini menampilkan Rangkaian Upacara Adat Pengantin Betawi.

NGEDELENGIN
Dikalangan masayarakat betawi, apabila seorang jejaka belum mendapatkan pasangan, biasanya orangtua berusaha mencarikan calon istri/ mantu yang disebut ngedelengin. Jika ini terjadi, tugas ngedelengin dipercaya oleh orang lain, yang disebut mak comblang. Dialah yang mencari dan mengumpulkan berbagai informasi secara lengkap tentang rupa, kemapuan, perilaku, keadaan keluarga dan lainnya dari sang calon istri. Proses ngedelengin kemudian berlanjut ke tahapngelamar, yakni tindak aktif dari pihak keluarga jejaka untuk meminang sang gadis untuk dijadikan calon istri. Pada saat ngelamar, pihak keluarga jejaka membawa barang bawaan dalam wadah terbuka, berisi pisang raja berkualitas baik, roti tawar yang besar dan sirih kembang (sirih embun) yang dihias seindah mungkin, sehingga para kerabat, famili serta tetangga mendapat isyarat adanya kegiatan ngelamar. Selesai jamuan makan, dilanjutkan dengan dialog tahap kedua tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang menjadi permintaan keluarga si gadis. Sebagai pemeluk agama Islam, yang pertama diputuskan adalah soal mahar (mas kawin), kemudian persyaratan -persyaratan adat lainnya, sepertikekundang (makanan kesukaan calon istri), pecingkrem (cincin belah rotan), pesalin (seperangkat busana lengkap), uang belanja dan lainnya.

NGELAMAR
Setelah proses ngelamar selesai, utusan akan datang kembali untuk membawa tanda putus (pertunangan). Pada saat itu akan diputuskan hari dan tanggak pernikahan, sekaligus dibawa pecingkrem (cincin belah rotan) sebagai pengikat. Selain itu kepada si gadis diberikan uang persalin sekedarnya serta kue-kue.
Sebagai tanda pengikat, barang bawaan ini akan dibalas oleh keluarga si gadis dengan pengiriman sajian makanan beserta lauk pauknya, antara lain, ketan putih, opor ayam, semur bulat, sepasang pesmol bandeng, perkedel berbentuk hati serta beberapa kue basah khas Betawi. Barang balasan ini akan dibagikan kepada utusan dan anggota keluara sang jejaka. Masa tunangan biasanya tidak berlangsung lama. Umumnya tidak lebih dari satu tahun. Masa itu akan berakhir, jika pihak orang tua sang jejaka telah mengirimkan ututsan kembali menemui calon besan. Jika telah mencapai kata sepakat, maka dipersiapkan segala sesuatunya, menyangkut persiapan akad nikah. Pada saat-saat menjelang acara ngirik, potong centung, pakaipacar dan dimandiin. Secara rinci, perawatan untuk calon pengantin putri adalah :
 -Dipiare
Selama masa dipiare, calon pengantin putri mengenakan busana kebaya berlengan longgar, guna memudahkan saat berwudhu. Seluruh tubuhnya dilulur dengan ramuan lulur pengantin. Setiap selesai melaksanakan sholat, lulur pada wajah, lengan dan kaki calon pengantin diperbaharui kembali.
-Dimandiin
acara mandiin pengantin biasanya didahului dengan pembacaan doa bagi keselamatan dan keberkahan pengantin. Selesai pembacaan doa, pengantin putri mencium tangan kedua orangtua diiringi pembacaan shalawat Nabi, dipandu oleh tukang piare calon pengantin putri. Selanjutnya, menuju pemandian yang telah disiapkan. Yang mandiin calon pengantin putri "tukang piare", kedua orangtua, nenek, dan kakek, saudara-saudara dari kedua orangtua, dan lainnya yang dianggap perlu.
-Ditangas
Selesai dimandiin, calon pengantin putri ditangans, yakni mandi uap dengan ramuan tradisional untuk lebih membersihkan sisa-sisa lulur yang masih tertinggal pada pori-pori di sekujur tubuh. Uap yang dikeluarkan dari godokan rempah-rempah adalah dedaunan jeruk purut, irisan daun pandan, akar wangi, bunga dilem dan sereh, semuanya dengan porsi secukupnya.
-Dikerik dan Potong Centung
Selesai ditangas, caon pengantin putri selanjutnya menjalani kegiatan pengerikan dan potong centung. Pengerikan adalah menghilangkan bulu-bulu halus, biasanya disebut bulu kalong, yakni bulu-bulu halus yang  tumbuh disekitar tengkuk, dahi, pinggiran pipi kanan dan kiri. Sedangkan potong centung adalah memotong dan merapikan rambut cambang yang diapit oleh uang logam Rp.50-an.
setelah prosesi tadi selesai, calon pengantin dirias  dengan busana None Jakarta. Selanjutnya acara malam pacar. Calon pengantin didudukan di atas permadani besar, kemudian kuku di kedua belah jari tangannya diberi daun pacar yang telah ditumbuk halus. Pemakaian pacar diawali oleh tukang rias, disusuk oleh famili/krabat serta saudara-saudara dan teman-teman dari calon pengantin putri.

NGEBESAN/NGERUDAT
Acara ngebesan atau ngerudat adalah upacara  akad nikah atau ijab kabul. Pelaksanaannya dilakukan secara terbuka. Pengantin pria akan datang  dengan rombongan para pengiring yang besar, yakni calon pengantin pria diapit oleh para alim ulama, para penabuh rebana, dan di belakang terdapat rombongan bawaan yang terdiri dari :
Mahar/ mas kawin
Uang belanja pesta yang disusun sedemikian rupa menghiasi maket sebuah mesjid
Sirih Nanas, berupa sebentuk dekorasi daun sirih yang berwujud daun nanas. Hal tersebut merupakan simbol kehidupan yang penuh dengan duri namun selalu dibungai oleh manisnya kehidupan kasih sayang.
Sepasang roti buaya, sebagai simbol kerukunan hidup, kesetiaan dan berumur panjang.
Pisang raja dengan kualitas baik sebanyak 2 sisir.
Ujung-ujungnya diberi tutup runcing dari kertas keemasan. Hal ini melambangkan harapan agar kedua pengantin dapat menarungi kehidupan layaknya kehidupan para raja.
Kekudang, yaitu makanan kesukaan calon pengantin putri.
Beberapa nampan berisi persalin busana wanita.
Beberapa jenis kue-kue basah khas Betawi.
Miniatur kapal atau berbentuk pohon yang berisi aneka buah-buahan.
shie, yaitu peti susun berukir yang dipikul oleh dua orang, yang didalamnya berisi macam-macam bahan pangan mentah, seperti, telur asin, bihun, emping, daging sapi, sayur-mayur dan lain-lain.

Tepat didepan rumah calon pengantin putri, ngerudat disambut tuan rumah, diiringi bunyi tabuhan rebana. Pada saat akad nikah, pengantin pria mengenakan pakaian Jas Kasin Srebet, yaitu : mengenakan kopiah hitam, berbaju lengan panjang putih, mengenakan open jas model Eropa, berkain sarung plekat, dan memakai sepatu sendal pantovel.
Busana calon pengantin wanita pada saat akad nikah adalah busana Rias Bakal yang terdiri dari : baju kurung terbuat dari silk atau beludru, kain songket, panjang baju sekitar 10cm di atas lutut, memakai hiasan dada yang dinamakan lidah-lidah di beri hiasan tabur, dan selop penutup.


NGARAK PENGANTIN
Acara ngarak pengantin dilakukan dalam rangka mempertemukan untuk pertama kali kedua mempelai setelah pengantin pria pulang bersama rombongannya seusai akad nikah. Rombongan tersebut di awali oleh pembawa umbul-umbul berupa rangkaian kembang kelape. Kedua orang itu berpakaian sadarie/ baju pangsi. Di dalam rombongan juga terdapat rombongan penabuh rebana. Sebelum iring-iringan pengantar bergerak, terlebih dahulu dilepas dengan shalawat Dustur. lalu rombongan berjalan diiringi rebana sampai dimuka rumah pengantin putri. Meski telah di nanti-nanti kedatangannya, rombongan ngerudat tidak begitu saja dapat dengan mudah memasuki rumah tuan putri, karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Yaitu, Acara Buka Palang Pintu, yang terdiri dari : dialog atau berbalas pantun, pertandingan silat antar rombongan Tuan Putri dan Tuan raje Mude, dan tarikh lagu Zike. Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka Tuan raje Mude dapat bertemu, selanjutnya tukang rias membuka kerudung tipis yang menutupi wajah Tuan Putri (untuk memastikan apakah benar yang bersanding itu adalah si gadis pilihan, bukan orang lain). Kemudian Tuan raje Muda menyerahkan sirih dare ke pangkuan Tuan Putri. Selanjutnya, memastikan apakah dibalik cadar adalah tuan putrinya. Maka Tuan Raje Mude melaksanakan buka cadar, diteruskan dengan Tuan Putri melaksanakan sembah dan cium tangan pada Tuan Raje Mude. Lalu sembah dan cium tangan pada Tuan Raje Mude. Lalu sembah sujud dan cium tangan kepada kedua orangtua dan mertua. Terakhir, tukang rias menyuapkan ketan kuning yang dibawa pada sepasang wadah yang disebut dengan kembang adep-adep. Setelah itu kedua pengantin dipersilahkan duduk kembali, dan dilanjutkan dengan ucapan selamat dari para tamu yang hadir.

Sunat alias khitan secara harfiah berarti sama dengan sunnah dalam bahasa Arab. Sunat bagi orang Betawi adalah upacara memotong ujung penis anak lelaki dalam ukuran tertentu. Menurut ajaran agama Islam, bila anak lelaki memasuki akil balig ia harus segera dikhitan atau disunat. Jika anak lelaki sudah akil balig belum disunat, maka shalatnya tidak sah. Jika anak kecil yang belum masuk akil balig sudah rajin melaksanakan shalat lima waktu, maka orang Betawi menyebutnya anak baru belajar atau latihan membiasakan taat beribadah. Jika anak-anak yang belum sunat, biasanya dia dilarang shalat berjamaah berada di barisan paling depan. Itu hanya kebiasaan saja, bukan merupakan suatu larangan formal.
Dengan kata lain sunat dalam pandangan masyarakat Betawi dapat pula diartikan sebagai pembeda, yaitu pembeda antara anak-anak dengan seseorang yang sudah akil baligh. Seorang anak yang sudah disunat, dianggap sudah menjadi manusia sempurna, dalam arti dia sudah mempunyai kewajiban sebagai mana manusia dewasa. Ia wajib melakukan ibadah, ia wajib memahami peraturan-peraturan yang berlaku, dan seterusnya.

Jaman dulu jika seorang anak lelaki mau disunatin, Babe ataua Nyaknye akan rembukan dan memusyawarahkan pelaksanaan upacara sunat. Dalam rembukan biasanya selalu diajak orang tua atau sesepuh kampung yang nasehatnya akan jadi bahan pertimbangan. Tidak ketinggalan pula anak yang akan disunat diajak rembukan. Dalam rembukan yang dibicarakan antara lain:

1. Kepada si anak ditanyakan apakah ia mau atau sudah berani untuk disunat. Ini perlu sekali ditanyakan sebab jika si anak belum mau atau belum berani, dengan sendirinya tidak akan terlaksana karena dihawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Atau sering juga si anaklah yang sudah ingun sunat, lantaran ia diolok-olok temannya atau karena soal lain. Kepadanya titanyakan pula apakah ingin diarak berkeliling kampung atau tidak. Kalau ingin diarak, apakah ia ingin diarak dengan diusung tandu, atau dengan menaiki kuda. Ia juga ditanyakan apakah ingin ada hiburan dan apa hiburan yang dipilihnya. Ia bebas memilih jenis hiburan apa saja yang disukainya.

2. Mencari atau nentuin Bengkong atau dukun sunat yang akan dipanggil buat nyunatin. Sebab setiap Bengkong punya kekhasan sendiri-sendiri. Kalu tangan Bengkong emang jodo, si anak yang disunat akan cepet sembunye. Kalu tangan Bengkong termasuk panas, akan lama sembunye, bisa makan tempo 10 ampe 20 hari. Biasanya Bengkong yang ude senior (pengalaman dan doa-doanya) akan lebih diutamain. Emang kalu menurut sejarahnye, Bengkong yang baik itu punya ajian atau doa-doa mustajab yang dapat menghipnotis si anak nggak ngerasa takut, nggak merasa sakit, dan nggak terlalu banyak ngeluarin darah seude ujung tititnye dipotong. Jaman dulu dokter sangat jarang, cuman ade di kota. Sedangkan di kampung-kampung hanya ada Bengkong atau dukun sunat. Tapi kalu jaman sekarang Bengkong ude rada jarang, yang banyak dokter. Pokoknye sekarang suse, deh, nyari Bengkong.

3. Nentuin kapan (hari, tanggal) pelaksanaan sunat. Pada umumnya orang Betawi nyunatin pada bulan Maulid atau bulan Syawal (abis Lebaran). Jaman sekarang biasanye seudenye kenaekan kelas, pas waktu liburan sekolah. Terus ape mao diramein atau acara yang sederhana saja. Tapi kalo dia keluarga mampu, tentu diramein dengan upacara adat Betawi lemgkap.

Kalu ketiga hal di atas sudah ditentukan, selambat-lambatnya 15 hari segera dilaksanakan acaranya. Si anak biasanya sudah dilarang lompat-lompatan atau lari-larian. Sebab kalu aktivitas itu dilakukan, dapat dipastikan saat ujung tititnya disunat akan banyak mengeluarkan darah. Sehari sebelum hari H (hari pelaksanaan) biasanye si anak diriasin dengan rias dan pakaian kebesaran sunat dijadiin penganten sunat. Pagi-pagi sekitar jem 8 si anak mulai diarak keliling kampung. Tujuannye untuk memberi hiburan atau memberi kegembiraan serta semangat kepada si anak bahwa besok dia akan dapat pengalaman baru, yaitu pengalaman sunat. Pada event ini pelengkap dan pendukung acaranya antara lain:

Mempergunakan pakaian sunat lengkap yaitu sebagai berikut:
-Jubah, atawe jube, yaitu pakaian luar yang longgar dan besar serta terbuka pada bagian tengah depan dari leher sampai ke bawah, dengan kepanjangan yang kire-kire tiga (3) jari dari pakaian dalamnya atau boleh juga sama panjangnye dengan pakean dalemnya
-Gamis, yaitu pakean dalam berwarna muda, kalem, dan lembut yang tidak terlalu kontras dengen warna jubahnya. Gamis ini tidak dihias alias polos.
Selempang. Selempang dikenakan sebagai tanda kebesaran. Namun demikian pakean selempang ini dipakai dibagian dalam jubah. Lebarnya kira-kira 15 cm. Cara memakainmya diselempangkan pada pundak kiri menuju pinggang kanan.
-Alpie, yaitu tutup kepala khas sorban haji yang tingginya disesuaikan dengan yang memakainya, dililit sorban putih atau emas. Hiasan alpie adalah melati tige untai/ronce, nyang bagian atasnya diselipkan bunga mawar merah dan ujungnya ditutup dengen bunga cempaka.
-Alas kaki, berupa sepatu tutup alias vantopel atau banyak juga yang menggunakan trompah berhiaskan mote.

Pembacaan sholawat Dustur oleh tim marawis
Group Rebanaan ketimpring sebagai peneman arak-arakan
Kuda yang dihias
Delman yang dihias
Group Tandjidor dan atau Ondel-ondel
Pelaksanaan sunat dibagi dua, yaitu hari pertama dan hari pelaksanaan sunat. Hari pertama disebut juga hari membujuk dan menghibur si penganten sunat. Seudenye si penganten sunat diriasin pakean penganten sunat, di depan pintu rume dibacain shalawat dustur. Abis itu diarak dengan rebana ketimpring dan shalawat badar menuju kuda. Kuda inipun dirias sedemikian rupa antara lain dengan bunga-bunga dan bermacam buah-buahan. Di dekat ekor kuda digantungkan seikat padi dan sebuah kelapa. Biasanya si anak akan didampingi teman-teman bermainnya yang sebaya. Dia naek kuda dan teman-temannya mengiringinya dengan naek delman. Berjalan di barisan paling depan adalah grup ondel-ondel yang menari-nari dengan lincahnya. Rombongan keliling kampung. Terus berkeliling kampung semampu atau sejauh yang dapat dilewatinya. Temannya bisa naek kuda atau naek delman, kalau disediain. Rebana ketimpring terus ngikutin. Di barisan paling belakang ade rombongan tetangga, dan orang-orang kampung ikut ngeramein. Rame dan meriah, dah, pokoknye.

Jaman dulu pada hari pelaksanaan sunatan, yang harus dikerjakan si penganten sunat adalah pada pukul 05.30 sampai 06.00 WIB berendem atau mandi di kali. Ini tujuannya sebagai pengganti bius dan membuat kebal titit si anak. Darahpun tidak terlalu banyak keluarnya. Pas waktu menunjukkan pukul 06.15 menit Bengkong dateng. Si anak dengan memakai baju sadariah berserebet kain sarung udah siap duduk di bangku. Sambuk kelapa untuk menahan sarung menempel ke penis yang disunat sudah disiapkan. Sebelum Bengkong dengan peralatan sunatnya (piso sunat, dua batang bambu ukuran sumpit yang disebut bebango atau bango-bango) beraksi, biasanya orang tua si anak lebih dulu datang menghiburnya menanyakan apa yang diinginkan si anak. Si penganten sunat akan meminta sesuatu barang yang disukainya, misalnya sepeda atau hewan piaraan seperti ayam, menile, kambing, dan lain lain. Selain itu di sisi si anak disajikan/disiapkan meja yang di atasnya sudah ditata bekakak ayam lengkap dengan nasi kuning dan buah-buahan. Bekakak ayam adalah ayam panggang yang tidak dipotong-potong dan nanti setelah sunat akan dimakan bersama teman-teman sebayanya yang datang saat sunat.

Bengkong yang andal dan bijaksana sangat humoris dan mengerti betul psikologi anak. Anak yang ketakutan akan dihibur dengan kata-kata lucu atau dengan mendendangkan nyanyian shalawat. Bisa juga di antara keduanya terjadi dialog membicarakan hal-hal yang disenangi si anak. Sambil berdialog tangan terampil si Bengkong akan bekerja dengan cepat dan saat dialog belum selesai, tugasnya mengkhitan sudah selesai tanpa disadari si anak. Selesai dipotong dan darah masih keluar, Bengkong akan menaburi obat anti biotik yang dibuat dari kerikan batok kelapa, lugut kulit pelepah kelapa muda, atau sarang galanggasi. Masa kini mungkin orang akan berfikir dua kali untuk memakai anti biotik semacam ini, sebab terlihat sangat tidak higienies. Pantangan bagi anak yang disunat tidak boleh makan ikan asin dan masakan yang dicampur udang. Dia juga tidak boleh melangkahi tai ayam. Entah apa hubungannya antara melangkahi tai ayam dengan sunat. Jelasnya anak-anak yang sunat tidak berani melangkahi tai ayam.
Dulu bersamaan dengan pelaksaan sunat dilaksanakan pula kegiatan motong ayam jago dan masang petasan. Hal ini dimaksudkan untuk memecah konsentrasi anak-anak sebaya yang belum disunat. Anak yang disunat biasanya menangis dengan suara yang cukup keras karena manahan sakit dan untuk membuat suara tangisan itu tidak terlalu didengar oleh anak-anak, maka suara ayam yang dipotong dan bunyi petasan akan mengimbangi suara tangisan. Dengan begitu anak-anak yang datang menonton dan belum disunat tidak akan takut jika nanti dia pun akan sunat. Selain itu suara petasan itu maksudnya sebagai kabar kepada tetangga bahwa pelaksanaan sunat sudah selesai.

Selesai disunat si anak akan memperoleh hadiah dari kakek, nekek, encang, encing, famili lain dan para tetangganya. Hadiah itu bermacam-macam jenisnya tapi yang utama adalah uang. Setelah itu dilaksanakan selametan atau tahlilan termasuk muludan. Memang sudah menjadi tradisi orang Betawi bahwa setiap melaksanakan kegiatan, membaca maulid Nabi Muhammad SAW selalu disertakan bahkan pada waktu tahlilan kematian sekalipun. Hidangan utama khitanan biasanya nasi kuning. Nasi kuning Betawi terbuat dari beras ketan dan lauk-pauknya berupa semur daging, acar kuning, serondeng, bawang goreng, emping ninjo.
Selepas shalat zuhur undangan resepsi mulai berdatangan. Ondel-ondelpun sudah mulai beraksi dan berhenti menjelang maghrib. Malamnya diakan tontonan lenong, topeng, dan Sohibul hikayat. Ada juga yang nanggap wayang kulit Betawi sampe subuh atau jenis kesenian lainnya yang sesuai dengan permintaan si penganten sunat. Bagi orang Betawi melaksanakan resepsi khitanan dilakukan hanya untuk anak lelaki pertama saja atau sulung, anak lelaki lain yang disunat tidak lagi dirayakan besar-besaran, paling-paling bikin selamatan tahlil dan maulid saja.


Upacara kehamilan dilakukan sebagai upaya memberitahukan kepada masyarakat, tetangga-tetangga dan kerabat keluarga, bahwa seorang wanita sudah betul-betul hamil dan akan melahirkan ketu¬runan. Selain itu, juga mengandung harapan agar ibu yang me¬ngandung dan bayi yang dikandungnya mendapat keselamatan.

Kepercayaan yang berkenanan dengan siklus hidup idividu seperti upacara "nujuh bulanan" ini masih kuat melekat pada orang Betawi di Kampung Bojong. Mereka percaya bahwa upacara "nujuh bulanin" perlu dilakukan demi keselamatan ibu dan anak yang dikandungnya. Selain itu mereka juga percaya bahwa upacara nujuh bulanin merupakan penangkal agar anak yang akan dilahir¬kan kelak patuh kepada orang tuanya dan tidak nakal.

Upacara "nujuh bulanin" di lakukan pada saat mengandung pertama, dan usia kandungannya sudah tujuh bulan. Karena itulah upacara ini disebut "nujuh bulanin". Pada kehamil¬an kedua dan seterusnya tidak dilakukan upacara semacam ini lagi.

Upacara ini selalu menggunakan sajian, dan salah satu sajian yang terpenting adalah bunga yang berjumlah tujuh macam. Bunga ini bermakna bila bayi yang lahir kelak laki-laki akan da¬pat membawa nama yang harum bagi orang tuanya sebagai harum¬nya bunga, dan kalau bayi tersebut wanita, supaya cantik seperti cantiknya bunga. Menurut kepercayaan mereka, sajian terutama bunga harus lengkap, apabila sajian tidak lengkap kemungkinan besar bayi akan lahir dengan sulit atau setelah dewasa nanti, si anak tidak menurut kepada orang tua.

Upacara Kekeba : Upacara Nujuh Bulanin
Salah satu upacara tradisional yang berkaitan dengan masa kehamilan pada masyarakat Betawi ialah upa¬cara "kekeba"atau "nujuh bulanin"."Nujuh bulanin" asal dari ka¬ta 'tujuh bulan', maka dan itu upacara ini selalu dilakukan pada bulan ketujuh kehamilan. Diambil pada bulan ketujuh karena pada usia kehamilan tersebut janin dianggap telah sempurna, sudah ber¬bentuk dan sudah diberi roh oleh Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menyatakan rasa bersyukur kepada Tuhan, maka dilaksanakan upacara ini.

Maksud dan Tujuan Upacara
Upacara "nujuh bulanin" atau "kekeba" dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan rasa aman serta mensyukuri nikmat Tuhan, dan memohon keberkahan kepada Tuhan atas dikarunia¬nya anak, dengan harapan anak yang akan dilahirkan mendapat keselamatan dan kelak menjadi anak yang saleh, berbudi pekerti luhur, dan patuh kepada orang tuanya.

Waktu Penyelenggaraan Upacara
Waktu penyelenggaraan upacara "Nujuh Bulanin" ditetapkan menurut perhitungan bulan Arab dengan berpatokan pada bilang¬an 7. Upacara ini dilakukan pada bulan ketujuh kehamilan. Tang¬galnya dipilih antara 7, 17, atau 27.

Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari, dimulai pada sekitar pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai. Pada waktu itu biasa diadakan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, terutama Surat Yusuf , yang diselenggarakan oleh pengajian kaum wanita. Selan¬jutnya acara mandi bagi siibu yang hamil. Memandikan biasanya dimulai oleh seorang dukun wanita, dilanjutkan oleh suami, orang tua (ibu) si hamil, mertua perempuan dan kerabat dekat hingga mencapai jumlah tujuh orang. Selesai acara memandikan, dilanjutkan dengan "ngorong"atau "ngirag".

Setelah semua acara yang pokok selesai dilaksanakan, kemudi¬an dilanjutkan dengan acara makan siang. Setelah itu acara pemba¬gian rujak kepada tamu yang hadir.

Tempat penyelenggaraan Upacara:
Upacara "Nujuh Bulanin" biasa silaksanakan di rumah yang punya hajat, apabila mereka telah memiliki rumah. Bila tempat¬nya kurang mengijinkan, adakalanya diselenggarakan di rumah orang tuanya atau di rumah mertuanya. Dukun beranak serta pem¬baca doa/kelompok pengajian ibu-ibu dipanggil supaya hadir pada hari yang telah ditetapkan.

Ruang tamu bagian depan biasa dipakai untuk tempat pemba¬caan doa yang dilakukan oleh kelompok pengajian ibu-ibu. Mereka membacakan ayat-ayat suci Al Quran, antara lain Surat Yusuf, Surat Mariam, dan lain-lain . Ruang kelauarga yang biasanya berada di tengah-tengah rumah, dipakai sebagai tempat untuk me¬Iaksanakan upacara yang dihadiri oleh sanak keluarga pihak wanita dan keluarga pihak laki-laki, tetangga yang hadir kebanya¬kan terdiri dan kaum ibu-ibu.

Kamar mandi keluarga sebagai tempat upacara wanita yang hamil. Bisa juga dipakai halaman di samping rumah. Tempat ini dipakai sekalian menjadi tempat membagikan rujakan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tamu-tamu yang hadir mencicipi rujak yang disuguhkan. Bila rasa rujak sangat enak dan herkenan di hati, mereka meramalkan bahwa bayi yang akan lahir adalah seorang wanita. Adapun acara "ngorog/ngirag", tempatnya di didam kamar atau di ruangan yang tertutup.

Penyelenggaraan Teknis Upacara
Sebelum upacara dimulai, wakil dari keluarga, biasanya seorang yang dituakan dan merangkap sebagai pembawa acara, memberikan penjelasan mengenai maksud diselenggarakan upacara selamatan tersebut, serta mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada sanak keluarga serta para tamu yang hadir. Pada saat upacara berlangsung, teknis pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada seorang dukun beranak yang biasanya sudah berumur lanjut. Dukun ini menguasai benar seluk beluk mantera¬-mantera yang berhubungan dengan kehamilan, serta urut-urutan upacara dan mulai hingga selesai.

Peranan dukun beranak ini amat penting dan menempati posisi sentral dalam upacara selamatan "Nujuh Bulanin", sehingga semua yang hadir menyimak dan mengikutinya dengan seksama. Di samping sebagai penanggung jawab teknis upacara, dukun ini dibantu oleh beberapa kaum ibu yang bertugas mempersiapkan kain batik, baju, handuk, air yang ditempatkan di dalam ember dengan diberi 7 macam bunga-bungaan, gayung mandi dan se¬bagainya, untuk pelaksanaan upacara memandikan.

Kelompok pengajian dipimpin oleh seorang ibu, yang biasa juga memimpin pengajian pada acara-acara lain¬nya. Kelompok ini terdiri dari kaum ibu yang berjumlah antara 10 hingga 15 orang dengan berbusana muslim.

Pada pelaksanaan upacara ini, kaum wanita memegang peranan penting. Ini sekaligus menunjukkan unsur emansipasi dan ke¬gotongroyongan pada masyarakat Betawi. Mereka dengan senang hati membantu melaksanakan sepenuhnya kegiatan upacara tersebut sejak dimulai hingga selesai pelaksana¬annya.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Upacara
Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara "Nujuh Bulanin" meliputi : dukun beranak, pembawa acara (biasanya seorang ibu yang dituakan), pembaca doa-doa dan ayat suci Al Quran, keluarga dan pihak istri dan dan pihak suami, para tetangga, dan tamu-tamu lainnya. Semua pihak yang tersebut ini selama berlangsungnya upacara mengikutinya hingga selesai. Keterlibatan wanita hamil yang diupacarakan, karena memang dialah pelaku utama dalam upacara ini, dan dia yang akan di¬mohonkan keselamatannya serta bayi yang dikandungnya.

Keluarga dari pihak istri dan keluarga dari pihak suami ter¬utama dan kaum ibunya, juga sangat berperanan, karena mereka yang membantu tenaga dan pikiran supaya upacara dapat ber¬langsung dengan baik.

Dukun beranak sebagai penyelenggara teknis upacara, me¬rupakan pihak yang bertanggung jawab atas terselenggaranya selamatan ini. Dukun ini bertugas sebagai penghubung untuk menyampaikan berbagai keinginan dan harapan yang punya hajat.

Kelompok pengajian ibu-ibu yang membacakan doa-doa dan ayat-ayat suci Al Quran merupakan kelompok pembantu ibu dukun beranak dalam pelaksanaan upacara ini. Salah satu ayat dari kitab suci Al Quran yang dibacakan pada selamatan ini adalah Surat Yusuf, dengan harapan agar kelak bayi yang akan dilahirkan berparas dan berperangai seperti Nabi Yusuf dalam keluhuran budi dan akhlaknya, kesabaran dan kepatuhannya kepada orang tua.

Sanak keluarga kaum ibu yang masih muda dan gadis-gadis bertugas menyiapkan penganan berupa kue-kue, seperti dodol, wajik, uli, dan lain-lain. Juga kadang dibuat nasi tumpeng dengan lauk pauknya dan sayur urapan.

Tamu-tamu lainnya termasuk para tetangga ikut terlibat se¬bagai undangan. Mereka hadir untuk berpartisipasi dan ikut me¬manjatkan doa bagi si ibu yang hamil serta bayi yang dikandung¬nya. Semua hadirin yang terlibat dalam upacara ini hadir sesuai yang dijadwalkan.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Menjelang usia kandungan tujuh bulan, si suami dan istri sudah mulai bersiap-siap untuk merencanakan upacara "Nujuh Bulanin". Rencana ini segera diberitahukan kepada orang tua kedua belah pihak, dan penye¬lenggaraannya dapat dikerjakan bersama-sama pula. Rencana ini biasanya mendapat dukungan dan diselesaikan secara gotong royong, hal ini karena ikatan kekeluargaan yang sudah erat di antara mereka.

Bila sudah tiba waktunya, mereka mempersiapkan segala yang diperlukan, seperti mempersiapkan bahan untuk membuat rujak yang terdiri dari 7 macam huah-buahan, yaitu : buah delima, mangga muda, jeruk merah (jeruk Bali), pepaya Mongkal, bengkuang, kedondong, ubi jalar, serta bumbu rujak yang terdiri dari gula merah (gula jawa), asam jawa, cabe rawit, garam, terasi, dan lain-lain.

Buah delima jangan sampai ketinggalan, begitu juga jeruk bali merah. Menurut mereka, buah delima yang masak dan berwarna merah akan membuat bayi yang akan dilahirkan kelak sangat menarik dan disenangi orang. Jeruk bali merah mempunyai maksud tersendiri. Jeruk merah biasanya rasanya manis dan enak dibuat rujak, dan bila dikupas kulitnya mudah terkelupas. Hal ini diumpamakan agar bayi yang akan dilahirkan kelak akan mudah dan lancar serta tidak mengalami kesulitan, semudah mengupai jeruk merah tersebut.

Untuk keperluan mandi disiapkan tempat air. Orang Betawi dulu menggunakan "jolang" berbentuk lonjong dan terbuat dari kaleng atau seng, sekarang dipergunakan ember plastik yang ber¬ukuran cukup besar. Ke dalam ember itu diisikan 7 macam bunga yang harum baunya, seperti : bunga mawar merah, mawar putih, melati, kenanga, cempaka, sedap malaria, dan bunga tanjung. Dipilihnya jenis-jenis bunga ini karena banyak digemari orang, dengan harapan bayinya kelak juga akan disenangi orang-orang di lingkungannya.

Selain tujuh macam bunga, untuk mandi juga dipergunakan 7 helai kain batik dan baju kebaya (blouse) 1 potong, telur ayam kampung 1 butir, dan minyak wangi. Air untuk mandi digunakan air yang bersih dan diambil dari tujuh mata air atau tujuh sumur.

Untuk keperluan "ngorog" atau "ngirag" perlu disediakan kembang dan beberapa mata uang lobam ratusan atau lima pu¬luhan serta kain putih sebanyak kurang lebih satu meter. Kembang yang dipakai sama dengan kembang yang digunakan untuk mandi. Kembang dan uang logam digulung longgar dengan kain putih, seperti orang menggulung tembakau dengan kertasnya. Gulungan kain putih yang berisi kembang dan uang logam tadi dismpan dahulu untuk dipergunakan nanti setelah acara mandi.

Sesajen yang ditempatkan pada buah bakul berisi antara lain: beras 3 liter, sebutir kelapa, garam satu bata, dan bumbu dapur (cabe, bawang, terasi, kunyit, dan lain-lain). Bakul sesajen di¬tutup dengan sehelai kain putih.

Sedangkan perlengkapan di atas, yang tidak boleh dilupakan ialah kemenyan dan perasapannya. Asap kemenyan dipandang sebagai sesuatu yang mempunyai kekuatan magis sebagai media untuk dapat berhubungan dengan alam semesta. Selain itu juga mempunyai makna untuk memanggil roh nenek moyang mereka di mana diharapkan roh tersebut akan menjaga anak cucunya dari segala gangguan makhluk halus.

Jalannya Upacara
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, seorang ibu wakil dari pihak keluarga yang punya hajat menyampaikan sambutan dan menjelaskan maksud penyelenggaraan upacara tersebut. Acara dilanjutkan dengan pengajian dengan membaca ayat-ayat suci Al Quran, terutama Surat Yusuf, serta memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembacaan ayat Surat Yusuf dimaksudkan agar bayi yang akan lahir kelak dapat meneladani sifat-sifat Nabi Yusuf serta mempunyai paras yang rupawan.

Selesai pembacaan doa-doa, lalu air putih di dalam gelas yang telah dipersiapkan sebelumnya dan diletakkan di tengah-tengah ibu-ibu yang tengah mengaji, diminumkan kepada calon ibu yang diselamatkan, dengan harapan agar bayi yang dikandungnya dapat lahir selamat dan lancar tanpa aral rintangan.

Dukun beranak yang memegang peranan di sini menggandeng si ibu hamil menuju ke tempat mandi atau halaman rumah yang akan dipakai untuk tempat memandikan, diikuti oleh kaum Ibu Iainnya. Di tempat ini si ibu hamil didudukkan di atas kursi dengan baju lengkap dan kain sedikit dilongarkan. Ibu dukun mulai mengucapkan "Bismillaahirrakhmaanirrakhim", lalu di¬ikuti dengan membacakan doa-doa dan mantera yang diucapkan di dalam hati. Setelah itu dukun beranak itu memegang ubun-ubun kepala si ibu hamil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang gayung yang dicidukkan ke dalam air kembang lain diguyurkan di atas kepala si ibu hamil, kemudian diulang sampai tujuh kali hingga sekujur tubuh si ibu hamil basah kuyup. Setelah itu kain dan baju si ibu hamil diganti yang baru.

Tugas siraman kedua diserahkan kepada suami si ibu hamil. Dengan mengucapkan "Bismillaahirrakhmaanirrakhim" si suami pun mengguyurkan air ke kepala istrinya. Selanjutnya berturut¬turut dilakukan oleh ibu, mertua, dan kerabat wanita si ibu hamil hingga seluruhnya berjumlah 7 orang. Selesai acara siraman, si ibu hamil lalu mengeringkan badan dan rambutnya dengan handuk.

Selanjutnya si ibu hamil berdiri dengan posisi kedua kaki agak melebar dan kainnya agak dilonggarkan sambil kainnya dipegangi oleh ibu-ibu yang lain, sehingga tampak seolah-olah si ibu hamil itu berada dalam kurungan kain. Kemudian dukun beranak me¬ngambil sebutir telur yang diletakkan di dalam air kembang. Telur itu diletakkan di ubun-ubun si ibu hamil. Sambil tetap digenggam, telur itu seolah-olah digelindingkan dari kepala sampai ke dada dan perut si ibu hamil. Sebelum telur diluncurkan, si dukun mengucapkan mantera yang berbunyi :

"Assalaamualaikum, waalaikum salam Sami Allah nutup iman
Masuk aken si jabang bayi
Masuk aken si putih
Si jabang bayi rep sirep
sing idup putih"

Mengucapkan mantera di atas oleh dukun disebut "disampur¬nain". Selesai membacakan mantera, telur kemudian diluncur¬kan, lalu dijatuhkan hingga pecah. Dengan demikian, maka selesailah tahap kedua upacara "Nujuh Bulanin".

Selanjutnya si ibu hamil diberi handuk dan berganti pakaian dengan kain yang baru, dibimbing oleh dukun berjalan menuju ke dalam kamar untuk "dirorog". Acara ini dilaksanakan di dalam kamar yang tertutup. Pada acara ini yang ada hanya dukun ber¬anak dan si ibu hamil saja. Minyak kelapa dan kain putih sudah tersedia untuk acara "ngorog" ini. Mula-mula si ibu hamil disuruh tidur terlentang, perutnya diperiksa oleh si dukun. Bila terdapat kelainan pada kandungannya maka sang dukun dapat membetul¬kannya, namun apabila normal kandungannya cukup diusap-usap beberapa kali sebagai syarat sambil membaca mantera yang berbunyi :

"Assalamualaikum,
Sekarang si jabang bayi lu ditutupi bulan
supaya lu selamet menjadikan orang bener
nanti kali udah waktu medal
di surga yang lempeng, yang bener"

Kemudian dukun beranak "mengorog-orognya" dengan cara mengurut bagian tubuh dari atas bahu sampai ke bawah berulang kali hingga tiga kali. Selesai dirorog, si ibu hamil berpakaian kembali secara lengkap dan berhias menurut kebiasaannya. Se¬lanjutnya si ibu hamil bersama dukun beranak ke luar dari kamar dan disalami oleh para kerabat yang hadir, sekaligus memberi doa restunya, lalu duduk bersama menunggu acara makan.

Selesai acara makan bersama, tahap selanjutnya acara memba¬gikan rujak oleh si ibu hamil kepada para tamu yang hadir. Ru¬jakan terdiri dari 7 macam buah-buahan, diberi bumbu gula asam serta cabe rawit. Para kerabat dan para tamu akan mencicipi dan menilai rasa rujak buatan si ibu hamil. Bila rujak terasa sangat enak dan berkenan di hati, mereka meramalkan bahwa si bayi kelak adalah seorang anak perempuan. Sebaliknya bila rujak terasa pedas, maka diramalkan bayi yang akan lahir adalah laki-laki.

Demikian, upacara ditutup dengan makan rujak bersama-¬sama. Selesai acara makan rujak, para tamu pun kembali ke rumahnya masing-masing. Waktu ibu dukun mau pulang, diantar oleh keluarga si ibu hamil di depan rumah, sambil menyerahkan sajen, satu kain basah bekas mandi nujuh bulan, uang, dan ma¬kanan serta lauk-pauknya.

Pantangan-Pantangan yang Harus Dipatuhi
Menurut kepercayaan masyarakat Betawi selama istri sedang hamil berlaku larangan-larangan yang menurut istilah mereka disebut "pemali". Pantangan ini tidak boleh dilanggar kalau ingin persalinan berlangsung dengan lancar dan selamat kelak. Dengan demikian, maka suami istri harus saling mengingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang terlarang.

Bagi suami dan istrinya yang sedang hamil berlaku pantangan¬-pantagan antara lain:
-Tidak boleh keluar rumah pada waktu magrib. Tidak boleh duduk diambang pintu.
-Tidak boleh mandi setelah dan pada waktu magrib. Tidak boleh mengisi kapuk ke dalam bantal/guling.
-Tidak boleh membunuh binatang.
-Tidak boleh menyembelih hewan, misalnya ayam, kambing, dan lain-lain.
-Tidak boleh mencela bentuk-bentuk yang aneh, terutama apabila hal ini terdapat pada seseorang, misalnya kaki pincang, mata buta, bibir sumbing, dan cacat tubuh lainnya.
-Suami dan istri yang hamil selama bayi di dalam kandungan diharapkan agar selalu berbuat kebajikan, dermawan, selalu ber¬ibadah dan mencari kegemaran yang bermanfaat, seperti member¬sihkan rumah/pekarangan, memperbaiki rumah, dan lain-lain. Menghormati orang lain dan selalu berbuat hal yang disenangi oleh orang tuanya. Juga diharapkan agar suami selalu memenuhi kehendak istri yang sedang hamil.

Lambang-lambang atau Makna-makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara:
Pada umumnya setiap benda yang digunakan dalam upacara mengandung arti atau makna khusus sesuai dengan konsep alam pikiran masyarakat pendukungnya. Adapun lambang-lambang yang terdapat dalam upacara "Nujuh Bulanin", dapat dikemukakan sebagai berikut:

-Doa, lambang penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama yang dianutnya.
-Mantera, lambang kekuatan untuk menundukkan makhluk halus, orang yang akan membacakan mantera dianggap orang yang mempunyai kekuatan untuk menundukkan roh halus.
-Bunga tujuh macam, mengandung arti tujuh sifat: hidup, kekuatan, penglihatan, pendengaran, perkataan, perasaan, dan kemauan.
-Tujuh macam buah-buahan yang dibuat rujakan melambangkan rasa kekeluargaan, kegotongroyongan masyarakat, kesu¬buran, dan kemanisan hidup.
-Kain batik dimaksudkan untuk memberikan perlengkapan dan pakaian suci dan bersih bagi roh-roh halus.
 -Air yang dipakai untuk menyiram (memandikan si ibu hamil) mempunyai makna kesucian, air adalah merupakan salah satu unsur asal manusia.
-Kain Putih, merupakan lambang kesucian hati.
-Telur ayam, merupakan lambang kebulatan tekad disertai keikhlasan dalam menerima segala macam pemberian dari Sang Pencipta.
-Kemenyan, merupakan lambang magis sakral, asap kemenyan yang wangi mengundang hadirnya makhluk halus yang baik dan mengusir makluk halus yang jahat, agar yang hamil diber¬kati dan dilindungi keselamatannya.
-Beras putih, mempunyai makna keselamatan hidup di dunia.
-Nasi tumpeng dan lauk pauknya, mempunyai makna suatu pengharapan adanya rasa tenteram bagi keluarga.
-Minyak kelapa, melambangkan pelicin, yang berarti segala apa yang diminta akan terkabul.
-Kue-kue tradisional terutama yang berasal dari padi menjadi beras lalu menjadi tepung dan diberi gula merah, melambang¬kan suatu cita-cita, bahwa setiap tanaman akan semanis kue-kue tersebut.
-Sesajen, merupakan simbol upacara yang mempunyai makna permohonan kepada roh nenek moyang, agar dapat melindungi dan terhindar dan segala macam bahaya, penyakit, maupun kelainan dan kandungan, dan terhindar dari gangguan makhluk halus.

Demikianlah, lambang-lambang dan makna simbol sebagai kunci yang digunakan oleh masyarakat Betawi.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar