Selasa, 12 Juni 2012

SENI BEGALAN_ANNAS SURYOTORO


Begalan
ANNAS SURYOTORO 
4423107032




Begalan, Seni tradisional Banyumasan. Kata begal (jawa) berarti perampok atau perampas paksa di tengah perjalanan seseorang. Mbegal: merampok ; begalan berarti menirukan cara perampok melakukan penghadangan di tengah perjalanan seseorang. Di wilayah Karesidenan Banyumas, kata begalan dikenal sebagai seni pentas arena dengan misi memberikan nasihat perkawinan bagi mempelai.

Seni begalan, pada awalnya di gelar menjelang pelaksanaan prosesi akad nikah. Akan tetapi,kemudian bergeser dan digelar seusai prosesi akad nikah, yakni pada awal prosesi adat panggih, seusai acara pidak endog (injak telur), saat memasuki ruang singgasana tematin, dengan membudayanya model resepsi berdiri, seni begalan pun kemudian di gelar pada saat mempelai akan memasuki ruang resepsi, di awal perjalananya menuju pelaminan.

Seni begalan ini hendaknya tidak dibayangkan sebagai adegan merampok sang pengantin, tetapi semat-mata merampas waktu perjalanan sang pengantin menuju pelaminan untuk memberikan bekal kepada kedua mempelai, bahwa kehidupan berumah tangga bukanlah hal yang penuh kebahagian semata, melainkan juga kehidupan bersama yang penuh tantangan dan persoalan yang rumit. Akan tetapi, hal itu bisa di pecahkan dengan cara mengambil hikmah yang tersirat di balik ujian dan cobaan yang menimpanya.

Pentas seni rakyat ini di ciptakan mirip dengan seni tari edan-edanan (gila-gilaan) yang di gelar pada saat yang sama bagi pengantin kraton Surakarta pada masanya. Bedanya, saat kedua mempelai kraton itu akan menuju ke pelaminan, mereka di sambut oleh sepasang penari abdi dalem inang (pengasuh) kedua mempelai. Kedua inang menari-nari bergembira ria, menyambut sang raja sehari, dan merintis jalan keduanya sambil membersihkan segala bala (kekuatan jahat) di sepanjang jalan menuju pelaminan. Bakti awal kedua inang itu dicurahkan dalam sajian seni tari permainan sandiwara (historionism) yang kocak dan mengundang tawa yang hadir dalam perhelatan itu. Seolah mereka mengukapkan rasa bangga dan bahagia atas tugas baru mereka sebagai inang sang mempelai yang memasuki hidup baru. Unsur kemiripan saat digelarnya pementasan serta dari deskripsi sejarah diciptakannya seni begalan itu sendiri.

Menurut riwatnya, seni begalan itu mulai dipentaskan setelah Raden Tumenggung Yudanegara IV dilengserkan dari jabatannya sebagai Adipati kadipaten Banyumas oleh pemerintahan Inggris. Adipati Raden Tumenggung yudanegara IV sebagai Adipati Banyumas ke-10, bercita-cita agar Kadipaten Banyumas bisa mandiri sebagai daerah perdikan (dibebaskan dari pajak) atau menjadi daerah otonom, serta tidak lagi menjadi bawahan langsung Kasunanan Surakarta. Saat itu, kasunanan sudah mulai menjadi bawahan pemerintah kompeni Belanda. Oleh pihak Kasunanan Surakarta, cita itu dianggap mbalelo sehingga dilaporkan kepada Gubernur Jenderal Belanda, dan sekaligus mengusulkan agar diberi hukuman penurunan jabatan dari Adipati menjadi Mantri anom. Terhadap laporan dan usulan itu, Gubernur Jenderal Belanda dengan senang hati memenuhinya sekaligus menetapkan penggantinya, yakni Raden Tumenggung Yudanegara V sebagai Adipati Banyumas ke-11.

Menurut cerita, mantan Adipati Raden Tumenggung Yudanegara IV itu kemudian bermunajat. Dalam munajatnya itu, dia mendapatkan ilham untuk menciptakan seni begalan. Seni itu dimaksudkan sebagi sarana untuk penyucian diri dengan tujuan membuang nasib sial (suker) yang menimpanya agar segera kembali mendapatkan kebahagian dan keselamatan baik bagi dirinya maupun bagi anak cucunya.
Seni begalan berupa tutur-sembur, yakni penyampaian riwayat pengalaman, gagasan, dan nasihat kepada anak-cucu dan kerabat agar mampu menghindari hal-hal yang menyebabkan bala (petaka /bencana) dengan tetap memperhatikan sebaik-baiknya hal-hal yang wajib dibela dengan teguh demi mempertahankan paugeran (hukum) dan pathokan  (pegangan/adat) kehidupan bermasyarkat.

Di balik yang tersurat dalam tutur-sembur itu, tersirat pesan bahwa cita-cita mengutamakan kepentingan rakyat Banyumas untuk mandiri sebagai daerah otonom (perdikan) yang bebas dari penjajahan Inggris memiliki paugeran dan pathokan yang kokoh dalam sanubarinya. Hanya kondosi zaman saat itulah yang tidak memihak kepadanya. Hal itu perlu diketahui seluruh rakyat Banyumas, yaitu dengan cara mengadakan ruwat uwal ruweda (lepas dari keruwetan hidup) agar merasa lega karena telah menuangkan citra pendiriannya yang kokoh dan benar dalam sebuah pesan tersirat, seni begalan.

Oleh rakyat Banyumas, seni itu itu kemudian dilestarikan dan dipentaskan pada saat melaksanakan hajat mantu kapisan (menikahkan anak perempuan pertama kali) dengan tujuan untuk membuang suker (hal negatif  yang mungkin menghalangi, membuat sakit hati) yang akan mengotori jalan hidup baru bagi kedua mempelai.

Setiap seni pertunjukan rakyat, tentu saja sarat simbol yang berupa nasehat dan kenangan bersejarah, seiring perjalanan waktu dan pola pewarisan melalui tradisi lisan kepada pewarisnya, seni pertunjukan rakyat selalu mengalami perubahan , penambahan , bahkan terkadang pemutarbalikan (distortion). Tidak terkecuali dengan perjalanan seni pertunjukan begalan ini.

Dalam tradisi Jawa, tata adat tolak bala (menolak kekuatan jahat yang mengganggu jalan hidup) selalu di kemas dalam bentuk seni dalam berbagai versi penyajian , sesuai jenjang usia dan motif halangan para sukerta (yang di bersihkan dari bala dan dimuliahkan hidupnya) berbagai upacara ruwatan misalnya seni begalan adalah model lain ruwatan untuk pengatin baru.

Dan, ada beberapa simbol yang di sampaikan dalam cerita adegan seni begalan berupa alat-alat dapur, berbagai macam nasihat, dan bekal hidup berumah tangga. Semua hal dan perkara di contohkan dalam laku (olah hidup) dan lakon (perkara hidup).       
                 

Sumber buku :
·        Budiono herusatoto. 2001. Begalan, seni tradisional Banyumasan Karya Sang Adipati. Kedauletan rakyat. Juni
·        Budiono herusatoto.2008. Banyumas, Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak. Yogyakarta: LKIS.

1 komentar: