Selasa, 12 Juni 2012

UTS PART 1 - PUGO SURYA ADHITAMA


NAMA  : PUGO SURYA ADHITAMA
NIM       : 4423107050

KOTA SURABAYA


Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, dan Surabaya merupakan kota terbesar ke-2 di Indonesia setelah Jakarta. Luas wilayah Surabaya 52.087 Ha dengan 63,45% atau 33.048 Ha dari luas total wilayah merupakan daratan dan selebihnya sekitar 36,55% atau 19.039 Ha merupakan wilayah laut yang dikelola oleh pemerintah kota Surabaya. Struktur Tanah : terdiri dari tanah aluvial, hasil endapan sungai dan pantai, dibagian barat terdapat perbukitan yang mengandung kapur tinggi. Secara astronomis, Kota Surabaya terletak di antara 07 ” 09 “ – 07 ” 21 “ Lintang Selatan dan 112 “ 36 “ – 112 “ 54. Secara geografis wilayah Kota Surabaya di sebelah utara dan sebelah timur berbatasan langsung dengan Selat Madura, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Gresik. Secara umum wilayah Kota Surabaya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3 – 6 meter di atas permukaan air laut, kecuali dataran rendah di sebelah selatan dengan ketinggian 25 – 50 meter di atas permukaan air laut. Pada bulan Mei – Oktober Surabaya mengalami musim kemarau dan pada bulan November – April sudah memeasuki musim hujan. Kelembapan udara Surabaya yakni rata-rata minimum 42% dan maksimum 96% dengan tekanan udara rata-rata minimum 1.005,38 Mbs dan maksimum 1.014,41 Mbs. Curah Hujan rata-rata 183,2 mm curah hujan diatas 200 mm terjadi pada bulan Desember – Mei, kecepatan angin di kota Surabaya yakni 7,0 knot dan maksimum 26,3 knot serta temperatur suhu rata-rata minimumnya yakni 23,3” C dengan maksimum 35,2” C.



            Kota Surabaya terbagi menjadi 31 kecamatan serta 163 kelurahan dengan luas wilayah sebesar 326,36 km2. Luas wilayah antar kecamatan sangat bervariasi, Kecamatan terluas wilayahnya adalah Kecamatan Benowo, dengan luas sebesar 23,72 km2, terletak di Surabaya Barat. Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Simokerto yang luasnya sebesar 2,59 km2 terletak di Surabaya Pusat. Sebagai kota metropolitan no 2 se-Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 3.000.000 jiwa, sudah tentu kota ini telah menjadi tujuan utama bagi seluruh masyarakat dan warga Indonesia untuk berlabuh serta mempertaruhkan nasib mereka. Dari situlah kota Surabaya juga dapat dikatakan sebagai kota multi etnis. Etnis dari berbagai belahan dunia ada di kota pahlawan in, misalnya ada etnis Melayu, China, India, Arab dan Eropa. Etnis yang berasal dari Nusantara pun tak kalah banyak, sebut saja etnis Jawa, Madura, Batak, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi sebuah ciri khas tersendiri bagi kota Surabaya karena dari berbagai macam etnis yang ada, mereka tetap bisa membaur dan bahkan dengan penduduk asli Surabaya. Suatu masyarakat pada setiap daerah pasti memiliki ciri khas yang dapat memebedakannya dari daerah lainnya. Begitu juga msyarakat asli Surabaya cirinya warga ali Surabaya terbiasa berbicara terbuka, meski kadang terdengar keras atau tempramen tinggi, masyarakat Surabaya sangat demokratis dan saling toleransi selain itu masyarakat asli Surabaya juga cenderung menyukai gerakan yang atraktif. Dapat disimpulkan bahwa kota Surabaya merupakan kota besar dan memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Meskipun demikian, kota Surabaya tetap menjadi kota yang indah dengan panorama kota yang tertata dengan cukup rapi. Menanggapi kenyataan ini pula secara logis kebutuhan akan hunian yang nyaman juga sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan kota Surabaya ke depan. Memang pada mulanya masyarakat Surabaya banyak yang tinggal didaerah perkampungan. Namun seiring berjalannya waktu, kini sudah banyak seakli bentuk-bentuk hunian yang bertaraf internasional dengan padang golf terdapat pula real  estate dan perumahan. Meskipun demikin masih banyak warga yang lebih memilih tinggal diperkampungan dan seperti dibelahan dunia manapun terdapat masyarakat yang miskin dan kaya begitu pula terjadi di Surabaya. Akan tetapi mereka tetap dapat hidup berdampingan dan tidak menjadi alasan hidup di Surabaya menjadai kurang aman.

        Kehidupan masyarakat praaksara sering disebut juga masa prasejarah, serta kehidupan manusia pada masa praaksara disebut sebagai kehidupan manusia purba. Manusia muncul di permukaan bumi kira-kira 3 juta tahun yang lalu bersama dengan terjadinya berkali-kali pengesan atau glasiasi dalam zaman yang disebut kala plestosen. Kurun waktu pada masa praaksara diawali sejak manusia ada dan berakhir sampai manusia mengenal tulisan. Bangsa Indonesia meninggalkan masa praaksara kira-kira pada tahun 400 masehi dan setiap prasasti tidak berangkat tahun yang sama , namun bahasa dan bentuk huruf yang dipakai member petunjuk bahwa prasasti itu dibuat sekitar tahun 400 Masehi. Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali Mas dan bahkan hari jadi Kota Surabaya ditetapkan sebagai tanggal 31 Mei 1293. Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan. Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai ikan suro(ikan hiu/berani) dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai boyo (buaya/bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam dan hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya. Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota Wali Songo, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di daerah Ampel dan Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan  Mataram, diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, diserang Sultan Agung tahun 1614 dan Pemblokiran sungai Brantas oleh Sultan Agung memaksa Surabaya menyerah. Suatu tulisan VOC tahun 1620 menggambarkan Surabaya sebagai negara yang kaya dan berkuasa. Panjang lingkarannya sekitar 5 mijlen Belanda (sekitar 37 km), dikelilingi kanal dan diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebesar 30.000 prajurit. Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677. Dalam perjanjian antara Paku Buwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC. Pada zaman Hindia-Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibukota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status Kotamadya (Gemeente). Pada tahun1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibukota provinsi Jawa Timur. Sejak itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia. Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Sampai tahun 1920-an, tumbuh pemukiman baru seperti daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang. Pada tahun 1917 dibangun fasilitas pelabuhan modern di Surabaya. Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944 dan karena sengitnya pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kebudayaan di Surabaya memiliki budaya yang menarik dan khas diantara multi etnis yang terdapat di kota pahlawan. Apabila kita berkunjung ke Surabaya dapat dijumpai budaya masyarakat dengan sikap pergaulan yang sangat egaliter, terbuka, terus terang, kritik dan mengkritik dengan kesenian tradisional dan kuliner khasnya telah mencerminkan pluralisme budaya di Surabaya. Budaya daerah,  tradisi dan gaya pergaulan merupakan suatu ciri khas tersendiri yang dapat menarik minat para wisatawan dari berbagai daerah di penjuru dunia dan nusantara. Begitu juga di kota pahlawan ini terdapat berbagai jenis budaya tradisional yang sangat menarik, bahkan antara budaya tradisional dan budaya modern dapat menyatu dan menimbulkan sebuah ritme yang padu. Budaya di Surabaya yang cukup terkenal adalah Undukan Doro, Musik Patrol, dan Manten Pegon. Tidak hanya itu saja, masih ada banyak lagi budaya dan hal-hal menarik yang dapat ditemukan di Surabaya. Salah satu upaya dalam rangka melestarikan Budaya di Surabaya, pemerintah kota Surabaya secara rutin mengadakan seleksi Cak dan Ning Surabaya yang pemenangnya akan menjadi duta budaya kota Surabaya. Setiap setahun sekali diadakan Festival Cak Durasim (FCD), yakni sebuah festival seni untuk melestarikan budaya Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya dan Festival Cak Durasim ini biasanya diadakan di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Selain itu ada juga Festival Seni Surabaya (FSS) yang mengangkat segala macam bentuk kesenian misalnya teater, tari, musik, seminar sastra, pameran lukisa dimana pengisi acara biasanya selain dari kelompok seni di surabaya juga berasal dari luar surabaya. Diramaikan pula pemutaran film layar tancap, pameran kaos oblong dan lain sebagainya yang diadakan setiap satu tahun sekali di bulan juni bertempat di Balai Pemuda.

Jejak sejarah didalam folklore, mitologi, upacara, dan lagu dari Surabaya / jawa timur antara lain : Folklore lisan seperti bahasa jawa dialek Surabaya atau lebig dikenal dengan Boso Suroboyoan. Ada juga ungkapan tradisional jer basuki mawa beya artinya kebahagiaan tidak datang dengan tiba-tiba, tapi diperoleh dengan perjuangan dan pengorbonan. Terdapat pula prosa rakyat antara lain legenda kota Surabaya dongeng ande-ande lumut serta yanyian takyat yakni rek ayo rek. Folklore sebagian lisan seperti kepercayaan masyarakat contohnya agama kejawen, permainan rakyat kekehan dan congklak. Folklore bukan lisan seperti arsitektur dan juga upacara adat, kerajinan tangan yakni misalnya berbagai macam gerabah, serta senjata tradisional yakni celurit.

http://panoramasurabaya.blogspot.com/2010/06/letak-geografi-surabaya.html
http://surabayakota.bps.go.id/index.php/tentang-daerah/25-kota-surabaya/72-penerimaan-maba-stis-2010
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surabaya
http://khanieev.blogspot.com/2011/11/perbedaan-masa-aksara-dan-pra-aksara.html
http://www.surabaya.go.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar