Minggu, 17 Juni 2012

Pulau Emas Palembang


Sumatera Selatan adalah daerah yang juga berperan penting di Indonesia. Tidak hanya budayanya yang tidak kalah unik dari daerah lain, juga sejarah serta hal lain yang khas. Ibu kota Sumatera Selatan adalah Palembang, sebagai kota tertua di Indonesia dan terbesar kedua setelah Medan.
Musim yang terdapat di Sumatera Selatan sama seperti umumnya yang terjadi di Indonesia, hanya dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 5º 10' - 1º 20' lintang selatan dan 101º 40' - 106º 30' bujur timur, dengan luas seluruhnya 113.339 km2. Provinsi ini berada di pulau Sumatera dan berbatasan dengan, utara yaitu Jambi, timur yaitu Bangka Belitung, selatan yaitu Lampung, barat yaitu Bengkulu.
Secara geografis, kota Palembang terletak pada 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT. Luas wilayah Kota Palembang adalah 102,47 Km² dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Letak Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera.
Populasi jiwa pada tahun 2010 di Sumatera Selatan, totalnya berkisar 7.446.401 jiwa, dengan kepadatan 65,7/km2. Suku bangsa yang tersebar di daerah Sumatera Selatan ini yaitu, melayu sekitar 34,37%, jawa sekitar 27,01%, komering sekitar 5,68%, sunda sekitar 2,45%, tionghoa sekitar 1,1%, minangkabau sekitar 0,94%, dan yang lain- lainnya sekitar 28,45%. Agama yang tersebar, yaitu Islam sekitar 96%, kristen sekitar 1,7%, buddha sekitar 1,8%, dan yang lain-lainnya sekitar 0,5%. Bahasa yang biasa digunakan para penduduk di Sumatera Selatan, biasanya bahasa Indonesia, namun ada juga yang memakai bahasa daerahnya masing-masing, yang biasanya bahasa daerah masyarakat Sumatera Selatan berdasarakan bahasa melayu.
Zaman dahulu Pulau sumatera di kenal sebagai Pulau emas atau dalam Bahasa Sanskerta disebut Swarnadwipa bagaimana Pulau Sumatera dikenal dunia sebagai Pulau emas pada zaman dulu, yaitu :
  • Minangkabau menamakan pulau sumatera dengan sebutan Pulau ameh yang berarti Pulau emas, hal ini di dasari dari cerita rakyat di minangkabau. Dijumpai dalam cerita Kaba Cindua Mato.
  • Dalam cerita rakyat Lampung Pulau Sumatera disebut sebagai tanoh mas yang artinya tanah emas.
  • Seorang bikhsu Cina yang sedang melakukan perjalanan ke India yang bernama I-Tsing menyebutkan Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.
  • Dalam Naskah Buddha yang termasuk dari salah satu naskah Buddha yang paling tua yaitu kitab jataka menceritakan pelaut India menyeberangi teluk benggala ke suarnabhumi/suarnadwipa
  • Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa
  • Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa
  • Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib
  • Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’
  • Pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan dan kapur baru.
Praaksara atau prasejarah merupakan suatu kurun waktu yang terpanjang dalam sejarah umat manusia, yaitu sejak hadirnya manusia dibumi hingga ditemukannya pengetahuan tentang tulisan atau aksara yang menandai era sejarah. Menurut hasil penelitian ahli purbakala, diperkirakan manusia muncul sekitar 3 juta tahun yang lalu bersamaan terjadinya proses glasisasi atau pengesan daratan di bumi, yang disebut kala plestosen. Pada masa itu terjadi penurunan suhu di bumi sehngga sebahagian besar daratan di kawasan Amerika, dan Asia Eropa ,dan Asia tertutup lapisan es. Dengan kondisi alam yang demikian menjinakkan hewan/berburu hewan dan bercocok tanam serta dengan membuat alat-alat sederhana untuk membantu kegiatan hidupnya.
Cara masyarakat masa pra-aksara mewariskan masa lalunya ketika tulisan belum di kenal dan di pakai oleh masyarakat purba. Manusia menggunakan perantara bahasa untuk melakukan pewarisan kepada pewarisannya, kepada keturunannya bahasa yang di naksudkan adalah bahasa lisan atau bahasa tutur ketika berkomunikasi dengan orang lain. Melalui bahasa tutur inilah segala pesan gagasan atau ide serta pengalaman hidup manusia dapat di sampaikan dan diingat oleh manusia.
Dalam mewariskan tradisi ini biasanya yang lebih berperan adalah tokoh yang di hormati di wilayah itu, atau dari bapak kepada anakl dan selanjunya. Pesan yang di sampaikan secara lisan tersebut kemudian melahirkan apa yang di sebut dengan dongeng, legenda, mitos dan folklor. Disamping dilkukan melalui gambar-gambar seperti gambar cap tangan yang terdapat pada goa-goa.
Tradisi sejarah pada masyarakat masa aksara batas antara jaman Pra sejarah dengan sejarah adalah semenjak di temukannya tulisan. Semenjak di temukannya tulisan, maka pewarisan budaya di lakukan dengan menggunakan tulisan, tulisan ini di gunakan untuk merekam dam mewariskan masa lalu manusia. Pada awalnya bentuk tulisan yang di jumpai di Indonesia dalam bentuk prasasti yaitu pada masa peninggalan kerajaan Hindu-Budha maupun kerajaan islam.
Selain melalui prasasti tradisi sejarah pada masyarakat masa aksara dapat diketahui juga melalui cerita atau naskah babad, hikayat, lagu rakyat/daerah, upacara. Prasati adalah tulisan yang terdapat pada batu.
Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melewati perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha.
Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani umayyah di Asia Barat sejak abad 7.
Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatra. Dalam perkembangan berikutnya, ketika Agama Islam masuk dan berkembang di Sumatera Selatan, wilayah ini merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.
Hubungan Bangsa Belanda dengan Kesultanan Palembang Darussalam dimulai pada awal abad XVII M ditandai dengan penandatanganan kontrak perdagangan komoditi lada dan timah dimana pihak Belanda memiliki hak sepenuhnya atas perdagangan kedua komoditi tersebut sementara untuk pengelolaan perkebunan lada dan penambangan timah dibawah pengawasan Kesultanan Palembang Darussalam. Meskipun perjanjian mengenai hak monopoli dagang tersebut telah ditandatangani, pihak kesultanan terkadang juga melakukan transaksi dagang dengan pihak lain. Kenyataan ini yang memicu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Palembang Darussalam menjadi tidak baik.
Pada masa awal monopoli Belanda dalam perdagangan lada dan timah di Sumatera Selatan tersebut sering terjadi konflik-konflik di kawasan tersebut yang akhirnya mengakibatkan diserang dan dibakarnya Keraton Kutogawang oleh pihak Belanda. Penyerangan ini menyebabkan dipindahkannya keraton ke wilayah lain, yaitu di Beringin Janggut pada tahun 1675.
Selama terjalinnya hubungan dagang antara Kesultanan Palembang Darussalam dengan Bangsa Eropa baik Belanda maupun Inggris telah terjadi beberapa konflik senjata yang dikarenakan kenyataan bahwa pihak Kesultanan Palembang Darussalam berkeberatan akan hak monopoli dagang yang dikuasai oleh bangsa-bangsa tersebut. Puncak dari konflik tersebut adalah penyerahan kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1823 kepada pemerintah Hindia-Belanda.
Setelah dihapuskannya Kesultanan Palembang Darussalam, wilayah Sumatera Selatan dijadikan daerah administrasi Hindia-Belanda yang dipimpin oleh seorang residen. Pusat administrasi dilokasikan di sekitar Benteng Kuto Besak, yaitu bekas Keraton Kuto Lamo. Di lokasi ini didirikan sebuah bangunan baru yang diperuntukan sebagai kediaman residen. Pada masa ini Benteng Kuto Besak dialihfungsikan menjadi instalasi militer dan tempat tinggal komisaris Hindia-Belanda, pejabat pemerintahan dan perwira militer. Pemukiman di dekat keraton yang dulunya merupakan tempat tinggal bangsawan Kesultanan pada masa ini ditempati oleh perwira-perwira dan pegawai Hindia-Belanda.
Budaya Palembang terpengaruh oleh budaya Melayu, Jawa, Tionghoa dan Arab.  Bahasa sehari-hari yang dipakai di kota Palembang disebut baso Palembang atau baso sari-sari. Bahasa  ini mengandung unsur kata bahasa Melayu dialek o seperti apo, cakmano, kemano,siapo dengan unsur kata bahasa Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Atap rumah limas rumah adat Palembang hampir mirip dengan rumah joglo di Jawa Tengah. Pakaian pengantin Palembang model aesan gede merupakan percampuran budaya Melayu, Cina dan Jawa. Di Palembang ada juga wayang kulit yang mirip dengan wayang di Jawa.
Rumah tradisional yang berasal dari Sumsel, memiliki atap yang berbentuk limas, sehingga rumah tradisional Sumatera Selatan ini di namakan dengan Rumah Limas. Dengan ciri khas lantai yang bertingkat tingkat dan bagi masyarakat Sumsel disebut dengan nama Bengkilas. Rumah tradisional Limas biasanya hanya dipergunakan untuk acara keluarga seperti hajatan. Tamu yang datang biasanya diterima di bagian teras atau lantai kedua.
Adapun rumah rakit merupakan sebutan untuk rumah yang mengapung di atas Sungai Musi. Rumah ini dibangun di atas rakit bambu sebagai pengapungnya dan menggunakan kayu sebagai dinding. Semestara atap rumah pada awalnya terbuat dari kajang (daun nipah), namun saat ini juga dibuat dari bahan yang lebih ringan seperti seng.
Ada beberapa seni tari yang menjadi kekayaan seni dan budaya Sumatera Selatan diantaranya adalah Tari Madik (Nindai, Tari Mejeng Besuko, Tari Rodat Cempako, serta Tari Tenun Songket, Tarian Pagar Pengantin Palembang, Tari Kipas Linggau, Tari Kelindan Sumbay, Tari Putri Bekhusek, Tari Tanggai.

Selain rumah tradisional dan tari seperti yang tersebut di atas, Propinsi Sumsel juga memiliki beberapa lagu daerah di antaranya adalah Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Gending Sriwijaya, dan Kabile-bile
Makanan khasnya, pempek, merupakan makanan khas Palembang yang paling populer dan sudah sangat terkenal di seluruh Indonesia. Bahan dasar utama dari pempek adalah dari daging ikan dan sagu. Bermacam jenis makanan pempek yang sering di jual di pasaran seperti  pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek keriting, pempek adaan, pempek kulit, pempek tahu, pempek pistel, pempek udang, pempek lenggang, pempek panggang, pempek belah dan pempek otak - otak.
Nama makanan khas lainnya dari  Palembang adalah Tekwan. Tampilan masakan yang menyerupai sup ikan ini pembuatannya menggunakan bahan dasar dari daging ikan dan sagu kemudian dibentuk kecil - kecil hampir menyerupai bakso ikan. Dalam penyajiannya Tekwan ditambahkan dengan kaldu udang sebagai kuah, serta soun dan tak lupa jamur kuping sebagai pelengkap.
Makanan Otak-otak juga sangat terkenal disamping Pempek. Pembuatan Otakotak menggunakan bahan dasar hampir mirip dengan bahan dasar pempek yang dicocol dengan kuah santan dan kemudian bahan ini dibungkus dengan menggunakan daun pisang, lalu dimasak dengan cara dipanggang di atas bara api. Makanan ini biasa di sajikan dan disantap dengan saus cabai / kacang. Dan masih banyak lagi makanan kha Palembang yang disukai.

UTS Part 1
Indri Yanti
4423107038



1 komentar:

  1. ada asal mula terbentuknya lagu cuk mak ilang gak ??

    BalasHapus