Selasa, 12 Juni 2012

EKSOTISME MALUKU INDONESIA Part IV

Sagu, Manfaat dan Maknanya

Tezar Arief 


Walaupun mayoritas penduduk Indonesia makan nasi sebagai makanan pokok, di wilayah Indonesia Bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian penduduknya, terutama di Maluku dan Irian Jaya. Sagu adalah butiran atau tepung yang diperoleh dari teras batang pohon sagu atau rumbia (Metroxylon Sago Rottb.). Sagu dikenal dengan banyak nama, seperti Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah, lapia atau napia di Ambon, tumba di Gorontalo, Pogalu atau tabaro di Toraja, dan rambiam atau rabi di Kepulauan Aru.

Maluku merupakan provinsi kedua di Indonesia yang memiliki hutan sagu terluas. “sehingga sudah seharusnya sagu menjadi bahan pokok dikonsumsi masyarakat setiap hari dan bukan beras," kata Menteri saat membuka seminar internasional tentang sagu untuk ketahanan pangan nasional. Selain itu sagu juga memiliki kandungan karbohidrat yang sangat tinggi dibandingkan dengan nasi.

Sagu (Metroxylon sp) habitatnya di daerah rawa, hasil hutan non kayu yang sejak dari dulu sudah dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Di Maluku, Sagu tumbuh dengan sendirinya hutan-hutan rawa, pada daerah dataran rendah tumbuh di belakang hutan mangrove.

Menurut Flach and Schuiling (1991) kandungan Nutrisi (g) yang terdapat pada batang sagu adalah N = 590, P = 170, K = 1700, Ca = 860 dan Mg = 350. Pada saat pengolahan di lapangan nutrisi ini banyak hilang dan kembali ke tanah tempat tumbuhnya.

Bubuk sagu dihasilkan dengan cara mengekstraksi pati dari umbi atau empulur batang yang dapat diolah menjadi berbagai makanan.Sagu sendiri dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Selain itu, saat ini sagu juga diolah menjadi mi dan mutiara.

Tepung sagu memiliki ciri fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Dalam resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit diperoleh sering diganti dengan tepung tapioka, meskipun keduanya sebenarnya berbeda. Perbedaannya hanyalah pada bahan pembuatnya jika tepung sagu terbuat dari pati pohon sagu, tepung tapioka atau kanji terbuat dari pati umbi ketela pohon.

Sebagai makanan pokok orang Maluku, sagu dijadikan “papeda” untuk dimakan dengan “ikan kuah”. Kalo menghidangkan papeda tanpa “ikan kuah” rasanya tidak lengkap. Orang Ternate mempunyai tradisi makan besar setelah usai shalat Jumat. Biasanya, dari masjid orang bergegas pulang untuk berkumpul makan siang bersama keluarga. Sebagian lagi beramai-ramai mendatangi warung-warung makan bersama teman-teman.


Salah satu tradisi makan siang di hari Jumat adalah makan papeda (di Maluku dan Papua disebut papeda) – yaitu sagu yang dimasak dengan air, bentuknya mirip seperti lem kanji. Papeda umumnya disantap dengan ikan kuah soru. Yang dimasak untuk kuah soru biasanya adalah ikan asar (diasap dengan api gonofu alias sabut kelapa). Soru berarti asam. Kuahnya bening, dengan tone asam-pedas, serta aroma smokey dari ikan asar. Hmm, mengesankan.

Di belakang Pasar Gamalama, ada beberapa warung pupeda yang populer bagi warga Ternate. Di warung-warung itu, selain kuah soru, juga tersedia berbagai lauk-pauk yang disediakan di meja. Begitu juga pupeda dan kasbi (singkong rebus), ubi rebus, dan pisang rebus - semuanya disediakan di meja. Para tamu makan buffet style, dan membayar Rp 25,000.

Popeda dimakan dengan kuah soru. Sedangkan karbohidrat yang lain disantap dengan sayur lilin (sayur yang di Jakarta dikenal sebagai telur terubuk), ikan bakar, fofoki kuah santan, sayur garo (tumis kangkung dan bunga pepaya), dan lain-lain.

Kaya Manfaat dan Cocok Untuk diet.

Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah kecil.

Walaupun gizi yang dikandung tidak tinggi, sagu juga mempunyai beberapa manfaat yang baik bagi tubuh. Diantaranya adalah tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah sehingga cukup aman dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus. Serat pangan pada sagu memiliki zat yang bisa berfungsi sebagai pre-biotik, menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi resiko terjadinya kanker usus, mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru, mengurangi kegemukan, mempermudah buang air besar.

Sagu juga sering dikonsumsi bagi yang sedang diet karena dapat memberikan efek mengenyangkan, tetapi tidak menyebabkan gemuk. Untuk mengimbangi kandungan gizinya yang tidak terlalu tinggi, ada baiknya olahan sagu ditambah bahan-bahan kaya protein dan sayur mayur. Seperti Papeda atau bubur sagu, Sago Pancake, Nasi Sagu, Puding Sagu, Kue Kering Sagu Keju, Ketupat Sayur, dan Bubur Kacang Hijau Sagu.

MAKNA SAGU SALEMPENG PATAH DUA

Kata Maluku menunjuk pada suatu etnisitas yang didalamnya terdapat wilayah, manusia dengan nilai dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Sejak dulu kala eksistensi kehidupan masyarakat Maluku diperhadapkan dengan tantangan keragaman yang dimiliki. Bahkan masyarakat Maluku sudah merasakan manis dan pahitnya perjuangan mempertahankan kelangsungan hidup dengan tatanan adat dan kekerabatan yang milikinya sejak dulu yang selalu tertanam dan terpatri dalam  diri dan jiwa Anak Negeri Maluku.

Konsep tentang Anak Negeri adalah makhluk spesies yang memiliki keterkaitan hidup dengan adat, tradisi, kebudayaan, kekerabatan dan keberagamaannya atau cara hidup beragama yang adatis.  Hal ini ditunjukan dengan Budaya Hidup Orang Basudara yang mungkin saja telah termanisfestasi dalam kehidupan masyarakat Maluku lewat falsafah-falsafah hidup yang telah diwarisi dari orang tatua (leluhur).

Ternyata orang tatua dengan pemikirannya yang alamiah telah memahami kehidupan sosial kita di Maluku yang majemuk, dengan menerapkan konsep hidup kebersamaan yang ditunjukan lewat Pela-Gandong, Salam-Sarane, Duan Lolat, Kai Wai, menjadikan kehidupan anak negeri Maluku dalam Persaudaraan yang tinggi.

Dalam budaya hidup orang basudara terkandung nilai-nilai persaudaraan yang terbangun dalam cara hidup yaitu ” Sagu Salempeng Patah dua “.  Kalimat ini tidaklah lazim bagi orang Maluku, karena memiliki makna secara filosofis yang berakar dari budaya orang basudara di Maluku, yang merupakan warisan para leluhur kita sendiri.

Sagu Salempeng Patah Dua, adalah sebuah gambaran yang tidak begitu saja dipakai tanpa ada tujuan atau makna tertentu. Oleh karena itu berdasarkan penjelasan diatas maka dalam pembahasan ini akan dibahas tentang “ Makna Sagu Salempeng Patah Dua “.

SAGU SALEMPENG PATAH DUA

a.  Memaknai Sagu Bagi Orang Maluku

Pohon sagu identik dengan Maluku, seperti halnya Pohon Lontar bagi orang sawu dan Rote. Pohon Sagu Melambangkan sumber hidup rakyat di Daerah Maluku sejak purbakala. Pohon sagu tekstur luarnya sangat berduri, tetapi didalamnya dapat menghasilkan makanan yag lembut. Dikatakan sumber hidup karena keseluruhan pohon sagu dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup orang Maluku.

Daun Sagu dijadikan sebagai atap rumah, dahan pohon sagu dijadikan sebagai dinding rumah (gaba-gaba). Batang pohom sagu diolah untuk sagu adalah makanan tradisional Maluku. Daun sagu digunakan untuk atap rumah, daun sagu digunakan sebagai wadah, batang daun sagu diolah menjadi makanan pokok orang Maluku baik dalam bentuk papeda dan juga sagu yang dibakar dan dikeringkan.

Dengan demikian dapat dikatakan Pohon Sagu  adalah sumber kehidupan bagi rakyat di Maluku.

b. Makna Sagu Salempeng Patah Dua

Sagu salempeng Patah Dua sebuah Idiom yang berakar dari Falsafah “hidup orang basudara” di Maluku yang mencerminkan sikap batin orang Maluku. Semangat orang basudara adalah energi budaya yang menggerakan orang Maluku untuk mampu membina hidup bersama yang harmonis dalam perbedaan-perbedaan yang eksistensial. Hal inilah yang membuat Maluku termaknai sebagai sebuah keluarga besar yang majemuk dan kemajemukan itulah membuatnya besar.

Kita dapat mengingat kembali salah satu lirik lagu yang menceritakan kehidupan persaudaraan dan kekeluargaan di Maluku yakni “ Mayang pinang Mayang Kalapa Timbang Cengkeh di Saparua, Orang bilang Ade deng Kaka Sagu Salempeng Makan Bage Dua ”.
Sagu salempeng Patah Dua dapar diartikan sebagai berikut :

  1. Sagu ( makanan tradisional orang Maluku sejak dulu ). dapat dimaknai sebagai symbol eksistensi kita sebagai orang Maluku. Kita berbeda dalam banyak hal dan merangkai perbedaan-perbedaan itu menjadi kehidupan yang harmonis sangatlah sulit. Sagu identitas orang Maluku yang telah diwariskan oleh orang tatua sejak dulu sampai saat ini dengan maksud agar tidak dilupakan dalam artian bahwa kita di maluku memiliki perbedaan tetapi Sagu dapat menjadi salah satu pemersatu perbedaan itu.
  2. Salempeng , bagi orang Maluku diartikan sebagai satu  buah atau hanya satu.
  3. Patah dua , artinya adalah di bagi menjadi dua bagian.
Menurut Prof. Waloly (2005:115) sagu salempeng patah dua dimaknai sebagai kehidupan yang saling peduli dan berbagi, dengan hubungan-hubungan batiniah yang terbangun dalam cara hidup orang Maluku.

“sagu salempeng dipata dua”. Idiom budaya Maluku menunjukkan pada dua realitas: konflik dan akomodasi; baku malawang dan baku polo. Sagu adalah lambang hidup orang Maluku. Dan ketika ia dibagi dua, itu sebenarnya menunjuk pada adanya krisis hidup. Tetapi krisis hidup itu kemudian secara sadar membawa pada sebuah tindakan sharing (berbagi) agar basudara lain juga menikmati hidupnya bersama-sama.

Dapat dikatakan bahwa Sagu salempeng patah dua dimaknai sebagai kehidupan yang saling peduli dan berbagi dalam hal ini semua hal dalam kehidupan orang Maluku dilakukan atas dasar saling peduli dan berbagi. Secara sederhana dapat pula dikatakan kesusahan satu orang merupakan kesusahan semua orang oleh kerena itu harus ditanggung secara bersama atas dasar kehidupan orang basudara di Maluku.

Inilah eksistensi kita sebagai orang Maluku. Kita berbeda dalam banyak hal dan merangkai perbedaan-perbedaan itu menjadi kehidupan yang harmonis bukan perkara gampang. Sangat tergantung pada dialektika yang terjadi antara sekian banyak individu, antara beragam adat-budaya, antara beragam agama dan antara banyak entitas berbeda yang adalah bagian eksistensial dari diri.

Namun, Orang tatua, berkat kepeduliannya, telah mewariskan falsafah hidup orang basudara melalui falsafah “ sagu salempeng patah dua”. sebagai daya, strategi budaya dan gaya hidup yang menunjang terbinanya hidup yang harmonis dengan mengelola banyak perbedaan yang dipandang sebagai anugerah. 

Referensi:
http://sarah-alifah.blogspot.com/2012/03/sagu-makanan-kaya-manfaat.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar