Selasa, 12 Juni 2012

UTS PART 5 - PUGO SURYA ADHITAMA


NAMA        : PUGO SURYA ADHITAMA
NIM             : 4423107050

KEBERADAAN FOLKLORE DAN FUNGSI FOLKLORE BAGI PARA GUIDE

Folklor sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklornya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore. Folklor ialah kebudayaan manusia yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat .Dapat juga diartikan Folklor adalah adat-istiadat tradisonal dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, dan tidak dibukukan merupakan kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun menurunFolk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain : berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama. Namun, yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang telah mereka akui sebagai milik bersama. Selain itu, yang paling penting adalah bahwa mereka memiliki kesadaran akan identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dengan demikian, pengertian folklor adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Agar dapat membedakan antara folklore dengan kebudayaan lainnya, harus diketahui ciri-ciri utama folklore. Folklore memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Berkembang dalam versi yang berbeda-beda, hal ini disebabkan penyebarannya secara lisan sehingga folklor mudah mengalami perubahan. Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap bertahan. Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak diketahui lagi orangnya. Biasanya mempunyai bentuk berpola. Kata-kata pembukanya misalnya Menurut sahibil hikayat (menurut yang empunya cerita) atau dalam bahasa Jawa misalnya dimulai dengan kalimat anuju sawijing dina (pada suatu hari). Mempunyai manfaat dalam kehidupan kolektif. Cerita rakyat misalnya berguna sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan cerminan keinginan terpendam. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Menjadi milik bersama (colective) dari masyarakat tertentu. Pada umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang jujur.

            Jenis folklore ada 3 antara lain folklore lisan, folklore sebagian lisan, folklore bukan lisan. Folklor lisan meliputi sebagai berikut: bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, otomatis, ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran, pertanyaan tradisonal yang dikenal sebagai teka-teki, sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair, cerita prosa rakyat, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale), seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, Sangkuriang dari Jawa Barat, Roro Jonggrang dari Jawa Tengah, dan Jaya Prana serta Layonsari dari Bali, nyanyian rakyat, seperti Jali-Jali dari Betawi. Folklore sebagian lisan meliputi sebagai berikut: kepercayaan dan takhayul, permainan dan hiburan rakyat setempat, teater rakyat, seperti lenong, ketoprak, dan ludruk, tari rakyat, seperti tayuban, doger, jaran, kepang, dan ngibing, ronggeng, adat kebiasaan, seperti pesta selamatan, dan khitanan upacara tradisional seperti tingkeban, turun tanah, dan temu manten, pesta rakyat tradisional seperti bersih desa dan meruwat. Folklore bukan lisan meliputi sebagai berikut: arsitektur bangunan rumah yang tradisional, seperti Joglo di Jawa, Rumah Gadang di Minangkabau, Rumah Betang di Kalimantan, dan Honay di Papua, seni kerajinan tangan tradisional, pakaian tradisional, obat-obatan rakyat, alat-alat musik tradisional, peralatan dan senjata yang khas tradisional, makanan dan minuman khas daerah. Fungsi Folklor meliputi sebagai berikut: Sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidik anak, sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Indonesia sungguh mengagumkan sekali karena kekayaan sejarah, budaya dan keseniannya. Nusantara dengan keelokannya menyimpan misteri yang masih belum terungkap seluruhnya, salah satunya adalah keberadaan folklor yang terdapat di daerah, yang belum sempat ditulis di lembaran kertas (pendokumentasian). Manfaat yang diperoleh selain sebagai dokumen juga dapat dijadikan bacaan kaum muda. Di setiap daerah tentunya mempunyai ciri khas tersendiri sehingga antara satu daerah dengan daerah lain berbeda jadi betapa pentingnya folklore untuk pengetahuan generasi muda sekarang, agar mereka memahami identitas dearahnya.  Folklore merupakan salah satu warisan kebudayaan secara turun-temurun serta folklore juga merupakan identitas daerah. Keberadaan folklore masih bisa ditemui sampai sekarang. Bisa dikata folklor adalah cerita rakyat yang masih dipercayai oleh masyarakat sehingga apa saja yang ada di daerah terutama yang terkait mengenai cerita rakyat, cerita keberadaan asal mula nama desa, dapat menjadi sesuatu yang berarti (folklor). Berbagai macam tradisi, cerita rakyat dan budaya masyarakat merupakan khasanah folklor yang harus terdokumentasikan. Generasi muda sekarang ini jarang yang mengetahui cerita asal usul nama desa bahkan cerita rakyat yang ada di tempat tinggalnya. Memang sungguh disayangkan kalau pewaris budaya tidak mengetahui asal usul nama desa atau daerahnya.

Pentingnya folklore bagi guide yakni menjadi salah satu informasi bagi para pemandu dan pengetahuan yang baru tersebut akan diberikan kepada para wisatawan. Secara tidak langsung guide telah mempromosikan pariwsiata di Indonesia melalui folklore-folklore yang beraneka ragam. Karena hanya seorang guide yang dapat memberikan informasi secara langsung kepada wisatawan maka dari itu pengetahuan tentang folklore-folklore  yang ada di Indonesia seharusnya telah di kuasai terlebih dahulu bagi para pemandu atau guide sebelum membawa wisatawan dimana akan memberikan suatu pengetahuan maupun pengalaman yang baru dan belum pernah didapatkan bagi para wisatawan.

http://kiaibudaya.blogspot.com/2011/02/folklor-sebagai-simbol-identitas.html
http://serbasejarah.blogspot.com/2012/01/pembagian-dan-jenis-jenis-folklor.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Folklore
http://indonesianfolklore.blogspot.com/
http://sepasangkata.wordpress.com/2012/03/14/folklore-lisan/

1 komentar: